LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Kebetulan



Wanita itu melangkah masuk setelah pintu apartemen nya terbuka. Tujuannya adalah sofa turquoise yang jaraknya paling dekat dari pintu masuk. Meletakkan tasnya diatas meja sebelum menjatuhkan tubuhnya diatas sofa. 'Haaahh..' kesekian kalinya hari ini dia menghela napas. Beban pekerjaan memang sudah biasa ia tahan, tapi tidak dengan beban pikiran. Jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran nya, saat itulah dia akan kehilangan semua tenaga nya. Yah, begitulah Calya.


Kali ini yang mengganggu pikiran Calya adalah Arion. Pria yang baru saja dia temui di restoran tadi, klien baru nya. Rasa penasaran mendorong nya untuk mengambil smartphone miliknya. Menjelajah internet demi mencari informasi tentang pria itu. Jemarinya menari diatas ponsel, mengetik sebuah kata kunci. 'Pewaris Radhika Group'.


'Paras Rupawan Pemilik Radhika Group'


'Pewaris Radhika Group dan Semua Skandalnya'


'Pewaris Radhika Group Sukses Memimpin Anak Perusahaan'


'Biodata dan Fakta Pewaris Radhika Group'


Tanpa disangka ada begitu banyak artikel yang bisa ia baca dari kata kunci itu. Cukup memusingkan jika harus membaca semuanya, karena itu ia memutuskan untuk memilih salah satunya. Sesuatu yang paling menarik perhatiannya. 'Pewaris Radhika Group dan Semua Skandalnya'.


Artikel itu dibuka dengan beberapa foto yang tampak diambil secara diam-diam oleh kamera amatir. Semua foto itu memiliki satu kesamaan, yaitu wajah Arion yang terlihat. Bukan seorang diri, pria itu terlihat sedang menggandeng mesra, berpelukan bahkan berciuman dengan wanita yang berbeda. Tentu saja foto - foto tersebut membuat Calya terkejut. Hingga wanita itu tak sanggup untuk kembali membaca artikel tersebut.


Tangan Calya beralih memasang AR Glasses setelah menutup paksa artikel di ponselnya. Semua kebetulan tidak masuk akal yang ia alami hari ini, membuatnya lebih merindukan pria itu. Ia sangat ingin melihatnya, Keanu. Terlihat dari seberapa cepat dia masuk ke LOVATY. "Sudah lama sekali" sapaan Keanu begitu sosok ya terlihat. "Kenapa wajah kalian harus sama?" balasan Calya. "Apa?"


"Bukankah sudah tiga minggu berlalu sejak terakhir kali kau kesini? Bagaimana keadaanmu?" Keanu kembali bertanya. "Sama seperti sebelumnya, rutinitas pekerjaan yang padat. Hanya.." mata wanita itu terlihat menerawang sembari menjawab pertanyaan dari teman virtual nya itu. "Hanya?" Keanu tak melepaskan tatapan nya dari wanita itu sambil menunggu kata - katanya selanjutnya. "Beberapa hal menjadi lebih membingungkan" lanjut Calya. "Apa itu?"


Calya menatap Keanu, sesaat memperhatikan wajahnya. "Apa kau tahu bagaimana kau bisa terlihat seperti ini? Maksudku bagaimana kau.. Maksudku wajah siapa.. Maksudku dari mana.. Haahhh… Sudahlah lupakan! "Calya frustasi akan pertanyaan nya sendiri. Ini tidak seperti pria itu akan langsung mengerti. Jikalau ia mengerti sepertinya ia telah diprogram untuk tidak menjawab hal - hal terkait informasi tentang LOVATY.


"Apa kau sedang ada masalah?" tanya Keanu lagi. "Nothing! I'm just tired!" Jawa Calya, ia telah menyerah. "Hanya ingin mengingatkan, jika ada sesuatu yang mengganggu… pikiranmu kau bisa cerita padaku. Karena katanya.."


"Mengungkapkan perasaan bisa membuatmu merasa lebih baik."


"Mengungkapkan perasaan bisa membuatmu merasa lebih baik."


Calya bersamaan mengucapkan kalimat yang sama dengan pria itu. Setelah sekian kali seperti wanita itu bisa menebak arah bicara teman virtualnya. Membuatnga tertawa pelan setelahnya. "You know what, you really help me a lot. Sadar atau tidak," sebuah senyuman terukir diwajahnya, mewakili ketulusan dari ucapan nya. "Benarkah? Syukurlah."


***


"Jadi itu adalah rencana yang kami usulan untuk proyek game kali ini. Beberapa konsep iklan disesuaikan dengan channel yang akan digunakan serta hal - hal yang kita perlukan. Selanjutnya saya serahkan pada Creative Director, terima kasih," Kenzo mengakhiri presentasinya dan kembali duduk.


"Kita jalankan sesuai rencana. Tolong pastikan semua Team memperhatikan poin - poin yang akan menjadi hambatan. Minimalisir kesalahan sebisa mungkin dan terus laporkan perkembangannya pada saya, Mengerti!" Calya menutup rapat setelah semua orang merespon kalimat nya. Satu persatu orang meninggalkan ruangan. "Cal! Yuk makan siang!" Qeiza langsung menarik Calya begitu wanita itu keluar dari ruang rapat.


"So?" tanya Qeiza, entah pura-pura atau memang tak mengerti. "Your mood!" ucap Calya, masih mempertahankan posisi nya. "Ooo.. Itu.. Yah, anggap aja kemarin sedang ada badai," jawab Qeiza santai. "Jadi badai nya sudah reda?" tanya Calya lagi. Qeiza mengangguk. Senyum manisnya merekah, membuat pipi chubby miliknya terlihat.


Drrtt.. Drrtt..


Qeiza mengambil ponselnya dari dalam tas. Kedua alis wanita itu terangkat setelah melihat ponselnya. "Dari siapa?" tanya Calya setelah melihat raut wajah temannya yang sempat berubah. "Bukan dari siapapun!" jawab Qeiza seketika. "Lalu kenapa ekspresimu seperti itu?" Qeiza kembali tersenyum. "Ada diskon tas nanti malam di mall."


"Hanya itu?" Calya masih menaruh curiga.


"Of course! You know how much I love bags!"


***


7.45 malam di salah satu mall, Qeiza sedang berjalan santai. Shirt dress berwarna biru membuat wanita itu terlihat anggun, ditambah rambut coklat yang terurai mempermanis wajahnya. Qeiza berhenti di depan sebuah toko es krim dimana seorang pria sedang berdiri sambil disana. Pria yang sedang bermain ponsel itu langsung berhenti saat menyadari kehadiran Qeiza disana. "Datang juga," ucap Damian.


Kembali ke waktu Qeiza dan Calya sedang menikmati makan siang dan ponsel Qeiza berdering. Sebuah pesan ia terima memperlihatkan nama Damian disana. Qeiza sempat kaget, namun ia berhasil mengendalikan ekspresinya kembali. Pertanyaan Calya yang tiba-tiba akhirnya membuatnya harus berbohong. Ia belum sempat menceritakan semua hal yang melibatkan Damian kepada temannya itu. Akan sangat aneh jika tiba-tiba dia cerita bahwa pria itu menghubungi nya untuk makan malam bersama.


"Ini belum jam 8 kan, artinya saya belum terlambat," ucap Qeiza terlihat santai. "Benar juga," Damian memperhatikan penampilan Qeiza. Wanita itu terlihat menarik dimatanya, namun perhatiannya teralihkan saat menyadari arah pandang wanita itu. Bukan kearah nya melainkan melewatinya, kesebuah toko dibelakangnya. Damian mengamati toko itu, tempat banyak tas dijual. "Masih ada beberapa menit kan? Bisa anda tunggu disini sebentar?"


Damian terdiam saat Qeiza berjalan melalui nya. Wanita itu benar - benar meninggalkan nya tanpa menjelaskan apapun. Untung saja selang beberapa menit Qeiza telah kembali. Wanita itu membawa sebuah paper bag berukuran sedang bersamanya. "Anda pergi berbelanja?" tanya Damian. "Kenapa? Tidak ada perjanjian kalau saya tidak boleh membeli sesuatu kan, lagi pula saya menggunakan uang saya sendiri."


"Seharusnya hari ini anda mentraktir saya, ingat?" Qeiza mengangguk kan kepala nya. "Anda mau makan apa?" Damian terlihat berpikir sejenak, kemudian memberikan jawaban menggunakan gerakan wajahnya. "Es krim?" tanya Qeiza, Damian mengangguk. "Anda meminta saya membelikan anda eskrim?" Damian tersenyum sebelum berbicara kembali "Setidaknya jika anda ingin berterima kasih, lakukan dengan tulus. Bagaimana mungkin anda berharap sekali membelikan makanan langsung selesai."


'Haaahh..' Qeiza menghela napas sembari memesan eskrim. 'Is he playing with me now? Sepertinya dia sudah merencanakan nya.'


Qeiza berhenti berpikir saat pelayan memberikan dua es krim pesanannya. Wanita itu berjalan keluar toko, memberikan satu es krim pada Damian. "Ini es krim nya!" Damian menikmati eskrim miliknya. Sementara, Qeiza menatap pria itu penuh curiga. "Apa lagi yang anda inginkan?" tanya Qeiza. "Akan saya pikirkan setelah selesai makan es krim" jawab Damian santai.


"Sedang apa kalian berdua disini?" suara seorang wanita menghentikan langkah Qeiza dan Damian. Qeiza kaget begitu melihat pemilik suara itu. Calya yang berdiri tak jauh dari mereka sedang menatap kearah nya. Membuat Qeiza merasa sedang tertangkap basah.


"Damian!"


"Ray! Kalian datang kemari berdua!"


Kata - kata Damian menyadarkan Calya, kini wanita itu juga terlihat canggung dengan kebersamaan nya dan Ray yang dilihat oleh Damian dan Qeiza.