LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Kemarahan



“MENYEBALKAN!” teriak Calya. Untunglah yang ada di sampingnya saat ini bukanlah manusia sungguhan. Jika tidak, mungkin saja sudah terkena serangan jantung. Pria virtual hendak berbicara namun Calya terlebih dahulu berbicara.


“Kenapa di berubah menjadi sangat sensitif setelah berpacaran? Padahal sebelumnya dia tidak pernah bersikap seperti ini padaku!”


Keanu kembali berusaha berbicara dan lagi - lagi didahului oleh Calya.


“Aku tidak peduli! Terserah dia mau bilang apa! Terserah apa yang dia pikirkan tentangku, aku tidak peduli! Aku tidak mau berbicara dengannya!”


Keanu tercenung menatap Calya, menunggu kata - kata selanjutnya yang akan keluar dari mulut wanita itu. Namun itu malah membuat Calya kesal.


“Kenapa diam? Dari tadi aku bicara panjang lebar tapi kau malah diam seperti patung. Menyebalkan!”


“Aku pikir kau masih ingin berbicara.”


“Lupakan!”


“Apa kau tidak sedih bertengkar dengan teman baikmu?”


“Aku… Tapi bukan aku yang mulai duluan!”


“Di dalam sebuah pertengkaran, yang bertanggung jawab adalah kedua belah pihak. Yang terluka kedua belah pihak dan yang harus memperbaiki nya juga kedua belah pihak.”


“Tapi aku…”


“Kecuali kau memang ingin kehilangan teman baikmu.”


Sosok Keanu tiba - tiba menghilang tatkala panggilan masuk muncul di ponsel itu. Calya mengambil ponselnya. Menerima panggilan masuk tanpa mengeluarkan suara, membiarkan orang disana berbicara.


“Baiklah, aku akan bersiap - siap.”


Sebuah kalimat yang wanita itu ucapkan sebelum ia menutup sambungan telepon tersebut. Calya berjalan masuk ke dalam kamar nya, hanya selang beberapa menit sebelum dia terlihat meninggalkan apartemen miliknya.


***


Ayah mengajakku untuk makan malam bersama. Sepertinya aku tahu alasanya. Aku tidak ingin pergi, aku tidak ingin mendengarnya membahas masalah itu. Tapi aku tak punya alasan untuk tidak pergi. Aku tak punya alasan untuk menolak, tidak pernah.


“Kau sudah sampai?” 


Ayah seperti biasa selalu terlihat rapi dengan setelan jas miliknya. Seperti ia selalu siap untuk pergi bekerja.


“Kau mengendarai mobilmu kemari?”


Pertanyaan yang dia lontarkan padaku juga selalu sama, hal - hal umum. Terkesan seperti basa - basi pada orang asing.


“Iya,” dan aku hanya bisa menjawabnya dengan singkat.


“Seharusnya kau datang dengan taxi saja, supaya Arion bisa mengantarmu pulang. Kalian harus menciptakan situasi yang bisa membuat kalian lebih dekat.”


Akhirnya dia memulai topik ini, aku bahkan tak ingin menjawabnya.


“Apa kau sering bertemu dengannya?”


“Tidak. Aku sibuk mengerjakan proyek di kantor.”


“Jangan terlalu sibuk bekerja! Kau harus mengajaknya jalan - jalan dan makan!”


‘Haaahhh..’ 


Helaan napas panjang yang kukeluarkan sebagai pengganti kata - kata dan emosi yang aku tahan. Berapa lama aku harus menahannya?


“Lagipula apalagi yang ingin kau kejar di tempat kerjamu? Toh nantinya setelah menikah kau akan tinggal di rumah.”


“Kenapa ayah berpikir aku akan berhenti bekerja jika sudah menikah?”


“Tentu saja! Memang begitu seharusnya. Wanita punya hak untuk mendapat pendidikan setara dengan pria, juga berkarir seperti yang mereka mau hanya sampai mereka menikah.”


“Kenapa? Kenapa harus seperti itu? Kenapa wanita tidak bisa mendiskusikannya terlebih dahulu?”


“Jangan bicara yang macam - macam! Jangan sampai mereka mendengarmu bicara seperti itu!”


“Memangnya kenapa kalau sampai mereka dengar?”


“Mereka mungkin akan membatalkan rencana perjodohan ini. Bagaimanapun mereka berasal dari keluarga terpandang, mereka punya standar yang tinggi untuk pasangan anak - anaknya. Jangan sampai kau membuat kesalahan!”


“Jika mereka mempunyai pemikiran yang sama seperti ayah, aku tidak akan menerima perjodohan ini.”


“Apa maksudmu?”


“Aku tidak akan menerima perjodohan ini!”


“Sejak awal aku memang ingin menolak perjodohan ini. Aku tidak seperti Ibu dan Ayah.”


“Apa maksud ucapanmu?”


“Maksud ucapanku? Berpura - pura menjadi keluarga bahagia yang sempurna! Itu yang selalu kalian lakukan kan? Tidak! Itu yang selalu kita lakukan. Ayah yang seorang pekerja keras dan menyayangi keluarganya. Ibu dan isteri yang baik, selalu memperhatikan keluarga. Dan aku… aku adalah putri yang sempurna hasil didikan kalian. Semuanya palsu!”


“Hentikan omong kosongmu!”


“Omong kosong? Baik, jika itu memang omong kosong. Apa ayah tahu apa makanan yang kusuka? Mata pelajaran yang kusuka? Siapa temanku? Tidak, Ayah tidak tahu. Begitu juga Ibu. Kalian bahkan tidak tahu.. betapa tersiksanya aku setiap kali kalian bertengkar di malam hari.”


Pupil mata Tuan Yohan terlihat membesar tatkala mendengar ucapan putrinya. Ini adalah pertama kalinya Calya berbicara cukup panjang padanya. Apalagi kata - katanya barusan penuh dengan emosi. Emosi yang tanpa dia ketahui telah dipendam oleh putrinya selama bertahun - tahun.


“Mulai sekarang aku akan mengurus hidupku sendiri, jangan atur kehidupanku lagi!”


Calya berlari meninggalkan ayahnya yang masih duduk terdiam di atas kursi. Pria paruh baya itu bahkan hampir lupa untuk bernafas sebelum akhirnya helaan napas berat dan panjang berhasil ia keluarkan. Tuan Yohan hanya bisa memijat pelipisnya saat kepalanya mulai terasa pusing.


Diluar restoran, Caya yang baru saja berlari kini berada di dapam mobil. Ia masih belum menginjak pedal gas nya, bahkan menghidupkan mesin mobilnya. Ia hanya disana, dengan kedua tangan yang berada diatas kemudi. Tangan itu saat ini sedang menahan wajahnya yang menelungkup. Membiarkan, air matanya dengan bebas mengalir, meskipun suara tangisnya nyaris tak terdengar.


***


Seorang wanita berjalan menuju apartemen milik Calya. Dia berhenti tepat di pintu masuk, terdiam disana. Sesekali tangannya berusaha menggapai tombol bel disana lalu ia urungknn. Beberapa kali ia putar badan bermaksud meninggalkan tempat itu namun ia batalkan. Terakhir saat ia benar - benar berniat pergi, ia menemukan seorang wanita sedang menuju kearahnya. Seseorang yang sebenarnya ingin ia temui.


“Calya..” 


Qeiza sedikit terkejut saat melihat Calya sedang berjalan ke arahnya. Sementara Calya diujung sana tidak memberi jawaban. Wanita itu hanya terus berjalan. Sesaat Qeiza menyangka bahwa temannya itu masih marah dan sedang berusaha mengabaikannya. Namun semua itu sirna saat Calya langsung memeluknya sambil menangis tersedu - sedu. Qeiza merasa bingung, namun tetap membalas pelukan sahabatnya itu.


“Minum,” Qeiza memberikan segelas air kepada Calya, untuk saat ini bertukar peran menjadi pemilik rumah itu.


Kedua tangan Calya menggenggam erat gelas kaca itu, meminum isinya sedikit demi sedikit. Matanya sembab, sisa sisa air mata yang tadinya mengalir deras masih terlihat disana. Sedangkan bola matanya mengarah lurus kearah depan, entah apa yang dia pikirkan.


Qeiza tiba - tiba merangkul wanita itu dari samping. Menyandarkan kepalanya pada pundak wanita itu, sementara tangannya menepuk pelan lengan kanan Calya. Dia dapat melihat dengan jelas kesedihan temannya, dan kesedihan itu baru kali ini dapa ia lihat.


“Kamu nga mau tanya apa yang terjadi?”


“Tidak apa - apa, kamu nga harus cerita.”


Mendengar jawaban Qeiza malah membuat air mata Calya kembali mengalir. Wanita itu menundukan kepalanya, menangis sesegukan hingga membuat badannya bergetar.


Beberapa menit berselang Calya akhirnya berhenti menangis. Qeiza pun melepaskan tangannya yang sempat melingkar di tubuh sahabatnya. Kedua pasang mata mereka akhirnya bertemu.


“Kenapa matamu bengkak begitu?” tanya Calya setelah melihat wajah sahabatnya.


“Karena aku habis menangis.”


“Dasar kamu. Kenapa juga ikut - ikutan menangis. Lihat matamu semakin sipit.”


“Perlu aku ambilkan cermin? Matamu juga sama sipitnya sekarang.”


Kedua sahabat itu saling menghapus air mata di wajah masing - masing. Kemarahan keduanya menghilang bersama air mata yang mereka hapus. 


...‘Kau hanya bisa mempertahankan kemarahan pada sahabatmu saat mereka terlihat baik - baik saja.’...


“Bagaimana kamu bisa datang kemari? Aku pikir kamu masih masah padaku?”


“Tentu saja aku masih marah padamu! Tapi Damina bilang...”


“Damian? Dia bilang apa?”


Sebelumnya di taman


“Kau sepertinya sangat mengenalnya, kenapa tidak mencoba memakluminya kali ini juga?”


“TIDAK! KALI INI DIA BENAR - BENAR MENYEBALKAN!”


“Coba kau pikirkan baik - baik. Apa menurutmu dia senang melakukan semua itu?”


Qeza menatap Damian. Pertanyaan pria itu meredam kekesalannya yang sesaat meluap.


“Jika memang benar yang kau katakan, dia pasti juga merasa sangat kesulitan selama ini. Tapi setidaknya dia punya sahabat. Setidaknya keberadaan seorang sahabat bisa membuntunya melewati masa sulit. Tapi mungkin dia tidak punya siapaupn sekarang. Bagaimana dia akan melewati semuanya sendirian?”


Qeiza merenungkan kata - kata yang Damian ucapkan. Baginya kata - kata pria itu sangat masuk akal. Cukup untuk membuatnya berpikir keras seperti saat ini.


“Ayo, kuantarr kau pulang sekarang.”


“Antarkan aku ketempat lain saja.”