LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Malam Pertama dan Terakhir



Di dekat pantai, semua orang sudah duduk mengelilingi api unggun. Qeiza dan Damian adalah yang terakhir bergabung dengan mereka. Selain api unggun berukuran sedang yang mengahangatkan tubuh mereka, sebuah botol kosong, botol berisi air, beberapa gelas plastik dan kaleng tanpa tutup juga terpajang disana. Semua orang terlihat mengobrol satu sama lain sembari menunggu empunya ide untuk berbicara.


Ting ting ting


Kenzo yang telah berdiri ditengah lingkaran, terlihat memukul botol kosong dengan ranting.


"Attention everybody!" Kenzo berhasil menarik perhatian semua orang disana.


"Welcome to our one and only holiday!" kalimat itu disambut tepuk tangan meriah semua orang.


"Malam ini adalah malam pertama sekaligus malam terakhir liburan kita," kalimat selanjutnya di respon dengan sorakan tak bersemangat dari orang-orang.


"Tapi berkat Creative Director kita tercinta, kita bisa melakukan liburan bersama. Tepuk tangan untuk Calya Shalitta!"


-Yaayy!- sorakan dan tepuk tangan meriah terdengar disana. Sementara orang yang tuju tampak tak terlalu bersemangat dengan perhatian yang ia dapat.


"Sekarang, untuk membuat malam ini lebih berkesan kita akan memainkan sebuah permainan. Permainan ini disebut 'Can Dare You!' (Tantangan Kaleng). Jadi ada botol disini fungsinya untuk memilih 2 orang. Orang pertama disebut Challenger (Panantang) dan orang kedua disebut Messenger (Pemabawa Pesan). Di kaleng ada banyak sekali kertas berisi pertanyaan dan perintah yang akan dipilih Messenger untuk Challenger. Jika Challenger gagal maka dia harus meminum satu gelas air lemon murni. Tapi jika Challenger berhasil maka Messenger yang harus minum."


Semua orang tampak mengingat - ingat instruksi yang telah disampaikan oleh Kenzo.


"Siap?" tanya pria itu, "YAA!" semua orang menjawab dengan penuh semangat.


"Okay! Let the game begin!" Kenzo memutar botol. Semua mata mengikuti ujung botol yang sedang berputar, hingga botol itu berhenti pada orang pertama.


"Let me be the Messenger," ucap Rezvan, orang yang dipilih botol.


"Bukan nya orang pertama jadi Challenger!" Rana menyerukan ketidak setujuannya.


"Sama aja kan!" Rezvan membela diri - "Beda dong!".


"Okay.. Okay!" Kenzo berteriak sambil menepuk tangan beberapa kali, menghentikan perdebatan disana.


"Kita tambah peraturan nya, orang pertama yang ditunjuk boleh milih jadi Challenger atau Messenger," pria itu kembali memutar botol dan berakhir pada Qeiza.


Kenzo mengisyaratkan kedua orang itu untuk maju ketengah, Rezvan mengambil kertas dalam kaleng. Sedikit senyum terlihat diwajahnya sebelum membaca kalimat dekertas itu.


"Sebutkan satu nama orang yang paling menyebalkan menurutmu!"


"REZVAN!" tanpa ragu Qeiza langsung menjawab pertanyaan, wanita itu menuang air lemon kedalam gelas dan memberikan nya kepada Rezvan.


"Ini tidak adil!" ucap Rezvan, terlihat ragu untuk meminum nya.


"Peraturan tetap peraturan!" Qeiza menggunakan tatapan tajam, memaksa pria itu untuk.


Rezvan meneguk isi gelas itu, sementara semua orang meneriakan 'one shot!' agar dia menghabiskan nya dalam sekali teguk.


Namun baru ditegukan pertama pria itu langsung berhenti minum. Raut wajahnya menggambarkan rasa dari air yang ia teguk -masam-. Malang nya penderitaan Rezvan malah menjadi hiburan bagi orang - orang disana. Mereka jelas menikmati pemandangan itu.


"Second round!" ucap Kenzo kembali memutar botol, dan berhenti tepat mengarah ke Wikan.


"Apa yang kamu pilih?" tanya Kenzo padanya.


"Challenger!" ucapnya tanpa ragu, disambut sorakan dari semua orang. Diluar dugaan botol mengarah pada Rezvan untuk kedua kalinya, membuat dirinya harus menjadi Messenger sekali lagi.


"Minta maaf pada seseorang disini yang membuat kamu merasa bersalah dan katakan alasannya!"


'Wooa ini sulit,'


'Apa yang akan dia lakukan,' Suara - suara bisikan terdengar meragukan Wikan, begitu juga dengan Rezvan.


Namun Wikan perlahan mendekati seseorang dan berlutut dihadapkan wanita itu. "Selama ini saya selalu menceritakan cerita tentang anda kepada karyawan magang lain. Saya minta maaf!" semua orang terlihat kaget.


Bukan karena melihat Wikan sedang berlutut,


tapi dihadapkan siapa dia melakukannya. Bahkan Calya -wanita itu- juga kaget mendengar pengakuan nya.


Begitu juga dengan Davidya dan Rana yang secara tidak langsung namanya juga disebut. Hanya Rezvan yang terlihat senang melihat adegan itu. Hanya sementara sebelum ia menyadari bahwa ia harus minum segelas lemon sekali lagi.


Botol kembali diputar, kali ini mengarah pada Rana. Wanita itu memilih menjadi Messenger, saat kemu putaran kedua mengarah pada Wikan.


Rana langsung menunjukan sikap seolah sedang memperingati Wikan untuk bersiap - siap meminum air lemon.


"Jawab satu persatu. Sebutkan nama orang yang paling kau takuti!"


Sungguh pertanyaan yang menakutkan bagi Rana. Dengan ragu dia menghadap kearah Calya, sambil mengatupkan kedua tangannya seolah sedang memohon ampun "Mba Calya," ucapnya sambil menutup mata. Semua orang terlihat menahan tawa melihat adegan itu.


"MBA CALYA!" jawab gadis itu seketika sambil tersenyum.


"She try to save me after killing me," ucap Calya pada Qeiza disebelah nya.


"You've been killed twice," jawab Qeiza sambil tertawa.


Botol kembali dan mengarah tepat pada orang yang telah dibunuh dua kali, Calya. Wanita itu itu memilih menjadi Challenger.


Botol yang diputar melambat kearah Ray, membuat Calya gugup. Namun wanita itu bernapas lega karena akhirnya botol itu berhenti didepan Damian. Kedua orang itu maju ketengah, "Jangan sampai minum lemon Cal" teriak Qeiza.


Rezvan dan Kenzo menatap kearah Qeiza, mengira Qeiza menginginkan Damian yang meminum ya. "What? Calya punya masalah lambung!" Qeiza membela diri.


"Ucapkan terima kasih pada orang yang bersamamu terakhir kali dengan gaya yang imut," ucap Damian sambil melihat kearah Calya.


Semua orang tahu siapa yang bersama dengan Calya terakhir kali, dan itu menambah beban Calya. Sepertinya dirinya sedang diserang untuk ketiga kalinya.


Sekarang ia akan mendapat serangan keempat, karena dia lebih memilih minum air lemon daripada melakukan perintah itu. Dia mengambil gelas berisi air lemon, namun seseorang merebut itu darinya dan langsung meneguk habis isinya.


"Isn't that cheating?" tanya Damian setelah melihat Ray meminum air lemon milik Calya.


"Why? Kan nga ada peraturan yang bilang kalo minum nya nga boleh digantiin!" Qeiza mencoba membela tindakan Ray.


Pria itu hanya mengangkat bahunya kemudian mengajak Damian untuk kembali duduk.


"What?" dia bertanya saat menyadari tatapan penuh tanya Damian padanya.


"Qeiza, what you choose?" tanya Kenzo setelah botol mengarah kepada Qeiza.


"May I choose after find out who's the other person?" mencoba memberikan saran. Tidak ada yang keberatan, botol kembali diputar.


Ray langsung maju setelah botol itu berhenti tepat mengarah padanya.


"I choose Messenger!" ucap Qeiza, dia sempat melirik Calya sebelum beranjak dari tempat duduknya. "Sebutkan wanita idaman anda?" sambil tersenyum tipis Qeiza membaca isi kertas yang ia pilih.


"Sebutkan wanita idaman kamu?".


"Wanita kaktus!" jawab Ray santai.


Qeiza tertawa lepas mendengar jawaban itu. Dia tahu persis siapa yang pria itu maksud. Namun dia tidak menyangka Ray akan menjuluki Calya sebagai wanita kaktus.


"Qeiza minum airnya" ucapan Kenzo mengakhiri tawa Qeiza. Dia lupa bahwa jika Ray dapat menjawab pertanyaannya berarti dia yang harus minum. Dengan wajah cemberut dia mengambil gelas air lemon dari tangan Kenzo.


"Guys! Siapkan obat setelah ini. Perutnya kan lemah.. Aww!" Rezvan seketika menjerit saat merasakan tangannya dicubit.


"Are you crazy? Laughing at someone else weakness!" Calya yang marah lebih menyeramkan dari Qeiza, cubitanjya juga lebih menyakitkan.


Itu yang dipikirkan Rezvan sambil mengelus lengannya yang tampak merah. Tiba - tiba Ray kembali merebut gelas dari tangan Qeiza, namun kali ini diberikan kepada temannya. .Damian menatap Ray penuh tanda tanya.


"Jadilah gentlemen sepertiku" Ray berisik pada Damian dan menepuk bahunya. Damian hanya bisa menghela napas sebelum meneguk habis isi gelas tersebut.


"Tunggu! Bukankah tidak adil hanya kau yang tidak ikut bermain? Sekarang giliranmu Challenger atau Messenger?" ucap Rezvan tiba-tiba menggantikan Kenzo.


'Pilih.. Pilih.. Pilih..' semua orang bersorak menyetujui usulan Rezvan.


"Baiklah.. Baiklah.. Messenger!" botol kembali diputar, dan lagi - lagi berhenti darah Qeiza.


"Again?" wanita itu mulai merasa kesal. Namun ia tetap maju ketengah.


"Whooa.. It's going to be fun. Jika kau dan sahabatmu menyukai orang yang sama, siapa yang akan kau pilih?" Kenzo menatap Qeiza dan Calya bergantian.


"Itu mustahil!" ucap Qeiza, "Kenapa mustahil?" tanya Damian tiba-tiba.


"Tentu saja mustahil! Satu tidak pernah tertarik dengan pria, sedangkan tertarik dengan begitu banyak pria.. Aww!" sebuah pukulan kembali dirasakan oleh Rezvan, sepertinya pria itu tidak pernah bosan.


"Kalaupun itu terjadi, aku pasti memilih Calya!" Qeiza kembali menjawab.


"Tentu saja dia akan memilih Calya pada akhirnya, hubungannya dengan pria kan hanya bertahan beberapa hari!" ucap Kenzo mengejek.


"Sepertinya kamu bekerja terlalu keras belakangan ini. Silahkan minum semuanya, kamu pasti dehidrasi" Qeiza mengambil botol air lemon dan memaksa Kenzo meminum isinya yang hampir setengah botol.


Kenzo yang terpaksa minum terlihat menderita karena menahan rasa asam, membuat semua orang tertawa.