LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Defensive Mode



Sementara pemimpin Creative Department sedang melakukan tugas luar, dikantor semua orang terlihat sedang bekerja kecuali para main person. Berkumpul di dekat meja sang Creative Director, mereka bertanya - tanya kapan rekan mereka itu akan kembali dan kabar apa yang akan dia bawa.


Mereka juga membahas bagaimana proyek bersama Niskala ini penting bagi mereka. Tentu saja demi kemajuan perusahaan, tapi selain itu juga demi kedamaian hidup mereka. Keberhasilan proyek ini akan mempengaruhi suasana hati sang Creative Director, yang


artinya mimpi buruk bagi semua staf.


Mereka tidak ingin kejadian seperti saat mereka kehilangan proyek dari Klandestin terulang kembali, meskipun itu bukan yang pertama kalinya tapi lebih baik untuk tidak terulang lagi dan lagi.


Selama perbincangan dalam penantian yang menegangkan berlangsung yang ditunggu - tunggu akhirnya tiba. Wanita yang mengenakan blouse berwarna biru tua dengan rok motif kotak - kotak perpaduan warna cerah itu berjalan mendekat. Long jacket berwarna coklat yang dikenakannya melambai seirama dengan langkah kakinya.


Suara dari heels nya yang tidak terlalu tinggi terdengar dari ujung ruangan. Ketiga main person itu melihat kearahnya, memperhatikan raut wajahnya lebih tepatnya. Semakin dekat wanita itu kepada mereka, semakin jelas ekspresi wajahnya dapat mereka lihat. Seketika mereka bertiga ikut tersenyum saat melihat sedikit lengkungan di sudut bibir wanita itu.


“I clearly see a smile right there!” ucap Rezvan dengan suara lantang.


“Is it..” ucap Kenzo meggantung, “Perhaps..”


sambung Qeiza.


Calya yang melihat ketiga rekan kerjanya sangat penasaran semakin mengembangkan senyumnya sambil mendekat.


Mengkonfirmasi bahwa dugaan mereka benar. Ketiga main person terlihat sangat senang, mereka bahkan bersorak, berputar dan melompat kecil saking senangnya.


“You’ve worked so hard,” ucap Calya menyelamati mereka. Mereka melakukan tos satu sama lain.


“Oke.. berarti beberapa hari kedepan kita bisa hidup dalam damai, ” ucap Rezvan.


Terlalu senang hingga dia lupa kalimat itu cukup sakral, karena sekarang rekan - rekannya sedang menatapnya saat ini. Dua kaget dan satu heran, sepertinya dia akan berada dalam masalah.


“Maksudnya hidup dalam damai?” Tanya Calya dia jelas ingin tahu apa makna dari damai dalam kalimat barusan.


“Maksudnya karena satu proyek besar sudah lewat, sekarang kita bisa sedikit tenang,” Kenzo pria yang ahli merangkai kata itu menjadi penyelamat.


“Benar!” sambung Rezvan.


“Poor Rezvan, you must be under a lot of stress,” Qeiza mencoba menambahkan, walaupun ekspresi wajahnya terlihat agak canggung.


“We’ll back to work then,” ucap Kenzo kepada kedua rekannya, mencoba mencegah kalimat - kalimat lain yang akan menimbulkan masalah baru.


Calya mengiyakan dan mereka bertiga akan beranjak menuju ke meja mereka, tiba - tiba dia teringat ingin menyampaikan sesuatu kepada Qeiza.


"Oh iya Qei.." ucapnya secara spontan, yang mengakibatkan bukan hanya Qeiza tapi juga dengan kedua rekan pria itu.


Mereka berpikir Calya akan meminta mereka untuk mengerjakan suatu pekerjaan. Sementara Calya yang merasa kata - katanya tadi juga menarik perhatian rekan - rekan prianya mengurungkan niatnya untuk berbicara.


***


“Mba Calya, perwakilan dari Niskala sudah tiba,” ucap salah satu intern.


Sudah beberapa hari berlalu sejak pertemuan terakhir, sesuai perjanjian mereka akan membahas detail ide hari ini.


“Oke, semua sudah siap kan?” Tanya Calya pada rekan - rekannya. Kali ini Qeiza dan Kenzo yang akan ikut rapat bersamanya untuk menjelaskan detail ide kepada para klien.


Mereka langsung bergegas menuju ruang rapat, saat yakin bahwa tidak ada file - file penting yang tertinggal.


Tidak memerlukan waktu lama untuk mereka sampai di ruang rapat dan beruntungnya mereka karena para klien juga baru tiba, mereka berpapasan di depan pintu ruang rapat.


Artinya tidak ada yang merasa tidak nyaman karena menunggu atau ditunggu. Setidaknya itu yang seharusnya dipikirkan oleh semua orang saat ini, tapi tidak dengan satu orang. Calya, sejak berpapasan dengan mereka tadi dia sudah merasa tidak enak karena satu wajah. Wajah yang ditemuinya pada meeting sebelumnya.


Karena terlalu sibuk dengan pekerjaan dia lupa bahwa dia akan bertemu lagi dengan pria ini. Dia merasa pria itu sedang tersenyum penuh arti kearahnya, namun dia tak akan terpengaruh. Demi profesionalitas dia akan mengabaikan semua pikiran negatifnya tentang pria itu.


Itulah yang dia coba lakukan selama rapat berlangsung, dia tidak menyangka itu akan jadi lebih sulit dari pada menentukan ide untuk sebuah proyek. Bagaimana dia bisa menghilangkan pikiran negatif tentang pria itu di otaknya, sementara setiap dia tidak sengaja memandang ke arah klien dia mendapati pria itu sedang menatapnya.


Pandangan mereka bertemu dan itu sangat membuatnya tidak nyaman. Konsentrasinya terbagi, dia benar - benar berharap rapat ini cepat berakhir. Harapan itu akhirnya membantunya untuk menyelesaikan rapat.


Tepat sebelum pertemuan itu benar - benar berakhir, pria itu tiba - tiba buka suara dan


bertanya “Boleh saya tahu siapa yang bertanggung jawab atas proyek ini?”.


Qeiza menjawabnya dan mengatakan bahwa sebagai Creative Director Calya lah yang bertanggung jawab atas proyek ini. Pria itu kembali berbicara dia mengatakan bahwa demi kelancaran proyek ini akan lebih baik untuk tetap berdiskusi jika sewaktu - waktu ada perubahan yang diperlukan. Untuk itu ia perlu nomor ponsel orang yang bertanggung jawab atas proyek ini sebagai jalur komunikasi tercepat.


Calya terdiam dan berpikir, apakah dia harus ikut jatuh atau mengabaikan keadaan yang terlihat seperti jebakan di matanya ini. Sejenak terdiam di tengah - tengah pilihan antara gengsi dan profesionalitas kerja.


“Kenapa? Apa anda keberatan untuk berkomunikasi tentang proyek kita?” ucap pria itu lagi.


“Tentu saja… Tidak,” jawab Calya, dibenaknya ia lebih ingin menjawab -tentu saja saya keberatan-.


Dia mengeluarkan selembar kartu nama dan kemudian memberikannya. Pria itu mengambil kartu nama itu kemudian menyimpannya.


Kemudian ia mengulurkan tangan kanannya dan kembali berbicara “Semoga kita bisa bisa bekerjasama dengan baik mulai sekarang.”


Calya meraih uluran tangan itu sedikit ragu, mereka berjabat tangan. Pria itu tersenyum begitu juga Calya, tapi senyum yang dipaksakan.


Creative Department dimana semua orang terlihat sedang sibuk pada pekerjaannya masing - masing. Fokus dan tenang, kecuali satu orang yang terlihat terburu - buru. Mengetik dengan cepat, membereskan berkas - berkas di mejanya dengan cepat dan buru - buru meninggalkan meja kerjanya. Qeiza beranjak dari kursinya dengan cepat


menghampiri Calya.


Dia mengetuk pelan meja kerja temannya itu sebanyak tiga kali. Berusaha mengalihkan konsentrasi yang sekarang tertuju pada komputer menjadi kearahnya. Saat Calya menoleh Qeiza langsung menarik lengan temannya dan membawanya keluar dari ruangan itu. Pantry, sebuah ruangan dimana mereka bisa bebas berbicara tapi tetap memiliki alibi.


“Don’t you wanna tell me something?” tanya Qeiza.


“About what? Calya tak mengerti.


“Cal, Who was that guy?” Qeiza memulai proses interogasinya, “Rayshiva Zachery, our client,” jawab Calya santai.


“I sense something here, are you..?” Qeiza berbicara sambil memicingkan matanya.


“Wait, what? No!” awalnya Calya tak mengerti, namun ia segera menyangkal setelah menangkap maksud perkataan temannya itu.


“Aku bahkan belum bilang apapun. Pasti memang ada sesuatu. Tell me, what happened?” sangkaan yang terlalu cepat itu justru membuat Qeiza semakin curiga.


Qeiza yang sangat bersemangat saat menginterogasi membuat Calya bingung. Entah apa yang harus dikatakan atau dari mana harus memulai. Dia tidak bisa berbicara dengan baik sekarang. Bagaimanapun dia memang ingin menceritakan ini pada temannya itu, jadi ia menceritakan semua yang terjadi hari itu.


“Whoa.. he is into you!” ucap Qeiza setelah mendengar cerita lengkap dari temannya itu.


“Into me? What do you mean by into me? Dia cuma playboy yang merayu semua wanita,” Calya menolak simpulan yang dibuat temannya dengan sudut pandang miliknya.


“Look at you! Kamu bahkan belum kenal dia. Stop being defensive?” Qeiza mulai menceramahi Calya.


“Me? Defensive?” Calya tidak merasa seperti apa yang temannya itu katakana.


“Yes, you are. Always!” Qeiza sangat yakin dengan penilaiannya.


“Yeah, whatever,” Calya menyerah, tidak ada gunanya berdebat dengan temannya itu.


“So, what are you gonna do with him?” Qeiza bertanya kembali.


“Tidak ada sesuatu yang harus kulakukan. It’s just a business,” jawab Calya santai.


“How if it’s more than that, kemungkinannya juga tinggi” ucap Qeiza berusaha meyakinkan.


“Kemungkinannya memang tinggi bahwa orang - orang akan mencari kita kalau tidak kembali keruangan sekarang,” Calya mengalihkan pembicaraan sebelum khayalan temannya itu semakin menjadi – jadi. Dia menarik lengan temannya itu agar ikut bersamanya untuk kembali bekerja.


Mungkin dia terlihat tidak peduli sekarang tapi sebenarnya dia cukup khawatir, tentang apa yang dikatakan temannya tadi. Tentang kemungkinan yang bisa terjadi, dia cukup khawatir tentang apa yang harus dia lakukan jika itu terjadi.


Benar apa yang dikatakan Qeiza, bahwa Calya memiliki  mode defensive nya sendiri jika berkaitan dengan masalah ini. Pada saat seperti ini mode itu akan aktif dengan sendirinya.