LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Friendship



“Entah dia serius atau tidak, but i think he’s a good man.” itu yang disimpulkan Calya setelah mendengar kronologi yang diceritakan Qeiza.


“Bagaimana kalau dia cuma main-main?” tanya Qeiza.


“Itu juga mungkin. But he treats you well, right?”


“Too well actually, dan itu yang buat aku curiga. Like, selama kita kerja disini nga pernah ada yang namanya situasi romantis diantara kita kan? Not, at all. Masa iya setelah kejadian itu tiba-tiba dia jatuh cinta padaku dan ngajak pacaran. Mengangnya dia secret admire, apa?”


Qeiza mengeluh panjang. Dari awal wanita itu memang tidak pernah yakin untuk menjalin hubungan dengan Damian. Tapi dia tidak berada dalam posisi untuk menolak saat itu. Selain rasa terima kasih karena telah membantunya, juga karena tidak ada sedikitpun keraguan di wajah pria itu saat itu.


Walaupun Qeiza menerimanya, tapi wanita itu yakin bahwa Damian akan segera mengakhiri hubungan ini. Qeiza sadar sikapnya yang terlalu banyak menerapkan aturan dalam hubungan yang selalu menjadi alasan berakhirnya hubungan asmaranya. Maka dari itu Qeiza berpikir bahwa pria itu juga akan merasa lelah dengan sikapnya segera. Tapi yang dia rasakan malah sebaliknya, tidak ada sedikitpun sikap dari pria itu yang menunjukkan bahwa ia ingin mengakhiri hubungan mereka. Damian hanya terlihat seperti seperti pria yang baik. 


“Bagaimana kalau benar?” tanya Calya tiba-tiba.


“Apanya?”


“Bagaimana kalau selama ini dia memang sudah suka padamu?”


Qeiza mencoba mencerna kata-kata yang barusan diucapkan temannya. “Secret admire?” tanya wanita itu untuk memastikan, yang langsung dibenarkan oleh Calya.


“Impossible.”


“Kenapa langsung berasumsi begitu?”


“Karena memang terasa seperti itu”


“Entahlah, aku tidak mengerti. It’s your job to find the truth.”


***


Pertengkaran dalam persahabatan itu biasa. apalagi di antara pria. Karena teman baikmu juga manusia, kapanpun bisa berubah menjadi makhluk yang menyebalkan. Tapi yang lucu adalah, tak peduli seberapa kesal dirimu mereka tetap teman baikmu.


“Calya? Dia baik-baik saja.”


“Apa? Tidak, dia benar-benar terlihat baik-baik saja.”


“Dengar, kami berdiskusi panjang belum lama ini dan aku yakin dia baik-baik saja.”


“Apa maksudmu aku yang tidak sadar. Pergi dan tanya saja sendiri kalau kau tidak percaya denganku!”


Damian menutup teleponnya dengan kesal. Masih pagi tapi temannya sudah mengajaknya berdebat. Untuk apa dia bertanya jika tidak mau percaya, pikir pria itu. Namun meski merasa kesal Damian tetap punya niat untuk memeriksa kebenaran yang membuat temannya penasaran itu dan nasib baik memihaknya pagi ini.


Ting


Pintu lift yang akan dinaiki Damian terbuka. Secara kebetulan pria itu mendapati wanita yang barusan menjadi topik pembicaraannya ada didalam sana. Sungguh suatu kebetulan yang menguntungkan.


“Pagi.”


“Selamat pagi.”


Damian sedikit berpikir bagaimana caranya untuk mendapatkan jawaban yang ia inginkan setelah membuka percakapan dengan sapaan formal. Walaupun pada akhirnya hanya menggunakan cara yang paling mudah.


“Apa Anda sedang merasa kurang sehat?”


“Apa?”


“Seperti keluhan kesehatan atau penyakit tertentu, ada?”


Bagaimana perasaanmu saat seseorang tiba-tiba bertanya hal yang aneh padamu? Daripada menjawab mungkin kau akan bertanya balik, begitu biasanya yang terjadi. Itu juga yang dirasakan Calya saat ini. Meskipun merasa aneh, dia tetap harus menjawab pertanyaan atasannya itu.


“Apa ada alasan Saya harus merasa seperti itu?”


“Artinya Anda baik-baik saja.”


Dengan mendengar pertanyaan itu Damian dapat menyimpulkan bahwa kekhawatiran temannya itu tidak beralasan. Kenapa aku harus ikut campur, pikirannya. Dia sudah terlanjur ikut campur dan mendapat tatapan tajam dari Calya saat ini adalah harga yang harus dia bayar.


“Bukannya Saya mau ikut campur urusan pribadimu, cuma mewakili teman bertanya.”


“Tentu saja, silahkan.”


Sama seperti Damian, Calya juga ingin menggunakan kesempatan itu untuk mencari jawaban yang juga mengganggu teman baiknya. “Apa Anda serius dengan Qeiza atau hanya bersimpati saja?”


“Apa itu yang teman Anda pikirkan?” tanya Damian.


“Anggap saja hanya asumsi saya.”


Damian terdiam beberapa saat seperti memikirkan sesuatu, dan saat pria itu akan menjawab pintu lift terbuka. Mereka tiba di lantai tempat Creative Department berada, yang artinya Calya harus keluar dari lift sebelum bisa mendengar jawaban Damian.


“Hey” ucap Damian, Calya yang sudah diluar lift pun menoleh.


“How about finding time to talk about our friends?” tanya pria itu.


“Okay. Just tell me the time.”


***


“Secret admire? Tidak, tidak seperti itu.” ucap Damian. Setelah pembicaraan singkat yang terhenti di lift waktu itu. Mereka ini duduk di kafe dekat kantor melanjutkan topik pembicaraan yang sama.


“Jadi, Anda cuma bersimpati.” Calya menyimpulkan.


“Tidak.”


“Lalu, apa?”


“Saya hanya berkomitmen, bukankah itu yang terpenting dalam sebuah hubungan?”


“Berkomitmen. Oke, jadi maksud Anda semua yang lakukan padanya adalah bentuk komitmen. Tapi tanpa cinta?”


“Apa cinta sepenting itu? Apa itu harus ada di setiap komitmen?”


“Bukankah komitmen tanpa cinta dapat berubah dengan mudah?”


“Menurutku cintalah yang paling mudah berubah. Bagaimana menurut Anda? Hari mencintai orang ini, besoknya tidak dan di lain hari mencintai orang lain.”


Tawa Calya keluar tanpa sadar. Sejujurnya wanita itu menyangka saat mencari tahu jawaban atas nama temannya ini, dia akan mendengar jawaban-jawaban pasti. Seperti Aku memang sudah lama suka padanya atau Sebenarnya aku cukup iba padanya. Jawaban yang pasti, hitam atau putih. Tapi yang ia dengar barusan adalah abu-abu.


“Apa? Menurut Anda kata-kata saya terdengar lucu?”


“Tidak. Sebenarnya harus saya katakan bahwa saya sepemikiran dengan Anda. Tapi mungkin tidak dengan Qeiza. Kalian berdua sepertinya memiliki pandangan yang benar-benar berbeda tentang sebuah hubungan.”


“Sepertinya memang begitu.”


Jawaban abu-abu dari pria itu memang mengundangnya untuk bertanya lebih banyak. Tapi Calya tahu dia harus berhenti disini. Setidaknya dia sudah memastikan bahwa pria ini tidak punya niat untuk mempermainkan teman baiknya, sisanya biarkan mereka yang mengurusnya sendiri.


“Saya rasa Anda tahu apa tugas Anda sekarang.” Calya berniat menutup perbincangan mereka dan meninggalkan tempat itu. Namun pria itu kembali buka suara.


“Oke, giliran saya sekarang. Jadi apa yang ingin Anda ketahui.”


“Semua yang ingin saya ketahui sudah saya dapatkan”


“Bukan itu maksud saya.”


“Lalu?


“Ray.”


“Saya tidak ingin tahu apapun tentangnya.”


“Ayolah. Bukannya sudah kubilang, kita bertukar informasi.”


Calya terdiam kebingungan. Ini tidak seperti bertukar informasi, tapi dipaksa untuk menerima informasi. Sudah dengan jelas dia katakan tidak ingin mengetahui apapun, tapi dengan tegas pria itu berkata ingin memberitahunya apapun. Ini sama seperti atasan yang berkata aku akan mengatakan sesuatu jadi kau harus mendengarkannya.


“Ray dan Saya juga punya banyak perbedaan. Entah bagaimana pendapat Anda tentangnya saat ini tapi dia sangat jauh berbeda dulu.”