LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Penting



Creative Department dengan semua penghuni yang sibuk dengan urusan mereka masing - masing. Sekarang bukanlah musim dimana mereka dikejar tenggat proyek, mereka masih bisa sedikit bersantai. Bahkan beberapa diantara mereka sedang sibuk dengan sesuatu yang bukan bagian dari pekerjaan.


“Menurutmu LOVATY akan hancur?” tanya Rezvan.


“Tidak semudah itu, ingat mereka produk Klandestin. Lagi pula pengguna mereka tidak menurun drastis,” jawab Kenzo.


“Pengguna mereka mungkin tidak menurun drastis, tapi jumlah orang yang menandatangani petisi iya. Kau tidak tahu jumlahnya berapa sekarang? Ratusan ribu!”


“Tapi kenapa orang - orang mulai menandatangani petisi? Memangnya apa yang terjadi?” Davidya akhirnya ikut bergabung dalam percakapan kedua pria itu setelah dari tadi hanya mendengar.


“Kau belum tahu? Beberapa penggunanya sekarang sudah mulai menjadi gila!” Sebelum Rezvan menjawab pertanyaan itu, Wikan yang tiba - tiba bergabung telah lebih dulu menjawabnya.


“Gila? Gila bagaimana maksudnya?” wanita yang tak mengikuti perkembangan berita itu semakin dibuat tak mengerti.


“Beberapa orang menjadi terobsesi dengan teman virtual mereka..” Rezvan mencoba menjelaskan.


“Tidak hanya itu, aku dengar beberapa orang mengaku telah menikah dengan teman virtual mereka!” tambah Wikan lagi.


“Kenapa kau bersemangat sekali tentang ini?” tanya Rezvan setelah Wikan beberapa kali memotong kata - katanya.


“Tentu saja! Bagaimana kalau semua orang berakhir gila seperti itu? Bukankah mengerikan!”


“Mereka belum masuk kategori gila. Mungkin mereka gangguan mental karena kecanduan berlebih, tapi itu tidak boleh disebut gila,” jelas Kenzo.


“Yang mereka lakukan tidak wajar, itu sama saja dengan gila.”


“Mereka masih hidup dan melakukan hal-hal lain dengan normal seperti orang lain. Bahkan jika mereka percaya atau melakukan sesuatu yang tidak wajar, mereka masih manusia normal. Mereka sebaiknya ditolong dengan penanganan khusus bukannya diasingkan.”


“Jadi, menghapus LOVATY adalah cara untuk menolong mereka?”


“Itu aku juga tidak tahu.”


“Qei, kau kan juga main LOVATY. Bagaimana menurutmu? Apa itu berbahaya?” tanya Rezvan pada Qeiza yang ada di sisi lain ruangan.”


Qeiza melangkah lebih dekat agar ia tak harus berbicara sambil teriak seperti yang dilakukan Rezvan barusan. Ia duduk di kursi tepat didepan meja Calya, yang saat itu pemiliknya masih belum datang.


“Bagaimana ya? ARFriend memang tampan dan respon mereka juga sangat baik.”


“Lihat kan! Bahkan Qeiza juga menunjukan tanda - tandanya!” ucap Rezvan tiba - tiba setengah berteriak.


“ENAK AJA! Aku bukan wanita kesepian sampai harus jadi seperti itu!”


Disaat yang bersamaan Calya melangkah masuk keruangan.


“Iya benar! Dia bukan wanita kesepian sekarang!” ucap Calya bermaksud menggoda temannya, yang kemudian mendapat tatapan tajam dari Qeiza.


“Lagi pula kalian bicara tentang tanda - tanda, memangnya kalian tahu tanda - tandanya seperti apa?” tanya Qeiza.


“Itu pernah dibahas di sebuah artikel. Tunggu sebentar aku cari dulu!”


Rezvan dengan cepat mengambil gawai pintar nya, mulai mencari artikel yang ia maksud.


“Apa yang kalian sedang bahas?” Calya yang baru saja tiba sebenarnya tidak tahu topik pembicaraan rekan - rekannya.


“Kamu tahu kontroversi LOVATY? Tentang orang - orang yang mulai terobsesi dengan ARFriend mereka.”


“Ini dia!” teriak Rezvan.


“Anak itu harus belajar untuk tidak berteriak!” gerutu Qeiza yang berulang kali dibuat kaget olehnya.


“Dengar baik - baik! Orang yang terobsesi dengan LOVATY akan menunjukan tanda - tanda sebagai berikut. Pertama, perubahan sikap yang tidak seperti biasanya…”


“Maksudnya?”


“Mungkin seperti dari malas jadi rajin atau galak jadi baik.”


“Itu terlalu umum, banyak alasan untuk menjadi seperti itu.”


“Guys, bisakah kalian berhenti memotong kata - kataku! Ini bahkan baru poin pertama!” Ucap Rezvan dengan kesal.


“Baiklah.. baiklah.. lanjutkan.”


“Kedua, mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain LOVATY dibandingkan bersosialisasi dengan lingkungan. Biasanya mereka akan memilih tempat dimana mereka bisa sendirian. Ketiga, mereka mulai menganggap teman virtual mereka nyata. Hal ini memungkinkan mereka untuk tertarik pada teman virtual mereka seperti pada lawan jenis sebenarnya.”


“Artinya kalau ada orang - orang disekitar kita yang sering menyendiri dan mulai bersikap aneh boleh dicurigai,” ucap Wikan.


“Di ruangan ini cuma Calya yang jarang bersosialisasi,” tambah Rezvan.


“Calya jarang bersosialisasi karena dia sibuk bekerja, kau ini!” bantah Kenzo.


“Lihat dia, bukankah dia yang paling tidak normal disini. Benarkan Cal?”


“Cal!”


“Apa?”


“Kamu kenapa?”


“Tidak apa - apa, aku mau ke toilet dulu.” Calya bangkit dari kursi dan berjalan meninggalkan ruangan.


Qeiza memandang Calya heran, sesaat kemudian matanya tertuju pada ponsel milik Calya yang ia tinggalkan diatas meja.


Tangannya meraih ponsel itu. Wanita itu ingin memastikan sendiri kata - kata Ray tempo hari. ‘Apa benar Calya sedang menyukai seseorang saat ini?’


Qeiza menyentuh layar ponsel dan sebuah gambar muncul disana. Sketsa wajah, dia tahu pasti itu adalah hasil tangan temannya sendiri. Dia memperhatikan sosok gambar tersebut ‘Siapa pria ini?’ pikirnya.


‘Tunggu sepertinya aku tahu..’ Qeiza dengan cepat mengambil ponsel miliknya dan mengetik sebuah nama pada laman pencarian. Arion Radhika, begitu foto pria itu muncul disana ia langsung menjajarkan ponselnya dan ponsel Calya.


Qeiza membandingkan kedua gambar itu, gaya rambut dan raut wajah yang terlihat berbeda. Namun ia yakin itu adalah orang yang sama. Pria ini Arion. Lalu apakah ini artinya Calya menyukai Arion? Saat wanita itu sibuk dengan pikirannya, Calya kembali keruangan.


“Waktunya kerja!” ucap wanita itu sembari berjalan menuju meja kerjanya. Qeiza dengan cepat mengembalikan ponsel Calya ke tempatnya semula dan kembali ke meja kerjanya.


...***...


Jam makan siang tiba dan semua orang terlihat pergi meninggalkan ruangan. Begitu pun dengan Qeiza yang dengan sigap menarik Calya agar ikut pergi makan siang bersamanya.


“Tumben sekali kamu makan siang denganku, dimana pacar barumu?” tanya Calya, bermaksud menggoda temannya.


“Yaa.. aku tidak harus makan siang setiap hari bersamanya kan? Lagi pula aku juga merindukan sahabatku!”


“Jangan bercanda, sebenarnya kamu perlu sesuatu dari ku kan?”


“I’m serious! Hey, kapan terakhir kali kita makan bareng dan cerita - cerita? Rasanya udah lama banget!”


“Okay.. okay.. i believe in you. Jadi gimana hubungan kamu sama Damian?”


“So far. good. He’s good to me, meskipun aku masih merasa canggung.”


“Why? Kamu bilang dia baik padamu?”


“Karena selama ini kami hanya saling kenal sebagai rekan kerja yang notabene tidak tertarik pada kehidupan pribadi masing - masing. Sulit bagiku untuk mengubah pemikiran itu.”


“Ya, mungkin kamu hanya butuh waktu.”


“Mungkin, lihat saja nanti. BTW, Cal. Bagaimana denganmu? Apa tidak ada yang ingin kau ceritakan padaku?”


“Aku? Tidak ada.”


“Benarkah?”


“Tentu saja. Hidupku ya begini - begini saja, kamu juga tahu itu kan?”


“Ayolah Cal. Sudah berapa lama kita berteman? Selalu saja aku yang bercerita, kapan kamu akan terbuka padaku?”


“Aku tidak cerita karena memang tidak ada yang penting untuk kuceritakan.”


“Lagi - lagi alasan itu! Apa jangan - jangan aku juga tidak penting bagimu?”


“Baicara apa sih, tentu saja kamu penting!”


“Kalau memang begitu, kenapa kamu harus merahasiakan hal itu padaku.”


“Apa? Memangnya aku merahasiakan apa darimu?”


“Aku sudah lihat wallpaper di ponselmu, kamu masih mau bilang tidak merahasiakan apapun dariku?”


“Kamu memeriksa ponselku tanpa izin?”


“Aku memang melihat ponselmu, tapi sejak kapan kita perlu izin untuk melihat ponsel masing - masing? Bukannya dari dulu juga begitu?”


“Dulu memang iya, tapi sekarang beda!”


“Dulu iya, sekarang beda? Oh jadi maksud kamu dulu kita memang teman dekat, tapi sekarang tidak?”


“Bukan itu maksudnya!”


“Aku lupa sekarang kita adalah atasan dan bawahan. Kurang ajar kalau aku periksa ponsel atasanku tanpa izin, ya kan?”


“Qeiza..”


“Aku permisi!”