LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
D-1



Semua orang terlihat semakin sibuk pada tahap persiapan akhir. Mereka mempersiapkan aula hotel, menyesuaikan tata letak dekorasi serta melakukan pengecekan terakhir pada alat - alat yang digunakan. Sementara Calya baru tiba di sana setelah mengambil beberapa barang terakhir yang dibutuhkan dari Niskala. Tentu saja Ray juga ikut bersamanya.


“Fabian?”


Ucap Calya saat ia melihat sosok pria yang baru saja keluar dari aula hotel.. Seketika otaknya mengingat kembali perkataan rekan - rekannya kepadanya.


Satu hari sebelumnya


Saat Calya masih mengerjakan beberapa hal di kantornya Rezvan dan Kenzo datang dan melaporkan hasil kerja mereka.


“Calya. Semua kamera, pengaturan jaringan, link website dll sudah aman.”


“Konsep acara, rundown termasuk pembawa acara juga sudah aman.”


“Baiklah, terima kasih. Jangan lupa untuk melakukan pengecekkan terakhir besok.”


“Qeiza belum kembali?”


“Belum.”


“Aku rasa dia yang paling sibuk kesana kemari.”


“Hey, ngomong - ngomong tentang Qeiza. Aku ngerasa ada yang aneh dengan dia akhir - akhir ini.”


“Benarkah?”


“Kenapa kamu bilang gitu?”


“Dia jadi lebih lebih galak.”


“Dia biasanya juga galak.”


“Bukan itu. Kemarin aku ke hotel dan manajer di sana bilang mereka sudah persiapkan semua peralatan yang dia minta dan manajer hotel tanya kapan apa dia datang buat periksa lagi, manajer itu juga bilang kalau Qeiza butuh bantuan langsung katakan saja padanya. So i called her to deliver the message, tapi dia menjawab dengan ketus.”


“Kau yakin bukan karena dia sedang kesal denganmu?”


“Oke, mungkin dia sedang kesal denganku. Tapi, setelah dia berhenti bicara aku pikir dia akan menutup teleponnya. Tak lama kemudian aku dengan suara lagi sepertinya dia sedang marah pada seseorang.”


“Marah pada siapa?”


“Entahlah.”


“Kau kenal dia,” tanya Ray yang ada disampingnya.


“Bukan aku, tapi Qeiza.”


“An ex?”


“Yeah, but he is a jerk,” Calya melangkah masuk ke dalam aula.


“Mungkin itu sebabnya sikapnya berbeda,” ucap Ray.


Aula dipenuhi dengan karyawan Parama Ad, mereka fokus mempersiapkan acara yang kurang dari 24 jam akan dilaksanakan. Mereka tenggelam dalam tugas masing - masing sampai suara seseorang mengalihkan perhatian mereka.


“WHY!”


Semua mata langsung melihat ke arah Rezvan yang baru saja berteriak.


“Astaga! Kenapa?”


“Tidak bisa dibuka!”


“Apanya?”


“Semuanya?


“Semuanya apanya?”


‘Aaaarrgghh,’ Rezvan mengacak rambutnya frustasi karena Kenzo terus melontarkan pertanyaan padanya sementara dirinya saat ini sudah sangat pusing.


“Ada apa Rezvan?”


Calya dan Ray akhirnya bergabung dengan mereka.


“Semua akun yang akan digunakan untuk siaran langsung tidak bisa dibuka!”


“Bukannya semua sudah aman?”


“Sampai kemarin semuanya sudah benar - benar aman. Tiba - tiba saja jadi begini, aku juga tidak tahu.”


“Sudah coba dilaporkan?”


“Sudah. Tapi setidaknya butuh 4 - 7 hari, tidak akan sempat.”


“Biar kucoba.”


Ray meminjam laptop yang digunakan Rezvan, tanpa membuang waktu jemarinya langsung menari diatas keyboard itu. Beberapa menit berlalu wajah pria itu tampak serius menatap layar laptop, sementara beberapa orang disekitarnya menunggu dalam cemas.


“Lanjutkan pekerjaan kalian,” ucap Calya pada beberapa orang yang ikut mengelilingi Ray.


“Berhasil!”


“Berhasil?”


“Benarkah?”


“Coba Periksa,” Ray mengembalikan laptop pada Rezvan dan pria itu segera memeriksanya.


“Benar, berhasil!”


“Anda benar - benar hebat!”


“Aku harus pergi ketempat lain sekarang, bukankah masih ada barang milikmu yang tertinggal di mobilku?”


“Iya, akan kuambil sekarang.”


“Sekali lagi terima kasih. Seharusnya kami tidak merepotkanmu untuk masalah pekerjaan kami, tapi kau telah membantu kami dalam banyak hal.”


“Kenapa aku harus repot - repot ikut campur dalam hal yang bukan urusanku. Aku rasa kau sudah tahu alasannya.”


Calya terdiam setelah mendengar perkataan Ray.


“Dengar, aku mempercayai kemampuanmu dan tim mu untuk masalah pekerjaan. Tapi itu tak bisa menjadi alasan mengapa aku begitu peduli pada masalah kalian. Aku tidak akan pura - pura atau menutupi apapun lagi karena kau sudah tahu bagaimana perasaanku padamu, aku ingin kau tahu bahwa aku serius.”


Calya terlihat tenggelam dalam pikirannya dan hal itu disadari oleh Ray.


“Jika memang terlalu berat bagimu untuk menjawab saat ini, kau bisa memberi jawaban padaku nanti. Aku ingin kau mempertimbangkannya dengan baik.”


Pria itu baru akan beranjak dari tempat itu sebelum Calya menghentikannya.


“Akan kujawab sekarang.”


Ray masih berdiri disana menunggu beberapa patah kata yang akan keluar dari mulut wanita itu.


“Aku… menyukai pria lain.”


***


Qeiza yang baru tiba langsung sibuk dengan beberapa karyawan. Mengatur tata letak beberapa barang hingga pencahayaan. Beberapa kali ia berpindah dari sudut satu ke sudut lainnya memastikan agar semuanya terlihat sempurna.


“Butuh bantuan?”


Pertanyaan itu jelas tertuju kepada nya namun Qeiza tampak tidak mengacuhkan pertanyaan itu dan terus bergerak kesana kemari. Bibirnya sibuk berbicara pada setiap karyawan disana, memberi instruksi ini dan itu.


“Kau terlihat berbeda sekarang, seperti wanita karir. Dulu kau terlihat seperti anak remaja.”


Fabian terus saja diabaikan namun pria itu terus saja mengikuti langkahnya kesana kemari.


“Mba Qeiza apa terangnya sudah pas?”


“Buat sedikit lebih gelap?”


“Segini?”


“Oke, cukup.”


“Mba Qeiza, barang - barang dari Niskala mau diletakkan dimana?”


“Berikan padaku. Biar aku yang pajang.”


Qeiza membawa beberapa paper bag dan kotak sekaligus di tangannya. Sedikit sulit baginya untuk berjalan dengan benar dengan semua barang itu.


“Sini biar ku bantu.”


“Tidak usah! Aku bisa sendiri.”


Qeiza tetap berjalan dengan pelan, menyeimbangkan tubuhnya dengan barang - barang bawaannya.


“Kenapa kau semakin keras kepala sekarang,” Fabian menarik lengan Qeiza hingga membuat wanita itu dan barang - barang ia bawa jatuh ke lantai.


“Ini karena kau terus menolak tawaranku.”


Qeiza masih terduduk di lantai sementara orang - orang disana mulai melihat ke arahnya satu persatu. Fabian yang menyadari itu langsung ikut duduk dan sekali lagi mencoba membantunya.


“Kau tidak apa - apa? Apa ada yang terluka?”


Pria itu meraih lengan Qeiza untuk memeriksa apakah wanita itu baik - baik saja. Namun pegangannya dihempas seketika oleh wanita itu.


“Jangan menyentuhku.”


“Jangan berusaha terlalu keras untuk menolakku, apalagi kalau kau merasakan sebaliknya.”


Fabian mengambil barang - barang yang berjatuhan dan menyusunnya di dekat wanita itu.


“Sampai ketemu lagi.”


Pria itu pergi meninggalkan aula. Kaki panjangnya melangkah santai dan sebuah seringai terpasang di wajahnya.


“Kali ini aku pasti bisa mendapatkannya.”


“Bapak Fabian.”


Fabian menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


“Bisa bicara sebentar.”


Kedua pria itu berdiri di sebuah balkon, Damian dan Fabian. Setelah Damian meminta waktunya untuk berbicara, kini Fabian sedang menunggu pria itu untuk berbicara duluan.


“Saya tidak akan basa - basi.Saya minta anda tidak mengganggu Qeiza.”


“Mengganggu Qeiza? Saya tidak mengganggunya.”


“Membuat seseorang merasa tidak nyaman juga termasuk mengganggu,”


“Anda pasti tidak tahu kalau saya dan Qeiza..”


“Pernah menjalin hubungan? Saya tahu, tapi itu sudah lama berakhir bukan? Sekarang kalian sudah tidak memiliki hubungan apapun.”


“Lalu anda sendiri? Kenapa repot - repot ikut campur dalam urusan kami?”


“Saya rasa yang berhak menggunakan kata kami disini adalah saya, karena Qeiza adalah tunangan saya.”


“Tunangan? Saya tidak pernah mendengar itu sebelumnya.”


“Berarti anda tidak cukup penting untuk tahu tentang hal itu. Sekali lagi akan saya katakan, jauhi tunangan saya,” Damian langsung pergi dari balkon setelah selesai berbicara.


“Tunangan? Akan kucari tahu apa dia berbohong atau tidak.”