Maduku

Maduku
part 12



Kami berjalan pelan menuju area taman. Saling diam , dan tak tau harus berucap apa untuk memulai sebuah percakapan.


Di sebuah bangku besi , kami berdua terduduk dalam diam untuk waktu yg lumayan lama.


Ku tatap jengah indahnya warna langit seiring waktu yg kian terulur.


Raka seolah tergagap menyusun untai kata yg akan ia ucapkan.


"Aku akan pergi , jika memang tidak ada yg akan kita bahas !" ucapku beranjak dari sana.


"Eh , tu-tunggu sebentar ." tahan nya memegangi pergelangan tangan ku.


Ku putar bola mataku malas dan kembali ku dudukkan diriku ke atas bangku. "Katakan !" ucapku sembari menopang daguku.


Raka menghela nafasnya panjang ."Kenapa ? selama setahun belakangan ini kamu seolah menghilang ? bukankah sebelumnya kita sudah pernah berjanji akan tetap menjalin hubungan baik , meskipun hubungan kita tak lagi terajut seperti dulu ?"


Ku palingkan wajah ku menatap ke arah lain."Aku butuh suasana baru ka ! dan tentu melupakan semuanya yg pernah kita lalui."


"Lalu , kenapa kamu memblokir semua jalan komunikasi kita ? bukankah ini terlalu kejam?


Mungkin , bagimu hubungan kita bukanlah suatu yg berarti . Tapi apa kamu tau , seberapa besar usahaku untuk menemukan keberadaan mu ? apa kamu ngerti seberapa lelah nya aku ketika tak jua mendapatkan sebuah kabar mengenai dirimu ?" ucapnya sendu dengan netranya yg mulai berair.


"Aku rindu !" tutur nya lagi dengan bulir air mata nya yg telah jatuh di permukaan pipinya.


"Untuk apa ka ? bukankah kita sudah berakhir ? dan lagi pula kita sudah sama-sama bahagia dengan pasangan kita masing-masing."


Ku tatap manik tajam yg terlihat memerah akibat bulir air mata yg masih menetes dari sudut matanya."Lupakan ka ! sudah tiba saatnya bagi kita memulai sebuah cerita baru tanpa harus kembali mengenang kisah kelam masa lalu kita !"


"Aku hanya ingin menjalin kasih dengan mu yu , bukan dengan wanita lain ! ku mohon , kembalilah !" ucapnya lirih menggenggam jemari ku.


Ku gelengkan kepalaku pelan. "Maaf ka ! seperti nya harap mu tak dapat lagi ku penuhi.


Aku sudah bertunangan , begitupula dengan mu . Kau juga sudah bersanding dengan perempuan pilihan mu. Kita sama-sama bahagia !" ucapku lirih dengan suara bergetar.


Hatiku serasa teriris ngilu ketika bibirku terpaksa berucap dusta dengan Raka. Cara yg keji untuk membuat pria ini menyerah atas harap nya.


Netranya mengerjap beberapa kali , seiring sorot matanya yg kian menajam."Katakan , kalau itu hanya sebuah kebohongan yu ! kamu nggak serius kan ?" tanyanya penuh keraguan.


Ku ulas senyum tipis di sudut bibirku seraya ku gelengkan kepalaku perlahan. "Itu kebenarannya ka !"


Jemarinya perlahan mulai melepaskan genggaman nya dari tangan ku , pandangan nya seolah redup seiring tutur dusta ku yg mulai ia percayai.


"Aku nggak yakin kalau kamu secepat itu bisa melupakan kisah kita yu . Dan sampai sekarang pun aku masih yakin kalau keberadaan ku di hatimu masih terjaga seperti waktu dulu ."


Aku terdiam . Tak lagi bisa berucap kata dusta. Hanya suara bising kendaraan yg membentang di antara kami.


Pandangan kami masih saling bertemu , menatap sendu pada satu sama lain.


Menyiratkan sembilu duka yg kembali mencabik lara hati.


Ketika kami masih saling terhanyut dalam suasana dilema , datanglah seorang gadis dengan bibir tertekuk menghampiri kami.


"Ekhm , aku , ehm , , " ucapnya tergagap menggaruk-garuk tengkuknya.


"Dia hanya meminta maaf soal pertikaian yg terjadi di antara kita sebelum nya . Jangan khawatir !" ucapku dengan senyum tipis ku.


Mereka berdua pamit , berlalu pergi dari hadapan ku.


Senyum ku perlahan mulai memudar , seiring topeng kepalsuan ku dan kepura-puraan ku sepenuhnya lepas ketika tangis ku kembali pecah . Jiwaku seolah kembali tercabik ketika melihat pemandangan mesra antar dua sejoli yg saling bergandengan dan bergelayut manja pada mantan kekasihku. "Sesakit ini kah , merelakan pasangan kita untuk orang lain ?"


Langkah ku gontai menyusuri area parkiran mobil . Mencari-cari keberadaan Rizal yg katanya menungguku di tempat ini.


"Ma-af , lam-a ka-k !" ucapku dengan tersengal-sengal. Pandangan ku menunduk , menyembunyikan mata sembab ku dari Rizal.


"Nggak apa-apa !" ucap nya tenang sembari membelai rambutku penuh kelembutan.


Kami memutuskan untuk segera kembali , mengingat hari kian beranjak sore dan semua kebutuhan masih tersimpan dalam bagasi mobil.


••••••••••••••••


Sesampainya di rumah , kami segera menurunkan semua belanjaan. Menatanya rapi sesuai pada tempatnya.


Setelah semuanya selesai .


Ku bawa langkahku perlahan menyusuri tepian kolam. Duduk di tepian itu dan memainkan kaki-kaki kecilku di dalam jernihnya air kolam.


Ku tatap bayangmu di dalam sana , dan nampak lah raut menyedihkan memantul di atas nya. Ku tangkup wajah ku kuat-kuat , sesekali menarik ke dua pipiku agar membuat lengkungan keceriaan hadir di sana.


Namun , tetaplah sekuat apapun usaha ku untuk menghibur diriku sendiri dan memalsukan semua rasa ku.


Tetaplah , saat ini aku kembali tercambuk oleh perihnya luka kenangan lama.


"Aku pernah mendengar seseorang berucap seperti ini. "Di saat hatimu merasa resah ataupun gundah dengan segala persoalan hidup. Carilah seseorang yg bisa membantumu meringankan segala beban hidup mu. Buatlah semuanya sirna ,seiring tutur kata mu yg terucap nyata , bagai sebuah noda yg tersiram oleh air mengalir. Maka noda itu akan lenyap begitupun dengan bau yg ia bawa." tutur Rizal menatapku penuh kelembutan.


Ku seka bulir air mataku dengan jemariku , senyumku perlahan kembali mengembang , seiring kalimat yg keluar dari mulut ku.


"Bukankah sakit rasanya , ketika kita harus berucap dusta dan mengarang sebuah cerita palsu demi melepaskan diri dari ikatan masa lalu."


"Mungkinkah aku telah berdosa kak ? ketika aku membohonginya dengan sebuah kepalsuan yg bahkan dengan lancangnya aku menyeret kakak dalam lingkup permasalahan ini."


Rizal terhenyak , alisnya bertautan."Menyeret ku ?" ucapnya perlahan.


"He-em ! maaf atas kelancaran ku kak. Aku terpaksa menjadikan mu sebuah tameng dan mengatasnamakan mu sebagi tunangan ku ."


"Kau bisa menghukum ku , atau kau juga bisa mengusir ku dari sini. Apapun itu aku akan terima hukuman mu kak. Sekali lagi , aku minta maaf !"


Rizal tertawa lirih ."Bodoh ! lupakan hal itu . Aku nggak apa-apa. Justru aku sedikit lega . Dengan begitu pria itu pasti akan menyerah dan melepaskan segala ikatan yg masih terjalin di antara kalian. "


"Lupakan semuanya , jangan pernah lagi berpikir untuk kembali yu ."