LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Bahaya



“Yeah.”


“Something happened?”


“Nothing.” 


Raut wajah wanita itu memang terlihat biasa saat ini Tapi tidak untuk sepersekian detik sebelumnya dan pria itu jelas menyadarinya. “Liar,” ucap Ray pelan.


“What did you say?” tanya Calya yang tak dapat mendengar ucapan pria itu dengan jelas.


“Nothing.” jawab Ray santai, namun jelas tidak alami. Hal yang membuat Calya cukup kesal.


“Anyway, sampai dimana kita tadi?” Wanita itu mencoba melupakan rasa kesalnya dan kembali pada topik pembicaraan utama mereka.


“I have to go, let’s talk about it later!”


Ray beranjak, matanya tertuju pada layar ponselnya. Hampir sama dengan yang terjadi pada Calya sebelumnya.


“Mau kemana? Kita kan belum selesai?” tanya wanita itu setengah kesal.


“Aku rasa aku tidak perlu melapor padamu, kan?”


Tanpa menunggu respon ataupun melihat wanita itu, Ray berjalan pergi. Membiat Calya kini semakin merasa kesal.


‘Dia pikir dia siapa? Datang-pergi seenaknya! And what was that rude attitude? Apapun yang dia lakukan dia memang selalu menyebalkan!” umpat wanita itu dalam hati.


***


Siang ini Calya dan timnya akan menghadiri rapat dengan Niskala Group. Sebagai tindak lanjut dari kesuksesan peluncuran game baru mereka. Sekarang mereka mulai menargetkan pasar global, dan rapat kali ini adalah untuk membahas jenis-jenis promosi yang dibutuhkan demi membantu mencapai tujuan tersebut.


Disisi lain Calya merasa cukup khawatir. Setelah pertengkarannya dengan Arion tempo hari, pria itu tak pernah menghubunginya lagi. Meskipun, jelas hubungan mereka bukanlah jenis yang mengharuskan mereka untuk saling memberi kabar satu sama lain setiap hari, tapi perubahan sikap pria itu terasa janggal bagi Calya.


Mungkin saja dia masih marah dan itulah letak kekhawatiran wanita itu. Barangkali dia akan membalas dengan membuat timnya menderita pada pekerjaan kali ini, itu yang dia pikirkan. Tapi apakah dia se-tidak profesional itu? Wanita itu juga masih ragu. Bagaimanapun, dengan membayangkan bertemu lagi dengan pria itu setelah apa yang terjadi sudah sangat tidak nyaman, membuatnya frustasi.


Tapi ternyata semua kekhawatiran itu hanya ada di kepalanya. Apa yang terjadi terjadi ternyata sangat berbeda. Tidak ada aksi balas dendam dari pria itu. Karena dia tidak hadir di rapat itu, hanya timnya saja yang datang sebagai perwakilan. Hal yang sangat tidak terduga, tapi justru membuat wanita itu lebih khawatir.


Berbagai macam kekhawatiran masih mengisi kepala wanita itu. Kali ini tentang Arion, tentang ‘bagaimana kondisi pria itu saat ini’ lebih tepatnya. Mungkin rasa bersalah sudah menyelimuti hati Calya. hingga membuat pria itu bertahan dalam pikirannya. 


Mengingat kembali  sikap yang pria itu tunjukan selama ini dan betapa rumitnya hidupnya. ‘Aku sudah terlalu banyak tahu’ pikirnya. Siapa sangka pikiran-pikiran itu akhirnya mengarahkan Calya pada sebuah keputusan. Sebuah keputusan yang bisa dibilang tidak terduga. ‘Sebaiknya aku membantunya’ ucapnya.


Untuk pertama kalinya diluar urusan kerja, Calya berusaha untuk menghubungi seorang pria. Wanita membuat berbagai macam pergerakan, mulai dari mengirim pesan hingga langsung bertemu dengan pria itu. Meski tentu saja hasilnya dari usahanya belum memuaskan.


Arion tidak bisa dihubungi, tidak membalas pesan, ataupun bisa ditanyakan keberadaannya pada orang-orang disekitarnya. Sepertinya jalan buntu menghadang Calya saat ini, namun wanita itu tidak menyerah. Dia adalah tipe yang sekali dia menetapkan tujuan, dia akan mewujudkannya. Meskipun ini bukanlah masalah pekerjaan, tapi keteguhannya tetap sama.


“Hey!” memanggil temannya yang saat ini sedang menikmati segelas ice coffee. “Aku butuh bantuan”.


“Okay. Project yang mana? Niskala? Radhika? Smartphone? atau Fast Food?” celoteh temannya nyaris tak terhenti.


“Bukan masalah pekerjaan?”


“Bukan? Lalu?”


“Ini tentang…”


Menyadari perubahan dari temanya membuat wanita itu heboh. Dan rekasi berlebihan itu nyaris menyurutkan niat Calya untuk bertanya pada temannya. ‘Apa sebaiknya tidak usah kukatakan saja?’


‘Tapi aku sudah kehabisan cara. I clearly need new point of view!’ semangatnya kembali membara tatkala ia mengingat situasinya saat ini. ‘Qeiza, temanku. Dia pasti akan membantuku,’ menyemangati dirinya kembali Calya telah membulatkan tekadnya. Dia percaya pada temannya. Juga percaya pada reaksi lebih heboh yang akan dia dapatkan selanjutnya.


.”APA? KAMU APA? KALIAN APA? DIA KENAPA?”


“Jangan bertanya jika kamu jelas-jelas udah paham. Please! Don’t make me do it twice!”


“Okay..okay.. Aku paham. More like.. surprised?” Qeiza terlihat bingung untuk mengekspresikan perasaanya.


“Do not be confused. At least diantara semua orang kamu yang paling nga aku harapkan untuk bingung sekarang.” Calya sudah berada pada tahap hampir frustasi, terlihat dari gerak tubuhnya saat ini.


“It’s complicated.. also He is complicated,” Qeiza mulai serius menggali akar permasalahannya. “Kenapa dia harus bereaksi begitu keras dengan apa yang ayahnya lakukan? I mean, dia juga terkenal untuk hal yang sama kan? Aku pikir dia cuma ‘Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’. But now, it seems not.”


“Yeah memang tidak.”


“Kamu tahu sesuatu? Kamu harus ceritain semuanya kalau mau Aku bantu?”


***


Calya berdiri tepat di depan sebuah gedung apartemen, matanya menatap kearah salah satu lantai tertinggi di gedung itu. Cukup lama sebelum dia menghela napas, kemudian dengan mantap melangkah memasuki gedung tersebut. Hingga kakinya berhenti di depan salah satu unit di gedung itu. Menatap pintu itu ragu seolah berkata ‘aku tak seharusnya ada disini.’ Hatinya berulang kali berkata agar dia meninggalkan tempat dan wanita itu hampir melakukannya jika saja ia tak teringat dengan ucapan temannya tadi.


“Jika aku kesana bukankah sama dengan menyerahkan diri pada bahaya?” 


“Tapi ‘BAHAYA’ ini kan tujuan kamu.”


“Benar..”


“Kalau begitu kamu harus kesana!”


“Kalau dia nga ada disana, gimana?”


“88.8% orang yang lagi ruwet pasti ada di rumah, percaya deh!”


Ting.. Tong..


Bel pertama yang ia tekan membuatnya gugup, mungkin karena dia tidak punya gambaran tentang apa yang akan dia lihat dan dia dengar dari pria itu. Beberapa detik berlalu dan belum ada tanda-tanda respon dari dalam sana. Calya menekan bel untuk kedua kalinya, dan kembali menunggu. Kali ini bukan rasa rasa gugup melainkan rasa tidak sabar yang menyelimutinya, terlihat dari ketukan jari tangan dan kakinya yang berulang-ulang.


“Hah..”


Kesabaran wanita itu kini mulai habis setelah beberapa menit berlalu. Kini tanpa ada keraguan Calya menekan tombol bel terus-menerus. Dengan sengaja berniat membuat orang di dalam sana pusing dengan suara bel yang tak kunjung berhenti. ‘Ini akan membuatnya segera keluar,’ pikirnya.


Klik.


Suara yang menandakan bahwa pintu itu akan terbuka, membuat Calya mulai merasa lega. ‘Setidaknya usahaku untuk datang ke tempat ini membuahkan hasil’ pikir wanita itu. Setelah pintu terbuka dan sosok yang ia cari terlihat, Calya mendapati dirinya mematung. Sesaat dia tak bisa mengenali siapa pria di depannya itu.


Bukan Arion yang trendi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Atau pria yang paham betul pesona dirinya bagi para wanita. Pria yang selalu menebar senyuman sebelum memulai rayuan terlihat berantakan, sangat amat berantakan. Pakaian yang tak jelas apa yang sedang ia kenakan, rambut yang terlihat seperti habis tersengat listrik, juga raut wajah yang lebih gelap dari awan mendung diluar sana. Semua pemandangan itu membuat Calya sadar, ‘dia tidak baik-baik saja.’ 


“Apa?”