LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Asumsi



Arion duduk di bangku taman tak jauh dari apartemen Calya berada. Tatapan kosongnya menggambarkan tenggelamnya ia dalam pikirannya. Tak menghiraukan apapun di sekitarnya, termasuk cuaca dingin yang cukup mengganggu beberapa orang disana.


“Arrgghh!” pria itu tiba-tiba berteriak saat seseorang menyentuh luka di dekat matanya. Pria yang sedari tadi duduk melamun itu sampai tak sadar akan kedatangn Calya. Wanita itu datang dengan membawa kotak pertolongan pertama dan langsung mengobati luka di wajah Arion yang menyebabkan ia teriak kesakitan.


“Kalau kau mau berkelahi setidaknya kau harus bisa menahan sakit. Jangan cengeng seperti ini!” ucap Calya yang merasa kesal karena Arion terus berteriak saat ia mendaratkan tangan di wajah pria itu.


“Berteriak itu adalah cara untuk mengurangi rasa sakit. Kau tak tahu? Penelitian sudah membuktikan itu kalau kita berteriak..”


“Kalau kau terus berteriak itu akan membuat telingaku sakit, jadi kau lakukan saja sendiri,” Calya menyodorkan obat ditangannya. Menyadari hal itu Arion lalu membuang muka, “aku tak akan berteriak,” ucapnya.


Calya kembali membantu pria itu mengobati lukanya dan pria itu mencoba menahan sakit. Namun karena terus menerus merasa sakit pria itu jadi kesal. “Jika kau ingin membantu setidaknya lakukan dengan lemah lembut!” Calya berdecak kesal, “seharusnya kau bersyukur ada yang mau membantumu!”


Keduanya terdiam untuk sesaat. Calya terus mengobati luka Arion yang kini kembali tenggelam dalam pikirannya. “Aku pergi,” Calya mengemasi kotak obatnya. Wanita itu baru akan beranjak sebelum Arion menahan tangannya.


“Aku sudah selesai mengobati lukamu, lalu apa lagi?”


“Tidakkah seharusnya kau bertanya. Kenapa aku bisa terluka? Bagaimana aku bisa terluka? Atau siapa yang melakukan ini padaku?”


“Bukankah sudah jelas Kau terluka karena berkelahi. Kenapa dan siapa yang melakukannya aku tidak peduli.”


Arion melepaskan tangan Calya, “dasar wanita tak berperasaan, pergilah!”


Calya memutar bola matanya frustasi, “ok, tell me. Do not try to do something weird, just tell me!” akhirnya wanita itu kembali duduk di bangku, mendengarkan seluruh cerita dari mulut pria itu.


“Lalu? Apa yang salah dengan ucapannya? Aku tak mengerti kenapa kau harus tersinggung karena kata-kata itu? Kecuali jika kata-kata itu benar.”


“Kenapa kau malah membelanya?”


“Apa kau berharap aku akan membelamu dan memakinya? Aku bahkan tak tahu siapa diantara kalian yang benar.”


“Kau akan menyesal jika tahu kebenarannya.”


“Mungkin. Mungkin juga kau yang akan menyesal. Apa kau benar-benar sudah tahu kebenarannya?”


***


7.20 pagi, Calya baru saja turun keluar dari lift apartemen. Wanita dengan setelan biru muda itu berjalan santai menuju tempat parkir. Menekan remot untuk membuka kunci di mobil. Namun saat tangannya telah meraih gagang pintu, sebuah tangan menahan gerak pintu mobil yang sudah setengah terbuka membuatnya kembali tertutup. Calya menghela napas sosok Arion kini telah bersandar di pintu mobil, menghalangi wanita itu untuk masuk ke dalam sana.


“Mau apa?” tanya Calya ketus, setengah dari dirinya sudah malas meladeni sikap anak konglomerat ini. “Ikut denganku sekarang!” perintah Arion. “Berhenti bicara omong kosong dan menyingkirlah, aku bisa terlambat ke kantor”.


Calya kembali meraih pintu mobilnya, dan Arion lagi-lagi menghentikannya. Pria itu menggenggam tangan Calya untuk membawanya berjalan menjauhi mobil. Calya melawan, berusaha melepaskan genggaman pria itu, hingga pria itu menghentikan langkahnya. “Dengar! Aku tidak punya waktu untuk rencana gilamu. Aku harus kerja!” Pria itu mendekat, “Aku tidak punya rencana gila dan lagi pula ini adalah pekerjaanmu untuk hari ini.”


“Kau gila!” teriak Calya di dalam mobil Arion yang sedang melaju. “Pelankan suaramu, aku tidak tuli,” Arion menggosok-gosok telinganya. “Bagaimana mungkin kau berbohong pada orang di kantor tentang meeting mendadak?” Calya tidak bisa mengerti dengan tindakan semena-mena pria itu.


“Ini tidak sepenuhnya bohong. Lagipula perusahaan kita memang sudah setuju untuk melanjutkan kerjasama untuk promosi lanjutan Game. Anggap saja kita sedang membicarakan ide promosi yang baru.”


“Kau tinggal membuatnya, aku pasti akan setuju apapun idemu!”


Calya menghela napas, mencoba meredam amarahnya yang nyaris meledak. Wanita itu mencoba menghemat tenaganya dengan memilih untuk diam selama mobil itu melaju. Mungkin dia sudah menyerah atau sedang mencoba mengatur rencana.


“Apa yang mau kau lakukan di tempat ini,” tanya wanita itu saat mobil Arion mulai berhenti di sebuah gedung apartemen. Arion dengan santai berjalan keluar mobil dan membukakan pintu mobil untuk wanita itu. Mengajak Calya untuk keluar dari mobil yang hanya dibalas dengan tatapan dingin.


“Mau ikut aku keluar atau terkunci didalam mobil?” ancam Arion yang mulai tak sabar. Calya dengan terpaksa mengikuti langkah pria itu yang entah akan membawanya kemana. Kedua orang itu berjalan melewati komplek apartemen mewah hingga sampai di sebuah taman. Kemudian berhenti di bawah sebuah pohon besar, lebih tepatnya bersembunyi.


Beberapa kali Calya mencoba bertanya tentang apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan, berulang kali pula Arion menyuruhnya untuk diam. Pria itu sibuk mengintip di balik pohon seakan sedang mengamati sesuatu. Calya yang terlanjur merasa penasaran akhirnya mengikuti apa yang sedang pria itu lakukan.


“Kau lihat pria itu?” ucap Arion merujuk pada seorang pria yang sedang duduk di sebuah bangku taman tak jauh dari tempat mereka berada. Calya ikut memperhatikannya, sedikit terkejut saat melihat dia mengenakan ARGlassess seperti miliknya. Fokus wanita itu kini sepenuhnya mengarah mengarah kesana.


“Pria aneh yang sedang berbicara sendiri itu, adalah orang yang menciptakan LOVATY.” 


Calya yang cukup terkejut spontan menatap kearah Arion. Pria itu kemudian kembali berbicara, “dia menciptakan itu setelah menjadi gila karena ditinggal oleh pacarnya.”


“Kau bercanda! Tidak ada yang pernah tahu siapa pencipta LOVATY, tidak satu orang pun.”


“Ya, kecuali dua orang. Aku dan profesor kami,” ucap Arion tenang. Meyakinkan bahwa semua kata-katanya adalah fakta.


Kedua orang itu menyelesaikan pengintaian mereka dan kembali ke mobil. Di dalam mobil Arion terus berbicara tentang bagaimana pria itu sangat aneh saat saat mereka berdua sama-sama berkuliah. Penyendiri, pendiam dan terobsesi pada komputer. Namun Arion sadar bahwa semua kata-katanya sama sekali tak dihiraukan oleh Calya. Wanita itu kini tengah sibuk dengan pikirannya sendiri.


Apakah aku terlihat seperti itu saat menggunakan LOVATY? Pria itu terlihat sedih dan senang di saat yang bersamaan. Apa aku juga begitu atau malah lebih buruk? Berbagai macam pertanyaan muncul di pikiran wanita itu. Satu dan lainnya karena merasa mereka berdua sama.


“Pria gila itu sekarang membuat semua orang ikut gila dengan barang ciptaannya.”


Satu kalimat itu seketika mengembalikan kesadaran Calya. “Apa?” wanita itu menanyakan kembali kalimat yang sebenarnya ia dengar dengan sangat jelas. “Kau tidak tahu banyak orang jadi gila setelah menggunakan LOVATY, itu semua karena pria gila itu.”


“Kenapa kau terus menyebutnya pria gila?”


“Lalu apa aku harus menyebutnya genius? Dia itu hanya pria patah yang frustasi karena ditinggal pacarnya. Seharusnya dia cari saja wanita lain, wanita tidak hanya satu. Tapi dia malah membuat program virtual dengan wajah pacarnya, dasar gila!”


“Itu yang kau pikirkan?” tanya Calya merasa tak percaya dengan kata-kata yang barusan ia dengar. Arion dengan bangga mengiyakan. “Aku tak tahu bahwa kau orang yang picik.” 


Arion menatapnya kaget. “Apa? Kau mengasihani pria itu?” Calya menghela napas mencoba menahan amarahnya. “Yang dia ciptakan memang saat ini menimbulkan masalah, tapi itu juga telah menolong banyak orang diluar sana. Kau bahkan tidak tahu alasan dia menciptakan LOVATY.”


“Aku sudah memberitahumu alasannya, kalau...”


“Aku yakin kalian tidak kenal dekat. Kalian bahkan tidak berteman kan? Itu artinya semua yang tadi kau katakan hanya asumsimu saja. Menyimpulkan sesuatu tanpa mencoba mencari tahu kebenarannya, tidak bisa dipercaya.”


Arion diam dan hanya fokus mengendarai mobilnya. Hingga akhirnya laju mobil itu berhenti tak jauh dari sebuah hotel. Pandangannya mengarah jauh ke arah pintu masuk hotel itu. “Sekarang katakan padaku, apa kau pikir aku akan salah berasumsi tentang hal ini?”


Calya bingung akan maksud dari pertanyaan itu hingga ia mengikuti arah pandang pria disampingnya dan terkejut. Sosok pria dan wanita yang baru saja keluar dari mobil membuatnya terdiam.