
Di tengah taman, di bawah sebuah pohon besar, Ray duduk bersandar. Daun-daun pohon melindunginya dari sinar matahari. Meski begitu matanya tetap terpejam untuk beberapa saat, seolah merasa silau. Tak lama berselang ia membuka matanya, pandangannya menerawang ke sekitar taman kemudian tangannya mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.
Selembar foto, cukup tua meski masih bisa dikenali. Potret masa kecilnya bersama kedua orang tuanya. Matanya menatap lembaran itu cukup intens sebelum akhirnya beralih pandang kembali pada hamparan rumput hijau. “Aku hidup dengan baik bukan?” ucapnya. “Aku belajar dengan baik, punya teman, pekerjaan yang bagus. Bukan begitu.. Ibu.. Ayah..”
“Kurasa kalian tidak perlu mengkhawatirkanku lagi,” matanya kembali menatap potret kedua orangtuanya. “Aku akan selalu mengingat semua yang telah kalian ajarkan padaku, kalian tenang saja. Aku pergi dulu,” Ray beranjak, berjalan menjauh dari pohon yang menyimpan banyak kenangan baginya.
Dia masih berjalan menyusuri taman. Dengan potongan kenangan yang bermunculan pada setiap langkah yang ia ambil. Seolah dia melihat Ray kecil disana, berlari dengan pesawat mainan di tangannya. Di arah lain Kedua orang tuanya sedang duduk dan berbincang, kemudian Ibunya memanggil namanya. Ketiganya menyantap bekal yang ibunya masak dan ayahnya akan membelikan es krim setelahnya. Ketiganya akan bermain kejar-kejaran sebelum mereka kembali kerumah. Rutinitas yang tak pernah membuatnya bosan saat itu.
Lamunan pria itu terhenti tatkala seseorang terlihat berjalan tak jauh darinya. Seseorang yang bisa ia kenali meski hanya sepintas terlihat. Calya, berjalan dengan pelan, dari gerak mulutnya sepertinya ia sedang berbincang dengan seseorang. Melalui sambungan telepon mungkin, pikirnya. Ray terus berjalan, kali ini mengikuti jalur Calya melangkah. Memperhatikannya dari jauh.
Wanita itu mulai terlihat aneh. Menghentakkan kaki, berhenti tiba-tiba dan berjalan lebih cepat, seolah ada seseorang yang sedang mengganggu. Pria berusaha berjalan mendekat, memastikan tidak ada yang salah dengan wanita itu. Saat pria itu mulai mendekat, Calya tiba-tiba mulai berlari. Ray semakin mempercepat langkahnya, memotong jarak diantara keduanya. Beruntungnya hal itu adalah keputusan yang tepat, Ray berhasil menyelamatkan wanita itu saat tubuhnya hampir menyentuh tanah.
“Are you okay?”
Calya yang merasa terkejut tak begitu merespon pertanyaan yang diajukan pria itu. Wanita itu baru merespon beberapa saat setelahnya. Mengatakan ia tak apa-apa tak lupan juga berterima kasih. “Apa ada hal buruk yang menimpamu?” tanya pria itu tampak khawatir, tapi hal itu malah menambah kebingungan di raut wajah wanita itu.
“Kulihat tadi kau sedang berbicara dengan seseorang di telepon,” pria itu mencoba menjelaskan. “Tapi kemudian kau mulai bertingkah aneh, seperti merasa terganggu dengan sesuatu. Kupikir ada hal yang buruk terjaditerjadi".
Calya sadar bahwa ia sudah diperhatikan sejak tadi. Tingkah lakunya telah memicu kesalahpahaman, namun tak mungkin baginya untuk meluruskan kesalahpahaman tersebut. Ia tak mau membagi kartunya, jadi dia mengalihkan pembicaraan. “Apa kau sedang mengikutiku?” tanyanya.
“Sepertinya aku sudah berada disini lebih lama darimu,” Ray mencoba menjelaskan. “Kau lihat pohon besar di sana?” dengan jarinya menunjukkan posisi pohon berada “aku dari tadi duduk disana”.
“Sendiri? Kenapa?”
Calya langsung menyadari apa maksud perkataan pria itu “maaf,” dan langsung menyesali pertanyaannya. Ray tersenyum santai sambil melangkah “tidak masalah,” ucapnya. “Biasanya orang akan mengunjungi makam jika merindukan orang yang sudah pergi. Kalau aku sendiri lebih suka pergi ketempat kenangan kami bersama. Dengan begitu aku bisa mengingat kembali dengan jelas. Wajah mereka, kata-kata yang mereka ucapkan, sentuhan mereka dan kebahagiaan kami. Itu yang aku lakukan tadi”.
Kata-kata Ray membuat Calya merasa semakin menyesal. Dia tak pernah menduga bahwa pria mapan yang terkesan memiliki kehidupan yang nyaman ini ternyata adalah pria kesepian yang merindukan orang tuanya. Kehidupan juga sulit baginya, pikir wanita itu.
“Apa aku terlihat kesepian?” ucap Ray tiba-tiba membuat Calya terkejut. Seolah pria itu bisa membaca isi pikirannya. “Jika memang hidup sendiri tergolong kesepian, artinya aku memang kesepian. Tapi kau tahu? I have brother, friends and one side crush. Jadi kurasa aku tidak kesepian,” Ray berbicara sambil menatap wanita itu, sebuah kode yang memperjelas maksud perkataannya.
“Hati-hati ada lubang,” ucapnya menyadarkan Calya yang tidak fokus pada kondisi jalan. Sementara Calya menuruti saran pria itu dengan wajah bingung. Terlalu banyak informasi yang ia terima disaat bersamaan dan ia tak tahu bagaimana dan di bagian mana tepatnya ia harus bereaksi. Pada akhirnya ia memilih untuk tetap diam sambil menyusuri jalan menuju gedung apartemennya.
“Dengar. Aku benar-benar berterima kasih karena telah menolongku tadi. Tapi aku bisa pulang sendiri,” ucap wanita itu mulai merasa tidak nyaman. Ray tersenyum mendengarnya, mengambil beberapa langkah ke arahnya dengan santai berkata. “Aku tahu kau percaya diri, tapi sayangnya kau sudah salah paham. Aku tidak kesini untuk mengantarmu pulang".
“Lalu?” malu dan kesal, kombinasi yang tergambar di wajah Calya saat ini, namun malah membuatnya terlihat lucu di mata pria itu saat ini. “Aku memang ingin kesini,” Ray menjawab. “Lalu untuk apa?” tanyanya dengan nada suara yang terdengar kesal kali. “Bukankah aku sudah bilang tadi,” ucapnya, berjalan mendahului wanita itu ke dalam gedung.
Sel-sel otak yang sehat membuat Calya langsung mengerti arti upanan pria itu. Tapi tetap tak bisa menyelamatkannya dari rasa malu yang terlanjur menyebar. Dalam diam wanita itu berjalan mengikuti langkah pria itu. Keduanya menahan diri untuk berbicara satu sama lain selama berada di dalam lift. Hingga pintu lift terbuka dan wanita itu tak bisa menghindar untuk mengatakan sesuatu sebelum melangkah keluar dari lift.
Terbaring di atas tempat tidur, Calya berusaha membuang penatnya. Sesaat menerawang ke langit-langit kemudian memejamkan matanya. Dalam pikirannya reka ulang kejadian ini terputar kembali. “Aku jadi sangat ceroboh akhir-akhir ini,” memiringkan badan saat ia berusaha menepis rasa kesalnya, “menyebalkan!”
Seketika matanya terbuka saat pikiran membawanya pada memori lain. “Kisah hidupnya juga sedih rupanya,” ingatannya tentang Ray kembali memancing rasa simpati. “Kalau dia mengunjungi taman untuk mengenang orang tuanya, artinya apartemen ini juga salah satu tempat kenangannya".
Wanita itu berbalik badan, “Jadi itu sebabnya dia bisa menemukanku waktu itu! Aku pikir dia tahu alamatku dari Damian.” Calya memejamkan matanya, menyesali kesalah pahamannya pada pria itu yang entah sudah berapa kali. “Tapi kenapa harus tempat ini?” tanyanya pada diri sendiri, “apa dia pernah tinggal disini? Ahhh.. don’t be curious Calya.. don’t be..” tangannya mengusap-usap kepalanya, seakan itu bisa menghapus pikirannya saat ini. “It’s not healthy".