
Pagi kembali menjelang , seiring dengan hubungan ku dan Raka yg resmi kandas sejak semalam. Namun , asmara yg masih tersisa seolah masih erat menjerat , seolah tak rela ketika kami hendak berlalu pergi mengambil jalan sendiri-sendiri.
Kulepaskan dekap erat nya dari bahuku . Kubelai rambut hitam nya dengan lembut, jemariku mengusap pelan lengkung matanya yg sedikit sembab.
"Kuatkan hatimu , aku yakin kamu bisa bahagia dengan pilihan mama mu !"
"Sekali lagi , maafkan aku!"
Sejenak ku tatap manik coklat nya dengan penuh kelembutan "Percayalah , akan tiba masanya kita bisa kembali bersama dan saling memiliki suatu saat nanti. Pastikan aku akan ada di samping mu, setelah mama iren merestui hubungan kita."
Ku kecup lagi bibir indah itu untuk ter akhir kali nya . "Berbahagialah sayang !"
•••••••••••
Sudah kuputuskan untuk menyudahi segalanya disini. Pergi adalah sebuah pilihan , tali melupakan adalah satu hal yg sulit untuk di jalani.
Aku memilih pergi , melepaskan segala ikatan ku yg berhubungan dengan Raka , termasuk dengan pekerjaan.
Aku memilih untuk keluar , mengingat terlalu banyak waktu yg ku lalui dengan Raka di tempat itu.
Sudah satu Minggu berlalu , dan selama itu pula setiap hari Raka tak pernah bosan untuk menghubungi ku . Namun hatiku telah membatu.
Menjalin hubungan dengan mantan pasangan bukanlah suatu hal yg menguntungkan bagi nya. Justru hal itu kembali menghadirkan cabik luka menganga yg meleburkan seluruh kasih nya terhadap pria bernama Raka.
Banyak waktu yg telah kulalui. Kesibukan ku hanyalah mencari informasi lowongan pekerjaan. Semenjak aku keluar dari restoran tempat ku bekerja , aku selalu menghabiskan waktuku untuk menginap di tempat Abang sepupu ku. Tiada lagi kebiasaan buruk , semuanya telah lenyap seiring lembaran baru yg kembali ku buka dalam hidupku.
Siang ini, aku ada interview di salah satu hotel. Sempat beberapa waktu lalu aku mengirim lamaran ku kemari. Batinku hanya bisa meramalkan sebuah doa , berharap Tuhan masih memberiku sebuah nikmat rejeki di balik butir keringat yg akan menghasilkan sedikit pundi-pundi rupiah.
Satu demi satu peserta interview di panggil ke dalam ruangan , sedangkan aku masih menekur menanti giliran pemanggilan yg tak kunjung datang.
Lama aku menanti , namun sepertinya harap ku tak kan lagi terkabul di kesempatan kali ini. Ku langkahkan kaki ku gontai , menuju lorong arah pintu keluar. Dari kejauhan aku melihat hadirnya seseorang dengan setelan jas warna biru , lengkap dengan setelan dasi berwarna gelap yg senada dengan atasan yg ia kenakan."sangat tampan." gumamku lirih.
Rizal dengan segala wibawa yg ia punya . Melangkahkan kakinya menuju ke arah ku.
Kepalanya mendongak , menatap penuh keterkejutan ketika melihatku.
Ku tundukkan kepalaku gugup , menghindari kontak mata dengan nya.
Pria itu berlalu , tanpa bertegur sapa dengan ku. Entah memang sengaja atau karena terpaksa , yg pasti hal itu membuat kegugupan ku seketika menghilang.
Baru sejenak aku menghela nafas lega , seiring kepergian Rizal yg berlalu dari hadapan ku.
Namu setelah itu , langkahku kembali tercekat ketika di hadapan ku sudah berdiri seseorang yg barusaja melintas di pikiran ku.
"Kak Rizal!"
"Hm ! sudah puas menunduk ?" ucap nya sembari melipat tangan nya ke dada.
"Ekhm , , " aku hanya bisa tersenyum tipis menanggapi ucapan nya.
Kami jalan beriringan , menyusuri area parkiran mobil sebelum akhirnya aku ikut
pergi bersama Rizal.
Perbincangan kecil sekedar basa-basi penghilang kecanggungan terus berlangsung sampai mobil kami terhenti di sebuah cafe kecil yg menyediakan santapan lezat sebagai pengganjal rasa lapar.
Kami berdua turun , memasuki area cafe yg cukup lenggang di jam-jam makan siang.
Rizal dengan segala kelembutan nya , begitu tenang ketika memilih kan hidangan makan siang untuk menemani santap siang ku bersamanya. Tutur kata nya yg halus mengalun lembut kepada seorang pelayan yg tengah mencatat segala hidangan yg ia inginkan.
Aku tergugu , sejenak larut dalam buai kharisma yg ia miliki.
"Jadi , kita ketemu lagi !" tutur Rizal sembari menyesap minumannya.
"He-em . Dan aku kembali merepotkan kakak."
"Aku tidak merasa repot , jika itu berhubungan dengan mu yu ! apa kabar?"
"Alhamdulillah baik dan juga masih sehat kak!" ucapku terkekeh pelan.
"Syukurlah , aku lega melihat mu baik-baik saja."
"Ngomong-ngomong , tadi kamu ke kantor ku emang ada perlu apa yu?"
"Eh , itu kantor kakak ya ? maaf aku nggak tau . Dan soal keberadaan ku di sana ya?
Sebenarnya aku kemarin mengajukan surat lamaran kerja ke sana kak . Dan hari ini katanya ada interview.
Tapi ya , gitu. Kayaknya aku nggak masuk seleksi lagi."
"Nggak usah pesimis gitu , belum rejeki namanya." tutur Rizal memberiku semangat.
"Kalau kamu butuh pekerjaan , insyaallah aku bisa bantu. Tapi , aku juga nggak akan maksa kamu untuk bersedia ngambil tawaran ini sih."
"Serius kak ? mau ,aku mau kok." tuturku cepat dengan pandangan mataku yg berbinar.
Rizal tersenyum lega."Yaudah , kita makan dulu setelah itu kamu ikut aku , aku ajak kamu main kerumah ."
•••••••••••••••
Di sini , di area rumah yg luas, sederhana dan juga asri.
Di kelilingi oleh taman bunga mini dengan dua ayunan kayu yg menjadi pemanis tambahan di petak taman kecil yg tersedia di samping rumah.
Sejauh mata memandang. Baik dari segi rumah , ataupun susunan dekorasi nya yg terlihat simple dan juga teduh.
Sangat serasi dengan sifat tuan rumah yg memiliki karakter yg nyaris sama seperti tata letak bangunan ini berdiri.
"Masuk yu!" ucapnya mengiring langkahku untuk mengekor di belakangnya.
Langkahku tertuntun hingga terhenti di area ruang tamu. Rizal dengan sopan mempersilahkan ku untuk duduk bersama nya.
"Jadi gini yu. Pekerjaan yg aku tawarkan ke kamu tadi itu berhubungan dengan rumah ini."
Aku terdiam , menyimak ucapannya yg masih terjeda. "Terus kak!"
"Jadi , aku mau minta tolong ke kamu untuk jadi pengurus rumah ini. Maksud aku gini . Berhubung aku sibuk terus , dan kamu juga butuh pekerjaan . Aku minta tolong sama kamu buat urusin kebersihan rumah.
Eh, tali aku nggak bermaksud yg merendahkan kamu loh !"
Ku anggukan kepalaku paham ."Nggak apa-apa kak. Justru aku bersyukur banget akhirnya ada juga kerjaan buat aku !"
"Kalau kamu nggak keberatan , kamu bisa tinggal disini. Jangan sungkan , dan anggep seperti rumah sendiri. Dan masalah gaji , kamu tenang aja , uangnya akan aku transfer di awal bulan."
"Makasih kak !"
•••••••••••
Langkah ku terus mengekor di belakang Rizal. Pria itu menunjuk kan kamar dan juga ruangan lain yg belum ku ketahui.
Terletak di lantai dua , kamarku dengan Rizal hanya terpisah oleh dinding tebal yg menjadi sekat penghalang di antara kami.
Almari pakaian yg di penuhi oleh berbagai baju ganti wanita yg juga di perbolehkan nya untuk aku kenakan.
Pria itu mengacak rambutku perlahan sebelum akhirnya ia pamit meniggalkan ku sendiri di ruang privasi yg baru saja menjadi milikku.
Jemariku bergerak lincah , meneliti setiap benda yg ada di kamar ini. Dan sebuah bingkai foto yg tersimpan rapi di dalam laci mencuri perhatian ku. Rizal dengan seorang gadis berambut panjang di bawah hamparan pasir putih. Nampak ke duanya sedang tersenyum bahagia saling memandang satu sama lain. "Mungkinkah , gadis ini adalah wanita beruntung yg menjadi kekasih rizal ?" pikirku menerka-nerka.
Ku letakkan kembali bingkai itu pada tempatnya , menyimpannya rapi seolah tak pernah tersentuh oleh tangan ku.
••••••••••••
Langkahku perlahan menyusuri setiap undakan turunan tangga , ku lihat Rizal sedang duduk melamun membenamkan kakinya kedalam air kolam. Sorot matanya sayu , menggambarkan kehampaan yg nyata tengah menyelimutinya.
"Hai kak ! lagi ngapain ?" sapa ku lirih namun berhasil mengejutkan nya.
Ia mengerjap kaget seraya mengusap wajahnya lembut ."Enggak , lagi kepikiran masalah kerjaan." tuturnya palsu yg dapat ku pahami.
"Kamu laper nggak?" tanyanya mencoba mengalihkan perhatian ku.
"Ekhm , sedikit sih kak !"
"Yaudah , kita masak yuk! malam ini aku akan buatin kamu hidangan spesial khusus dan istimewa ."
Aku terkikik menahan tawaku."Emang kakak bisa masak ?" tanyaku ragu.
"Ya biasalah , makanya kamu harus cobain dulu."
"Iya-iya ! beruntung deh yg dapet suami kayak kakak . Udah baik, rajin , sopan , bisa masak lagi." pujiku padanya.
"Masak sih aku kayak gitu? lagian belom ada calon nya yu ! kayaknya aku bakalan jadi bujang lapuk deh , kalah sama yg muda-muda."
Kami pun terkikik bersama-sama.
Lelucon itu membuat bibirnya kembali tersenyum meninggalkan kesenduan yg ia pendam.
"Ekhm , seperti kata kakak tadi ! jangan pesimis.
Lagian kakak itu terlalu perfect untuk seorang kandidat calon suami idaman. Aku aja mau ,kalau ada formulir pendaftaran nya !"
Rizal terhenyak untuk sesaat . Bibirnya melengkungkan sebuah senyuman."Beneran ?"
"He-em , tapi pasti banyak saingannya lah ya !"
Rizal hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan ku.
Tangannya masih Lues menata hidangan yg barusaja selesai ia olah itu ke atas piring.
Kepulan asap panas masih menguar dari atas piring yg telah tertata rapi di atas meja.
"Selamat menikmati !" Ucapnya mempersilahkan aku untuk ikut menyantap hidangan sajiannya.