
"Karena tenggat waktu tinggal sebentar lagi, jangan lupa periksa kembali list pekerjaan kalian! Pastikan tidak ada satu hal kecil pun yang terlewatkan, mengerti?”
“Baik!”
“Ok. Rapat selesai.”
Semua orang berangsur keluar dari ruang rapat, termasuk Calya. Meskipun pada akhirnya wanita itu berjalan lebih lambat dari yang lain karena berulang kali harus mengecek pesan masuk di ponselnya.
“Cal!” Calya terperanjat saat seseorang tiba - tiba memanggilnya.
“Kamu ini!” Protes wanita itu seketika.
“Maaf.. maaf.. Habisnya kamu lama sekali jalannya.”
“Aku sedang memeriksa pesan masuk.”
“Pesan? Dari siapa?Arion atau Ray?”
“Bukan dari mereka berdua! Ada apa? Kamu mau bicara padaku?”
“Ya. Sebenarnya aku sudah berpikir kalau… Kamu ngapain Rezvan? ”
“Aku ingin tahu,” ucap pria itu dengan wajah polos.
“Ngapain kamu mau tahu urusan wanita?”
“Urusan wanita? Lalu kenapa kalian melibatkan aku?”
“Kapan kami.. aaahh maksudmu itu?” Qeiza berbisik kepada Calya, menjelaskan maksud perkataan Rezvan barusan.
“Terima kasih untuk waktu itu ya, Rezvan,” lanjut Calya.
“Iya, terima kasih. Nanti Calya akan mentraktirmu sebagai balasan.”
“Apa? Hmm.. ya, baiklah.”
“Tunggu dulu kenapa kalian berterima kasih? Ada apa sebenarnya? Calya juga berbicara aneh di telepon waktu itu, kalian tidak sedang…”
“Tidak.. Tidak.. Sana kembali kerja,” Qeiza segera memotong kalimat Rezvan dan mendorongnya pergi sebelum pria itu semakin membuatnya pusing.
***
“Kamu ini mengada - ada saja!”
Calya sejenak berhenti mengunyah makanan akibat refleks mengucapkan kalimat itu.
“Tentu saja tidak! Kenapa aku harus mengada - ada,” jawab wanita itu santai.
“Dia bisa saja kan menolak perjodohan ini, lalu kenapa dia ingin kamu menerimanya? Pasti dia ada hati denganmu.”
“Bukan seperti itu!”
“Lalu kamu tahu alasannya?”
“Mungkin masalah harta warisan atau sebagainya.”
“See, kamu aja nga yakin dengan alasannya.”
“Aku yakin kalau dia tidak punya perasaan apapun denganku!”
“Why?”
“Ingat live streaming waktu itu? Dia jelas - jelas bergandengan mesra dengan wanita.”
“WHAT! Siapa?”
“Pembawa acara itu.”
“Truly Cassanova.”
Untuk beberapa detik mereka kembali fokus pada kegiatan mereka sebelumnya, menyendok dan mengunyah.
“Bagaimana dengan Ray?”
“Jangan bicara tiba - tiba seperti itu, aku hampir tersedak!”
“Maaf, Jadi?”
”Jadi kenapa?”
“Aku tanya bagaimana dengan Ray?”
“Bagaimana apanya?”
“Jangan pura - pura tidak tahu. Kamu tahu dia menyukaimu, it’s fact and obvious.”
“Ya.. ya.. aku tahu.”
“Lalu?”
“Lalu kenapa?”
“Kamu nga mau pertimbangin perasaannya?”
“Tidak.”
“Kali ini apa alasannya?”
Calya tidak mengeluarkan alasan kali ini, mulutnya hanya terbuka dan mengatup karena makanan yang ia santap.
“Kamu mungkin belum begitu mengenalnya, tapi bukan berarti dia orang jahat.”
“You siding him? Why? Because he is your boyfriend’s best friend?”
“I am forever on your side. Aku nga mau kamu kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pria yang baik.”
“You worry too much on something which is not important. Aku udah selesai makan, Ayo kembali ke kantor,“ Calya bangkit dari kursi dan berjalan lebih dulu meninggalkan restoran.
“Kalau Calya tidak mau, maka aku yang akan melakukannya,”
***
Ketika berbicara tentang perusahaan besar, kata ‘sibuk’ seringkali mengikuti di belakangnya. Semakin besar suatu perusahaan, maka akan semakin banyak pekerjaan mereka. Tak heran jika para pegawainya sering mengesampingkan urusan pribadi demi menyelesaikan pekerjaan mereka dengan baik.
Tentu saja hal yang sama juga terjadi di Parama Ad. Sebagai salah satu perusahaan periklanan terkemuka, para klien selalu datang untuk bekerjasama. Mengakibatkan hampir tidak ada satu orangpun di perusahaan itu yang tidak sibuk. Entah mereka yang harus pandai mengatur waktu atau dengan sukarela berkorban, yang jelas sulit untuk menjadikan urusan pribadi nomor satu.
^^^'Dimana?'^^^
'Masih di ruangan.'
^^^'Aku tunggu di mobil.'^^^
'Duluan saja. Pekerjaanku masih banyak.'
Qeiza mematikan komputernya. Wanita sedikit mengusap matanya yang terasa lelah akibat menatap layar monitor seharian. Ia menatap sekeliling ruangan. Mendapati tidak ada satu orang pun disana. Kemudian memeriksa jam di pergelangan tangan kirinya.
“Sepertinya virus Calya benar-benar menular padaku. Bagaimana bisa aku bekerja hingga selarut ini?”
Wanita itu bergegas mengemasi barang-barangnya dan pergi. Seraya melangkah dia terus menggerakkan tubuhnya, meregangkan otot-otot yang terasa kaku akibat terlalu lama duduk. Mungkin ia terlalu lelah, hingga tak menyadari seseorang sedang memperhatikannya. Ia mungkin tak akan pernah sadar, jika saja suar pintu mobil yang menutup terdengar di telinganya.
“Damian?”
“Keluar juga? Aku pikir kau akan menginap disana?”
“Kamu nunggu aku dari tadi?”
“Memangya nunggu siapa? Pak satpam? Cepat masuk. Jangan sampai wajah kucelmu dilihat orang.”
“Aku rasa tadi udah bilang sama dia supaya duluan aja, kenapa dia keras kepala begitu,” gerutu wanita itu sambil berjalan masuk kedalam mobil.
“Aku lelah, aku mau langsung pulang saja.”
“Siapa yang minta pendapat mu? Aku kelaparan karena menunggumu. Sekarang giliranmu yang menungguku makan.”
“Makanya kubilang pulang duluan.”
“Kau bilang apa?”
“Tidak apa-apa. Fokus saja menyetir.”
***
“Tadi kau bilang lelah dan mau langsung pulang. Tapi sekarang malah makan lebih banyak dariku.”
“Lalu apa aku harus duduk diam dan melihatmu makan? Aku juga jadi lapar,” keluh Qeiza sambil mengunyah makanannya, membuat pria didepannya terkekeh.
“Kau pasti makin sibuk sejak kita mendapat banyak klien baru.”
“Sebanyak senangnya semua orang karena mendapat klien baru, sebanyak itu juga kesenangan waktu senggangku berkurang.”
“Aku akan usahakan agar kalian bisa dapat cuti. Kalian bisa gunakan untuk liburan.”
“Liburan? Yaa, itu sudah lama sekali,” Qeiza mengingat kembali kala ia dan timnya liburan bersama.
“Oh iya. Damian?”
“Kenapa?”
“Villa yang kami gunakan dulu, bukankah itu punya Ray?”
“Iya.”
“Kamu sepertinya sangat dekat dengannya. Orang seperti apa dia sebenarnya? Siapa orang tuanya? Apa dia punya saudara?”
“Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang Ray?”
“Aku hanya penasaran.”
“Kau bahkan tidak pernah bertanya apapun tentang diriku. Tell me honestly, apa benar-benar tidak ada yang ingin kau tahu tentang diriku?”
“Ah.. sudah malam! Ayo cepat kita harus pulang sekarang.”
***
Calya baru tiba d apartemennya. Selayaknya orang yang kelelahan, dia lebih memilih mendaratkan tubuhnya di sofa terdekat ketimbang melangkah lebih jauh ke kamar. Sebentar menutup mata, membiarkan otaknya penuh dengan segala pikiran yang entah apa. Sebelum kemudian matanya kembali terbuka. Tangannya mendekat ke sebuah nakas di samping sofa dan mengambil barang favorit nya. Barang yang akan membuatnya bertemu dengan teman pria virtualnya.
“Hai.”
“Hai.”
“Hari yang berat?”
“Sayangnya aku tidak bisa menggunakan timbangan untuk memperlihatkan seberapa beratnya hariku.”
“Kau bisa cerita padaku.”
“Aku merasa telah berbuat jahat.”
“Kenapa? Apa yang telah terjadi?”
Beberapa jam yang lalu kelitaCalya dan seluruh timnya masih terlihat sibuk dikantor. Sebuah pesan masuk sampai di ponselnya.
^^^‘Ayahku mengundangmu dan ayahmu untuk makan makan malam bersama. Hotel J jam 7.30. Kau akan datang kan?’^^^
Calya hanya mematung menatap layar ponsel dan pesan yang terpajang di sana. Dia merasa enggan untuk membalas pesan itu. Entah menjawab dengan jujur bahwa dia tidak ingin pergi atau berbasa-basi mengatakan dia tidak punya waktu, wanita itu tak ingin repot-repot mempertimbangkannya keduanya..
Saat dia memutuskan untuk mengabaikan pesan itu dan meletakkan ponselnya kembali, benda persegi itu kembali berdering. Kali ini sebuah panggilan masuk. Ternyata dia memang tidak diizinkan untuk lari dari persoalan ini.
“Iya.”
^^^“Tuan Darta mengundang kita untuk makan malam hari ini, datanglah.”^^^
“Ada banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan, aku tidak bisa...”
^^^“Pastikan untuk datang hari ini, ayah akan menunggumu.”^^^
Sambungan telepon diputus bahkan sebelum dia menyelesaikan kalimatnya. Calya berubah kesal. Wnita itu menggenggam ponselnya keras sebelum meletakkannya kembali dengan kasar, mencoba untuk kembali fokus pada pekerjaannya.
Beberapa menit kemudian Calya ternyata tak berhasil untuk berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya. Tak peduli seberapa keras dia mencoba, dia terus memikirkan perkataan ayahnya. Bahkan matanya terus melirik pada jam di sudut kiri bawah layar komputer tanpa sadar. Hingga akhirnya wanita itu menyerah dan mulai mengemasi barang-barangnya.
“Kau akan pergi sekarang? Bahkan Qeiza belum pulang,” ucap Kenzo tampak heran.
“Ya, ada urusan mendadak.”
“Baiklah.”
Calya tiba di hotel tepat waktu, meskipun ketiga pria itu sudah lebih dulu tiba. Mereka terlihat telah banyak berbincang sebelum dia bergabung di meja itu.
“Calya, duduklah,” Tuan Darta menyambutnya dengan Ramah.
“Maaf saya datang terlambat.”
“Tidak.. tidak.. Itu karena ada meeting yang dilakukan di hotel ini jadi kamilah yang datang lebih awal. Bagaimana keadaanmu, sekarang?”
“Sudah lebih baik.”
“Meskipun kau sibuk, kau tidak boleh lupa untuk menjaga kesehatanmu. Akan sangat berbahaya jika sampai sakit.”
Untuk sesaat Arion tersenyum sinis melihat tingkah ayahnya saat ini. Sungguh tidak bisa dipercaya ayahnya yang selalu acuh padanya secara tiba-tiba berubah menjadi sangat perhatian.
“Ya, terima kasih atas nasihatnya.”
“Bukankah proyek iklan game kita masih ditangani oleh Calya?” Tuan Darta bertanya pada Arion.
“Ya, kita memang sudah memperpanjang kontrak dengan mereka.”
“Bagus sekali jika kalian bisa terus bekerja sama, Arion juga bisa menjaga Calya sekalian.”
“Saya rasa itu...”
“Terima kasih atas niat baik anda.”
Ayah Calya kembali menyela kalimat anaknya, membuat wanita itu kembali kesal.
“Tidak perlu berterima kasih. Ini adalah sesuatu yang wajar.”
“Tapi Arion mungkin akan kerepotan.”
“Tidak masalah. Sebagai seorang pria jika dia tidak bisa menjaga seorang wanita, kelak dia tidak akan bisa menikah.”
“Benar sekali. Saya harus belajar tentang hal itu pada ayah. Bagaimana menjadi suami yang baik, benarkan ayah?”
Sindiran tersirat pada kalimat yang Arion ucapkan, bahkan ayahnya tahu itu.
“Dia akan jadi suami yang baik. Dia bisa menikahi wanita manapun dan tetap akan menjadi suami yang baik,” ucap ayah Calya.
“Jika Arion dan Calya sungguh berjodoh, aku akan bahagia.”
“Aku juga berpikir begitu..”
Calya mulai menhela napas dengan berat. Ia bahkan membuang pandangannya dari meja itu, seakan tak sanggup menerima arah pembicaraan ini selanjutnya.
“Tapi aku tidak bisa memaksakan jodoh putriku.”
Satu kalimat itu menyapu rasa kesal Calya dan menggantinya menjadi rasa heran seketika.