Maduku

Maduku
part 8



Ketika pagi menjelang , menampakan sinar terang mentari pagi yg menelusup melalui celah jendela kaca.


Ke kerjapkan mataku berulang , mencoba menselaraskan pandangan ku dengan sorot cahaya matahari yg memaksa mataku memicing.


Kulirik detik waktu di jam weker ku.


Dan jarum panjangnya berhenti tepat pukul sembilan pagi.


Ku lengkung kan tubuh ku ke belakang , sekedar mengulet melemaskan otot-otot ku yg baru saja beristirahat.


.


Ku langkahkan kaki ku gontai menuju kamar mandi. Gemericik air yg mengenai kulit ku seketika melenyapkan rasa malas yg masih terus mengakar dalam diri.


••••••••••••


"Pagi.." sapa ku lembut pada teman-teman yg sedang lahap menikmati sarapan mereka.


"Pagi juga ayu ! kemarin darimana aja lo ?" bagus mencecarku dengan pertanyaan nya.


Ku geser sebuah bangku dan ku dudukan tubuhku tepat di samping Raka.


"Oh ! kemarin cuma kepantai aja."


"Kemana lagi abis itu?" tanya Raka dengan ekspresi ketus nya.


"Nggak ada . Cuma makan abis itu kita pulang."


"Lain kali kalo lo mau kemana-mana bilang aja sama gue ! nggak usah pergi sama cowok lain.." dengus nya kesal.


Keningku berkerut."Kok dia marah sih?" batin ku bingung.


"Ngerti nggak Lo? diem aja gue ajak ngomong juga !"


"Apa sih ka? lo kenapa jadi marah-marah ke gue?" tanya ku tak paham dengan sikap Raka.


"Ck, ya pokok nya lo nggak boleh pergi-pergi sama cowok lain. Ada gue , yg bisa anterin Lo kemanapun Lo mau. Denger nggak !"


"Iya !" jawabku singkat . Ingin ku menolak dan berucap tidak .


Namun , hal itu bukanlah suatu yg bijak ketika dihadapkan dengan sikap Raka yg tergolong frontal dan juga nekat.


Untuk saat ini , lebih baik ia diam , dan mengiyakan setiap penuturan dari pria itu.


•••••••••••••


Langkah kaki ku menghentak kecil di area sebuah taman mini .


Kerikil kecil ku tendang pelan hingga membuat batu tak berdosa itu melenting jauh dari tempatnya.


Kesal , marah , dan hadir nya hal lain yg tiba-tiba kembali berkecamuk dalam diriku ketika mengingat wajah Raka yg melintas di benak ku.


Pria mesum itu , dengan otoriter dan juga segala macam niat yg terselebung di otaknya.


Membuat ku serasa ingin meremat pria itu menjadi gumpalan kertas dan membuangnya sejauh mungkin. Jauh , hingga tak lagi terlihat oleh ku.


Di sini , di taman bunga mini dengan ragam kupu-kupu yg beterbangan. Ayu tertunduk dengan pikiran aneh yg terus tertuju pada sosok Raka.


Angannya seolah terus terbuka dan menuntunnya pada sosok pria yg telah mengambil ciuman pertamanya.


Pucuk di cinta ulam pun tiba , ketika ia masih terlarut dalam buai pikir nya. Sosok yg ada di pikirannya pun tiba-tiba datang dan duduk berdampingan dengan nya.


"Ngapain bengong di sini?" tanya nya mencubit kecil pucuk hidung ku.


"Nggak ada , cuma lagi bingung aja ."


"Hm ! bingung kenapa?" tutur nya berbeda. Bahasa nya yg lemah lembut , mencerminkan kepribadian yg berbeda dari biasanya.


"Ini beneran Raka kan?"


"Iya lah!" jawabnya yakin.


Ku ulurkan tangan ku dan ku sentuh keningnya."Nggak panas kok!"


"Apaan sih..!" sembari menepis jemariku yg masih menempel di keningnya.


"Gue mau ngomong serius!"


"Soal apa?"


"Ekhm , gu-gue suka ama lo !"


Netra ku yg semula redup seketika membola sempurna ketika mendengar tutur katanya yg menuju arah pernyataan cinta."Ha?"


"Gue serius ! please kasih gue kesempatan buat buktiin perasaan gue ke Lo!" mohon nya bersungguh-sungguh.


"Ma-af ka . Tapi kayaknya nggak bisa.."


"Kenapa? please kasih gue alasan !" tuntut nya tak terima dengan keputusan ku.


Aku mendengus lirih , ku usap wajahku kasar. "Aku nggak tau ka ! please jangan kayak gini!"


Raka terdiam untuk sesaat , keningnya berkerut sebelum akhirnya kecurigaan nya kembali mencuat."Apa ini ada hubungannya sama cowok kemarin?"


"Seketika aku tergagap , seolah bingung harus menjawab seperti apa. "Eng-engak ka! ini nggak ada hubungannya sama dia!"


"Terus kenapa?"


"Aku butuh waktu , untuk berpikir sebelum aku kasih kamu sebuah jawaban ka!"


"Yaudah oke ! besok kita ketemu lagi di sini.


Dan aku mau kamu udah siapin jawaban nya.


"Besok ?"


Dan raka mengangguk kan kepalanya pelan."Besok di jam yg sama. Aku harap kamu nggak bikin aku kecewa."


"Akan ku usahakan !" ucapku seraya berbalik dan meninggalkan Raka yg masih menatap ku dari tempatnya berdiri.


Jujur , aku dilema. Di satu sisi aku ingin bersanding dengan Rizal si pria dewasa dengan segala kelembutan yg ia miliki.


Dan di satu sisi , ada Raka yg barusaja menyatakan perasaan nya padaku.


Pria itu , dengan segala ego dan juga sifat yg tak terduga , membuatku sedikit ngeri ketika membayangkan tingkat emosional nya ketika aku memberikan penolakan ku terhadap pernyataan cinta nya.


" Terima atau nggak ya ?"


*******


Keesokan harinya.


Sesuai dengan janji yg di baut sebelum nya.


Aku dan dia kembali bertemu di tempat semula.


Aku melangkah perlahan , menghampiri Raka yg telah duduk di atas bangku kayu di area taman. "Hay.." ucap ku canggung ketika kakiku telah berdiri tepat di sampingnya.


"Hay ! duduk yu!" ucapnya yg refleks menggeser tubuhnya dan menyisakan sedikit bangku untuk ku duduki.


"Hm , thank"


"Jadi gimana ,udah ada jawaban nya?"


"Ekhm , udah kok !"


Raka menautkan ke dua alisnya , bingung dengan jawaban ku yg terkesan ambigu.


"Udah ? maksutnya kamu nerima aku , gitu?"


Alisnya kembali bertaut."Syarat ? syarat apa !"


"Aku terima kamu , asal rekaman kita waktu itu kamu hapus!" ucapku dengan senyum kesepakatan.


"Tunggu di sini!" titahnya yg segera beranjak dari duduknya.


Kakinya melangkah cepat meninggalkan ku yg masih bingung dengan tutur kata yg ia titahkan. "Maksutnya apa coba?" cibir ku lirih.


"Nih , kamu aja yg hapus!" seraya mengangsurkan kotak handycam nya kepadaku.


Senyumku mengembang sempurna . Jemariku meraih benda persegi itu dan mengutak-atik file penting yg ingin segera ku lenyapkan.


••••••••••


Suasana yg berbeda ketika aku dan Raka resmi menyandang status sebagai pasangan kekasih.


Kami masih berbincang ria ketika resto masih dalam keadaan sepi.


Celetukan-celetukan remeh di lontarkan oleh teman-teman yg lain kepada kami.


Aku hanya terkikik tanpa menuturkan suatu kata untuk sebuah penjelasan.


Malam mulai menyapa , aku masih dengan kesibukan pekerjaan ku . Melayani pesanan tamu dan juga wira-wiri mengantar banyaknya orderan.


Sebuah tangan melambai ke arahku , memaksaku untuk segera beranjak meskipun aku baru saja mengistirahatkan kaki ku yg mulai terasa kebas .


"Malem ayu!" Seseorang menyapaku dengan suara yg tak lagi asing di Indra pendengaran ku.


"Kak Rizal!" pekik ku senang.


"Tumben sendiri?" tanyaku penuh selidik.


"Iya nih ! temenin dong.."


"Bisa aja kakak! mau pesen apa?"


"Jus alpukat aja yu."


"Ya udah ! tunggu bentar ya kak!"


Aku sedikit berbincang dengan Rizal , sesekali tawaku pecah ketika mendengar lelucon yg ia kisahkan padaku.


Namun , aku lupa. Keakraban ku dengan Rizal membuat seseorang di belakang sana menggeram kesal , menahan kecemburuan.


"Sayang ! ini siapa" tanya Raka dengan senyum kilas nya yg sedikit menakutkan.


"Eh . Ekhm , kenalin ka. Ini kak Rizal , dan kak Rizal ini Raka . Dia , , ,"


"Raka ! pacar nya ayu." ucapnya menyombongkan diri.


Ku cubit lengannya dengan senyum cantik yg masih terpasang rapi di wajahku."Kamu apa-apa an sih!" bisik ku lirih dengan nada geram.


"Gue Rizal, temen nya ayu." jawab Rizal tenang.


Kami masih duduk berdampingan , suasana tegang dan juga canggung seolah tak kunjung lenyap meskipun kami sudah duduk bersama di waktu yg lumayan lama.


"Ya udah yu. Aku pamit pulang aja ya."


"Hati-hati kak ! jangan bosen untuk datang lagi ke sini." tutur ku lembut sembari mengantarnya sampai di depan pagar.


"Hati-hati kak!" seraya ku lambaikan tangan ku ke padanya. Dia berlalu , seiring hilangnya kendaraan yg ia tumpangi di ujung jalan.


•••••••••••


Bulan demi bulan terasa cepat berlalu.


Begitu juga dengan kisah asmara ku.


Percintaan remaja dengan segala masalah kecil yg sering terjadi mewarnai kisah kami berdua.


Malam ini , di sebuah cafe mewah di area mall ternama di kota ini.


Raka dengan bangga nya berlutut di hadapan ku dengan sebuah cincin berlian yg berada di dalam genggamannya. "Will you marry me ?"


Ucapnya yakin , tanpa keraguan.


Aku menutup mulutku yg masih ternganga , Hatiku masih berdebar , seolah tak yakin akan suasana romantis yg terjadi kepadaku.


Namun , angan ku kembali tersadar .Kalau ini bukanlah suatu mimpi seiring terdengarnya riuh tepuk tangan dari para tamu yg berada di area cafe.


" Bukankah ini terlalu cepat? mengingat hubungan kita yg masih seumur jagung. Aku juga belum pernah bertemu dengan keluarga kamu sayang !"


"Aku sudah memantapkan hati ku dan menjatuhkan pilihan ku padamu sayang. Entah berapa lama kita berhubungan aku tak peduli akan hal itu. Dan masalah keluarga , aku akan membawamu untuk bertemu mereka besok."


••••••••••


Sejak semalam aku tak bisa memejamkan mataku. Pikir ku seolah kacau , disibukkan dengan persepsi buruk yg sudah carut marut mengisi kepalaku.


Memikirkan tentang sebuah pertemuan , membuat ia terjaga hingga pagi kembali menjelang.


Gugup . Satu kata yg menggambarkan bagaimana perasaan ku kali ini.


Kaki yg gemetar , wajah yg terlihat pucat dan juga jemari nya yg terasa dingin ketika mobil yg mereka tumpangi telah berhenti sempurna di sebuah bangunan mewah berpagar tinggi kediaman keluarga Raka.


Dengan bangganya pria ini menggandeng tangan ku menyusuri lantai granit tempatku berpijak. "Jangan gugup , yakinlah ada aku yg selalu di sampingmu!" tutur nya menenangkan risau ku.


Ku ulas senyum tipis ku , semakin ku eratkan genggaman ku pada jemari nya yg terasa hangat melingkar di sekat jemariku yg masih terasa beku.


"Assalamualaikum mama!" ucap Raka ketika kami baru saja menapaki lantai dalam rumah.


"Waalaikum salam . Sayang !!


kamu kok tumben pulang." Ucapnya senang seraya mengecup kening sang putra.


"Iya ma. Hari ini Raka mau kenalin seseorang sama mama." ucap nya sembari melirik ke arah ku.


"Kebetulan banget kamu hari ini pulang.


Tuh ada Cindy di dapur ,dia lagi bantuin mama masak." tutur sang mama seolah acuh akan keberadaan ku.


"Cindy ma?" Raka sedikit terkejut ketika mendengar nama itu.


"Iya . Cindy anak temen arisan mama.


Kamu udah tau kan ! lha terus ini siapa ?" tanya mama Raka seraya menunjuk ke arah ku.


"Oh , ini yg mau Raka kenalin ke mama. Nama nya ayu. Pacar Raka ma."


"Halo Tante ! saya ayu."


"Oh , saya iren . Mamanya Raka." ucapnya datar seolah menganggap remeh keberadaan ku.


Dari paras nya , tatapan matanya . Jelas tersirat akan sifat enggan nya untuk menerima kehadiran ku di tempat ini.


Aku hanya bisa terdiam , sesekali meneguk ludah ku yg terasa mengering seiring tercekat nya setiap tutur kata yg berusaha ku lontarkan kepada mama iren.


"Cindy sayang , sini bentar sayang !


nih ada Raka, dia baru pulang Loh." ucapnya lembut syarat akan kasih sayang.


Jujur , aku sedikit iri dengan orang yg mendapat perhatian khusus seperti Cindy ini.


Tak berselang lama , cindy pun datang.


Paras cantiknya , dengan senyum manis dan pernak-pernik branded yg melekat pada dirinya. Membuat ku seketika tersadar akan perlakuan berbeda yg terjadi antara aku dan juga gadis cantik ini.