LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Perhatian



‘Sepi. Jam berapa ini? Aku harus siap-siap kerja.’


‘Tunggu dulu, kenapa posisi tidurku seperti ini? Benda berat apa yang menimpa kepalaku?’


Perlahan wanita itu membuka matanya.


‘Ini bukan kamarku.’


‘Ini.. ini studio tempat kami syuting. Jadi… aku ketiduran.’


‘Tunggu dulu.’


‘Aku ingat duduk disini sendirian. Lalu ini.. siapa?’


Calya baru tersadar bahwa dia baru saja tertidur sambil bersandar dibahu seseorang sementara kepala orang itu bersandar di kepalanya. Tiba-tiba seluruh nya kaku. Dia tak tahu harus berbuat apa. Bergerak sedikit saja mungkin akan membangunkan orang ini. Dia bahkan tak tahu siapa orang itu. 


Calya yang terjebak dalam kebingungannya memilih untuk berpura-pura tidur. Menunggu saat yang tepat baginya untuk bergerak, yang siapa sangka datang lebih cepat dari yang ia bayangkan. Ia merasa tangannya disentuh beberapa kali, orang ini pasti sedang berusaha membangunkanku, pikirannya.


Supaya terlihat seperti orang yang baru bangun tidur, Calya melakukan berbagai macam usaha. Mulai dari menyipitkan matanya, memegang kepala seakan merasa pusing hingga suara yang dibuat parau. Hingga akhirnya wanita itu mengetahui siapa pria di sampingnya dan kembali dibuat terkejut.


“Ini sudah larut, yang lain mungkin sudah selesai makan.” ucap Ray sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Pria yang tadinya berniat hanya membiarkan wanita itu istirahat sesaat malah ikut tertidur disampingnya.


Calya yang terkejut berhasil mengendalikan dirinya untuk tidak berteriak, gerak tubuhnya terlihat seperti keadaan ini tidak mempengaruhinya sama sekali. Namun hanya itu, hanya gerak tubuh yang bisa dia kendalikan. “Aku mau pulang!” ucap wanita itu dengan suara nyaring. Buru-buru beranjak dari tempat itu.


“Mau kemana?” Ray menahan tanganya, membuat langkahnya terhenti.


“Sudah kubilang aku mau pulang!” jawab Calya masih dengan suara nyaring.


“Tapi kau belum makan malam.” Ucap pria itu lagi.


“Ya.. aku akan makan dirumah nanti.” memberi alasan sekenanya agar bisa pergi dari sana secepatnya. Namun saat mencoba pergi langkahnya kembali terhenti, pria itu masih menahan tangannya.


“Kau yakin ingin langsung pulang?”


“Ya!”


“Tanpa membawa tasmu?”


Calya yang berusaha pergi spontan berhenti setelah mendengar kalimat barusan. dalam hatinya mengutuk tindakannya sendiri. Tapi sesuatu yang sudah terjadi hanya bisa disesali, walaupun tidak bisa dirubah setidaknya masih bisa dikoreksi. Itu yang sedang dia coba saat ini.


“Sini..” tangannya menengadah meminta tasnya pada pria itu. Tanpa menatap Ray, karena ia terlalu malu telah bertindak ceroboh dua kali.


Ray menyodorkan tasnya, secara sengaja tidak tepat di tangan wanita itu. Mungkin dia belum ingin wanita itu pergi, atau dia merasa bosan karena sudah lama tidak mengerjainya.


Calya yang tak kunjung merasakan tas ditangannya akhirnya melihat ke arah tangannya yang kosong. Mendapati tangan pria itu yang menyodorkan tasnya namun tak kunjung meletakkan tas itu diatas tangannya, membuatnya kesal. Dia berusaha mengambil tasnya tapi pria itu malah menghindar.


“Jangan bercanda! Cepat berikan tasku!” ucapnya tapi masih tak berani menatap pria itu.


Ray kembali menyodorkan tas Calya, kali ini tepat tangan wanita itu. Saat Calya ingin menarik tas nya pria itu dengan cepat bergerak maju mendekat. Dalam sepersekian detik berada tepat dan sangat dekat dengan wanita itu.


“Apa kau sedang sakit? Wajahmu terlihat pucat.” tanya Ray. Kali bukan sekedar Candaan untuk mengganggu wanita itu, raut wajahnya benar-benar terlihat khawatir.


“Calya.” ucap pria itu sekali lagi, membuat Calya tersadar namun tidak menghapus rasa gugup yang dia rasakan.


“Kau sungguh sedang tidak enak badan?” 


Ray terus melontarkan pertanyaan karena tak kunjung mendapat respon. Sementara Calya memang tak sanggup merespon. Wanita itu merasa seperti semuanya sedang berhenti. kerja otak, tubuh hingga napasnya. Rasa terkejut yang berulang ditambah dengan pergerakan tiba-tiba mungkin menjadi penyebabnya.


Sedikit dari kesadarannya yang tersisa berhasil membantunya bereaksi saat dia merasa tangan pria itu mulai turun dari dahinya dan hampir menyentuh pipinya, Calya akhirnya bergerak, mundur satu langkah menghindari pria itu.


“Apa yang kau lakukan?” Kata pertama yang diucapkan wanita itu setelah cukup lama terpaku.


“Aku cuma…”


“Aku tidak sakit! Aku cuma mau pulang!”


Calya pergi begitu selesai berbicara, tanpa menunggu respon ataupun menatap raut wajah pria itu disana.


***


Arion dengan langkah pasti memasuki gedung Panama Ad. Pria yang sedang sibuk dengan perluasan gim barunya itu hari ini datang ke Panama untuk diskusi tentang perkembangan projek mereka. Pria itu dikenal kreatif, setiap proyek yang ia tangani selalu dipenuhi dengan ide-ide menarik. Sangat membantu untuk kesuksesan perusahaan, tapi juga membawa kesulitan tersendiri.


Kesulitan itu dialami oleh para karyawan yang bekerja bersamanya. Disaat mereka harus berpacu dengan tenggat waktu, Arion akan menghubungi mereka untuk menyampaikan ide baru yang dia dapatkan. Tidak sampai disitu. ide itu juga harus ditambahkan kedalam rencana awal projek tanpa penambahan tenggat waktu. Itulah satu hal yang sering dikeluhkan oleh para karyawan tentang pria tampan itu.


Hal ttu juga yang menjadi alasan kedatangan pria itu kemari, menambah pekerjaan mereka. Bisa dilihat dari caranya melangkah, ritme sedang ke cepat seakan takut kehilangan momentum untuk menyampaikan ide di kepalanya.


Sebelum sampai diruang Creative Department Arion sudah disambut dengan sosok Calya dan Damian di lorong. Bukan disengaja, kedua orang itu sepertinya tengah mendiskusikan sesuatu disana. Kemudian saat melihat sosok Arion yang datang tentu saja keduanya langsung menyapa pria itu dengan sopan.


“Lama tidak bertemu, Arion. Anda pasti makin sibuk karena gim yang Anda luncurkan sangat sukses.” ucap Damian


“Semua ini berkat kerja keras kalian juga. Saya sangat bersyukur atas itu.”


“Anda akan pergi ke Creative Department, kalau begitu Anda pasti ingin bertemu dengan Calya. Kami hanya berdiskusi sebentar.”


“Tidak masalah. Kalian bisa lanjutkan diskusi kalian. Saya akan menemui Qeiza.”


“Qeiza?”


“Ya. Kami janji bertemu diruang rapat hari ini, tapi lebih baik aku bertemu diruangannya lebih dulu. Kalau begitu, permisi.” Arion berlalu pergi.


“Kupikir dia ingin bertemu denganmu, kalian kan sering bertemu.” ucap Damian.


“Kami tidak selalu bertemu,” bantah Calya.


Calya dan Damian kembali melanjutkan diskusi mereka. Entah mengapa mereka memilih duduk di kursi koridor untuk berdiskusi  Mungkin mereka terlalu bosan berada didalam ruangan, hingga memilih untuk duduk ditempat yang bisa dilihat semua orang sekaligus bisa melihat semua orang.


Tak lama Arion dan Qeiza terlihat keluar dari ruang Creative Department menuju ke ruang rapat yang berada tepat didepan kedua orang tersebut sedang duduk saat ini. Keberadaan mereka mau tidak mau menyita perhatian Calya dan Damian. Sesekali keduanya terlihat melirik kedalam ruang rapat, yang malah menimbulkan rasa kesal. Calya dan Damian saat ini sedang merasa kesal, tentunya dengan alasan mereka masing-masing.