LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Investor



"Oke, sekarang giliran saya."


Kriiing… 


Niat Damian untuk bercerita langsung terhenti saat ponselnya tiba-tiba berdering. 


Pria itu meminta izin untuk mengangkat teleponnya kepada Calya dan berjalan menjauh. Sementara Calya yang harus menunggu juga akhirnya mengambil ponselnya untuk mengecek beberapa pesan masuk. 


Damian kembali beberapa saat kemudian setelah selesai menerima panggilan telepon. 


"Hmmm… maaf membuat Anda menunggu." Ucap pria itu merasa tak enak. 


"Tidak masalah." Jawab Calya. 


Namun raut wajah Damian masih terlihat tidak nyaman. Calya yang menyadari itu kembali bertanya "Apa terjadi sesuatu?"


"Tidak. Sebenarnya… iya."


"Apa? Bagaimana maksud Anda sebenarnya?"


"Anda ingat tentang rencana para eksekutif untuk mencari investor baru?"


"Rencana yang Anda diskusikan dengan saya waktu itu, bukan?"


"Iya. Rencana itu."


"Memangnya kenapa?"


"Salah satu investor tiba-tiba meminta untuk mengadakan pertemuan hari ini. Lebih tepatnya 30 menit lagi."


"Jadi maksudnya, anda mau meninggalkan saya sekarang dan mengingkari perjanjian kita?"


"Mengingkari rasanya kurang tepat. Mungkin bisa kita sebut menunda."


Calya berdecak kesal mendengarkan pembelaan pria itu. Lebih kesal lagi karena alasan yang Damian berikan tak bisa dia sanggah atau salahkan. Sekarang wanita itu merasa telah terbodohi. 


"Saya sangat menyesal. Tapi saja janji, pasti akan menepatinya lain waktu. Bagaimana?"


Damian menangkupkan kedua tangannya agar Calya tidak marah padanya. Walaupun dalam posisinya dia bisa saja langsung pergi setelah memberikan alasan. Tapi dia memang bukan tipe orang seperti itu. 


"Sudahlah. Anda bisa pergi sekarang." Pada akhirnya Calya hanya bisa menahan rasa kesalnya. 


"Pasti segera saya ceritakan." Ucap Damian sambil beranjak. 


"Just.. Go, please." Balas wanita itu mencoba tak peduli. 


***


Beberapa pria bersetelan jas terlihat berkumpul di dalam ruang rapat. Para petinggi dari dua perusahaan yang berbeda sedang serius mendiskusikan rencana kedua perusahaan. Namun untuk para pria paruh baya disana, sepertinya mereka lebih tertarik mengutarakan keinginan dan keluhan mereka dibanding kearah mana kedua perusahaan bisa berdiri berdampingan.


“Model iklan yang terakhir kali kalian gunakan sedang terlibat skandal. Lebih baik jika kalian bisa memperhatikan latar belakang sebelum memilih model kedepannya.” ucap pria berkumis tebal.


“Tenang saja, Pak. Jika nanti kalian ingin kami memproduksi iklan untuk perusahaan kalian, kami pastikan untuk menggunakan model terbaik. Asalkan, dengan budget yang lebih dari wajar tentunya.” jawab pria berjanggut tebal.


“Jangan hanya model terbaik. Jika modelnya lebih ramah juga akan sangat bagus.” tambah pria dengan rambut putih di alisnya.


“Apapun itu kalian tinggal buat daftarnya, dan kami akan langsung carikan sesuai dengan keinginan kalian.” jawab pria dengan tanda lahir di bawah matanya.


Keempat pria paruh baya tertawa tenggelam dalam tawa dan percakapan mereka. Sesuatu yang menurut mereka menyenangkan, tapi tidak bagi pria di ujung sana. Pria dengan setelan abu-abu itu merasa sedang berada di dunia yang berbeda. Baginya percakapan yang tidak sesuai dengan tema pertemuan itu sangat menyebalkan. Tapi untungnya itu tidak bertahan lama.


“Permisi. Maaf saya terlambat.” Damian yang terlambat beberapa menit langsung memasuki ruangan. Pria yang baru saja mendapat pemberitahuan tentang pertemuan itu bersyukur tidak menghabiskan terlalu banyak waktu dijalan.


“Silahkan bergabung, Damian.” ucap pria berkumis. Mengajak pria itu untuk berdiri di sampingnya agar dia bisa memperkenalkannya kepada para tamu. “Perkenalkan. Ini Erza Damian. Eksekutif termuda kami.”


“Senang berkenalan dengan anda.”


“Jadi ini Damian. Tidak masalah terlambat. Sangat wajar bagi anak muda untuk terlambat di akhir pekan. Bukan begitu, Cavero?” ucap pria berkumis tebal kepada pria dengan setelan abu-abu. Cavero, yang juga paling muda diantara tamu disana hanya tersenyum seadanya dan ikut berjabat tangan dengan Damian.


Sesaat setelah Damian tiba keempat pria paruh baya itu hampir memulai kembali percakapan mereka yang sempat tertunda. Untunglah Damian yang sudah hafal dengan situasi seperti itu langsung mengubah keadaan. Dengan tegas, pria itu membawa percakapan kembali pada topik pertemuan mereka, rencana kerjasama kedua perusahaan dan investasi yang akan diberikan.


Pertemuan berlangsung dengan lancar. Berkat peran Damian bukan hanya kerjasama yang berhasil disepakati tapi juga terhindar dari percakapan yang menyita waktu berharga mereka. Setidaknya beberapa dari mereka yang benar-benar ingin pergi telah berhasil melarikan diri.


“Presentasi yang luar biasa, Damian. Saya sangat menantikan kerjasama kita kedepannya.” ucap pria itu sambil mengulurkan tangan.


“Saya juga sangat berharap kerjasama kita bisa berjalan dengan baik kedepannya. Sekali lagi terimakasih atas kesempatannya.” jawab Damian dengan rendah hati.


“TIdak.. tidak.. sebenarnya saya yang harus berterima kasih.”


“Terima kasih? Terima kasih untuk?”


“Menyelamatkan saya dari percakapan para pria tua yang membosankan.”


Damian sedikit terkejut dengan kata-kata pria itu yang sangat terus terang. Tapi harus diakui bahwa Cavero mengekspresikan situasi tersebut lebih baik dari dirinya.


“Selanjutnya saya akan memerlukan bantuan anda” ucap Cavero lagi.


“Tentu saja. Bantuan apa itu?”


“Kedepannya jika situasi yang sama akan terjadi lagi, tolong selamatkan saya lagi. Karena jujur saja, saya tak pandai merangkai kata-kata dengan baik seperti anda. Jika saya yang bicara, itu akan menjadi provokasi.”


Kejujuran Cavero membuat Damian tertawa kali ini. Tapi kata-kata itu juga menunjukan bahwa mereka punya pandangan yang sama akan satu hal dan itu adalah permulaan yang bagus.


“Baiklah, saya tidak akan menahan anda lebih lama. Sampai jumpa lagi nanti.”


“Baik, kalau begitu saya permisi.” Damian kembali memasuki mobilnya dan kali ini benar-benar pergi meninggalkan tempat itu.


“Cavero Nalendra… pria yang menarik.”


***


“Sandyakala.”


“Sandyakala?”


“Masa kalian nga tahu. Top property company itu. Pemilik banyak perumahan elite, beberapa pusat perbelanjaan dan gedung-gedung tinggi di pusat kota.”


“Ooohh… Jadi maksudmu mereka yang invest ke perusahaan ini?”


“Iya. Apa nanti kita bakal pindah ke gedung baru yang lebih besar ya?”


“Kenapa bisa gitu?”


“Karena kalau perusahaan properti ternama bagian dari investor kita. Bukannya setidaknya kita bisa dapat fasilitas gedung yang lebih bagus?”


“Ah, masa iya?”


“Pssstt.. pssttt.. anak-anak manis. Kalau kalian sudah selesai cerita kita gantian pakai ruangan ini, ya?”


Qeiza dan Calya yang baru tiba di pantry menghentikan cerita dan khayalan pagi Rana dan Davidya. Kedua gadis itu buru-buru kembali ke ruangan mereka.


“Kamu udah dengar berita itu, Cal?”


“Baru tadi pagi. Menurut kamu kenapa mereka tiba-tiba setuju invest ke perusahaan ini, ya?”


“Mungkin demi pencitraan.”


“Pencitraan?”


“Baru-baru ini ada rumor yang beredar tentang Sandyakala.”


“Rumor apa?”


“Biasalah. Drama orang kaya.”


“Drama orang kaya apa?”


“Ituu.. masalah warisan.”


“Oooh…” ucap Calya tak terlalu peduli. Sejenak wanita itu berpikir, apakah drama itu akan memberi masalah untuk perusahaan ini nantinya? Karena jika iya, dia harus menghindar. Wanita itu sungguh tak ingin terlibat dalam masalah lagi kali ini.