
“Whooaa.. it’s so cute. Ah.. it’s not cute tapi bisa membuat foto – fotoku terlihat bagus,” Qeiza mulai mengambil kamera digital miliknya begitu sampai ditempat itu.
Gerbang buatanitu berada sedikit jauh dari villa. Dipenuhi warna hijau dari tanaman menjalar dan dihiasi dengan beberapa bunga mekar berwarna ungu juga kuning, bagaikan tampilan negeri dongeng.
Wanita itu kini sibuk dengan kameranya, mengambil beberapa foto dari berbagai sudut dengan berbagai gaya –terlihat lucu–.
“Mau saya bantu?” ucap Damian sambil menjulurkan tangannya, “Boleh, terima kasih,” jawab Qeiza merasa senang.
Wanita memberikan kameranya pada Damian, sebelum melangkah menuju titik foto yang ia inginkan.
“Sebelah sini!” serunya seraya mulai bergaya. Sementara Damian dengan sabar mengambil foto demi foto yang diinginkan wanita itu, hampir seperti professional.
“Terima kasih,” ucap Qeiza sambil terus tersenyum melihat hasil – hasil jepretan Damian. “Ternyata anda berbakat.”
“Photography memang hobi saya,” respon pria itu, Qeiza mengangguk.
“Pantas saja saya terlihat bagus disini,” Qeiza masih sibuk mengamati setiap gambar dirinya didalam kamera.
“Ngomong – ngomong, anda ternyata sangat perasa ya?" Damian membuka pembicaraan.
"Tidak juga, hanya jika wajah saya terlihat bagus maka foto itu bagus," ucap Qeiza pandangannya masih terpaku pada kamera ditangannya.
"Bukan itu maksud saya!" Damian menolak respon Qeiza yang berbeda dari arah bicaranya.
"Lalu?" tanya wanita itu tak mengerti.
"Maksud saya tentang Calya dan Ray. Anda sengaja meninggalkan mereka supaya.."
"Tunggu dulu" Qeiza memotong kata - kata Damian.
"Apa itu yang anda pikirkan?" tanya Qeiza, takut bahwa tindakannya telah disalah
artikan.
"Bukannya memang begitu?" tanya Damian yakin dengan apa yang dia pikirkan.
"Saya cuma ingin melarikan diri dari situasi yang canggung. Saya bahkan tidak berpikir kalau Ray akan tinggal disana dibanding ikut kemari," Qeiza mencoba menjelaskan maksud dari tindakan nya.
"Artinya anda sedang tidak berusaha untuk membiarkan mereka berdua.." ucap Damian sambil menyatukan kedua jari telunjuknya.
"Calya itu adalah sahabat saya," wanita itu berbicara sambil menyilangkan tangannya didepan dada.
"Saya tidak mengerti," ucap Damian sambil mengernyitkan dahi. Qeiza maju beberapa langkah, "Artinya saya akan melindungi dia dari siapapun yang berusaha melukainya," wanita itu melangkah pergi setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Jika memang seperti itu.." ucap Damian.
Qeiza menghentikan langkahnya, berbalik menghadap kearah pria itu. Damian maju perlahan hingga berhenti tepat didepan Qeiza. Diam sejenak menatap wanita itu sebelum kembali berbicara.
"Saya juga akan mengatakan hal yang sama," ucapnya kembali melangkah mendahului Qeiza.
'Best friend.. Interesting' ucapnya dalam hati. Sementara Qeiza yang sempat terdiam disana hanya mengangkat bahunya seakan tidak peduli.
***
Malam harinya pesta Barbeque telah dimulai. Semua orang terlihat duduk disebuah meja kayu besar, sambil menikmati beberapa cemilan dan minuman. Sementara Kenzo, Rezvan dan Wikan terlihat sibuk didepan alat pemanggang.
Ketiganya resmi menjadi chef malam ini setelah kalah dalam permainan 'batu, gunting, kertas' - angat malang-. Mereka bertiga terlihat kikuk dengan semua peralatan itu, seperti orang yang baru pertama kali melihatnya.
"Kau yakin mereka nga akan menghabiskan semua dagingnya," ucap Qeiza pada Calya.
"Aku bahkan tidak yakin mereka bisa memanggang semua daging tanpa mematnya hangus," ucap Calya pesimis.
Kedua wanita itu tampak terus memperhatikan ketiga pria yang beberapa kali menjatuhkan peralatan yang mereka pegang. Disaat yang bersamaan Damian dan Ray muncul.
Suara dentingan terdengar tatkala ketiga pria itu kembali menjatuhkan beberapa peralatan.
"Mereka akan merusak alat - alat itu," ucap Qeiza sambil menepuk keningnya. Tiba - tiba Damian berdiri dan menghampiri ketiga pria disana. Awalnya pria itu hanya berniat sedikit membantu, tapi malah berakhir melakukan semuanya sendirian.
Sementara semua orang mulai makan dengan tenang. Mereka terlihat menikmati daging yang dimasak oleh pria itu. Termasuk Kenzo, Rezvan dan Wikan yang tadinya bertugas disana.
"Bukankah tidak sopan membiarkan dia melakukannya?" tanya Qeiza pada Calya.
"Kau benar! Pergilah!" jawab Calya.
"Apa?" tanya Qeiza tak mengerti, "Bantu dia," Calya memperjelas.
"Tapi aku.."
"Biar aku saja," Ray yang entah sejak kapan mendengar percakapan kedua wanita itu langsung bangkit dari tempat duduknya. Pria itu berjalan menghampiri temannya, membantunya memanggang daging.
"Now they make it double impolite," ucap Qeiza.
Tidak ada yang menyangka kedua pria itu pandai memanggang, setidaknya begitu yang mereka pikirkan. Terlihat dari tatapan mereka pada kedua pria itu.
Tatapan kagum seperti sedang menyaksikan pertunjukan memasak dari chef terkenal. Berkat keduanya orang - orang disana dapat menikmati makan malam mereka dengan nyaman.
"Aw!" ucap Kenzo saat merasa seseorang telah menendang tulang keringnya. Qeiza pelakunya, wanita itu duduk tepat didepan Kenzo sehingga memudahkannya menjangkau pria itu.
“Apa kamu nga ngerasa nga enak?” tanya Qeiza.
“Ini sangat enak,” jawab Kenzo polos, masih mengambil beberapa potong daging dan memasukkannya kemulut.
“Seriously! Kita kan yang ngundang mereka buat gabung. They are our guest! Gimana bisa kamu buat suruh mereka manggang daging!” kata – katanya terdengar penuh penekanan meskipun volume suaranya sengaja diperkecil.
“Tapi mereka sendiri yang menawarkan diri,” Kenzo membela diri.
“Tetap aja!” bantah Qeiza gerak kepala wanita itu memerintahkan Kenzo untuk pergi. Akhirnya Kenzo beranjak dari meja menghampiri kedua pria disana.
Menggantikan mereka memanggang agar Ray dan Damian bisa kembali duduk dan menikmati makan malam mareka
Setelah semua hidangan disantap habis, semua orang terlihat menikmati pemandangan malam. Mereka enggan
beranjak, termasuk Calya dan Qeiza yang sedang asik berbincang disana.
“Guys! Kita mau ngadain game disekitar api unggun dekat pantai sekarang. Ayo! Everybody should join!” ucap Rezvan mengajak semua orang.
Satu persatu terlihat berdiri dan beranjak menuju tempat yang diarahkan.
“Dimana Ray dan Damian?” tanya Kenzo tiba – tiba.
“Saya lihat Bapak Damian pergi kedalam villa,” jawab Wikan.
“Bersama Ray?” tanya Kenzo lagi.
“Sepertinya tidak, karena tadi saya ketemu Bapak Ray disana. Dikekat pohon besar disebelah sana" Rana menjawab.
"Kalian berdua tolong bantu panggilan mereka. Kami berdua mau ke api unggun buat siapkan perlengkapannya," ucap Rezvan pada Calya dan Qeiza yang masih duduk disana. Tanpa menunggu jawaban kedua pria itu langsung pergi meninggalkan mereka.
"You go call Ray, I'll call Damian," ucap Qeiza dan melangkah pergi.
'Sejak kapan mereka mulai memerintah ku, ' ucap Calya dalam hati, tapi kemudian melangkah kearah Pohon besar yang dimaksud Rana.
Setibanya di pohon besar yang dimaksud, dia melihat kekanan dan kekiri. Mencari keberadaan pria itu yang belum lagi terlihat.
"Apa yang kau lakukan disini?" sebuah suara terdengar, membuat Calya kaget. Berusaha mencari dari mana asal suara itu, namun tak seorang pun terlihat. Sesaat kemudian seseorang menepuk pundak nya membuat wanita itu hampir teriak ketakutan.
"Aku? Ah ya.. Mencarimu," jawab Calya.
"Mencariku?" sedikit kaget dengan jawaban tidak terduga yang ia dengar.
"Mereka akan mengadakan permainan didekat pantai, semua orang harus ikut," Calya menjelaskan.
"Aku kira kau Mencarimu."
"Aku memang mencarimu.. Anyway, where were you? Aku tidak melihatmu tapi aku bisa mendengar suara mu," tanya wanita itu, masih penasaran dengan kejadian yang membuatnya kaget tadi.
"Up there," jawab pria itu.
"Diatas?" tanya Calya bingung. Dia melihat kearah atas, semua terlihat gelap.
"Ada apa diatas sana?" Ray memperhatikan Calya yang masih melihat kearah atas sambil menyipitkan matanya.
"Itu rumah pohon," ucapnya.
"Apa kamu yang buat sendiri? Why it's so dark? Menyeramkan," wanita itu mulai membayangkan hal - hal menakutkan dari tempat itu.
"Tapi disana sangat indah," ucap Ray lagi.
"Benarkah?" Calya tidak yakin.
"Wanna see?" tawar pria itu.
"How?" tanya Calya mulai penasaran.
Ray menarik sebuah tali yang tergantung didekat pohon, sebuah tangga gantung muncul dari atas.
"Ladies first!" ucap Ray sambil menahan tangga agar bergerak.
“Apa ini aman?” wanita itu terlihat ragu.
“Jangan takut, aku akan menjagamu,” ucap Ray meyakinkannya.
Calya mulai menaiki tangga itu, perlahan – lahan. Hanya kegelapan yang ada disana,
“Semuanya terlalu gelap,” ucapnya saat hampir tiba diatas.
“Lihat kearah laut!” ucap Ray setengah berteriak. Calya tidak merespon, matanya kini terpaku pada pemandangan didepannya.
Ia tertegun, melihat pemandangan laut malam dengan cahaya bulan lengkap dengan juataan bintang yang berkelip. Bahkan beberapa bintang jatuh terlihat diatas sana.
“Bagaimana?” tanya Ray yang kini sudah duduk disampingnya.
“Indah sekali,” jawab wanita itu dengan suara lembut, mungkin terharu.
“Pemandangan indah ini hanya bisa dilihat dalam kegelapan,” pria itu melanjutkan penjelasannya.
“Pantas saja aku tidak bisa melihat apapun didekat villa, disana terlalu banyak lampu,” wanita itu terlihat sedikit mengangguk, seperti mengerti akan sesuatu.
Untuk beberapa saat hanya keheningan yang menemani kedua orang itu. Mereka benar – benar menikmati nuana alam terbuka yang memanjakan mata itu. Sementara masing – masing tenggelam dalam pikiran mereka, tak bisa ditebak hingga salah satunya mulai bicara.
“You know what, maybe I misunderstand you,” Calya memulai percakapan.
“Apa?” tanya pria itu, pandangannya kini beralih kearah wanita disebelahnya.
“Aku pikir.. actually, it’s because Qeiza said that you like me.. makanya aku..”
“I do like you,” Calya mencoba menjelaskan pikirannya dengan susah payah, namun Ray memotong kalimatnya dalam sekejap.
“Aku tahu, sebagai rekan kerja..”
“Tidak, sebagai wanita,”
“WHAT?” kata – kata Ray yang begitu tereus terang membuatnya kaget.
Calya bahkan tidak menyangka pembicaraan yang ia mulai malah berubah jadi kesempatan untuk menyatakan cinta. Ray masih menatap Calya, menunggu responnya.
“I must be crazy!” ucap Calya.
“You kidding me! i don’t like crazy woman!” Calya sudah tak bisa lagi berkata – kata. Wanita itu lebih memilih pergi meninggalkan lawan bicaranya.
“Be careful!” ucap Ray saat melihat Calya berusaha untuk turun. Tapi kalimat itu terdengar seperti sindiran ditelinga Calya, membuatnya semakin kesal.
...***...
“Dimana dia?” Qeiza memandang keseluruh sudut didalam vila, mencari keberadaan Damian disana.
Kemudian menemukan pria itu disebuah meja dekat dapur. Qeiza berjalan mendekat dan akhirnya bisa melihat apa yang sedang dilakukan pria itu disana.
“Anda terluka?” ucapnya saat melihat Damian sedang mengobati didekat sikunya.
“Biar saya bantu,” wanita itu berusaha menawarkan bantuan melihat Damian yang cukup kesulitan untuk menjangkau area lukanya.
“Tidak masalah. Saya bisa melakukannya sendiri,” pria itu merasa tidak enak dan menolaknya.
“Jika anda lakukan sendiri, setahun kemudian juga nga akan selesai,” Qeiza mengambil obat antiseptic dari dalam kotak bersama dengan kapas disana. Tanpa menunggu jawaban langsung mengobati lengan pria itu.
“Jangan khawatir. Saya mungkin tidak ahli memasak, tapi saya ahli dalam merawat orang lain,” Qeiza berucap demikian takut jika Damian tidak percaya dengannya.
Wanita itu melakukannya dengan sangat baik. Dia mengobati luka Damian dengan lembut dan juga sangat hati – hati, setidaknya itu yang pria itu pikirkan saat ini.
“Selesai!” ucap Qeiza sambil tersenyum, seketika membuyarkan pikiran Damian yang sempat terpaku.
“Tidak buruk. Terimakasih!” ucapnya kemudian.
“Sekarang ayo pergi” ucap Qeiza lagi.
“Kemana?” Damian tak mengerti.
”Kedekat pantai. Mereka akan memainkan permainan, anda juga harus ikut,” wanita itu akhirnya bisa menyampaikan maksud kedatangannya yang sempat tertunda.
“Baiklah. Tunggu sebentar!” Damian membereskan kotak perlengkapan pertolongan pertama yang ia gunakan lalu kemudian menyimpannya kembali. Sementara Qeiza yang sedang menunggunya menikmati pemandangan luar dari jendela.
“Oooo… those two look weird,” ucapnya pelan pada dirinya sendiri. Damian melihat pandangan wanita itu yang begitu terpaku, ikut mencari kemana arah pandang itu tertuju.
“Anda mendukung atau menentang?” pria itu yang kini sedang berdiri tepat disamping Qeiza. Melihat kearah yang sama, Ray dan Calya yang berjalan meninggalkan pohon.
“Tergantung,” jawab Qeiza masih belum mengalihkan pandangannya dari sana, sementara Damian kini telah mengalihkan pandangannya padanya.
“Tergantung?” pria itu kini menunggu kalimat Qeiza selanjutnya.
Qeiza menatap kearah Damian sebelum bertanya “Apa dia pria yang baik?”
Seulas senyum tipis terlihat di wajah Damian “Bagaimana dengan dia? Apa dia wanita yang baik?”
Qeiza mengeryitkan dahinya “Anda meragukan teman saya?”
Pria itu mengangkat kedua bahunya “Anda juga meragukan teman saya. Ayo pergi!”
Damian berjalan mendahului Qeiza. ‘Kenapa dia selalu memutarbalikkan kata – kataku?’ ucap Qeiza sebelum akhirnya ikut berjalan.