LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
History



“Ray dan saya bertemu di Universitas, satu angkatan dan satu jurusan. Dia anak yang pintar dan sejujurnya aku tidak menyukainya. Karena itu artinya kami harus bersaing. Saya tipe orang yang sangat suka kompetisi, tentu saja saya harus hati-hati dengan saingan saya. Tapi dia itu… sendirian. Dia selalu sendirian dan terlihat misterius. Kau tahu kami menjulukinya apa? LIFO.”


“LIFO?” Calya terlihat berpikir. “Jangan bilang..”


“Benar, Last In First Out. Orang terakhir yang masuk kelas dan yang yang paling pertama keluar. Dia tidak bicara pada siapapun, kumpul dengan dengan siapapun. Dia selalu sendirian.”


Damian berhenti sejenak. Membasahi kerongkongannya dengan meneguk kopi hitam disana. Sesaat menatap Calya dan tertawa setelahnya. “Pertentangan dalam diri itu menyebalkan kan?”


“Apa?” tanya Calya.


“Anda merasa kesal karena harus mendengar cerita saya, tapi karena sudah terlanjur dengar Anda juga penasaran dengan kelanjutannya.” 


Calya terkejut mendengar penjelasan pria itu dan itu tergambar jelas di wajahnya.


“Melihat betapa terkejutnya Anda, maka saya pasti benar. Oke, kita lanjutkan. Suatu hari tanpa sengaja saya lihat dia dan empat laki-laki dari jurusan lain sedang bersama, tapi suasananya tidak terlihat baik. Saya tidak ingin terlibat, jadi saya pikir lebih baik saya pergi. Tiba-tiba saya dengar seseorang berkata, Kau itu penyebab orang tuamu meninggal! Aku dengar orang-orang memanggilnya anak pembawa si*l, jangan-jangan kampus ini juga akan kena si*l karena dia.”


“Bullying.” sahut wanita itu.


“That’s right. Topik tentang orang tua juga cukup sensitif untuk saya. Entah bagaimana saya pergi ke arah mereka dan memukul wajah salah satunya. Tentu saja itu berubah menjadi perkelahian dua lawan empat.”


“Jadi itu awal mula pertemanan kalian?” Calya kembali bertanya.


“Tidak.”


“Tidak?”


“Anak itu. dia sama sekali tidak berterima kasih, bahkan basa-basi menanyakan keadaan saya juga tidak, padahal saya mendapat banyak luka karena dia.”


“Dia menyebalkan.”


“Masih menyebalkan, dan kami masih saingan. Kemudian kami pernah terpilih menjadi kandidat penerima beasiswa prestasi.Setelah beberapa kali tahapan seleksi, tinggal 1 tahap terakhir yang menentukan yaitu tes tertulis. Hari itu saya kurang beruntung, sepeda motor saya rusak ditengah jalan sehingga saya datang terlambat. Saya pikir saya sudah gagal, tapi ternyata anak itu bicara ke panitia bahwa dia tidak akan mengikuti tes jika pesertanya tidak lengkap, jadi tes akhirnya ditunda. Ketika saya tanya apa kenapa dia melakukan semua itu. Dengan sombongnya dia berkata ‘Aku punya harga diri untuk menang dengan terhormat, karena bagaimanapun kau pasti kalah dariku.”


“Lalu bagaimana hasilnya?” tanya Calya.


“Dia menang.”


“Hahaha,” tawa Calya pecah mendengar jawaban dari Damian. Kata-kata pria itu terdengar seperti narasi sebuah film, tapi karena plot twist nya berbeda membuat wanita itu tanpa sadar tertawa.


“Itu adalah fakta paling menyebalkan yang pernah saya alami. Dia menjadi semakin sombong, jadi saya mengajaknya duel 1 lawan 1.”


“Kalian berkelahi?”


“Basket. Setidaknya jika saya tidak bisa mengalahkannya dalam hal akademik, saya pasti bisa mengalahkannya dalam hal olahraga. Itu awal mula kami sering menghabiskan waktu bersama. Basket, sepak bola, bowling, renang, badminton, kami bertanding hampir di setiap cabang olahraga.”


Damian kembali meminum kopinya dan kali ini dengan jumlah tegukan yang lebih banyak.


“Suatu hari kami bertanding badminton. Hari itu dia terlihat berbeda, entahlah.. dia terlihat muram. Seperti ada sesuatu di kepalanya, sesuatu yang ia pendam. Dia juga cenderung diam selama permainan. padahal kami biasanya selalu berargumen selama bertanding. Saat itu dia bermain seperti benar-benar sedang bertarung. Melampiaskan sesuatu, sampai ia hilang kendali dan terjatuh.”


“Lalu?”


“Dia dilarikan ke rumah sakit. Absen selama seminggu, kemudian kembali dengan keadaan yang berbeda.”


“Berbeda?”


“Apa terjadi sesuatu ke kepalanya?”


“Tidak. Haha.. tidak seperti itu. Sebenarnya dia.. dia jadi normal. Bukan si penyendiri lagi, jadi seperti dirinya saat ini.”


“Lalu apa yang terjadi kepadanya?”


“Entahlah, saya tidak pernah bertanya.”


“Kenapa?”


“Saya dengar beberapa rumor, tapi apa gunanya. Saya tidak perlu tahu soal itu, yang pasti adalah dia sekarang tidak semenyebalkan dulu. Itu yang terpenting.”


Damian kembali meminum kopinya sebagai penutup. Pria itu memilih mengakhiri kisahnya disini. Kisah bagaimana dia dan Ray bisa menjadi teman dekat. Sekilas tampak seperti pertukaran informasi mereka akan berakhir, namun Calya berpendapat berbeda.


“Sekarang saya menemukan kesamaan Anda dengan Qeiza.”


“Kesamaan kami? Apa?”


“Kalian sama-sama suka memulai pertengkaran.”


“Dia juga pernah bertengkar?”


“Dia sangat suka pertengkaran. Entah dia terlibat atau tidak, setiap ada pertengkaran dia selalu ada disana.”


“Kapan kalian kenal satu sama lain?”


“SMA. Kami satu kelas, tiga tahun berturut-turut.”


“Teman sekelas yang akrab. Manis sekali.”


“Teman satu kelas, benar. Tapi kami tidak akrab dari awal. Kami punya kehidupan yang berbeda. Qeiza seperti social butterfly. dia punya teman dimana-mana. Aktif di kegiatan ekstra kurikuler, dang sering hangout ke tempat-tempat populer. Sementara saya seperti saya seperti kutu buku yang hanya terpaku pada pelajaran.”


“Dan momen yang membuat kalian dekat adalah…”


“Secara kebetulan kami masuk ke universitas dan jurusan yang sama, dan dia mulai mengikutI saya kemana-mana. Saya ingat waktu hari orientasi dimulai, kami baru sadar bahwa kami masuk ke universitas dan jurusan yang sama. Dia memanggil saya dengan suara nyaring dari jarak 100m. Berlari dan memeluk saya seperti teman baik yang sudah lama terpisah.”


“Haha.. Dia memang sudah ceria dari dulu ternyata.”


“Dia memang anak yang ceria dan ekspresif. Setiap pagi selau ada cerita yang dia bagikan. Apa yang terjadi di perjalanan pulang, apa yang terjadi di perjalanan menuju kampus, apa yang terjadi selama dirumah, apa yang terjadi di sosial media sampai apa yang terjadi di kampus, setiap jurusan sampai kantor dosen, Dia tahu semuanya.”


“Pantas saja dipanggil sosial butterfly.”


“Ya, Tapi Qeiza memang tipe yang akan disukai banyak orang. Dia ramah, baik dan perhatian. Dia selalu menanyakan apa yang saya makan dan jika saya bilang menu makanan yang sama dengan kemarin dia akan mulai bicara panjang lebar tentang hidup sehat itu dari makanan yang sehat. Saat hari libur jika dia tahu saya hanya berdiam diri dirumah dia akan terus menelpon sampai saya mau pergi keluar. Dia juga selalu bertanya tentang apa saja yang saya alami setiap kami tidak punya kelas yang sama. Rasanya seperti dia lebih peduli dengan saya melebihi orang tua saya sendiri.”


“Kurasa dia sangat menyayangi anda.”


“Ya, saya rasa juga begitu.Dia juga begitu ke banyak temannya. Makanya waktu sikapnya sedikit berubah saya sangat khawatir.”


“Apa ada sesuatu yang terjadi?”


"Ya, ada.. "