
Setelah bertengkar dengan Qeiza waktu itu hubunganku dengan Qeiza menjadi buruk. Dia selalu menghindariku dan hanya berbicara seadanya tentang pekerjaan. Aku rasa dia benar - benar marah padaku. Apa aku biarkan saja sampai rasa kesalnya padaku hilang sendiri?
“Cal! Qei! Ayo!” Kenzo memanggil.
“Apa? Kemana?”
“Kan kita ada rapat untuk proyek brand fashion.”
“Oh, iya.”
“Kau sendiri yang buat jadwalnya, tumben sekali bisa lupa. Kalau begitu aku duluan, kasian Rezvan sendirian disana.”
Aku bergegas menyiapkan beberapa berkas sebelum beranjak menuju ruang rapat. Sesampainya disana, ketiga orang itu sudah ada disana. Kenzo dan Rezvan sedang asik berbincang, sementara Qeiza sibuk dengan ponselnya. Perhatian mereka seketika teralih padaku begitu menyadari kehadiranku, mungkin tidak semuanya.
***
“Tumben kau pendiam sekali hari ini Qei, biasanya langsung heboh kalau ada Calya. Lagi sakit gigi ya?” Rezvan memecah kesunyian yang sempat terasa selama beberapa menit di ruangan itu.
“Shut up!” jawab Qeiza dengan kesal.
“Dia kenapa Cal?” pria itu beralih bertanya pada Calya, setengah berbisik.
“Jangan ganggu aku,” jawab Calya dingin.
“Apa ini? Kenapa ruangan ini terasa lebih dingin?”
“Dingin? Mau ku naikkan suhunya?” ucap Kenzo, kemudian dibalas dengan Rezvan dengan menggelengkan kepala.
Keempat orang itu memulai rapat mereka, membahas semua hal yang berkaitan dengan proyek baru mereka. Proyek kali ini berhubungan dengan bidang fashion, bidang fashion yang sebenarnya lebih dikuasai Qeiza. Wanita itu lebih banyak mengambil peran pada proyek ini. Namun mengingat hubungannya dengan Calya yang saat ini memburuk, entah apa mereka bisa menyelesaikan proyek kali ini dengan baik.
“Baiklah kalau begitu, rapat kita akhiri disini. Jangan lupa untuk melaporkan setiap perkembangannya padaku,” ucap Calya seraya bangkit dari kursi yang ia duduki.
Setelah mendapat respon singkat dari ketiga rekannya, Calya langsung pergi meninggalkan ruang rapat. Tak berapa lama Qeiza juga meninggalkan ruang rapat tanpa mengeluarkan satu patah kata pun membuat kedua pria yang masih tertinggal disana mereasa heran.
“Apa keseriusan Calya akhirnya menular pada Qeiza?” tanya Rezvan.
Kenzo lalu berdiri, membawa barang - barangnya dan pergi tanpa suara.
“Kau jangan ikut - ikutan!”
***
^^^‘Sudah pulang?’^^^
‘Ini baru mau keluar ruangan.’
^^^‘Aku juga baru mau pulang. Ketemu dibawah, aku antar kau pulang.’^^^
‘Oke.’
Qeiza membereskan meja kerjanya, bersiap untuk pulang. Sepertinya kali ini dia menjadi yang terakhir pulang ke rumah, sungguh suatu kejadian yang langka.
Qeiza dengan lemah berjalan keluar ruangan. Rasanya tubuhnya kaku semua setelah hampir seharian berada dibalik meja. Wanita itu benar - benar ingin cepat pulang sekarang agar dia bisa meluruskan kembali tulang - tulangnya kembali.
Sesaat Qeiza berangan - angan akan kasur empuk di kamarnya, namun dalam sekejap menghilang saat melihat seseorang yang sedang berdiri di depan lift. Sosok yang biasanya dengan senang ia temui, tapi kali ia sangat ingin menghindarinya.
Dengan terpaksa Qeiza berdiri di sampingnya. Hanya ada satu lift disana, dan Qeiza tidak ingin menyusahkan dirinya dengan menggunakan tangga darurat hanya karena ingin menghindari Calya. Keduanya sama - sama membisu di depan lift hingga akhirnya pintu lift terbuka.
“Hi! Kebetulan sekali!”
Damian yang kebetulan berada di dalam lift menyapa kedua wanita itu dengan ceria, tanpa menyadari hawa aneh yang menyelubungi keduanya. Kedua wanita itu melangkah masuk ke dalam lift. Tanpa melihat satu sama lain atau membalas sapaan Damian. Namun Damian yang merasakan kesunyian kembali buka suara.
“Kalian habis lembur bersama?”
“TIDAK! (TIDAK!)”
“Ahh.. kalian saling menunggu untuk pulang bersama?”
“TIDAK! (TIDAK!)”
Sesaat suasana kembali sunyi, sebelum ketidakpekaan pria itu membuatnya kembali berbicara.
“Kau sudah bicara pada Calya?”
“Bicara tentang apa?”
“Bukankah kita berencana mengajaknya makan malam bersama?”
“Makan malam? Dia tidak akan mau?”
“Kenapa? Calya, Anda sibuk?”
“Tentu saja dia sibuk. Creative Director tidak punya waktu untuk hal - hal seperti ini!”
Mendengar Qeiza yang terus berbicara sinis akhirnya membuat Calya ikut terpancing emosi.
“Benar sekali, aku benar - benar sibuk hingga tidak punya waktu untuk mengurusi hal - hal yang tidak penting!.”
Pintu lift terbuka dan dengan cepat Calya keluar dari lift.
“Tentu saja! Tidak ada yang penting baginya selain dirinya sendiri!” Teriak Qeiza dengan kesal sebelum akhirnya ikut melangkah keluar lift. Menyisakan Damian disana yang hanya bisa menggeleng - gelengkan kepala.
“Women’s fight.” ucapnya sebelum ikut melangkah keluar.
***
Di dalam mobil Damian hanya bisa menyetir dalam diam. Suasana hati Qeiza benar - benar jelek hingga sekedar mendengar musik pun ia tak mau. Damian yang merasa serba salah akhirnya, memutuskan untuk melakukan sesuatu. Pria itu menghentikan mobilnya di suatu taman.
“Kenapa kita kesini?” menyadari mobil berhenti di tempat yang bukan rumahnya.
“Cari udara segar sebentar.” Damian melepas sabuk pengamannya, keluar dari mobil dan berjalan membukakan pintu mobil untuk Qeiza.
“Aku maunya pulang, bukannya cari udara segar.”
“Sebentar saja, ayo!”
Damian melepas sabuk pengaman Qeiza, menggenggam tangannya agar wanita itu mau keluar dari mobil. Keduanya berjalan santai di taman dengan pemandangan senja itu sebelum Qeiza kembali mengeluh.
“I’m tired. I wanna go home and take a rest instead of walking.”
“Baiklah, kalau kau memang lelah. Kita duduk di bangku sebelah sana.”
Qeiza terpaksa mengikuti langkah Damian dengan raut wajah yang cemberut. ‘Pria ini sangat tidak pengertian,’ pikirnya.
“Jadi?” ucap Damian setelah keduanya duduk di sebuah bangku taman.
“Apa?”
“Kau tidak ingin cerita padaku?”
“Cerita apa?”
“Kau pasti tidak punya teman cerita sejak kau bertengkar dengan sahabatmu satu - satunya. Sekarang kau bisa cerita padaku, apapun itu aku akan mendengarkannya.”
Qeiza menatap pria itu. Dari raut wajah hingga tatapan matanya, dia bisa tahu kalau pria itu bersungguh - sungguh. Seperti yang Damian katakan, Qeiza memang tak memiliki teman bicara sejak bertengkar dengan Calya. Maka kali ini ia mencoba untuk bercerita kepada selain sahabatnya.
“Aku sangat kesal dengan Calya! Kami bukannya baru kenal sebulan atau dua bulan, tapi sudah bertahun - tahun! Kami melewati suka dan duka bersama, tertawa, menangis, makan bahkan kelaparan bersama - sama. Tapi bahkan setelah semua itu, dia masih saja tidak mau terbuka padaku!”
“Setiap orang punya sifat yang berbeda - beda. Mungkin dia tipe yang tidak terbiasa menceritakan masalahnya.”
“Aku tahu, aku sadar! Aku juga berusaha mengerti dirinya selama ini. Mungkin dia malu, mungkin dia merasa tidak enak, atau apapun itu. Tapi yang paling membuatku kesal adalah, dia selalu berusaha terlihat baik - baik saja padahal sebenarnya tidak! Bersembunyi, mengurung diri, menangis, ketakutan, aku tahu dia melakukan semua itu! Tapi dia selalu saja bilang tidak apa - apa!”
“Kau sepertinya sangat mengenalnya, kenapa tidak mencoba memakluminya kali ini juga?”
“TIDAK! KALI INI DIA BENAR - BENAR MENYEBALKAN!”