LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Sudden Plan



Selama perjalanan kembali ke Creative Department Calya terus memikirkan semua percakapan yang baru saja terjadi. Dia memang dengan tegas mengakui kesalahannya, tapi bukan berarti dia tidak peduli.


Dua tahun lebih dia berdedikasi di perusahaan ini. Mulai dari karyawan magang, menjadi staf art director hingga ia bisa menjabat sebagai Creative Director. Tidak satu pun dia dapatkan dengan mudah.


Semua ada pengorbanan waktu, pikiran dan tenaga yang dilakukan bersama keringat dan air mata yang dikeluarkan tidak akan cukup dijelaskan dengan kata – kata. Sekarang semua itu mungkin akan segera berakhir, sungguh ironi.


‘Tidak ada waktu untuk menyesal! Jika memang harus berakhir, aku akan mengakhirinya dengan baik,’ ucapnya dalam hati.


Calya memang bukan tipe orang yang akan meratap dalam penyesalan, dia lebih memilih untuk memikirkan jalan keluar. Wanita itu mempercepat langkahnya yang terlihat percaya diri, kembali keruangan untuk kembali menyelesaikan pekerjaannya.


Saat dia kembali, alih – alih ruangan yang kosong  dia malah mendapati semua staf masih berada disana. Pemandangan yang cukup membuatnya heran, saat ini dia merasa sedikit tersentuh.


Jika biasanya orang lain yang akan melihatnya bekerja lembur sendirian, sekarang dia malah melihat semua orang sedang sibuk bekerja. Membuatnya ingin berterima kasih.


“Cal!” Qeiza tiba – tiba berdiri disampingnya, membuyarkan lamunan wanita itu.


“Katanya kamu dipanggil ke Management, ada apa?” wanita itu kembali bertanya tanpa memperhatikan raut wajah temannya yang masih terkejut.


“It’s nothing” jawabnya singkat sambil berjalan melaluinya.


“Nga mungkin nga ada apa – apa! Are they scolding you because of our work?” Qeiza dan otak detektifnya memang tidak bisa dikelabui, untung saja dia hanya berhasil menebak benar setengahnya.


Sementara Calya yang masih berjalan di depannya masih bisa memikirkan alasan lain untuk dikatakan.


“Of course no! Mereka Cuma ingin tahu progress kita aja, so..” wanita itu seketika berhenti bicara saat dia membalikkan badannya, untuk kedua kalinya dia dibuat terkejut hari ini.


“So, what?” tanya Kenzo, tiba – tiba ada di belakangnya bersama dengan Rezvan.


“Sejak kapan kalian ada disini?” tanya Calya dengan raut wajah datar, “Baru saja!” jawab Rezvan kemudian.


Calya menggeleng kemudian melanjutkan langkahnya sampai ke meja kerja dan duduk dikursi, diikuti ketiga orang rekannya yang juga ikut duduk di depannya. Langkah yang serempak dan posisi yang disusun membuat mereka terlihat seperti roti lapis.


“So, I explained to them about our new plan,” wanita itu melanjutkan penjelasannya yang tertunda.


“Lalu bagaimana respon mereka?” tanya Rezvan penasaran.


“Seperti biasa. Hanya memperingatkan untuk segera menyelesaikan semuanya dengan baik,” jawab Calya.


Ternyata wanita itu juga bisa menjadi pembohong yang baik, selain menutupi kelemahannya dan berpura – pura untuk baik – baik saja. Menurutnya ini adalah masalah pribadi yang tidak ada sangkut pautnya dengan ketiga rekannya itu. Dia tidak ingin menambah beban pikiran mereka.


“Sudah kubilang mereka tidak akan berani bicara yang aneh – aneh jika di depan Calya,” suara Kenzo yang cukup melengking mengagetkan wanita itu untuk ketiga kalinya.


“Tentu saja! Calya punya aura dingin yang mengintimidasi, siapapun tidak akan berani. Lain jika kau yang pergi,” Rezvan menimpali kata – kata Kenzo.


Sasaran dari kalimat ejekannya adalah Kenzo, tapi tanpa sadar dia membuat Calya juga kesal. Wanita itu sempat ingin protes namun didahului oleh Kenzo.


“Memangnya apa yang salah dengan diriku?” tanya Kenzo mulai kesal.


“Kalau kau yang pergi, pasti hanya


akan diam dan menunduk. Sementara kalau itu Qeiza, matanya akan memerah dan menangis,” tambah Rezvan lagi.


“Hei! Kenapa jadi bawa – bawa aku!” Kenzo yang masih ingin membalas kata – kata Rezvan kali ini didahului oleh Qeiza. Wanita itu tidak terima tiba – tiba diseret dalam percakapan ini.


“Lihatlah Rezvan! Dia berbicara seolah dia yang paling keren. Padahal sebenarnya Cal, saat kau tidak ada dia adalah yang paling kebingungan,” Kenzo mulai menyadu pada Calya.


“Itu tidak benar! Aku adalah yang paling berinisiatif dengan melakukan setiap tugasnya,” Rezvan membela diri. Berbicara dengan penuh percaya diri lengkap dengan bahasa tubuhnya.


“Cut the crap! Atau tanganku ini akan berinisiatif untuk memukulmu,” ancam Qeiza, Rezvan langsung diam karena sadar rekannya itu tidak main – main.


Calya tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Dia lupa dia punya roti lapis di depanya yang tingkahnya bisa menghibur.


“Apa pekerjaan kalian sudah selesai?” pertanyaan Calya membuat kedua pria yang asik berdebat itu seketika diam.


“Come on, Cal! Kami baru saja menyelesaikan lima draft,” ucap Rezvan sambil menunjukkan tangannya yang membentuk angka lima.


“Lalu yang tersisa?” tanya wanita itu lagi, “masih banyak! Ayo perjalanan kita masih panjang!” Kenzo merespon seketika, dia beranjak dari kursi dan berusaha mengajak Rezvan mengikutinya.


“Haaahhh.. benar sekali. Tumpukan desain dan riset ku juga menunggu,” tambah Qeiza dengan suara pelan, helaan napas di awal kalimat memperjelas kesan letih didirinya.


Calya merasa kasihan melihat temannya yang biasanya paling ceria kini terlihat lesu. “Are you tired?” tanya Calya.


“I’m sooo tired! It’s sooo tiring! Bagaimana kau bisa melakukan semua ini selama dua tahun?” wanita itu langsung berubah cerewet seketika.


Calya hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Sebuah ide terlintas di pikirannya.


“Bagaimana kalau kita pergi liburan?”


“LIBURAN?!” tiba – tiba Kenzo dan Rezvan ada disana dan bertanya, membuat kedua wanita itu terkejut.


“Hei! Bukannya kalian sedang kerja?”


“Kalian mau pergi liburan? Kami juga mau ikut!” Rezvan kembali bertanya tanpa mempedulikan kata – kata Qeiza.


“Jangan ajak mereka, Cal! Nanti menyusahkan!” sambung Qeiza yang masih kesal karena diabaikan.


“Ayolah Cal! Seumur hidupku belum pernah liburan,” Kenzo mencoba merayu supaya diajak.


“Jangan berlebihan! Memangnya kamu tahanan hingga seumur hidup tidak pernah berlibur!” Qeiza kembali menanggapi kata – kata temannya dengan ketus.


Tok..tok.. tok..


Suara ketukan meja membuat ketiga orang itu menghentikan perdebatan. Calya yang mulai lelah dengan tingkah ‘roti lapis’ terpaksa mengambil tindakan.


“Okay! How about this? Jika kita berhasil menyelesaikan semua pekerjaan sebelum akhir pekan dan hasilnya bagus, seluruh tim akan pergi libur di hari minggu Bagaimana?” Calya mencoba memberi solusi.


“Seluruh tim?” tanya Kenzo memastikan, Calya mengangguk.


“Okay!!!” ungkapan kegembiraan keluar dari mulut Kenzo dengan tangan kanannya yang mengepal.


Rezvan kemudian.


Qeiza memukul lengan pria itu, “Kau tidak periksa kalender? Hari senin itu hari libur!”


“Then it’s a good news!” ucap Rezvan, dia langsung berbalik berdiri tegap menghadap seluruh staf “Semuanya! Dengarkan!” ucapnya sambil menepuk tangan tiga kali untuk menarik perhatian seluruh orang.


“Minggu ini kita akan pergi liburan tim!” kata – kata Rezvan langsung membuat semua staff berteriak karena senang.


“Eiitt tunggu dulu!” ucap Kenzo tiba – tiba, menghentikan sorakan para staf. “Itu hanya terjadi jika kita bisa menyelesaikan semua pekerjaan minggu ini. Jadi, pastikan kalian mengerjakan pekerjaan kalian dengan baik!”


Kenzo menambahkan informasi penting yang lupa disampaikan oleh Rezvan. Sementara kedua wanita itu masih itu masih heran dengan tingkah rekan – rekannya.


“They act like Bad Boss and Good Boss!” ucap Qeiza sambil menggelengkan kepala.


***


Hari berlalu seluruh tim bekerja lebih maksimal berkat janji liburan yang diumumkan oleh Rezvan dan Kenzo.


Mereka semua datang lebih awal, pulang lebih larut dan hampir tidak keluar ruangan kecuali untuk urusan mendesak. Alhasil mereka berhasil menyelesaikan semua pekerjaan sedikit lebih cepat dari dugaan.


Sabtu itu mereka bekerja lebih santai, sehingga memungkinkan mereka untuk menikmati waktu makan siang diluar.


“Finally! Setelah sekian lama sekarang aku bisa merasakan makan siang enak diluar sana!” ucap Qeiza sambil meregangkan otot tubuhnya.


Dia dan Calya saat ini sedang berada di depan lift untuk pergi ke salah satu restoran favorit Qeiza.


“Orang akan menganggapmu aneh jika terus melakukan itu,” Calya mengomentari gerakan Qeiza yang seperti orang patah tulang. Wanita itu hanya tertawa mendengarnya.


Ting!


Pintu lift terbuka, kedua wanita itu langsung melangkah masuk bersamaan.


“So, where will we going tomorrow?” tanya Qeiza, membuat Calya terdiam.


“Aku pikir kamu yang cari tempat!” jawabnya asal.


“What! Kan kamu yang punya rencana!” ucap Qeiza tak percaya.


“Mungkin Kenzo sama Rezvan udah tentuin tempat,” Calya mencoba menghindari fakta bahwa ia lupa.


“Justru mereka tadi pagi yang tanya sama aku! They said they are curious about your plan,” tambah Qeiza lagi.


Calya mulai bingung, “this is useless!” ucapnya frustasi.


Qeiza mulai takut, dia hampir berpikir temannya itu akan membatalkan liburan mereka.


“You know that I am bad at this stuff! Mana aku tahu tempat – tempat yang bagus buat liburan. Actually I want to asked you on that day, tapi lupa karena sibuk bekerja,” Calya akhirnya mengakui kesalahannya.


“Aaahh.. this is bad! Kemana kita harus cari tempat dalam sehari. Semua tempat mungkin udah dibooking sekarang” kali ini Qeiza yang berteriak frustasi.


“Kalian mau cari tempat liburan?” suara pria dari belakang mengagetkan kedua wanita itu.


“Teman saya punya villa di dekat pantai, sekitar 5 jam dari sini. Kalau kalian mau saya bisa tanyakan padanya,” Damian yang entah sejak kapan berada disana menawarkan solusi.


“Anda menguping…” pertanyaan Calya tiba – tiba dipotong oleh Qeiza “Tentu saja! Mohon bantuannya Bapak Damian,” ucap Qeiza dengan manis, dia langsung memberikan tatapan –tenanglah dulu- kepada Calya.


“Saya tidak menguping, kalian masuk dan langsung sibuk berbicara bahkan tidak


menekan nomor lantai tujuan kalian. Saya ingin tanya lantai tujuan kalian, tapi kalian tidak memberi saya kesempatan,” Pria yang sudah paham dengan sikap Calya langsung menjelaskan panjang lebar.


Qeiza mengangguk sambil tersenyum tidak enak, sementara Calya hanya mengangkat kedua bahunya dengan acuh.


“Maaf, Bapak Damian. Tapi tolong kabari kami secepatnya,” ucap Qeiza.


Sebenarnya dia  masih merasa tidak enak, namun masalah liburan ini lebih mendesak baginya.


“Tidak masalah. Kapan kalian akan pergi?”


“Besok pagi.”


“Besok pagi? Berapa orang?”


“Seluruh tim Creative Department.”


“Seluruh tim?” Damian terus dibuat terkejut akan jawaban dari pertanyaan – pertanyaannya.


“Lalu kalian akan berangkat menggunakan apa?” pertanyaan kali ini tidak langsung mendapatkan jawaban dari Qeiza.


Wanita itu hanya menatap kearah Calya tanpa bicara.


“Kalau memang liburan tim, saran saya lebih baik kalian menggunakan satu kendaraan. Saya punya kenalan yang biasa menyewakan mini bus. Nanti sekalian saya kirimkan nomornya bersama dengan alamat villa,” Qeiza bisa bernapas lega sekarang, Baginya Damian bagaikan malaikat penolong yang dikirim Tuhan atas masalah mereka saat ini.


“Sekali lagi terima kasih Bapak Damian,” ucap wanita itu.


“Tidak masalah. Hitung – hitung membayar hutang saya pada Calya,” jawab Damian.


“Saya?” tanya Calya, wanita yang sedari tadi diam dan mendengarkan itu sekarang merasa heran.


“Iya. Waktu itu seharusnya kita pergi bersama ke Ara Entertainment, tapi karena ada kerjaan lain anda harus pergi sendiri. Hutang itu yang saya maksud,” Damian menjelaskan maksud perkataannya.


“Ara Entertainment? Bukannya waktu itu kamu pergi dengan ‘Nis... maksud saya clien kita dari Niskala?” Qeiza buru – buru meralat ucapannya.


“Benar kebetulan waktu itu Ray ada bersama saya. Sebenarnya saya hanya bermaksud memintanya untuk mengantar Calya, tapi dia menawarkan untuk menggantikan saya,” pria itu menceritakan kembali kejadian tempo hari.


“Oooo.. begitu rupanya,” ucap Qeiza. Matanya melirik ke arah Calya lengkap dengan senyuman penuh makna yang dibalas dengan tatapan –diamlah- dari Calya. ‘Jadi itu inisiatifnya sendiri,’ ucap Calya dalam hati.