LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Situation



“Hmmm.. good.” Calya memperhatikan beberapa desain yang ditunjukan oleh Qeiza. Halaman per halaman dan dia terkesan. “You must be feeling good lately. Hasil kerjamu sangat menarik.”


“Really? Sepertinya moodku memang sedang bagus akhir-akhir ini.” jawab Qeiza.


“Pasti sesuatu yang bagus sudah terjadi. What is it?”


“Yeah, but i’ll tell you about that later. Sekarang aku mau kerja dulu mumpung mood ku lagi baik.” ucap Qeiza dan berlalu pergi. Wanita itu memang terlalu kentara menunjukkan suasana hatinya. Entah itu dari raut wajahnya, nada suaranya bahkan cara dia melangkah.


“Dia tidak menggangguku di hari libur dan suasana hatinya baik, bukankah sudah jelas apa penyebabnya.” ucap Calya pada dirinya sendiri. Apapun yang akan diceritakan temannya itu nanti pastinya akan berhubungan dengan Damian. Walaupun sempat dibuat kesal oleh pria itu tempo hari setidaknya dia melakukan sesuatu yang menguntungkannya kali ini.


“I really love this situation.”  ucap Calya lebih kepada dirinya sendiri. Tapi wanita itu tak sadar kalau ada orang lain yang juga mendengarnya.


“Situasi apa yang kau maksud?” Kenzo yang sedang berdiri didekat meja Calya bertanya dengan polosnya.


“Situasi kerja kita sekarang.” jawab wanita itu singkat.


“Maksudmu kau menyukai situasi kita yang dikejar-kejar deadline seperti saat ini.” ternyata tatapan datar yang diberikan Kenzo adalah representasi dari setumpuk kerjaan yang harus ia selesaikan segera. Sepertinya dia tertekan.


“Bukan itu maksudku.. Ah! Ada yang ingin kau sampaikan padaku?” Calya kebingungan, dia yakin alasan apapun yang dia katakan tidak akan bisa menembus pikiran pria yang sedang eror itu. Mengalihkan topik pembicaraan adalah pilihan terbaik saat ini.


“Oh iya, Ray bilang meeting minggu ini akan dimajukan besok karena dia harus ke luar hari jumat ini.”


“Apa? Kenapa kau bisa tahu tentang itu?”


“Tadi kami tak sengaja bertemu di lobby.”


“Kenapa dia tidak menemuiku langsung?”


“Dia bilang dia buru-buru.”


“Dia bisa menghubungiku, kan?”


“Dia bilang dia sibuk.”


Calya terdiam sesaat “Baiklah, terima kasih,” ucapnya singkat, mengakhiri percakapan mereka. Wanita itu kesal tidak hanya karena jadwal rapat yang tiba-tiba dimajukan, tapi juga karena dia harus mendengar kabar itu dari orang lain. ‘Apa posisiku di project ini tidak penting? Haaahhh.. tidak. Jangan biarkan hal ini merusak suasana yang sedang bagus. Aku harus tenang.’ Calya menggerutu dan menenangkan dirinya sendiri. 


***


Tim Creative Department terlihat berkumpul di ruang rapat. Kali ini mereka sedang membicarakan perkembangan semua proyek yang sedang mereka tangani. Meski pekerjaan sudah dibagi ke beberapa tim kecil, sebagai seorang yang mengepalai seluruh tim Calya tetap harus mengetahui situasi mereka. Sehingga jika ada yang menemui hambatan, mereka bisa mencari solusinya lebih cepat.


Namun, walaupun mereka memiliki banyak proyek yang ditangani secara bersamaan. Masalah yang muncul tidak begitu banyak, hanya beberapa masalah teknis yang solusinya sudah bisa mereka cari. Sehingga rapat kali itu tidak begitu banyak memakan waktu.


“Cal, dari Radhika minta revisi lagi. Deadline tinggal beberapa hari lagi, Editornya pasti keberatan. Gimana?” Kenzo melapor pada Calya di perjalan kembali keruang kerja mereka.


“Gimana lagi? Bujuk editornya sampai mau.”


“Si panda galak itu? Gimana bujuknya? Yang ada kita cuma jadi sasaran omelan dia.” Kenzo skeptis, karena dia paham betul bagaimana perangai Editor itu.


“Gimanapun caranya.” Calya menegaskan bahwa tidak ada alasan jika itu berhubungan dengan menyelesaikan pekerjaan.


“Ya udah, biar aku yang temuin Editor itu.” Qeiza yang baru menyusul bersama Rezvan memotong percakapan mereka.


“Beneran?” Tanya Kenzo masih skeptis.


“Iya.” jawab Qeiza santai.


“Ada tapinya?” tanya pria itu lagi. Melihat kembali pengalaman sebelumnya, wanita itu tidak pernah memberi bantuan tanpa meminta imbalan. Wajar saja jika kali ini pria itu curiga.


“Tapi? Tapi apa?” tanya Qeiza tak mengerti.


“Ada yang salah dengan dia?” tanya Rezvan.


“Sepertinya begitu. Bagaimana mungkin dia mau menolong tanpa meminta imbalan. Tidak pernah terjadi sebelumnya?” tambah Kenzo.


“Apapun yang terjadi kita harus manfaatnya situasi ini.” Rezvan memberi saran.


“Setuju.”


***


‘Besok jam 10 pagi di kafe Bhanu’


^^^‘Kupikir kau tidak akan memberitahuku’^^^


‘Apa? Apa maksudmu ‘tidak memberitahuku’?’


^^^“Lupakan saja. Sampai ketemu besok. Jangan sampai dibatalkan lagi.’^^^


Ternyata Calya masih belum bisa melupakan rasa kesalnya pada Ray. Terlihat dari caranya membalas pesan dari pria itu. Entah apa yang sebenarnya membuatnya begitu kesal, tidak seperti Calya yang biasanya. Namun yang jelas sekarang Ray yang dibuat kebingungan. Pria itu mempertanyakan maksud dari pesan wanita itu kepadanya.


“Apa yang membuatmu bingung begitu?” tanya Damian, kedua pria itu kebetulan sedang mendiskusikan masalah pekerjaan bersama.


“Apa terjadi sesuatu pada Calya baru-baru ini?” tanya Ray.


“Sudah kuduga. Kau tidak akan sebingung ini jika itu masalah pekerjaan.” bukannya menjawab Damian malah membuktikan asumsinya.


“Jawab saja.”


“Mana bisa aku tahu setiap detil kehidupannya.”


“Pacarmu kan teman baiknya.”


Damian mendengus kesal. “Tapi dia tidak cerita apapun padaku. Masa iya aku tanyakan keadaan Calya padanya, yang ada aku dikira main belakang.” jawab pria itu


“Oh.. oh.. oh.. Kau terlihat serius kali ini. Sudah sampai tahap apa hubungan kalian?” Ray cukup terkejut mendengar jawaban temannya itu membuatnya ingin menggodanya.


“Yang jelas tahap yang lebih maju dari dirimu.” yang malah dibalas dengan sindiran oleh Damian. “Kapan kau akan bergerak?” tanya pria itu lagi.


“Dia itu tipe yang semakin dikejar semakin kabur, aku tidak bisa memaksanya.”


“Lalu sampai kapan kau mau menunggu?”


“Moment, the right time, define timing. Sudahlah, kau tidak akan mengerti.” tambah Ray sedikit frustasi. 


Sejujurnya dia juga merasa kehilangan arah. Ray sangat yakin dengan perasaannya, tapi dia tidak punya gambaran apakah perasaannya berbalas. 


Dia ingin melangkah maju dengan percaya diri. Menyatakan perasaannya dan meminta jawaban. Tapi saat ini resikonya adalah kehilangan kontak dengan wanita itu bahkan sebagai rekan kerja. 


Dia memilih bermain aman untuk saat ini. Berada dilingkaran rekan kerja membuat dia bisa tetap dekat dengan Calya. Itu yang terbaik untuk saat ini. 


Namun meski dengan yakin memilih jalan ini, ketakutan lain juga menghampirinya. 'Mau sampai kapan aku menunggu seperti ini? Aku mungkin akan kehilangan dia dengan pria lain tanpa berusaha. Haruskah aku bergerak sekarang? Tapi aku tidak ingin membuat dia tidak nyaman.'


Dalam kebingungan pria itu Damian tiba-tiba teringat tentang sesuatu. "Sepertinya aku tahu sesuatu!" Ucapnya. 


"Apa?"


"Aku rasa aku penyebab dia menjadi kesal."