LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
That Man



Alarm berdering tepat jam tujuh pagi. Sebuah tangan kemudian menggapai benda persegi yang terletak di atas nakas samping tempat tidurnya, mematikannya tanpa melihat. Untuk beberapa saat pria itu masih memejamkan matanya sebelum suara kembali terdengar, kali ini dari ponselnya. Pria itu langsung duduk lantaran harus mencari dimana ia meletakkan ponselnya. Pada akhirnya suara ponsel itulah yang membangunkannya.


Pria itu keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan celana panjang. Rambutnya masih basah dengan beberapa bulir air menetes ke tubuh atasnya yang polos. Membuka lemari dan memilih beberapa setelan kemudian mengenakannya. Dia berdiri di depan cermin merapikan penampilannya sambil sesekali melirik layar ponselnya yang terus berdering. Banyak pesan masuk di sana.


Pria yang telah berpakaian rapi itu kemudian berjalan ke arah dapur, menyalakan mesin pembuat kopi. Sembari menunggu, dia menyalakan televisi dan duduk sambil memeriksa pesan masuknya.


‘LOVATY, program baru keluaran dari perusahaan Klandestin baru - baru ini menjadi kontroversi. Sejak diluncurkan pada tanggal 14 Februari lalu, program ini telah digunakan oleh jutaan orang dan selalu menjadi trending topik di sosial media. Namun dalam beberapa hari terakhir, telah banyak klaim yang bermunculan tentang dampak negatif  dari program tersebut.’


‘Tagar LOVATY BERBAHAYA tengah ramai digunakan di sosial media sebagai bentuk kekecewaan orang - orang atas kejadian - kejadian buruk yang mereka alami setelah menggunakan LOVATY. Tidak sampai disitu, sebuah petisi berisi permintaan LOVATY untuk dihapuskan kini juga telah menyebar di sosial media dengan 300.000 orang lebih yang sudah menandatangani.’


‘Sampai saat ini belum ada penjelasan maupun pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh pihak Klandestin. Hal ini menimbulkan banyak spekulasi negatif tentang asal muasal program tersebut. Apakah benar kekacauan yang terjadi saat ini, adalah akibat dari ketidaksempurnaan program yang diambil paksa pihak Klandestin?’


“Dia dalam masalah besar sekarang. Sudah kubilang program itu aneh,” Arion yang sedang duduk dengan memegang secangkir kopi berkomentar atas berita yang baru saja dia lihat di televisi.


Sementara di Apartemen lain seorang pria juga tengah menyaksikan berita yang sama. Pria yang juga sedang menikmati sarapannya itu langsung mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.


“Kau dimana?”


“Dirumah.”


“Kau tidak lihat berita? Apa yang terjadi?”


“Tentu saja aku lihat. Kami sedang menyelidiki masalahnya.”


“Jika kau butuh bantuan, segera kabari aku.”


“Tenang saja. Hal seperti ini sudah biasa terjadi.”


“Baiklah kalau begitu,” Ray mematikan sambungan teleponnya. Pria itu langsung pergi meninggalkan apartemennya setelah meletakkan piring di wastafel.


...*LOV*e *Augmented realiTY*...


...Man In The Suit...


Arion dan Ray, dua pria yang memiliki posisi penting di perusahaan masing - masing. Arion sebagai pewaris tunggal Radhika Grup dan Ray sebagai Executive di Niskala. Keduanya sedang melangkah masuk ke gedung perusahaan masing - masing. Arion disambut selayaknya para pewaris diperlakukan, sementara Ray berjalan santai sambil menyapa beberapa orang yang ia kenal.


Saat memasuki ruang kerja, keduanya sama - sama disambut dengan tumpukan berkas diatas meja. Hanya berselang beberapa menit setelah mereka duduk di kursinya, para karyawan mulai masuk keruangan silih berganti dengan maksud membahas pekerjaan. Satu lagi kesibukan yang mengawali pagi mereka, sesuatu yang normal.


Ditengah - tengah kesibukannya kedua pria itu pasti perlu untuk menenangkan diri. Menyegarkan pikiran dengan melakukan sesuatu yang membuat mereka senang. Biasanya Ray akan pergi ke villa dan sekedar bersantai menatap warna alam. Sementara Arion, pria itu punya caranya sendiri untuk menyenangkan diri yaitu dengan menghabiskan waktu bersama wanita.


Namun kegiatan yang selalu mereka lakukan di sela - sela kesibukan mereka tergantikan dan terhenti setelah orang baru dalam hidup mereka. Ray, setelah bertemu dengan Calya mengubah kegiatan sampingannya. Dari bersantai dan menikmati pemandangan alam menjadi memikirkan, memperhatikan dan mengkhawatirkan wanita itu.


Sementara Arion yang selalu berganti - ganti wanita demi kesenangan sesaat tidak lagi bisa melakukannya. Setelah ayahnya dengan tegas menyatakan rencana perjodohan dirinya dan Calya, dia tak lagi bisa melakukan apa yang dia senangi. Alasan klasik tentang pencoretan nama dari surat wasiat menjadi alarm baginya. 


Tapi bukan hanya warisan yang membuatnya menyetujui perjodohan ini. Karena pria seperti Arion bisa saja membantah perintah ayahnya seperti yang sering ia lakukan selama ini. Tapi tidak, nyatanya ia memang tertarik pada Calya. Dia terus mempertanyakan maksud dan sikapnya. Dingin namun selalu ada di momen masalah pribadinya muncul. Membuatnya penasaran, bagaimana sikap wanita itu padanya jika dia berhasil mengambil hatinya.


Beberapa hari setelah pertemuan mereka di restoran dengan para ayah. Arion kembali bertemu dengan Calya, kali ini untuk menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan.


“Kau pasti sudah dengar bagaimana hasil dari proyek kita kali ini.”


“Sudah.”


“Semuanya berjalan baik berkat dirimu, terima kasih.”


Calya menganggukkan kepalanya.


“Untuk proyek selanjutnya aku berharap kita bisa bekerjasama lagi.”


“Kau akan menyetujuinya kan?”


“Kerjasama ini terkait kedua belah perusahaan, tidak ada kaitannya dengan persetujuan saya.”


“Bukan itu, maksudku permintaan ayahku. Apa kau akan menyetujui perjodohan ini?”


Calya tercenung.


“Aku rasa tidak ada ruginya jika kau menerimanya. Latar belakang keluargaku baik dan ayahmu juga sepertinya setuju, kau tidak perlu mengkhawatirkan masa depanmu.”


“Saya tidak akan menyetujuinya.”


“Apa? Kau bercanda?”


“Tidak. Saya serius.”


“Apa alasannya?”


“Saya sudah memiliki pilihan saya sendiri.”


“Kau sudah memiliki kekasih, siapa dia?”


“Anda tidak perlu tahu siapa, yang terpenting saya sudah memberikan jawaban saya. Saya tidak ingin dijodohkan dengan pria manapun. Permisi.”


‘Dia pasti Ray. Menarik juga, dia membuatku semakin ingin mendapatkannya,’ ucap Arion dalam hati.


Drrrt.. Drrrt..


Ponsel Arion bergetar, pria itu melihat layar ponselnya dimana nama Adelia tetera disana.


“Halo.”


“Halo, Rion. Kamu sibuk? Bagaimana kalau kita ketemu?”


“Aku sibuk.”


“Lalu kapan kau punya waktu?”


“Aku akan sibuk untuk waktu yang lama. Sebaiknya jangan mencariku.”


Arion mematikan sambungan teleponnya. Tak lama berselang ponsel itu kembali bergetar dan nama yang sama kembali terlihat. Pria itu kembali mematikan panggilan itu. Ponsel itu sekali lagi bergetar, kali ini pesan yang ia terima tapi masih dari orang yang sama.


^^^‘Apa ini?’^^^


^^^‘Kenapa kau mengabaikanku?’^^^


^^^‘Apa kau akan meninggalkanku?’^^^


^^^‘Kau tidak akan bisa meninggalkanku seperti mereka, aku tidak akan membiarkannya!’^^^


Arion menggerakkan jarinya diatas layar ponsel, memblokir nomor Adelia. Entah sudah berapa kali dia melakukan ini, dia sudah terbiasa. Tak terhitung juga wanita yang memberikan reaksi yang sama padanya, tidak akan ada pengaruhnya baginya.


‘Jika sesuatu tidak membuatku senang, untuk apa kulakukan. Tidak ada yang bisa memaksaku untuk melakukan sesuatu, begitu pula sebaliknya. Tidak ada yang bisa menghalangiku dari sesuatu yang ku inginkan.’