LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Kesiapan



Wanita itu berjalan memasuki sebuah bar. Dengan langkah pasti penuh ketegasan dan tatapan tajam penuh keberanian, dia siap untuk bertarung.


“Saya pikir kita sudah membahas ini sebelumnya, tapi anda tetap saja menggunakan trik kotor seperti dulu.” ucapnya berterus terang begitu menghampiri seorang pria di meja bar.


“Trik apa yang anda maksud? Saya cuma mengajaknya berbincang untuk menyamakan persepsi. Komunikasi yang bagus adalah kunci dari kerjasama tim yang baik. Masa anda tidak paham hal dasar seperti itu.”


“Begitu? Lalu anda pasti tidak sengaja menjatuhkan ini, lagi” ucap Calya seraya mengeluarkan amplop coklat yang familiar.


“Nona Calya, Anda pasti tahu bagaimana cara kerja di bidang ini. Kita harus agresif untuk mengamankan posisi kita. Tidakkah Anda melakukan itu juga untuk memenangkan semua tender itu.”


“Tentu saja anda benar, hanya orang yang agresif yang bisa bertahan di industri ini. Tapi menggunakan trik kotor seperti itu bukan gaya saya.” Calya menyerahkan kembali amplop coklat itu, tanpa basa-basi melangkah pergi dari bar itu.


“Apa kau sadar, sifat keras kepala itu suatu saat akan membawa masalah untukmu.” ucap pria itu setelah beberapa langkah wanita itu berjalan.


“Benar sekali. saya tahu saya harus bekerja keras membereskan masalah, seperti sekarang ini” jawab wanita itu dengan senyum dingin di wajahnya, dengan acuh berjalan meninggalkan pria paruh baya yang terlihat sangat kesal saat itu.


***


“Apa maumu?” tanya wanita itu terus terang. Calya yang baru saja keluar dari bar tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran Arion disana.


“I need your help,” ucap Arion dengan raut wajah serius. Bahkan Calya sempat dibuat terkejut dengan raut wajah yang jarang ditunjukan oleh pria itu, hingga membuatnya lupa dengan pertanyaan yang ditujukannya pada pria itu.


“Ikut denganku” ucap pria itu langsung menarik tangan Calya. 


Keduanya berjalan beriringan tanpa saling berbicara. menyusuri penyebrangan jalan hingga sampai di sebuah restoran Perancis. Berjalan masuk perlahan, duduk di sebuah meja, masih tanpa satu katapun yang terucap.


Calya baru akan menanyakan tujuan kedatangan mereka di tempat itu tapi segera dia urungkan setelah melihat raut wajah pria itu yang terlihat cemas. Sepintas terpikirkan persoalan yang mungkin berkaitan, kemudian melirik pada jam di pergelangan tangannya ‘masih ada waktu’ ucapnya dalam hati.


Tak berapa lama Nyonya Helena terlihat memasuki restoran yang sama. Wanita itu menyapa singkat sebelum duduk tepat di depan Arion dan Calya. Kemudian hanya suara dentingan cangkir yang terdengar di meja itu.


“Jadi, apa yang ingin kamu ketahui kali ini?” tanya wanita itu setelah menyeruput teh nya. 


Arion terlihat ragu dan terdiam, sebuah ingatan mulai terlintas di pikirannya. Ingatan tentang saat terakhir dia bertemu dengan Nyonya Helena. 


“Jadi, Anda sudah tahu siapa saya?” tanya pria itu sedikit curiga.


“Tentu saja. Sekarang katakan, apa saja yang ingin kamu ketahui?”


Pria itu tertegun mendapat respon tegas dan penuh percaya diri dari wanita itu, hingga membuatnya tidak bisa berbicara. Sekarang semua pertanyaan yang telah lama tersimpan di hatinya terasa semakin berat untuk diucapkan. Baginya rasa percaya diri yang ditunjukkan oleh nyonya Helena seperti pertanda bahwa mimpi buruk dan ketakutannya selama ini adalah nyata. 


“Pergilah, dan pikirkan kembali apa yang ingin kau tanyakan. Setelah itu kau bisa memanggilku kembali.” 


“Semuanya. Ceritakan padaku semuanya sekarang” keberanian akhirnya terkumpul di diri pria itu. Tidak ada lagi lari, kali ini dia pasti akan mendengarkan semua jawabannya.


“Baiklah, kalau begitu. Akan kuceritakan semua yang aku ketahui. Tapi asal kau tahu saja, aku bukan tipe orang yang senang dipotong saat sedang berbicara. Jadi sebaiknya kau dengarkan ceritaku sampai selesai. Tidak akan kubiarkan kau pergi sebelum itu.”


“Tentu saja.” jawab Arion.


“Tuan Darta adalah pria yang sangat mencintai istrinya, juga keluarganya. Sepanjang pertemuan kami tidak pernah sekalipun dia tidak menceritakan tentang keluarganya. Itulah satu-satunya alasan pertemuan kami selama ini. Baginya aku adalah seorang teman untuk berbagi cerita.”


“Bukankah sudah kuperingatkan untuk tidak memotong pembicaraanku. Seharusnya kau bisa tunjukan sedikit rasa hormatmu pada orang yang lebih tua.”


Arion mencoba menahan semua emosinya. Meski semua kata-kata wanita itu terdengar seperti kebohongan yang memuakkan. Dia akan mencoba mendengar sampai sejauh apa kebohongan itu akan berlanjut. Tentu saja agar dia bisa membantah semua kebohongan itu nantinya.


“Pertemuan pertama kami 10 tahun yang lalu adalah yang paling berkesan bagiku. Saat itu untuk pertama kalinya aku duduk menunggu tamu di dalam salah satu suite room terbaik negeri ini. Aku bertanya-tanya orang kaya macam apa tamuku kali ini dan permintaan aneh seperti apa yang akan orang ini ucapkan nanti. Saat dia melangkah masuk ke dalam ruangan, entah bagaimana aku bisa merasakan dua hal yang bertolak belakang. Dengan setelan mahal yang menggambarkan kekayaan juga kesedihan dari sorot mata yang kosong.”


“Berapa lama waktu luang yang bisa Anda berikan hari ini Nona Helena?” tanya pria yang baru saja memasuki ruangan tersebut.


“Tak terbatas tuan. Itu adalah layanan khusus untuk klien VIP. “ jawab wanita itu santai.


“Apa layanan khusus klien VIP Anda mencangkup bebas mengatur waktu dan tempat pertemuan?”


“Ya.”


“Dan Anda akan selalu datang apapun yang terjadi?”


“Tentu saja Tuan. Itu sudah sewajarnya.”


“Baiklah kalau begitu. Mulai hari ini saya akan menjadi klien VIP Anda. Untuk itu Anda akan mendapatkan bayaran 3x lipat dari tarif yang Anda tawarkan sebelumnya.”


“Terima kasih Tuan Darta. Tapi setidaknya saya boleh tau, apa yang harus saya lakukan dengan bayaran sebesar itu?”


“Temani saya dan dengarkan cerita saya.”


***


Qeiza berjalan dengan riang di koridor, pekerjaannya selesai lebih cepat dan dia bisa pulang lebih awal. Wanita itu sudah membuat daftar rencana yang ingin dia lakukan sebelum pulang kerumah, sepertinya suasana hatinya akan sangat baik sampai hari berakhir.


“Seperti yang sudah saya katakan sebekumnya, tim kami sudah berpengalaman dalam menangani berbagai jenis campaign. Saya yakin perusahaan anda tidak akan kecewa jika memutuskan untuk memilih kami.”


Suara lantang seorang pria yang sedang bertelepon menggema di sepanjang koridor Qeiza awalnya tidak mempedulikan suara itu, namun hanya beberapa detik berselang wanita itu dengan panik menghentikan langkahnya. Matanya mulai mencari-cari tempat dimana ia bisa menyembunyikan dirinya sebelum pria itu menemukannya disini.


Qeiza dengan cepat berlari menuju pintu tangga darurat beberapa meter didepannya. Tepat saat pintunya tertutup pria itu juga berjalan melintasi koridor. Sungguh suatu keberuntungan bagi Qeiza karena berhasil menghindari Damian tepat pada waktunya. Dibalik pintu itu Qeiza bersandar sambil mengatur napasnya yang terengah-engah.


Damian berjalan masuk ke Creative Department yang hanya menyisakan Rezvan dan Kenzo disana. “Sore,” sapa pria itu. “Sore,” jawab kedua pria disana. “Perlu sesuatu tentang proyek, tapi tidak ada siapapun selain kami sekarang.” tanya Kenzo. Damian melihat ke arah meja Qeiza dan mendapati wanita itu tidak ada disana.


“Apa Qeiza ada tugas diluar?”


“Qeiza? Tidak. dia baru saja pulang.”


“Barusan?”


“Ya. Seharusnya kalian bertemu di koridor.”


“Baiklah, terima kasih,” Damian meninggalkan ruangan itu dengan penuh tanda tanya. ‘Kemana perginya dia?’