LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Bukan Double Date



"Apa kalian berdua sedang berkencan?" tanya Damian. "Tidak!" jawab Calya seketika. "Aku memang berharap ini kencan. Aarrgg.. " jawab Ray, dan langsung mendapat cubitan dari dilengan. "Apa? They both know that I like you!"


"Bukannya kamu harusnya hunting tas diskon?" Calya mengalihkan pembicaraan. "Yes, I am," jawab Qeiza sambil mengangkat paper bag ditangannya. "Lalu sedang apa kalian berdua dengan es krim itu? Kalian janjian?"


"Tidak!" "Iya!" jawab Qeiza dan Damian bersamaan. Qeiza menatap tajam kearah Damian, pria itu telah menghancurkan alibinya. "Apa?" tanya Damian saat dia sadar akan tatapan dari Qeiza. "Aku mau ke toilet!" menyerahkan es krim ditangannya pada pria itu. Sementara Calya langsung mengikutinya tanpa sepatah kata.


"Jadi perkembangan kalian berjalan dengan baik?" tanya Damian. "Tidak juga," jawab Ray santai. "Kau sendiri sepertinya bergerak lebih cepat?" pertanyaan balik Ray membuat Damian sedikit kaget. "Ini tidak seperti yang kau pikirkan!"


"Baiklah! Mungkin mengarah kesana," Damian meralat ucapannya sendiri setelah melihat tatapan datar temannya. "Hey! What are you doing?" tanya Damian saat Ray mencoba mengambil eskrim milik Qeiza dari tangannya. "It's going to melt!"


"Ini bukan milikmu!"


"Itu juga bukan milikmu!"


"Tapi dia menitipkannya padaku! Ini, ambil punyaku!" menyerahkan es krim miliknya yang sudah dimakan hampir setengah nya.


"Sisa milikmu?"


"Makan saja!"


Sementara di toilet para wanita saat ini sedang mencuci tangan di wastafel. Kedua Calya menatap pantulan wajah Qeiza di cermin dengan tatapan tajam


"Kamu bohong sama aku!" ucap Calya setengah kesal, setelah memastikan tidak ada orang lain selain mereka berdua ditoilet. "No, I'm not!" Jawab Qeiza, wanita itu bahkan belum sempat mengeringkan tangannya. "Lalu itu tadi apa barusan?" tanya Calya masih tak percaya.


"Cal, it's not like what you thinking of!" Qeiza menghela napas. Mengetahui alibinya sia - sia saat Calya menatap ya tajam seperti sekarang. "Listen! Ada beberapa hal yang terjadi dan aku memang belum cerita ke kamu. Tapi aku nga bermaksud bohongin kamu!"


"Yeah, you are!"


"Hey! Kamu sendiri gimana? You never told me about his confession either!"


"Dari mana kamu bisa tahu? Calya terkejut saat Qeiza tiba - tiba membahasnya. "Lihat! Kalau aku nga bahas duluan, kamu mungkin nga akan pernah bilang!" Qeiza sekarang terlihat benar - benar kesal dengan tangan yang menyilang didada.


"Itu karena… Haahhh… okay karena kita berdua sama - sama nyembunyiin sesuatu, let's just forget it!"


"Setuju!"


Keduanya kembali menatap cermin. Sekedar memeriksa apakah riasan mereka ada yang rusak.


"Jadi, apa kalian sekarang pacaran?" Calya kembali bertanya. "Tidak, dia menyebalkan!"


"Bagaimana denganmu? Apa kamu menerimanya?" kali ini Qeiza yang bertanya. "Tentu saja nga! Dia saja yang keras kepala, mengabaikan semua kata-kata ku!"


Sungguh suatu kebetulan kedua sahabat itu sama-sama membuat mereka berdua kesal. Membuat kedua wanita itu terperangkap disana. Dalam dilema itu tiba - tiba Qeiza terpikir akan sesuatu. "I have an idea!" segera membisikkan sesuatu ditelinga Calya setelahnya.


"Is it gonna work?"


"Nga ada salahnya dicoba"


Kedua wanita itu akhirnya kembali ketempat para pria menunggu. "Sepertinya dia sudah menunggu direstoran. Ayo!" ucap Ray seraya melihat jam dipergelangan tangannya. Ray mulai melangkah pergi diikuti Calya dan Qeiza.


"Mau kemana?" tanya Damian sambil menahan lengan wanita itu. "Ikut mereka!" jawab Qeiza. "Kenapa tiba - tiba jadi ikut mereka?" pria itu tak mengerti dengan perubahan rencana yang begitu mendadak. "Ini kan proyek kita juga. Ayo!"


Di salah satu restoran mereka bertempat kini duduk satu meja bersama seorang laki-laki muda. Diatas meja dipenuhi dengan berbagai jenis hidangan, namun hanya laki-laki itu yang sibuk melahapnya. Sementara keempat orang itu hanya menatap penuh heran.


"Jadi ini orang yang kalian maksud?" tanya Qeiza seraya berisik pada Calya disebelahnya. Calya menganggukan kepala.


"Apa latar belakangnya tadi?" tanya wanita itu lagi. Calya terlihat berpikir sebelum menjawab pertanyaan temannya.


"Top gamer, game critics, game expert, game tester," jawab Ray mengambil alih.


"Game Influencer!" ucap laki-laki itu disela - sela makannya. Dia meminum jus dan menyeka sisa - sisa makanan disudut bibir nya.


"Ada orang yang bermain game untuk senang - senang. Ada orang yang bermain game karena trend. Tapi diantara orang - orang itu ada juga yang bermain game dan memulai trend, itu aku!"


Dia kembali sibuk mengunyah kentang goreng.


"Jadi maksudnya kamu bisa membuat orang - orang ingin memainkan permainan yang sama denganmu, begitu?" Calya mencoba memperjelas.


"Ya!"


"Apa yang membuatmu tertarik saat memilih game?" Calya kembali bertanya.


"Ada beberapa faktor. Bisa Asal perusahaannya, brand nya atau jika diundang untuk jadi game tester."


"Bagaimana dengan video promosi?" kali ini Qeiza yang bertanya.


"Iklan? Itu sama saja dengan film. Terlalu teratruktur dan hanya menunjukkan poin baiknya. Tidak ada pengalaman yang nyata!"


Laki-laki itu menyantap desert yang tersisa disana. "Game apa yang sedang kalian kembangkan?"


"Sports game," jawab Ray.


"Ada jutaan sports game di jagat raya. Jadi sport game yang seperti apa?"


"Detilnya belum bisa kami katakan."


"Terserah saja. Kalau itu bukan sesuatu yang baru, maka harus berbeda atau punya keunggulan. Jika tidak, angan berharap banyak. Karena itu adalah poin penting untuk menarik perhatian."


Laki-laki itu akhirnya menyelesaikan semua hidangan diatas meja. Mereka semua meninggalkan restoran setelah membayar. Sejenak berhenti didepan restoran untuk berpamitan.


"Terimakasih atas waktunya," ucap Ray seraya mengulurkan tangan.


"Senang bisa membantu."


"Jika nanti kami ingin menawarkan kolaborasi, apa kamu keberatan?" tanya Qeiza sambil berjabat tangan.


"Tentu saja tidak!"


"Semoga kita bisa bertemu lagi"


Laki-laki itu akhirnya berjalan meninggalkan keempat orang itu disana. Sesaat mereka masih menatap punggung yang sedang berjalan menjauh. Sebelum akhirnya benar - benar menghilang.


"Apa kamu memikirkan hal yang sama denganku?" tanya Calya. Sepanjang berbincang - bincang ia mulai mendapatkan inspirasi. Mendengar pertanyaan Qeiza barusan membuatnya berpikir bahwa temannya itu juga memikirkan hal yang sama.


"I think so!"


"Kalau begitu ayo pergi ketempatku!"


"Mau kemana kalian?" tanya Damian.


"Tentu saja bekerja! Ide ini harus segera diolah sebelum hilang!" Qeiza menjawab. Kedua wanita itu berjalan pergi meninggalkan Damian dan Ray disana, bahkan tanpa berpamitan.


"Ada apa denganm? Sejak di restoran wajahmu terlihat kusut!" tanya Ray pada Damian.


"Semuanya hancur! Tidak satupun berjalan sesuai rencana," jawab Damian terlihat frustasi.


"Welcome to the club, man!" Ray merangkul temannya.


"Club?"


"Club terabaikan."


Mendapati temannya sedang tertawa mengejeknya Damian langsung menghempas lengan Ray dari bahunya.


"Memangnya apa yang telah kau dan otak kotormu itu rencanakan?"


"Bukan urusanmu!"