LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
D - DAY



Beberapa jam sebelum acara dimulai semua karyawan sudah terlihat rapi dan siap di posisinya masing - masing. Hanya hal - hal kecil yang perlu dipersiapkan yaitu berkaitan dengan penyambutan beberapa tamu yang akan datang. Mereka adalah beberapa petinggi dari tiga perusahaan yang terlibat, Parama Ad, Niskala dan Radhika Grup.


“Tidak masalah tinggal beri tahu pembawa acara nama dan jabatannya agar nanti dia bisa menyapa mereka,” ucap Calya.


“Mereka benar - benar.. dari seminggu yang lalu kita minta konfirmasi kedatangan mereka, beberapa jam sebelumnya baru dibalas. Padahal susunan acara dan tempat sudah pas, sekarang harus dirombak lagi,” keluh Kenzo.


“Mereka punya hak untuk bersikap seperti itu, karena mereka orang penting.”


“Benar juga, aku yang tidak penting ini hanya harus mengikuti mereka. Nona Adelia!”


Kenzo memanggil seorang wanita dengan gaun biru muda. Wanita itu menoleh, ia menyadari gerak tangan Kenzo yang mengisyaratkan agar dia mendekat. Ia berbicara sebentar pada beberapa orang sedang bersamanya sebelum berjalan ke arah Kenzo dan Calya.


“Iya, ada apa?”


“Ini daftar nama beberapa tamu yang akan hadir nanti, jangan lupa untuk menyapa mereka.”


“Baiklah.”


“Kalian belum saling kenal kan? Nona Adelia ini Calya Creative Director kami.”


“Senang bertemu dengan anda.”


“Saya juga. Semoga anda bisa memandu acara kami dengan baik.”


“Saya akan berusaha. Kalau begitu saya permisi”


Adelia berjalan pergi dan kedua orang itu masih memperhatikannya.


“Bahkan dari belakang pun tetap terlihat cantik,” ucap Kenzo.


Memang benar, wanita berambut panjang itu terlihat cantik dengan postur tubuh yang ideal. Pilihan busana yang tetap sopan namun tidak menutupi kakinya yang jenjang, riasan yang sederhana, dengan aksesoris anting kecil yang hanya diperlihatkan di telinga kirinya. Semua itu membuat tampilannya terlihat sempurna, bahkan di mata wanita seperti Calya.


“Dari mana kamu bisa kenal sama wanita cantik seperti dia?”


“Aku juga berharap punya kenalan wanita cantik seperti dia, tapi sayangnya tidak. Arion yang merekomendasikannya.”


“Arion?”


“Iya. Wooaa.. lihat mereka disana, Qeiza pasti sedang sibuk berbenah sekarang.”


Disudut lain di ruangan itu Qeiza sedang mengatur beberapa kursi letak beberapa kursi tambahan. Untunglah pihak hotel masih memilikinya, kalau tidak mungkin wanita itu akan lebih sibuk dari sekarang.


“Geser sedikit lagi. Iya, disana. Jangan lupa bilang pada penyambut tamu posisi kursi untuk masing - masing tamu.”


“Baik.”


‘haahh..’ Qeiza menghela napas, merasa lega karena untuk sementara tugasnya selesai.


“Hai.”


Qeiza menoleh dan mendapati Damian sedang berdiri disampingnya.


“Hai.”


“Masih sibuk?”


“Sementara tidak. Kenapa?”


“Bisa bicara sebentar?”


“Apa ini?”


Qeiza merasa heran. Setelah dia mengikuti Damian keluar aula, pria itu langsung memperlihatkan sebuah cincin padanya.


“Pakailah.”


“Untuk apa saya pakai ini?”


“Agar mantan pacar anda tidak mengganggu anda lagi.”


“Lupakan saja. Dia tidak akan tertipu.”


“Sepertinya anda memang berharap seperti itu?”


“Tentu saja tidak.”


“Kalau begitu pakai saja. Kecuali anda memang senang dia terus mengganggu anda.”


Qeiza akhirnya mengambil cincin itu dan mengenakannya di jari manisnya. Cincin itu tampak pas memperindah tangan kiri wanita itu.


“Bagaimana anda tahu kalau Fabian adalah mantan pacar saya?”


Satu hari sebelumnya


Damian sedang berjalan keluar dari gedung Parama Ad. Saat pria itu baru masuk ke mobilnya ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dan ia langsung membacanya.


^^^Sebaiknya kau awasi manajer hotel itu.^^^


^^^He is Qeiza Ex and seems not like a good guy.^^^


^^^Ray.^^^


“Terlihat jelas di wajah anda.”


“Terserah.”


Qeiza langsung berbalik dan melangkah masuk ke dalam aula. Raut wajahnya sedikit terlihat masam, sementara Damian mengikutinya dari belakang sambil tersenyum.


Tak berapa lama acara pun dimulai. Aula hotel sudah dipenuhi oleh para tamu dan game influencer sebagai tokoh utama. Acara yang dipandu oleh Adelia dibuka dengan menarik. hingga sampai pada puncak acara siaran langsung itu.


Para gamers sudah duduk di kursi yang disediakan dengan sebuah gawai ditangan mereka. Mereka mulai memainkan permainan tersebut. Raut wajah orang di ruangan itu terlihat serius menatap ke arah layar dan wajah para pemain. Sementara para pemain sendiri tampak terhanyut pada permainan yang ada di gawai mereka. Semua tampak tanpa kendala hingga waktu bermain selesai.


Satu persatu pemain di wawancara untuk mengetahui pendapat mereka tentang game yang baru saja mereka coba dan semua memberikan respon yang positif. Semua orang bertepuk tangan hingga akhirnya mereka sampai di akhir acara dimana Radhika Grup secara resmi merilis permainan tersebut.


“Nasib jadi bawahan. Persiapan jauh - jauh hari, kurang makan, kurang tidur. Begitu sudah selesai, kita juga yang beresin. Sementara para tamu, tinggal datang, duduk lalu pulang,” kesekian kalinya Kenzo mengeluh..


“Kenapa dia banyak sekali mengeluh hari ini?” tanya Calya.


“Sepertinya jiwanya tertukar dengan Rezvan,” tambah Qeiza.


“Sudahlah. Kita hanya perlu beres - beres sedikit lagi setelah itu kalian bisa istirahat. Besok juga hari libur jadi kalian bisa tidur sepuasnya.”


Keempat orang itu akhirnya mengumpulkan sisa - sia tenaga yang mereka miliki untuk ikut membereskan perlengkapan mereka. Memakan waktu cukup lama sebelum aula itu bisa mereka tinggalkan.


“Cal, may i sleep in your house tonight?”


“Of course.”


“Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan memeriksa beberapa barang dulu.”


“Ok, aku tunggu di mobil.”


Calya berjalan keluar aula menuju tempat parkir. Sementara tak jauh dari sana di sebuah koridor Arion dan ayahnya terlihat sedang berdiri dan membicarakan sesuatu.


“Ikut denganku dan pulanglah ke rumah, ada yang ingin ku bicarakan denganmu.”


“Sekarang tidak bisa.”


“Pekerjaanmu sudah selesai. Apa lagi yang akan kau lakukan?”


Tepat pada saat yang sama Calya akan melintasi koridor itu.


“Aku akan mengantar Calya, sebagai bentuk terima kasih karena dia telah bekerja keras untuk proyek ini,” Arion dengan santai melambai pada Calya.


Sementara Calya yang tidak mengerti situasinya hanya bisa berjalan mendekat. Karena memang jalan itu adalah jalan yang harus ia lalui untuk bisa sampai ke mobilnya.


Saat wanita itu semakin mendekat Arion dengan berani memegang tangan Calya dan membawa wanita itu pergi dari hadapan ayahnya.


“Berhenti,” ucap Calya sambil melepaskan genggaman Arion.


“Apa yang sedang anda lakukan?” tanya nya lagi.


“Tidak ada.”


Arion hanya berjalan santai tanpa memberinya penjelasan, hingga akhirnya wanita itu pun kembali melangkah.


“Arion!”


Suara seorang wanita terdengar dari belakang menghentikan langkah kedua orang itu. Arion berbalik mencari asal suara dan wanita itu tiba - tiba datang dan langsung memeluknya.


“Aku rindu padamu,” ucap wanita itu.


“Aku juga. Ngomong - ngomong kau terlihat cantik sekali hari ini, cocok sekali tampil didepan kamera.”


Wanita yang tak lain adalah Adelia itu semakin tersenyum lebar setelah mendengar pujian dari Arion.


‘Apa yang aku lakukan berdiri disini?’ pikir Calya dalam hati. Wanita itu berusaha melangkah meninggalkan kedua orang itu. Belum seberapa jauh Arion kembali memanggilnya.


“Kau bawa mobil kan?”


“Iya,” jawab Calya datar.


“Baiklah kalau begitu.”


Arion merangkul Adelia dan berjalan pergi bersama.


‘Apa maunya sebenarnya?’ tanya Calya dalam hati. Wanita itu berjalan cepat menuju mobilnya dan langsung melaju meninggalkan hotel itu.


Sementara di dalam aula Qeiza sedang memeriksa beberapa barang yang harus dikembalikan dan beberapa barang yang harus ia bawa pulang. Setelah memastikan semua pekerjaannya selesai. wanita itu langsung berjalan menuju tempat parkir.


Suasana sepi dan pencahayaan cukup redup di tempat parkir, sementara wanita itu tidak tahu dimana Calya dan mobilnya berada. Qeiza terus berjalan menyusuri tempat itu berharap Calya akan segera akan terlihat.


Tak lama ia merasakan ada orang yang sedang mengikutinya. Dia mempercepat langkahnya tanpa berusaha mencari tahu. Keberaniannya terlalu sedikit dan dia lebih memlih menggunakan sisa tenaga yang dimilikinya untuk berjalan lebih cepat.


“AAAAA!”


Qeiza berteriak saat memegang tangannya dan menghentikan langkahnya.


“Fabian? Apa yang kamu lakukan? Kamu mengagetkanku!”


“Benarkah? aku hanya berusaha mengejarmu.”


Qeiza menghela napasnya berusaha menormalkan detak jantungnya kembali.


“Bawaanmu banyak sekali malam - malam begini. Sini aku bawakan, akan kuantar kau pulang.”


“Tidak usah. Temanku sudah menunggu.”


“Teman? Jadi dia bukan tunanganmu kan?”


“Apa?”


“Sudah kuduga. Kau tidak mungkin melupakanku semudah itu.”


“Apa maksud ucapanmu. Jangan bicara yang aneh - aneh.”


“Qeiza, aku tahu aku adalah cinta pertamamu dan juga pacar pertamamu,” Fabian mendekat ke arah Qeiza, tangannya menyentuh wajah wanita itu.


“Sudah kubilang jangan menyentuhku!” saat Qeiza mulai menghindar Fabian justru langsung memeluk wanita itu dengan erat.”


“Kita bisa mengulang kembali masa - masa itu bagaimana?” bisiknya di telinga Qeiza.


“Lepaskan aku!”


Sekuat apapun Qeiza memberontak pergerakannya tidak cukup untuk melepaskan dirinya dari pelukan Fabian. Hingga akhirnya wanita itu melepaskan barang - barang di tangannya dan mengumpulkan semua tenaganya. Dia akhirnya bisa mendorong tubuh pria itu, meskipun harus membuat dirinya terjatuh ke tanah.


“Kan selalu saja bersikap bersikap berlebihan saat aku berusaha mendekatimu.”


Fabian mendekat dan mengulurkan tangannya. Sementara Qeiza masih duduk di tanah dengan kepala tertunduk. Wanita itu akhirnya menangis, ia terlalu lelah dan membenci situasi ini.


“Cepat bangunlah!”


BUUKK!


Saat Fabian berusaha membantu Qeiza berdiri seseorang tiba - tiba datang dan melayangkan pukulan padanya. Membuat tubuh pria itu tersungkur ke tanah.