LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Terima kasih



Waktu berlalu dan hanya menyisakan satu minggu sebelum siaran langsung dilaksanakan. Sesuai permintaan Arion, mereka akan berkumpul di ruang rapat Parama Ad untuk membahas konsep yang telah dipersiapkan. 


Calya duduk sendiri di ruangan itu, dia sengaja menunggu lebih awal di ruangan itu untuk mempersiapkan segalanya. Tangan kirinya memegang lembaran kertas sementara tangan kanannya tidak lepas dari ponsel pintarnya. Sesekali memeriksa pesan masuk dsri anggota tim nya.


“Kau sendirian.”


Calya melihat ke asal suara. Arion berdiri di pintu masuk ruang rapat, sedang menatapnya.


“Belum waktunya rapat,” ucap wanita itu sambil melihat ke arah pergelangan tangan kirinya.”


“Aku memang sengaja datang lebih awal.”


Calya tidak memedulikan pria itu dan kembali fokus pada apa yang sedang ia kerjakan. Arion mendekat dan duduk di kursi tepat di depan wanita itu. Bertopang dagu, menatap Calya. 


Ia memperhatikan wanita itu dengan seksama. Betapa terpakunya wanita itu dengan apa yang ia kerjakan. Tidak bersuara sedikitpun, kecuali suara dari lembaran kertas yang ia bolak - balikan dan suara dari ponselnya saat ia mengetuk layarnya.


Tapi setelah menatap intens, wanita itu tak sedikitpun menyadarinya. Seakan mereka berada di dunia yang berbeda, dimana Calya tak bisa melihat Arion. Hingga pria itu tertawa sendiri barulah Calya melihat ke arahnya


“Ada apa?” tanya wanita itu.


“Tidak ada.”


Calya kembali ke pekerjaannya, tanpa menganggap serius tingkah Arion yang mungkin akan dianggap aneh bagi orang lain.


“Apa kau begitu mencintai pekerjaanmu?”


“Apa?”


“Kulihat dari tadi kau sangat fokus, hingga tidak memedulikan orang tampan sepertiku sedang menatapmu.”


“Pekerjaan yang saya cintai ini, adalah bagian dari proyek yang anda kerjakan.”


“Aku tidak tahu kalau kau sepeduli ini padaku. Apa kau begitu menyukaiku?”


Calya tidak merespon pertanyaan dari Arion, hanya mengernyitkan alisnya.


“Waktu itu kau bahkan repot - repot menjelaskan situasinya pada ayahku, apa sedalam itu perasaanmu padaku?”


Calya benar - benar kehabisan kata - kata mendengar kata - kata yang diucapkan Arion. Alih - alih merespon kalimat yang menurutnya omong kosong, dia menghela nafas panjang. Saat itu pintu terbuka.


“Kalian sudah lama menunggu?”


Ray memasuki ruang rapat kemudian disusul oleh Damian tak berapa lama berselang. Keduanya mengambil posisi masing - masing di salah satu kursi yang kosong.


“Dimana Qeiza?”


“Dia pergi keluar mencari beberapa keperluan?”


“Sendiri?”


“Ya. Kenapa?”


“Bukannya dia harus ada disini untuk menjelaskan konsepnya?”


Calya mengangkat beberapa lembar kertas di tangan kirinya.


“Itu jadi tugas saya sekarang.”


Keempat orang itu akhirnya tenggelam dalam suasana rapat yang serius. Calya menjelaskan beberapa hal mengenai konsep dan persiapan yang telah dia dan timnya kerjakan, diselingi beberapa pertanyaan dari para pria disana. Selebihnya, mereka isi dengan diskusi untuk memilih cara yang lebih efektif dan efisien yang bisa mereka gunakan.


“Baik. Jika memang tidak ada lagi yang ingin dibahas, pertemuan kita akhiri dan kelanjutan proyek ini akan kita eksekusi sesuai keputusan yang telah disetujui tadi,” ucap Damian menutup rapat.


Keempat orang itu berdiri, berjabat tangan dan berpamitan satu sama lain.


“Maaf saya tidak bisa mengantar kalian sampai kedepan. Ada rapat lain yang harus saya hadiri.”


Damian meninggalkan ruang rapat terlebih dahulu dengan langkah agak cepat. Sementara ketiga orang itu masih berdiri disana. Sesaat ada kecanggungan yang terasa karena tak ada satupun yang bersuara.


“Jika butuh bantuan, langsung saja sampaikan padaku,” ucap Arion, antara berusaha memecah kebisuan dan beramah tamah.


“Tawaran ini harusnya ada berikan satu minggu yang lalu, sekarang saya dan tim saya sudah cukup mandiri untuk mengerjakan semua tugas kami sendiri.”


Calya dengan ketus menjawab dan berlalu meninggalkan ruang rapat. Arion tertegun dengan respon dingin wanita itu ‘Apa salahku?’ pikirnya. Sementara Ray ikut keluar dan menyusul wanita itu.


“Calya!”


Wanita itu berbalik dan mendapati Ray sudah ada dibelakangnya.


“Kapan kalian akan mengambil barang kalian?”


“Barang? Barang apa?”


“Qeiza? Nanti akan kutanyakan padanya.”


“Barang itu ada di mobil sekarang. Kalian bisa mengambilnya.”


“Tunggu sebentar.”


Calya sibuk dengan ponselnya, mencoba menghubungi siapapun yang bisa menolongnya.


“Jangan katakan kau akan membuatku membawanya sendiri.”


Calya terdiam mendengar kalimat yang Ray ucapkan. Tidak ada satupun yang membalas pesannya, yang artinya tidak ada orang yang akan membantu membawa barang - barangnya.


“Oh really? Kau benar - benar akan membuatku membawa barang - barang itu sendiri, i’m your client here.” 


“Aku akan membantumu. Ayo!”


Ray tersenyum melihat tingkah Calya, tanpa keraguan dan tanpa kata tolong membuatnya menuruti perintahnya. ‘Sungguh wanita yang cuek,’ ucapnya dalam hati.


Sesampainya di tempat parkir Ray membuka pintu bagasi mobilnya, memperlihatkan beberapa kotak di dalam sana. Kotak - kotak berukuran sedang yang tidak mungkin dibawa oleh satu orang sekaligus. 


“Ini semua?”


“Ya.”


“Baiklah.” 


Calya mengambil beberapa buah kotak, menumpuknya jadi satu dan langsung mengangkatnya. Baru beberapa langkahnya mulai oleng dan hampir saja terhempas ke lantai jika saja tidak ada Ray disana. Ray menahan tubuh Calya dengan tangannya sementara kotak - kotaknya berhamburan di tanah.


“Kau tidak apa - apa?” Ray membantu Calya untuk bangun.


“Kau berpikir bisa membawa semuanya sementara pandanganmu terhalang kotak - kotak tu?”


“Aku cuma berusaha.”


“Sebelum berusaha kau harus tahu dulu batas kemampuanmu,” Ray mengambil dua buah kotak yang terjatuh dan memberikannya ke Calya. 


“Ini batas kemampuanmu,” sementara ia membawa sisanya.


“Berikan padaku, bagaimana mungkin kau bisa membawa semuanya.”


“Kalau aku terjatuh kau harus menangkapku seperti aku menangkapmu.”


Calya terdiam mendengar kata - kata Ray yang tidak masuk akal baginya.


“Aku hanya bercanda. Tubuhku tinggi dan kuat, tidak akan mudah jatuh.”


Mereka berdua melanjutkan perjalanan, membawa kotak - kotak itu ke Creative Department.. Sesampainya disana ruangan itu terlihat sepi, sepertinya semua orang sedang menangani tugasnya masing - masing di tempat lain. Mengingat jadwalnya yang padat hal itu sangat wajar terjadi.


Mereka meletakkan kotak - kotak itu di dekat meja kerja Calya. Setelahnya Ray mulai menatap Calya sambil berkacak pinggang.


“Apa?” tanya Calya. Namun bukannya menjawab, Ray hanya diam dan terus menatapnya.


“Apa?” Calya kembali mengulangi pertanyaannya saat tak kunjung mendapatkan jawaban.


Ray kemudian membuat gerakan tubuh yang jika diartikan menjadi ‘Aku sudah membawa kotak - kotak ini kesini, lalu?’ Untunglah Calya cukup tanggap untuk mengerti.


“Terima kasih,” ucapnya lembut. Meski tanpa senyum di wajahnya.


Wanita itu terlihat lucu dimata Ray, hingga ia mengacak - acak rambutnya karena gemas. “Good girl!” ucapnya sebelum melangkah pergi. Sementara Calya yang ditinggalkan masih memasang raut wajah kesal.


“Menyebalkan!”


Ray berjalan di koridor dengan senyum di wajahnya. Otaknya terus memutar ulang memori kedekatannya dan Calya yang baru saja terjadi. Mungkin itu tidak seberapa, tapi untuk wanita yang dingin, acuh dan tertutup seperti Calya momen tadi sangat langka untuk dia dapatkan.


“Aku harus berterima kasih pada Qeiza nanti.”


“Qeiza? Ada apa dengan Qeiza?”


Ray yang sedang berbicara sendiri dikejutkan dengan respon seseorang dibelakangnya. Damian, yang entah sejak kapan berdiri disana.


“Kau. Mengagetkanku saja!”


“Kau belum jawab pertanyaanku, ada apa dengan Qeiza?”


“Kau penasaran sekali, kenapa memangnya?”


“Hey, man. Kau tidak bisa mempermainkan hati wanita!”


“What do you mean? Memangnya siapa yang mempermainkan hati wanita!”