
“Apa?”
Calya termenung seperti mengenang sesuatu.
“Calya?”
“Hmm?” Panggilan Damian menghentikan lamunannya.
“Apa itu?
“Apanya?” sesaat kehilangan kendali atas kesadarannya membuatnya melupakan topik pembicaraan mereka.
“Anda bilang ‘ada’ tadi.”
“Ada? Oh itu..”
“Lalu?”
“Anda sudah tahu tentang itu.”
“Tentang apa?”
“Tentang manajer hotel itu.”
“Saya belum tahu detailnya.”
“Anda bisa tanyakan langsung ke Qeiza, dia pasti cerita.”
“Kenapa tidak Anda ceritakan sekarang?”
“Tidak. Saya mau pulang saja. Terima kasih kopinya.”
Calya mengemasi barangnya, membuat Damian berpikir keras. Alasan apa yang bisa membuatnya menahan kepergian wanita itu.
“Tunggu!” ucap pria itu tiba-tiba.
“Let’s trade again?”
“Trade? What?"
“Jika anda teruskan bercerita, saya juga akan bercerita lagi.”
“Cerita apa lagi? Sudahlah. Saya tidak mau dengar cerita lagi.” Calya bersikeras ingin menyudahi pertemuan mereka.
“Anda yakin? Ini tentang rumor-rumor yang tadi saya katakan. Kenapa Ray tiba-tiba hilang kendali. Kenapa dulu dia se-misterius itu dan kenapa dia bisa berubah seperti sekarang.”
Sepertinya Damian berhasil menyentuh titik lemah wanita itu saat ini. Rasa penasaran akan membuat wanita itu kembali duduk, dia yakin akan hal itu. Terlihat dari raut wajah Calya saat ini. Raut wajah yang sedang berpikir keras, menimbang antara dua pilihan.
“Oke!” Calya kembali duduk.
Satu kata itu membuat Damian bersorak dalam hati, tentu dengan menahan gerak reflek dari tubuhnya.
“Biar saya pesankan minuman lagi, Ice Americano?”
Calya mengangguk, segera pria itu beranjak untuk memesan minuman. Sebelum Calya berubah pikiran, dia harus membuatnya nyaman.
“Silahkan diminum.” ucapnya setelah membawa satu gelas Ice Americano untuk Calya dan satu cangkir Espresso untuk dirinya sendiri.
“Terima kasih.” Calya meneguk minumannya dengan tenang dan berubah sedikit canggung saat saat sadar pria itu sedang menatapnya. “Kenapa?” tanyanya ragu.
“Tidak apa-apa. Nikmati saja minumannya dulu.” ucap pria itu.
Calya mengerti arti dibalik kalimat itu. ‘Aku menunggu ceritamu, tapi aku tidak bisa memaksamu’ kira-kira seperti itu artinya.
“Baiklah, kita lanjutkan.” ucap wanita itu.
“Qeiza pada dasarnya memang tipe yang daydreaming. Dia mengkhayalkan semua aspek di hidupnya. Pekerjaan apa yang ingin dia lakukan. Bagaimana kehidupannya setelah bekerja. Tipe idealnya, seperti apa dia ingin berkencan, kapan dia ingin menikah dan bagaimana kehidupannya setelah menikah. Semua selalu dia bayangkan.”
“Jadi, begitu dia merasa ada momen-momen berkaitan akan terjadi dia akan jadi super excited. Dia terbawa ekspektasi bahwa apa yang dia impikan akan segera terwujud, dan kadang membuatnya lupa bahwa ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Makanya dia sering terluka karena itu.”
“Lalu hubungannya dengan yang manajer hotel itu?”
“Fabian, ketua eksekutif mahasiswa di kampus. Dari masa orientasi Qeiza sudah tertarik dengannya. Tepatnya setelah dia memberikan pidato penyambutan mahasiswa baru. Tampan, tinggi, ramah, karismatik, semua jenis pujian keluar dari mulutnya untuk pria itu.”
“Oh, begitu.” nada suara Damian terdengar sinis, dan Calya sangat sadar akan hal itu.
“Anda yakin ingin dengar tentang cerita ini? Apa tidak sebaiknya kita berhenti saja?” Calya mencoba sedikit bercanda dengan pria itu.
“Tentu saja! Go ahead. “ jawab pria itu cepat, namun masih dengan nada sinisnya.
Calya terkekeh senang melihat kelakuan pria itu. seharusnya Qeiza yang melihat ini.
“Singkatnya, Qeiza yang merasa Fabian adalah pria yang sempurna selalu berusaha agar bisa dekat dengan pria itu. Dia bahkan rela gabung ke organisasi mahasiswa supaya rencana terwujud. Dan dia memang berhasil, Qeiza masuk ke circle pertemanannya Fabian dan sering menghabiskan waktu bersama mereka. Seiring berjalannya waktu mereka resmi berhubungan, tapi jujur saja…”
“Kenapa?
“Dari awal saya tidak menyukainya. Dia dan teman-temannya, mereka tidak terlihat baik bagi saya.”
“Anda tidak pernah menyampaikan kekhawatiran anda pada Qeza?”
“Tentu saja, pernah. Setiap kali dia bilang akan hangout bersama mereka saya selalu blang untuk berhati-hati dan jangan terlalu percaya pada mereka. Yang jelas saya selalu dengan jelas menunjukkan ketidaksukaan saya.”
“Dan mereka tetap berhubungan?”
“Mereka berhubungan cukup lama sebenarnya, sampai kami lulus kuliah.”
“Sampai selama itu?”
“Saya sendiri juga tidak habis pikir. Padahal Qeiza sudah sering mendengar rumor buruk tentang Fabian, tapi Qeiza tetap saja mempercayai pria itu. Saya ingat waktu itu kami tidak sengaja mendengar para pria bicara tentang taruhan yang terkenal diantara mahasiswa laki-laki.”
“Taruhan?”
“Katanya selalu ada taruhan besar diantara para pria di kampus setiap tahunnya. Kami tidak tahu persis bagaimana dan siapa yang memulai taruhan itu. Kemudian samar-samar kami mendengar, bahwa taruhan tahun itu adalah tentang Fabian dan pacarnya.”
“Apa!”
“Itu hal paling gila yang pernah kudengar. Tidak pernah ada taruhan tentang hal baik didunia ini. Apapun itu mereka pasti telah merencanakan hal buruk ada Qeiza.”
“Apa yang Qeiza katakan?
“Dia bilang mungkin saja itu bukan tentang Fabian dan dirinya. Mendengar itu membuat saya marah. Saya tanya padanya jika itu bukan tentang Fabian dan dirinya lalu apa itu tentang Fabian dan orang lain? Itu sama buruknya karena itu artinya dia selingkuh dibelakangmu. Meski begitu Qeiza bilang dia masih ingin percaya pada Fabian. Itu membuatku sangat frustasi.”
“Haahh.. tidak bisa dipercaya.” bahkan Damian pun merasakan hal yang sama.
“Tapi pada akhirnya, Qeiza sendiri yang membuktikan kebenaran itu.”
“Apa yang terjadi?”
“Tepat setelah kelulusan kami. Fabian mengajaknya makan malam bersama tidak sampai disitu saja, laki-laki itu juga mengajaknya ke hotel dan memesan kamar.”
“Laki-laki kurang ajar!”
“Setelah kejadian itu Qeiza jadi pendiam dan sangat murung. Tidak ada celotehan dari mulutnya, tidak selera makan dan hanya berdiam diri dirumah. Sepertinya semua ekspektasi dan impiannya benar-benar hancur. Keadaan itu bertahan cukup lama. Meskipun pada akhirnya dia kembali seperti semula, tapi dia jadi membatasi pergaulannya. Dan untuk soal asmara, saya rasa anda juga sering dengar tentang rumornya di kantor. Tentang dia yang sering gonta-ganti pasangan.”
“Iya. Jadi itu juga karena pria itu?”
“Iya. Fabian benar-benar memberi dampak yang buruk bagi Qeiza.”
Damian menghela napas setelah mendengar cerita tentang wanita itu. Pria itu menyayangkan keputusan Qeiza untuk mempercayai pria yang salah. Tapi kejadian yang sudah lama berlalu itu juga bukan kesalahan Qeiza. Wanita itu hanya kurang beruntung.
Damian mulai mengerti mengapa sulit sekali baginya untuk membuka hati wanita itu. Qeiza sudah kehilangan kepercayaannya pada pria. Wajar saja jika wanita itu selalu meragukan niatnya.
Meski akan sulit Damian semakin ingin memenangkan hatinya. Bukan karena ego, dia sangat ingin menyembuhkan luka dihati wanita itu. Jika mungkin menghapus jejak pria bernama Fabian itu dari ingatan Qeiza. Dia sudah bertekad dan pasti akan mewujudkannya.