LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Sedang apa?



Hari ini sama seperti hari biasanya. Hari dimana seluruh tim Creative Department sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Kecuali tiga orang disisi lain ruangan, mereka terlalu sibuk dengan sesuatu yang bukan pekerjaan.


Jika dilihat dari jauh, mereka terlihat seperti sedang bermain lempar tangkap. Dari dekat baru terlihat sebuah map yang sedang mekera oper silih berganti, bagaikan sebuah bola tangan. Terlihat kekanakan. Bukan hanya tingkah mereka, tapi juga kegaduhan yang mereka ciptakan. Membuat pimpinan akhirnya turun tangan.


"Kamu aja yang kasih Kenzo!"


"Kenapa jadi aku? Tuh Rezvan aja!"


"Why me? Art Director nya siapa? Qeiza kan!"


"Ya, gantian nga apa - apa kan!"


"NO!"


"Ngapain sih kalian?" Sosok Calya yang berdiri disana sejenak menginterupsi perdebatan mereka.


"Kalian ngapain?" wanita itu kembali bertanya, saat tak satupun dari ketiga orang didepan nya memberi respon.


"Qeiza Cal!"


"iya, Qeiza!"


"What! Kok kalian jadi kompak nyalain aku sih!"


"Ya, memang!"


"Kan kamu yang mulai!"


"Apa sih!"


"STOP!"


Qeiza, Rezvan dan Kenzo kembali melanjutkan kegaduhan. Membuat Calya harus menaikkan nada suaranya.


"Kalau kalian semua ribut, apa yang bisa aku mengerti?"


"Qeiza, jelasin ada apa?"


"Aku cuma minta tolong salah satu dari mereka, tapi mereka nga mau."


"Biasanya juga dilakuin sendiri, kenapa tiba-tiba minta tolong kami. Pasti ada yang nga beres!"


"Jangan - jangan kau sengaja supaya kami yang di marah!"


"See! Belum apa - apa mereka udah negative thinking aja!"


"Jadi apa tepatnya itu? Apa yang kalian berdua nga mau lakuin dan apa yang kamu minta tolong ke mereka?"


Calya mulai kehilangan kesabaran nya. Menghadapi tiga orang didepan ya kadang bisa lebih menyebalkan dari menghadapi 30 klien.


"Beberapa konsep yang udah kita buat."


"Lalu?"


"Harus diserahkan ke Damian."


"Itu aja? Lalu kenapa kalian berdua nga mau?"


"Gimana kalau dia nga puas? Terus marah - marah kekita? Ya kita nga mau dapat getahnya!"


"Iya! Lagi pula kan itu memang tugasnya Qeiza!"


"Lalu kamu Qei, kenapa nga kamu yang serahin?"


Alih - alih menjawab pertanyaan dengan lantang seperti Kenzo dan Rezvan, Qeiza malah melangkah mendekati Calya. Wanita itu membisikkan jawaban nya pada tepat ditelinga temannya itu.


"Tuh, dia aja nga bisa bilang apa alasannya. Pasti ada yang nga beres!"


"Apa sih! Jangan sok tahu!"


"Pokoknya kami nga mau antar berkas itu ke Damian!"


"Benar, kami menolak!"


"Ya udah. Kalian berdua lanjut kerja sana!" Calya mengambil berkas yang mereka oper sedari tadi dan menarik lengan Qeiza. Kedua wanita itu duduk di meja kerja Calya. Calya menyerahkan kembali berkas itu pada Qeiza.


"You have to be professional, Qei."


"Tapi Cal, aku bukannya nga mau kerja. Aku cuma nga mau ketemu dia untuk sementara, itu aja!"


"It is a part of your work. Dia masih terhitung atasan kita dan dan diskusi masalah proyek juga bagian tugasmu."


"But… Arrghhh"


Qeiza akhirnya mengambil map itu dan berjalan keluar ruangan Creative Department. Langkah kaki nya dengan cepat membawa wanita itu menuju ruang Account Executive. Namun secepat itu juga dia terus merutuki dirinya. Benar - benar berharap dia bisa mengganti wajahnya saat ini.


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk!"


Qeiza masuk ke ruangan Damian dengan raut wajah yang terlihat biasa saja. Dengan santai duduk dikursi setelah pria itu mempersilahkannya. Juga dengan santai menyerahkan map yang sebelumnya menjadi bahan perdebatan.


"Konsep dari beberapa proyek yang sudah kami rencanakan, silahkan diperiksa?"


"Anda sibuk?"


"Ya! Boleh saya kembali ke ruangan sekarang?"


"Tidak!"


Qeiza menatap sekeliling ruangan sementara Damian sibuk membaca lembaran ditangannya. Tak terhitung sudah berapa kali dia pergi keruangan ini. Tapi baru kali ini dia mengamati ruangan itu. Tidak ada banyak  benda disana, termasuk diatas meja kerja pria itu. Hanya ada laptop dan beberapa tumpukan map disana.


"Seperti biasa," ucap Damian sembari menutup map ditangannya. Mengembalikan fokus Qeiza kepadanya.


"Saya tidak perlu khawatir dengan pekerjaan kalian. Karena jika memang ada yang kurang Calya pasti sudah memperbaiki nya. Jadi tidak ada yang perlu didiskusikan."


"Baiklah kalau begitu, saya permisi."


"Mau kemana?"


"Kembali keruangan."


"Saya belum selesa."


"Anda bilang tidak ada yang perlu didiskusikan."


"Memang tidak ada yang perlu didiskusikan dari konsep - konsep ini. Tapi bukan berarti pembicaraan kita sudah selesai."


"Memang apa lagi yang harus dibicarakan?"


"Kenapa anda cemas sekali? Apa ada hal yang penting?"


"Banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan."


"Saya tidak tahu kalau anda adalah tipe pekerja keras?"


"Ada banyak hal yang tidak anda ketahui tentang saya. Bahkan, mungkin anda tidak tahu apapun tentang saya."


"Kalau begitu anda harus memberi tahu saya!"


"Apa?"


"Beritahu tentang semua yang tidak saya ketahui!"


"Anda bercanda?"


"Apa saya terlihat seperti sedang bercanda?"


Qeiza mulai kesal. Jika terus seperti seperti ini, usaha yang dia lakukan sedari tadi untuk terlihat normal dan tidak terpengaruh akan sia-sia. Da ian yang mulai berulah selalu membuat nya kesal. Qeiza mungkin sudah berteriak sekarang jika dia tidak ingat kata 'profesional' yang tadi Calya sampaikan padanya.


Sesaat kemudian ponsel milik Damian berdering, pertanda ada pesan masuk. Saat itu juga Qeiza merasa bersyukur. Pesan masuk itu bagaikan jawaban dari do'a nya. Pesan masuk itu tidak hanya menghentikan Damian dan tingkah anehnya, tapi juga menghentikan Qeiza dari emosi nya yang hampir ia lupakan.


"Kita keruangan anda sekarang!"


"Apa? Kenapa?"


"Sudah, ayo!"


Damian langsung beranjak dari kursi dan berjalan meninggalkan ruangan. Sementara Qeiza juga terpaksa mengikutinya, meskipun berbagai pertanyaan tertahan dikepalanya.


Beberapa menit setelah Qeiza meninggalkan ruang Creative Department. Seorang pria datang keuangan itu. Pria dengan setelah abu - abu itu berdiri didepan ruangan, namun matanya bergerak menyusuri setiap sudut ruang Creative Department.


Kehadiran nya jelas menarik perhatian. Beberapa pasang mata diruangan itu menatap nya, sebelum akhirnya Rana berjalan menghampiri nya.


"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" tanya gadis itu ramah.


Pria itu tak langsung menjawab. Tatapan matanya terkunci pada satu sosok diujung ruangan, wanita yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Pria itu tersenyum manis kearah Rana, seakan memberi tanda bahwa ia akan langsung masuk.


Pria itu berjalan  dan berhenti tepat didepan meja Calya. Mengetuk meja sebanyak tiga kali agar wanita itu menyadari kehadirannya disana.


"Apa yang sedang anda lakukan disini?" tanya Calya yang terkejut akan kehadiran pria itu disana.


Arion langsung duduk tanpa menunggu wanita itu mempersiapkan. Matanya menjelajah kesekeliling ruangan tanpa menghiraukan pemilik meja yang sedang menatap nya.