
“Siaran langsung?”
Suara ketiga orang itu menggema menjadi satu kesatuan di dalam ruang rapat. Mungkin kabar itu benar - benar diluar dugaan mereka. Sama seperti Calya yang terkejut saat mendengar nya dari Arion. Qeiza, Kenzo dan Rezvan juga demikian. Begitu juga dengan Damian, meski dia tidak secara terang - terangan mengekspresikannya.
“Tidak disangka dia adalah tipe orang yang bertindak tanpa kompromi. Apa anda sudah mencoba bicara dengannya.”
“Sudah, dan tidak ada yang berubah.”
“Artinya kita harus menyiapkan semua keperluan siaran langsung kurang dari dua minggu? Such a homework.”
Qeiza menyandarkan punggungnya pada kursi. Di dalam kepalanya wanita itu sedang mengkalkulasikan estimasi waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan keperluan siaran langsung.
“Apa tidak terlalu beresiko menyiapkan semuanya dengan terburu - buru? Mungkin saja kita akan membuat kesalahan,” ucap Kenzo mencoba memberi sudut pandang yang mengantisipasi kemungkinan terburuk.
“Kita tidak dalam posisi terburu - buru, karena kita memang tidak diberi pilihan waktu. Tapi karena kalian sadar akan kemungkinan melakukan kesalahan, artinya kalian tahu kalian harus berhati - hati. Perhatikan semuanya walaupun itu hanya detail yang kecil.”
Damian terlihat bersiap meninggalkan ruangan saat ia membereskan beberapa barangnya diatas meja.
“Anda tahu apa yang harus anda lakukan kan? Jika butuh bantuan langsung hubungi saya,” ucapnya lagi sebelum benar - benar berjalan meninggalkan ruangan.
“Jadi, bagaimana?” tanya Rezvan saat keheningan melanda selepas kepergian Damian.
“Ini tidak bisa ditunda ataupun dihindari, hanya bisa dihadapi. Rezvan persiapkan semua yang berhubungan dengan pengaturan jaringan, situs, metode dan keamanan siaran. Qeiza bertanggung jawab pada desain lokasi dan semua persiapannya, dan Kenzo.. you help me with this!”
Tanpa basa - basi keempat orang itu langsung meninggalkan ruang rapat setelah mencatat segala sesuatu yang mereka perlukan. Tidak hanya itu, mereka mereka juga langsung mengerjakan pekerjaan mereka tanpa aba - aba. Mengingat tenggat waktu yang diberikan, tidak ada waktu bari mereka untuk bermain - main.
“Cal, dimana alamat hotelnya?”
“Kamu mau kesana sekarang?”
“Iya, cek lokasi sekalian mastiin barang - barang yang harus disiapin.”
“Ok, nanti aku kirim alamatnya.”
“Kalo gitu aku duluan ya!”
Qeiza langsung bergerak meninggalkan kantor untuk meninjau lokasi. Demi mempersiapkan lokasi dengan maksimal, dia harus tahu ukuran dan fasilitas yang tersedia di lokasi. Selebihnya ia hanya tinggal mendesain lokasi dan mempersiapkan alat - alatnya.
Drrt.. Drrt..
Qeiza langsung mencari ponsel nya yang bergetar. Dia tahu itu pasti pesan masuk dari Calya berisi alamat hotel yang ia minta. Tepat sebelum ia membaca pesan itu sebuah suara telah lebih dulu mengalihkan perhatiannya.
“Mau pergi ke lokasi?” Tanya Damian yang tiba - tiba sudah ada disampingnya.
“Iya.”
“Ayo!”
“Apa?”
“Saya juga mau kesana.”
Qeiza terdiam sejenak. Pikiran wanita itu terlalu dipenuhi dengan daftar - daftar pekerjaan yang harus dia lakukan untuk sekedar memikirkan alasan kenapa pria itu juga harus kesana.
“Bukankah lebih cepat naik mobil pribadi dari pada menunggu taxi?”
Namun Qeiza masih bergeming.
“Ingat, waktu yang diberikan tidak banyak.”
“Ayo!”
Saat pria itu mengingatkannya tentang tenggat waktu barulah wanita itu kembali ke realita bahwa ia tidak boleh membuang banyak waktu disini. Qeiza segera berjalan dengan langkah cepat, bahkan mendahului Damian sebagai pemberi tumpangan.
“Sudah punya gambaran?”
“Apa?”
Qeiza masih dalam pikirannya. Di kepalanya, ia terus mengulang langkah demi langkah yang harus ia kerjakan. Khawatir akan melewatkan sesuatu. Hingga membuatnya lambat dalam merespon lawan bicara.
“Anda gugup? Tenang saja, semua akan baik - baik saja.”
‘Haahhh’
Wanita itu menghembuskan nafas cukup panjang, berusaha membuat dirinya lebih tenang.
Qeiza kembali memastikan apa yang telah ia lewatkan tadi.
“Anda sudah punya gambaran?”
“Oh, rencana nya saya akan menyesuaikan desain awal dengan keperluan kamera. Mungkin hanya sekedar mengubah warna latar dan tata letak kursi dan meja. Tapi karena ini berhubungan dengan game setidaknya saya harus memastikan kelengkapan fasilitas.”
“Bagus.”
Kedua orang itu berhenti berbincang. Damian membiarkan Qeiza menggunakan waktunya untuk mempersiapkan pekerjaannya, sambil sesekali memperhatikan wanita itu melalui ekor matanya.
Pergerakan mobil mulai melambat dan Qeiza sadar bahwa mereka sudah tiba di lokasi tujuan. Dia menyimpan kembali tablet ke dalam tas nya dan melihat keluar jendela.
“Ini tempatnya?” ucap Qeiza saat melihat papan nama hotel yang tidak asing baginya. Wanita itu buru - buru mengambil ponselnya memeriksa pesan masuk yang tadi dikirim oleh Calya.
“Benar, ini tempatnya,” suaranya melemah saat berhasil memastikan bahwa ia tidak datang ketempat yang salah.
“Kenapa?” tanya Damian saat menyadari perubahan mimik wajah wanita disampingnya.
“Tidak apa - apa.”
“Kalau begitu ayo!”
Keduanya turun dari mobil dan langsung berjalan masuk kedalam hotel. Saat menyampaikan tujuan kedatangan mereka pada resepsionis, keduanya langsung diantar menuju aula yang sudah ditentukan.
“Perwakilan manajemen akan segera datang, mohon menunggu sebentar.”
Pegawai hotel segera pergi setelah membukakan pintu aula. Qeiza dan Damian masuk ke dalam aula, Qeiza langsung mengelilingi aula tersebut. Memastikan tata letak meja dan kursi yang akan dipakai. Sementara Damian masih berdiri di dekat pintu masuk, seorang pria dengan setelan jas mendekat ke arah nya.
“Selamat siang. Fabian, manajer hotel. Maaf mebuat anda menunggu lama.”
Pria tinggi itu mengulurkan tangannya pada Damian, dan Damian menyambutnya.
“Damian dari Parama Ad. Tidak masalah, kami datang untuk melihat aula.”
“Kami?”
“Ya, rekan saya ada di sebelah sana.”
Pria bernama Fabian itu melihat ke arah tangan Damian, dimana Qeiza sedang berdiri dan fokus pada tablet ditangannya.
“Qeiza?”
“Iya.”
Secara spontan Qeiza menjawab suara yang memanggil namanya, dan saat ia melihat ke asal suara raut wajahnya sedikit berubah.
“Benar, Qeiza rupanya.”
Qeiza dengan pelan melangkah mendekat kearah kedua pria itu berdiri. Dengan wajah yang hampir tanpa senyuman.
“Lama tidak jumpa. Kabarmu baik?”
Qeiza yang terlalu enggan untuk menjawab hanya menggunakan seulas senyum tipis di wajahnya.
“Kalian sepertinya saling kenal?”
“Tentu saja. Kami mengenal satu sama lain cukup baik,” ucap Fabian sambil tersenyum.
“Saya sudah membuat daftar barang - barang yang kami butuhkan untuk acara nanti Bisa tolong anda periksa dan beritahu barang mana yang sudah ada dan mana yang harus kami persiapkan?”
Qeiza segera mengalihkan arah pembicaraan yang tidak ingin ia dengar.
“Tentu saja. Kirimkan saja padaku, kau masih punya nomorku kan?”
“Kalau begitu saya permisi dulu, masih ada pekerjaan yang harus saya lakukan.”
Qeiza berjalan meninggalkan kedua pria itu tanpa menunggu respon dari salah satunya. Tak lama Damian pun ikut berpamitan dan segera menyusul Qeiza.
“Hei, tunggu!” ucap Damian berusaha menghentikan Qeiza. Wanita itu berbalik saat mendengar Damian memanggilnya.
“Ada tempat lain yang harus saya kunjungi, anda bisa kembali ke kantor.”
Qeiza langsung pergi saat secara kebetulan ada sebuah taksi yang baru mengantar penumpang berhenti di depan hotel itu. Meninggalkan Damian dengan semua tanda tanya di kepalanya.