LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Menyebalkan



“Tunggu!”


Wanita itu berlari kearah pria yang berjalan pergi meninggalkannya. Butuh waktu untuk mengejar langkah lebar pria itu namun akhirnya dia berhasil. “Berhenti!” ucapnya begitu berhasil menjangkau, menghentikan pria itu.


“Apa kau sudah gila?” ucap Arion berteriak. Tatapan matanya dipenuhi dengan amarah yang jauh lebih besar dari suara teriakannya pada wanita itu.


“Dengar…”


“Apa? Jadi ini alasanmu membawaku kemari, masih ingin membuktikan siapa yang benar? Apa egomu setinggi itu? Atau kau memang senang melihat kesulitan orang lain?”


“Setidaknya biarkan aku bicara dulu…”


“Apa lagi yang perlu aku dengar saat semuanya sudah terlihat jelas!”


Amarah Arion terasa kian membesar bersama dengan teriakannya yang makin kencang. Calya merasakan hal itu, tapi dia cukup bingung saat ini. Satu sisi ia merasa terlalu banyak ikut campur, namun di sisi lain dia akan merasa tidak nyaman jika harus membiarkan kesalahpahaman ini. Pada akhirnya Calya tetap memilih untuk menanggung resiko pertama, mengingat dia sudah melangkah sejauh ini.


“Jadi kau ini yang kau pilih?”


“Apa?”


“Menolak mencari tahu, menghindar dan hanya berpegang pada fakta yang kau inginkan. Itu yang kau mau?”


“Kau tidak tahu apa-apa, jadi jangan mencoba untuk menggurui-ku!”


“Ya, aku memang tidak tahu semua masalahmu. Tapi aku sangat tahu tentang orang-orang yang menderita karena kabur dari masalah.”


Arion yang dibutakan dengan amarah menolak untuk mendengar kata-kata wanita itu. Lebih memilih mempercayai fakta yang dia inginkan seperti apa yang diucapkan Calya sepertinya memang benar adanya, karena kini dia lebih memilih melangkah pergi dibanding mencoba mendengarkan wanita itu.


“Jika memang itu yang kau inginkan…” Kalimat Calya kembali menghentikan langkah pria itu. “Silahkan. Kembali dan sembunyi dibalik minuman itu selamanya. Pengecut sepertimu memang pantas hidup seperti itu.” ucap wanita itu sebelum pergi, tak peduli seberapa kasar kata-kata yang ia ucapkan tadi. Karena sama seperti Arion amarahnya juga memuncak dan ia terlalu lelah untuk menahannya lebih lama.


***


“So, how was your mision?” tanya Qeiza saat mereka berpapasan di depan gedung Parama Ad.


“Worse.”


“Why? Ceritakan padaku!”


“Entahlah, memang dasar dia saja yang keras kepala.” jawab Calya dengan malas. Tak perlu banyak kata untuk mendeskripsikan tingkah pria itu baginya.


“Annoying, right? Aku kenal orang yang juga keras kepala, so i know exactly how it feels.” ucap Qeiza bersimpati.


“Oh ya? Lalu gimana?”


“Ya, dia memang orang yang independent. Tahu semua yang dia lakukan dan apa yang mau dia lakukan. Tapi dalam beberapa hal dia sangat skeptis. Like, semua hal yang aku saranin gak bakal masuk ke otaknya.Apalagi kalau itu menyangkut masalah pribadi dia. Padahal udah jelas banget if you takes time to solve your problem that’s the moment you need other people. Tapi tetap aja, she handle everything on her own.”


Qeiza dengan semangat menjelaskan secara rinci pengalamannya, sampai pada tahap terbawa suasana dan melupakan dengan siapa dia sedang bercerita.


“Sounds annoying indeed. Tapi siapa dia?” tanya Calya penasaran.


“Apa?” ucap Qeiza bingung, sepertinya dia baru sadar sudah terlalu banyak bicara.


Qeiza bingung, tidak mungkin untuk mengatakan nama orang itu baginya. “Nnngaak! Kamu nga kenal! Adalah itu temen aku.” sangkal wanita itu asal.


“Rasanya aku kenal hampir semua teman kamu?” fakta dari pertanyaan yang diucapkan Calya jelas menyudutkan temannya kini. Tak ada alasan yang yang bisa dia ucapkan lagi dan tentu saja berpura-pura tidak mendengar adalah satu-satunya pilihannya saat ini.


“Qei?”


“Iya Cal!”


“That’s not be…”


‘Aku tertangkap basah’ pikirnya. Tapi tentu saja, menyerah dan mengaku tidak akan pernah dia lakukan. “No! Not at all! Oh my god lihat jam berapa sekarang! We should hurry.” sehingga mengalihkan topik pembicaraan menjadi jalan keluar yang ia pilih. Dia mempercepat langkahnya, memasuki ruang departemen mereka lebih cepat adalah target utamannya sekarang.


“Morning everyone!” sapa Qeiza dengan semangat ekstra.


“Morning Mba Qeiza.” ucap orang-orang disana.


“It’s a good day. Banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan. So, fighting!” ucapnya sebelum bergegas menuju meja kerja. Terlihat seperti orang yang sedang sangat bersemangat. Terlihat begitu bagi semua orang, semua orang kecuali dua orang prua diujung sana.


“Dia kenapa?” Tanya Rezvan


“Entahlah, gayanya seperti orang yang habis buat salah.” jawab Kenzo yang sudah hapal.


“Terserahlah! Kerjaan-ku banyak.” Rezvan tak tertarik untuk membahasnya lebih jauh, yang terpenting baginya adalah menemui Calya agar pekerjaannya bisa segera selesai.


“Cal, ini daftar tempat yang paling cocok buat konsep iklan kita. Rata-rata di pinggiran kota, cuma satu yang agak jauh.” ucap pria itu sembari menyerahkan daftar yang ia bawa.


“Ini di pulau?”


“Ini spot baru. Masih dalam tahap promosi, jadi belum terlalu padat. Tapi udah kedatangan turis dari mancanegara, karena tempatnya masih alami.”


“Dari foto-fotonya sih, oke juga.”


“Iya, kan! Tempat dengan hutan, bukit, air terjun dan pantai, yang masih alami sangat pas buat menggambarkan energi produk baru Niskala.” pria itu menjelaskan dengan sepenuh hati.


“Oh, iya? Bukan karena kamu ingin sekalian jalan-jalan?” tapi sayangnya niat tersembunyi Rezvan berhasil tercium oleh Calya.


“Ya, kalau bisa dua-duanya kenapa tidak.” ucapan jujur akhirnya keluar karena sudah terlanjur ketahuan. Namun Calya masih bergeming.


“Kalau begitu listnya aku tinggalkan disini. Aku pamit mau kembali kerja.” Rezvan buru-buru pergi sebelum terkena masalah lebih jauh. Satu kesamaan dari dirinya dan Qeiza hari ini adalah menjadikan pekerjaan sebagai alasan untuk menghindari dari Calya, dan wanita itu jelas sudah paham.


'Datang ke kantorku siang ini. Kita lanjutkan pembahasan kemarin.'


Sebuah pesan masuk langsung dibaca oleh wanita itu. Reaksinya sedikit skeptis, sebagian dari pikirannya mempertanyakan kesungguhan dari alasan pria itu memanggilnya. ‘Apakah benar ini hanya tentang pekerjaan?’ tanyanya pada diri sendiri. Tapi tenggat waktu yang kian mendekat menyadarkannya untuk memilih rasionalitas. 


Calya akhirnya tiba di Niskala. Memenuhi undangan dari pesan yang dikirim pria itu. Salah satu karyawan membawanya menuju ruangan Ray, meski ia harus menunggu diluar untuk sementara. Pria itu terlihat sedang berdiskusi dengan beberapa orang di ruangannya. Produk baru yang akan segera dirilis pastilah membuatnya sangat sibuk.


Dalam keadaannya yang harus menunggu tanpa ada yang bisa diajak bicara ataupun dikerjakan itu, membuat gadis itu hanya bisa memperhatikan Ray dari luar ruangannya. Sejenak wanita itu terpaku, karena pria itu saat ini terlihat sangat serius dalam bekerja, hal yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


“Ternyata dia punya sisi seperti ini juga.” ucapnya tanpa sadar.