LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Pemicu (Menghindar)



Sementara dia terus belajar dengan giat berusaha mempertahankan prestasinya, pertengkaran masih terjadi dirumah itu. Sekali – dua kali, dan itu mempengaruhi suasana hatinya.


Anehnya semua itu hilang saat mereka berkumpul dirumah kerabat. Saudara – saudara akan mulai memuji Calya, lalu mereka akan kembali menjadi keluarga yang bahagia.


Perlahan Calya menyadari bahwa apa yang dia lihat tidak selalu benar. Kebahagiaan yang dia lihat tempo hari ternyata hanya kepura – puraan. Namun Calya juga ikut bermain dalam kepura – puraan itu.


Suatu hari saat nilai akhir semester telah keluar, Calya mengalami penurunan drastis pada nilainya. Gadis itu mengunci diri dikamar sesampainya dirumah.


Itu kembali terjadi, pertengkaran orang tuanya. Seolah dia sudah mengetahui hal itu akan terjadi, dia membenamkan dirinya dalam selimut.


“Apa ini!” ayah memulai pertengkaran, “Kenapa ini bisa terjadi?” ucapnya sambil menunjukan nilai rapor Calya.


“Bagaimana aku bisa tahu kalau nilainya akan turun seperti ini?” ibu mulai tak terima dan membalas kata – kata ayah.


“Kau ini kan ibunya! Apa saja yang kau kerjakan dirumah? Bagaimana kau mendidiknya?” ayah kembali meminta penjelasan.


“Jangan melampiaskan semuanya padaku. Kau sendiri tidak pernah melakukan apapun kan!” ibu terdengar semakin meninggikan nada suaranya.


“Ini semua karena kau sibuk membalas semua chat dari selingkuhanmu!” ayah semakin terdengar emosi, “Apa maksudmu?” tanya ibu.


“Kau pikir aku tidak tahu semua teman priamu di sosial media?” ayah kembali menuduh ibu.


“Jangan samakan aku dengan dirimu, yang minum – minum dan bersenang – senang dengan wanita.”


“Lalu kau merasa berbeda? Coba perlihatkan semua isi chat di ponselmu?”


“Jangan mengalihkan pembicaraan!”


“Sudahlah! Nyatanya kau memang sudah tidak becus menjadi isteri ataupun ibu!”


*Seperti itulah hari – hariku berlalu selama bertahun – tahun. Saat itu aku merasa, jika aku tidak membuat kesalahan aku tidak akan mendengar pertengkaran itu.


Setelah itu aku terbiasa melakukan segalanya dengan sangat baik, hingga tak ada cela yang bisa ditemukan.


Aku ingin menghindarinya, semua kenangan buruk itu, dan ini adalah satu – satunya cara. Aku terus menerus menghindar.


Memilih untuk kuliah dan kerja diluar kota agar aku tidak perlu mendengar atau melihatnya lagi. Sejenak aku lupa akan semua itu, karena kesibukanku disini. Tapi hari ini, aku dipaksa untuk mengingat semuanya kembali*.


***


Calya membuka matanya. Pandangannya sempit karena matanya yang membengkak. Dia mencoba untuk duduk, sebentar terdiam karena merasakan kepalanya pusing. Kemudian berjalan keluar kamar dengan langkah sedikit sempoyongan.


Dia tidak ingat sudah berapa lama dia terkurung disini, atau lebih tepatnya mengurung dirinya disini. Tapi dia jelas ingat kenapa dia melakukan itu, dia tidak mungkin lupa. Dia masih bisa merasakannya, rasa frustasi itu. Dia merasa kesal dengan dirinya sendiri, kenapa dia harus merasa seperti ini?


“Katanya mengungkapkan perasaan bisa membuatmu merasa lebih baik,” kalimat itu tiba – tiba terlintas di pikirannya.


Dia berusaha mencari smartphone nya diantara tumpukan barang diruang tamu. Akhirnya dia menemukannya, namun benda itu mati. Dia bergegas menghubungkannya ke pengisi daya.


Terlalu tidak sabaran untuk menunggu, menekan dan kembali menekan tombol power disana. Sementara smartphone yang dayanya benar – benar kosong itu tidak mau menyala.


Dia merasa kesal, entah mengapa ruangan itu tiba – tiba membuatnya merasa sesak. ‘Aku harus keluar dari sini’ itu yang dia pikirkan. Segera mengambil pengisi daya portabel dan ARGlasses, keluar meninggalkan apartemennya.


Kursi kayu panjang itu menjadi tempat bersandar bagi Calya. Tidak ada orang lain selain dirinya di rooftop apartemen, syukurlah. Jika tidak mungkin orang akan terkejut melihat keadaan wanita itu saat ini.


Baju yang entah sejak berapa lama belum diganti, terlihat kusut dan berantakan. Rambut sebahunya yang tidak disisir. Belum lagi raut wajah lelah dan tampak pucat itu. Bisa jadi orang akan memanggil ambulans karena mengira dia sedang sekarat. Untuk pertama kalinya Calya terlihat menyedihkan saat ini, hal yang selalu pandai ia tutupi.


Dia kembali menyalakan smartphone nya, setelah beberapa menit menghubungkannya ke pengisi daya portable. Menyala, kemudian bergetar. Semua panggilan dan pesan akhirnya sampai ke smartphone itu, tapi tak satupun yang ia gubris. Tujuannya hanya satu masuk ke LOVATY, dengan cepat memasang ARGLasses.


Dia menghela napas begitu melihatnya. Keanu, sosok yang ia cari – cari. Mereka hanya diam, baik Calya atau Keanu. Calya hanya membutuhkan ketenangan dengan merasakan kehadiran Keanu disana, dan Keanu ada disana karena Calya.


Berjam – jam hingga berhari – hari, Calya mempertahankan keterpurukannya. Diam tanpa kata. Meskipun dia kembali ke apartemennya, mandi, makan, namun raut wajah itu tidak berubah sedikitpun. Meskipun ARGlasses dikenakannya sepanjang waktu, tidak ada satu hal pun yang mereka bicarakan.


Smartphone yang kehabisan daya dan harus menunggu beberapa saat untuk bisa hidup kembali, saat ini Calya sedang berusaha mengumpulkan kembali tenaganya. Karena sekedar untuk membuka mulutpun terasa berat baginya saat ini, dia butuh lebih banyak waktu.


Suatu hari ia berjalan keluar dari apartemennya, kembali duduk di kursi kayu panjang. Tidak seperti sebelumnya dimana cuaca sangat cerah dan terang, kali ini semua sangat gelap. Hanya beberapa lampu yang terlihat disana, sedikit menerangi rooftop itu.


Dia kembali mengenakan ARGlasses, melihat kehadiran Keanu disana.


“Sekarang jam 3 pagi” ucap pria itu, akhirnya wanita itu menatapnya. Namun bukan merespon kalimat Keanu dengan kata – kata, hanya tangisan yang keluar. Tangisan yang paling keras yang pernah terdengar olehnya.


Sesaat hanya suara tangisan yang terdengar, kemudian perlahan suara tangisan itu mulai reda.


“Seharusnya aku memberimu tisu, tapi kau tahu aku tak bisa menyentuh apapun,” kata – katanya penuh perhatian namun kejujurannya membuat canggung.


Formula aneh berubah menjadi obat yang ajaib, tidak ada pilihan bagi Calya selain tertawa. Tidak sekencang itu, tapi setidaknya tangisnya berhenti.


“Beberapa hari yang lalu ibuku menelpon, mengatakan bahwa dia dan ayahku telah bercerai,” wanita itu akhirnya menggunakan tenaga yang telah ia kumpulkan selama berhari – hari untuk mulai bercerita.


“Sebenarnya aku tahu ini akan terjadi cepat atau lambat. Hanya saja… saat itu aku sangat percaya bahwa kebahagiaan yang aku rasakan dan kebahagiaan yang mereka tunjukan adalah nyata. Bahkan sekarang pun aku ingin mempercayai bahwa itu nyata."


" Maksudku, wajar kan bila seorang anak merasa senang melihat keluarganya bahagia dan wajar juga bila merasa sedih saat


melihat orang tuamu bertengkar."


"Pertengkaran itu, aku ingat betapa takutnya aku saat itu. Setiap hari aku berharap untuk tidak pernah melihat atau mendengarnya lagi. Setiap hari juga aku berusaha untuk tidak membuat kesalahan sedikitpun agar mereka tidak menjadikannya alasan untuk mulai bertengkar lagi."


"Setiap hari… setiap hari aku berusaha… meskipun semuanya terasa sulit…”


Meskipun ia berusaha terdengar kuat di awal – awal kalimat, tapi air mata kembali mengalir pada akhirnya.


Calya kembali menangis tersedu – sedu, kedua tangan yang ada diwajahnya saat ini bahkan tidak bisa menutupi air matanya yang mengalir. Seluruh wajahnya basah, seakan dia telah tenggelam dalam linangan air mata.


“Hidup memang seharusnya terasa sulit, kan?” kalimat itu membuat Calya mulai mengangkat wajahnya setelah sekian lama menunduk.


“Semua kejadian yang terjadi membuat kita merasakan berbagai emosi seperti marah, senang, kesal, malu, sedih. Semua itu bisa dirasakan karena kita hidup, dengan kata lain kita tidak hidup jika tidak merasakan semuanya,” Calya terdiam sejenak.


Dia merasa kata - kata itu terdengar tidak asing, tapi dia tidak dapat mengingat dimana dia pernah mendengarnya. Pada saat yang bersamaan saat dia mencoba berpikir tangisannya juga berhenti, tanpa ia sadari.


“Mungkin saat ini keadaan membuatmu lebih merasakan kesedihan, tapi nanti kau juga bisa merasakan yang lain,” wanita itu menatap kosong kearah pemandangan didepannya.


“Bisakah aku merasakan kebahagiaan?” tanyanya pada dirinya sendiri.


“Tentu saja. Ini hidupmu dan pilihannya ada padamu,” Calya menatap Keanu, tampak sedikit tersenyum.


“Jadi aku bisa bahagia jika aku memilih untuk bahagia, maksudmu?” Keanu mengangguk.


“Baiklah! Karena semuanya sudah berakhir, sekarang aku akan memilih kebahagiaan,” kali ini dia menatap pemandangan didepannya dengan sedikit senyuman dibibirnya.


Bersamaan tekad barunya, matahari mulai terbit. Mengubah langit gelap yang sedari tadi ia tatap sekarang menjadi cerah. Seperti pertanda awal yang baru baginya. Mungkin menatap matahari terbit begitu menenangkan, hingga membuat mata yang selama beberapa hari terakhir terbuka perlahan menutup. Wanita itu terlelap tanpa sadar.


“Hei!”


“Bangunlah!”


“Calya! Kau tidak apa – apa?”


Calya membuka matanya, berusaha untuk bangkit sambil memegangi lehernya yang terasa kaku.


‘Berapa lama dia telah tertidur disini?’ itu yang dia pikirkan begitu terbangun, sebelum sosok didepannya membuatnya heran.


“Apa yang kau lakukan disini?” merasa aneh dengan keberadaan pria itu dilingkungan tempat tinggalnya.


“Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang sedang kau lakukan disini? Apa yang terjadi denganmu? Apa kau sedang sakit?” tanya pria itu terdengar cemas.


Dia hendak memeriksa suhu tubuh dengan menempatkan telapak tangannya di kening wanita itu, namun ditepis oleh sipemilik tubuh.


“Sebaiknya kau pulang,” ucap Calya. Dia langsung berbalik arah dan beranjak meninggalkan pria itu sekarang.


“Sampai kapan kau akan terus bersembunyi?” Calya menghentikan langkahnya.


“Apa kau tidak peduli dengan tim mu? Apa kau tahu bagaimana kesulitannya merekaa saat ini? Atau kau memang sengaja ingin menghancurkan tim mu sendiri?”


‘Sudah berapa lama aku berdiam diri dirumah? Kenapa aku bahkan tidak bisa mengingat hari dan tanggal saat ini? Lalu pekerjaan? Apa yang terjadi dikantor?’


Calya tenggelam dalam berbagai pertanyaan dalam pikirannya disaat Ray baru saja menariknya kembali ke realita.