LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Kebetulan Berulang



“Sungguh suatu kebetulan yang aneh,” ucap Qeiza.


Bola mata mengarah ke atas, berpikir keras tatkala ia mencoba menyimpulkan cerita panjang yang baru ia dengan dari sahabatnya.


“Jadi ayahmu dan ayah pria yang wajahnya mirip dengan ARFriendmu adalah mantan rekan kerja, dan sekarang mereka mencoba menjodohkan kalian berdua. Begitu?”


“Benar.”


“Lalu apa masalahnya?”


“Apa masalahnya! Qei, aku sudah ceritakan semua padamu, tentang keluarga dan masa laluku!”


“Baik - baik. Terlepas dari fakta bahwa ini adalah perjodohan yang ditentukan oleh ayahmu ‘yang selama ini mengatur hidupmu’. Bagaimana pendapatmu tentang Arion? Apa kamu menyukainya?”


Calya terlihat memikirkan perkataan temannya, hingga beberapa menit berlalu.


“Cal, jangan berpikir terlalu keras. Cukup ingat kembali saat - saat kamu bersamanya. Apa dia membuatmu nyaman? Apa dia membuatmu tersenyum, tertawa, kesal, atau sedih? Apa dia peduli padamu? Tapi jika kamu tidak bisa menjawabnya, setidaknya pikirkan satu hal ini saja. Apa kamu masih ingin bertemu dengan nya besok?”


“Aku… tidak tahu..”


“Menurutku kebetulan diantara kalian terlalu aneh. Kebetulan kamu bertemu dengannya. Kebetulan dia punya wajah yang mirip dengan ARFriend milikmu. Kebelutan yang lebih aneh lagi kalian sekarang dijodohkan. Mungkin saja kalian memang ditakdirkan bersma.”


“Wajah mereka memang mirip, tapi mereka sama sekali berbeda. Arion bukan Keanu, begitu juga sebaliknya.”


“Wah, kamu bahkan memberinya nama. Apa dia begitu spesial bagimu? Lebih spesial dariku?”


Qeiza menyilangkan kedua tangannya di dada, merasa kesal bahwa kehadirannya tersaingi oleh sebuah program komputer.


“Keanu memang spesial. Memperlakukan dengan baik, menanggapiku dengan baik. Kadang aku berpikir apakah dia nyata.. tapi tentu saja temanku ini jauh lebih spesial.”


Calya buru - buru merubah arah kalimatnya begitu menyadari tatapan tajam Qeiza padanya. Dia tidak ingin kembali bertengkar dengan Qeiza setelah susah payah berbaikan.


“Ini tidak bagus, aku tidak akan membiarkanmu berakhir menjadi seperti mereka diluar sana. Sekarang dengarkan aku baik - baik. Aku tidak masalah kalau kamu menggunakan LOVATI. Tidak masalah sebanyak apa kamu becerita pada ARFriendmu, kamu juga harus menceritakannya padaku. Janji?”


“Baiklah, aku janji. Tapi kamu tidak boleh bosan dengan ceritaku, OK?”


“Mana mungkin! Just like how you always there for me, membantuku, mendengarkan semua ceritaku, bahkan memberiku nasihat. Aku juga ingin melakukan hal yang sama padamu. Jadi jangan sungkan, kapanpun itu kau bisa mencariku.”


...‘Teman yang baik adsalah yang selalu ingin memberi sebanyak yang ia terima.’...


...***...


“Kita mau kemana sebenarnya?” Tanya Calya pada Qeiza begitu mereka masuk ke dalam mobilnya. Begitu ia bersiap pulang, Qeiza dengan cepat menariknya untuk pergi bersama. 


“Udah aku share lokasinya ke ponselmu.”


“Memangnya ada apa disini?”


“Udah jalan aja!”


Calya baru saja menyentuh kemudi, menginjakkan kaki di pedal gas sebelum menariknya kembali.


“Kamu nga sedang membuatku menjadi sopir kencanmu kan?”


“Tentu saja nga! Ayo.”


17 menit kemudian kedua wanita itu sampai disebuah kafe dengan nuansa hijau. Karang bunga bertuliskan ‘Selamat’ dan ‘Sukses’ bejajar rapi di dekat pintu masuk. Begitu melewati pintu masuk tersebut keduanya dapat melihat pemandangan orang yang memenuhi setiap meja, membuat Calya dan Qeiza sempat kebingungan.


“Mau apa sebenarnya kita kesini?”


“Temannya Damian mengundangnya untuk datang ke grand opening kafe barunya dan Damian mengajakku.”


“Lalu kenapa kamu membawaku kemari?”


“Kalau aku datang sendiri bisa-bisa aku jadi orang bodoh karena tidak kenal siapapun.”


“Jadi kamu ingin aku jadi bodoh bersamamu?”


“Setidaknya berdua lebih kan? Hehe.”


Qeiza memeriksa ponselnya bermaksud menghubungi pria yang mengajaknya kesana, namun pria itu lebih dulu mengiriminya pesan.


^^^‘Aku dilantai dua.’^^^


“Ayo, kelantai dua,” ucap wanita itu sambil menggandeng lengan sahabatnya.


Lantai dua di kafe itu terlihat lebih sepi dibandingkan dengan lantai satu. Memperlihatkan kesan lebih luas dengan tambahan beberapa furniture yang terlihat unik.


“Sudah sampai? Ayo!”


Damian menghampiri kedua wanita itu begitu mereka menaiki tangga, meraih tangan kiri Qeiza agar wanita itu dapat mengikuti langkahnya. Ketiganya berjalan menuju ke arah balkon, dimana hanya ada beberapa meja dengan jarak yang berjauhan.


Damian membawa kedua wanita itu menuju meja di ujung balkon dimana dua orang pria terlihat duduk disana.


“Lama tidak berjumpa, Qeiza, Calya.”


Qeiza dan Calya menarik kursi kososng agar bisa duduk disana. 


“Sudah lama ya? Rasanya tidak selama itu. Iya kan, Cal?”


“Entahlah, mungkin sudah lama.”


“Hey.. hey.. itu kan hanya basa-basi. Kenapa kalian menganggapnya serius?”


“Saya tahu Tuan Ray, saya hanya bercanda. Lama-lama Anda jadi sama kakunya dengan Calya.”


Sorotan tajam terlihat di mata Calya saat ia mendengar kalimat yang diucapkan Qeiza. Namun yang berbicara tidak meyadarinya sama sekali, membuat Calya menyikutnya pelan.


“Apa ini maksudmu mengajakku kemari?” ucap Calya berbisik. Ekor matanya melirik ke arah Ray, sebagai pengganti jemari untuk menunjuk.


“Tentu saja tidak. Aku bahkan tidak tahu kalau Ray akan datang.”


“Jadi, kau tidak akan mengenalkanku pada mereka Damian?”


Ucapan laki-laki itu memotong pembiacaraan rahasia antara Calya dan Qeiza.


“Benar juga, aku hampir lupa. Ini Qeiza dan Calya, mereka juga bekerja di kantor yang sama denganku.”


“Senang sekali bisa bertemu langsung kalian,” ucap pria itu mengulurkan tangannya.


“Dia Danny, pemilik kafe ini,” jelas Damian.


“Dan ini…” untuk beberapa saat matanya mengarah kepada Ray, sebelum pemilik tangan yang ia jabat menyela.


“Calya, Calya Shalitta.”


“Senang berkenalan denganmu juga. ”


“Kafe anda bagus Tuan Danny, cerah dan desainnya juga unik,” puji Qeiza.


“Jangan terlalu formal denganku, temannya teman-temanku adalah temanku. Aku tidak akan sungkan dengan kalian, jadi kalian juga jangan sungkan-sungkan padaku. Tapi terima kasih pujiannya, kafe ini memang sengaja didesain agar terlihat cerah. Sesuai dengan namanya, BHANU.”


“Kebetulan sekali, gedung disebelah punya desain dan warna yang bertolak belakang. Gedung kafe ini pasti terlihat lebih menonjol. Apa ini kebetulan?” tanya Calya.


“Benar sekali gedung disebelah sangat gelap dan tertutup,” tambah Qeiza.


“Tempat apa itu sebenarnya? Beberapa kali kulihat orang-orang yang masuk kesana semuanya memakai topeng.” tanya Damian.


“Gedung sebelah? Itu juga kafe, 33 CORA namanya. Katanya itu bukan kafe biasa, tidak semua orang bisa datang sesuka hati, ada persyaratan yang harus dipenuhi, itu yang yang kudengar. Kebetulan aku dapat tempat disini dan seperti yang Calya katakan desain dan warna kami yang bertolak belakang sedikit banyak menguntungkanku.“


“Apa dia selalu seperti itu?” tanya Qeiza berbisik pada Damian.


Damian mengiyakan. Damian, Ray dan Danny menempuh pendidikan di universitas yang sama. Sejak pertama mereka mereka bertem,u Danny memang sudah nyentrik. Mulai pakaiannya yang lebih cerah dari pria pada umumnya hingga jumlah kata-kata yang ia keluarkan sekali ucap. Selain lebih banyak bicara dibanding pria pada umumnya, arah bicaranya juga gampang sekali berubah. Tipe orang yang mudah dekat dengan siapa saja.


“Well, selamat datang di kafe BHANU. Enjoy your time, aku permisi menemui tamu yang lain.”


Setelah Danny pergi, suasana di meja itu mulai terasa canggung. Keempat orang itu belum berbicara satu patah kata pun. Entah apa atau siapa yang membuat mereka tidak enak.


“Aku ke toilet dulu.”


Qeiza bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan meja itu. ‘Akward!’ ucapnya pelan dengan tangan menyilang yang mengusap lengannya berulang-ulang.


Ketiga orang yang tersisa di meja itu tetap diam tanpa kata. Kehabisan bahan bicara adalah alasan yang tidak masuk akal di tempat ramai seperti itu. Bahkan, mereka belum memulai pembicaraan apapun.


“Aku.. akan mengambil beberapa makanan.”


Ray bangkit meninggalkan meja kali ini. Seperti Qeiza, ia juga tak tahan dengan suasana yang canggung.


“Jadi, sepertinya kalian sudah berbaikan,” Damian akhirnya memulai percakapan.


“Ya. Sebenarnya, ini mungkin berkat Anda juga.”


“Tidak juga. Jika kalian memang teman baik,  bagaimanapun kalian bertengkar kalian pasti akan berbaikan. Saya dan Ray juga begitu.”


“Kalian juga pernah bertengkar?”


“Kami cukup sering bertengkar, terutama saat masih kuliah dulu. Biasalah, pria.”


Calya mengangguk-anggukan kepalanya. Melihat itu Damian tertarik untuk menggodanya.


“Jika anda penasaran, saya bisa memberi tahu anda informasi lainnya. Makanan kesukaan Ray, musik favorit atau film favorit…”  


Damian mungkin sedikit terlalu bersemangat, hingga lupa siapa yang sedang ia ajak bercanda saat ini, sebelum tatapan tajam Calya menyadarkannya “Seandainya anda penasaran’” ralatnya.


Sementara Qeiza yang baru keluar dari toilet melihat Ray sedang berdiri didepan meja hidangan. Pria itu tampak masih memilih hidangan sementara sudah ada dua piring penuh makanan ada di tangannya.


“Anda akan makan semua itu?” tanya Qeiza yang akhirnya menghampirinya.


“Bukankah kita ada empat orang? Aku rasa ini masih kurang.”


“Tapi Calya tidak akan makan itu, terlalu manis. Yang itu juga, dia tidak suka yang garing.”


“Jadi makanan apa yang dia suka?”


“Dia suka makanan pedas dan berbumbu. Tunggu dulu! Anda tidak sedang berusaha membeli informasi dari saya kan?”


“Aku sedang berusaha memilih makanan disini.”


“Baiklah,” Qeizapun ikut memilih beberapa makanan di meja itu.


“Apa aku seburuk itu?” ucap Ray tiba-tiba.


“Apa?”


“Aku bertanya pendapatmu tentangku, sebagai seorang wanita.”


Qeiza mulai mengamati Ray dari ujung rambut sampai ujung kaki.


“Aku tidak bertanya soal penampilanku, tapi sifatku.”


“Memangnya kenapa kalau penampilan anda?”


“Kalau itu, aku yakin tidak ada yang kurang.”


“Wahh.. percaya diri sekali!”


“Memang begitu kenyataannya kan?” 


Ray berjalan meninggalkan Qeiza yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa heran. Saat wanita itu berbalik, dia mendapati sosok yang kembali membuat nya heran.


“Ternyata kebetulan yang berulang memang bisa terjadi,” ucap wanita itu. Dia berusaha untuk pura-pura tidak melihat tapi pandangan mereka sudah terlanjur bertemu.


“Apa kabar? Nona Qeiza, saya tidak menyangka bisa bertemu anda disini.”


“Baik. Tuan Arion, saya juga sama terkejut melihat anda disini.”


“Kebetulan pemilik kefe ini kenalan saya.”


“Begitu rupanya.”


“Apa Calya juga disini?”


“Apa?”


“Biasanya kalian selalu bersama. Dia pasti disini kan? Mari, biar saya bawakan makanan anda.”


Arion dengan santai berjalan sambil membawa priring makanan yang tadinya dipegang oleh Qeiza. Wanita itu mau tidak mau membawa pria itu menuju meja mereka.


‘It will getting more awkward.'