
Sepertinya aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini.
Maafkan aku, sebenarnya dari awal aku tidak yakin.
Aku tidak pernah bermaksud bermain-main
“AHHHhhh..” Qeiza mengeluh.
Kepalanya saat ini sedang dipenuhi banyak pikiran. Otaknya sibuk memikirkan dan menyusun kata-kata yang akan ia gunakan nanti. Ya, pada akhirnya ia memutuskan untuk jujur pada pria itu. Meskipun dengan terpaksa. Jika bukan karena pria itu nekat ingin menunggu di rumahnya agar bisa bertemu dengannya, Qeiza pasti masih dalam menggunakan taktik kucing-kucingan sekarang.
“Kenapa dengannya?” Tanya Rezvan pada Kenzo.
“Entahlah.”
“Tadi tiba-tiba bilang ingin ikut meeting dengan klien. Tapi dari tadi dia hanya melamun. Tak satupun kata dan ide yang keluar dari mulutnya, TAK SATUPUN!”
Rezvan dengan sengaja menaikkan volume suaranya di akhir kalimat. Maksud hati ingin membawa Qeiza kembali ke kesadarannya sekaligus mengeluarkan isi hatinya.
“Tidak perlu berteriak seperti itu, aku dengar semuanya!”
“Oh, kau dengar rupanya. Kau dengar dan hanya pura-pura tuli selama kita meeting tadi!” tanggap Rezvan dengan nada bicara yang ketus.
“Kalian pikir aku ikut meeting ini karena ingin membantu kalian, aku cuma ingin mengawasi apa kalian bisa kerja dengan benar atau tidak!”
“Mengawasi? Kau? Mengawasi kami? Kau pikir dirimu itu Calya! BIlang saja kalau kau cuma ingin bolos dari kantor!”
“Sebelum menuduhku setidaknya gunakan dulu otakmu dengan baik.Kalau aku memang ingin bolos dari kantor, aku tidak akan ikut meeting yang jelas-jelas membuatku pulang lebih larut.”
“Benar juga.”
Qeiza dan Rezvan berargumen sedari tadi untuk sejenak diam. Sedangkan Kenzo yang sedari tadi diam memperhatikan mereka kini mulai berbicara.
“Belakangan ini kau sangat aneh Qeii, lebih banyak bekerja bahkan hingga larut.”
“Tidakkah seharusnya kalian bersyukur aku melakukan itu, kenapa malah mengataiku aneh?”
“Kalau Calya yang melakukannya kami jelas bersyukur, tapi kalau kau itu aneh namanya.” Rezvan buru-buru menarik tangannya yang hampir saja dicubit oleh Qeiza.
“Apa jangan-jangan kau sedang putus cinta? Kau selalu bersikap aneh saat putus cinta.”
“Apa? Memangnya kapan kau punya pacar baru?”
“Semuanya aku pergi.”
Qeiza beranjak meninggalkan kedua rekan kerja dengan spekulasi mereka. Spekulasi yang hampir benar dan tak mungkin ia benarkan. Bagaimana mungkin ia akan membenarkan situasi yang bahkan tidak pernah dikonfirmasi sebelumnya. Lagipula ia akan segera mengakhiri hubungan ini, jadi bisa dianggap kalau hubungan ini tidak pernah terjadi.
Qeiza turun dari taksinya, tepat di seberang jalan dari sebuah kafe. Mereka berjanji untuk bertemu disini. Atas usul Qeiza agar pria itu tidak datang kerumahnya. Hari sudah gelap, hingga Qeiza bisa melihat pria yang saat ini sedang duduk menunggunya di dalam kafe.
Saat Qeiza sedang menyebrangi jalan, tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri Damian. Tentu saja Qeiza dapat melihatnya dengan jelas. Dia berdiri diam ditempatnya hanya untuk memperhatikan gerak-gerik kedua orang disana. Kedua orang boleh dikatakan cukup dekat untuk ukuran orang dewasa.
Wanita itu berbicara sambil tersenyum manis pada Damian. Sesekali menyentuh bahu Damian dan berusaha mengambil ponsel pria itu. Qeiza yang melihat semuanya dari luar mulai berpikir apa mereka punya hubungan khusus?
***
“Apa yang sedang kau lakukan sekarang?” Tanya Calya pada pria didepannya.
“Tidakkah kau lihat? Dengan semua hidangan ini tentu saja aku sedang menyantapnya.”
“Kau bilang ingin membahas masalah pekerjaan.”
“Memang.”
“Lalu kenapa sekarang malah makan.”
“Apa aku tidak boleh makan kalau lapar? Tidak ada aturan yang melarang untuk makan.”
Wanita yang sedari tadi sudah merasa kesal itu mencoba menahan amarahnya. Tubuhnya bersandar pada kursi dan kedua tangannya dipasang menyilang didepan dada, sementara matanya menatap tajam ke arah pria itu.
“Hei, jangan seperti itu. Apa tidak ada yang pernah bilang padamu kalau tidak boleh mengeluh di depan makanan. Sudah makan saja dulu.”
Calya mulai menurunkan tangannya, bergerak mendekati peralatan makan hingga akhirnya ikut menyantap hidangan disana.
“Jadi, apa yang ingin kau bahas sebenarnya?” tanya Calya lagi setelah mereka menyelesaikan makan malamnya.
“Astaga, kau ini kaku sekali! Bagaimana bisa kau langsung membahas masalah pekerjaan begitu selesai makan.”
“Memang itu tujuanmu memanggilku kesini kan? Atau kau cuma berbohong?”
Calya bagai seorang polisi yang sedang menginterogasi seorang tersangka saat ini. Raut wajah dingin, nada suara ketus dan tatapan yang tajam membuat siapapun pasti merasa tidak nyaman saat ini.
“Baiklah, aku akan jujur. Aku tidak mengajakmu kesini untuk membahas masalah pekerjaan.”
“Lalu?”
“Untuk menyogokmu.”
“Apa?
“Meminta bantuanmu, maksudnya.”
“Bantuanku?”
“Sebentar lagi perayaan ulang tahun Radhika Grup yang ke-30…”
“Lalu?”
“Aku ingin kau menemaniku menghadirinya. Aku akan siapkan siapkan semuanya yang kau perlukan, baju, sepatu, tas, perhiasan..”
“Terima kasih...”
”Tidak perlu berterima kasih, lagi pu..”
“Tapi aku menolak.”
“Apa?”
“Aku rasa aku tidak harus hadir.”
“Ayahku pasti mengundang keluargamu.”
“Kalau begitu Ayahku yang akan pergi.”
“Perusahaan juga akan diundang.”
“Para pejabat tinggi pasti akan hadir.”
***
“Cal, let’s go grab some food!” ajak Qeiza dengan semangat, tepat begitu jam istirahat kantor tiba.
“Kalian mau makan dimana? Ayo pergi sama-sama.”
Kenzo dan Rezvan yang juga akan pergi makan siang ingin bergabung bersama mereka.
“No! kalian cari termpat sendiri sana,” bantah Qeiza.
“Jangan-jangan…” ucap Rezvan menggantung. Matanya yang awalnya sudah sipit semakin ia perkecil selaras dengan pikirannya yang penuh selidik. “Kalian mau pergi makan gratis ya!”
“Hei! Memangnya gajimu di Creative Department tidak cukup banyak? Jangan membuat Calya malu.” jawab Qeiza, rasa kesal terasa disetiap kata yang ia keluarkan.
“Jadi kenapa kami tidak boleh bergabung?”
Qeiza dan emosinya baru akan menyahuti rekan kerjanya itu lagi sebelum Calya menghentikannya.
“Sudah.. sudah! Sementara kalian berdebat, waktu istirahat kita semakin habis.”
“Ayo buruan Cal!”
Calya mulai beranjak dari meja kerjanya menghampiri tempat ketiga rekan kerjanya berdiri.
“Waahh.. Kalian benar-benar tidak akan mengajak kami?” tamya Kenzo mulai kecewa.
“Maaf, ini urusan pribadi,” ucap Qeiza sementara keduanya mulai berjalan pergi.
“Sejak kapan ada urusan pribadi diantara kita! Qeiza! Calya!”
***
“Kamu serius?” Calya hampir saja tersedak kopi yang sedang ia teguk. “Damian bersama seorang wanita? Maksudmu dia selingkuh?”
“Aku tidak yakin. Tapi, mereka terlihat akrab.”
“Men are men.”
“Bukankah ini bagus?”
“Apa? Kamu bercanda?”
“Listen! Kalau dia memang selingkuh, aku bisa jadikan itu sebagai alasan untuk putus tanpa merasa bersalah. Tidak kusangka aku seberuntung ini.”
“Kalau memang itu maumu, kenapa tidak langsung lakukan kemarin?”
“Tidak bisa. Buktinya belum cukup.”
“Kau bilang memergoki mereka berdua?”
“Iya, tapi bagaimana jika menyangkal dan membuat alasan? Aku tidak mau kehilangan satu-satunya kesempatan emasku.”
“Baiklah, lakukan sesukamu.”
TING
Kedua ponsel wanita itu bunyi bersamaan. Keduanya langsung mengambil ponsel masing-masing dan memeriksa pesan masuk.
“Creative Director - Art Director, kalian sudah selesai makan belum? Ada tamu di ruangan sekarang.”
“Siapa yang datang?” Tanya Qeiza dengan wajah bingungnya.
“Entahlah. Ayo!”
Kedua wanita itu bergegas kembali ke kantor setelah membaca pesan dari Kenzo. Merasa penasaran dengan tamu yang dimaksud rekan kerjanya itu. Namun rasa penasaran itu terganti dengan rasa heran tatkala mereka sampai dan bertemu langsung dengan sang tamu.
“Sepertinya tidak ada janji temu yang kita buat hari ini, Tuan Arion.”
Arion yang duduk santai di ruang meeting Parama Ad tidak terlalu memedulikan pertanyaan Calya padanya. Sementara Qeiza, Kenzo dan Rezvan yang menyadari aura dingin dari pimpinan mereka hanya bisa diam dan memperhatikan.
“Tiba-tiba dingin sekali disini, apa sebaiknya AC nya kunaikkan?” ucap Kenzo berbisik pada kedua rekan kerjanya.
“Dia tipe yang melakukan apapun yang dia mau rupanya, cukup menyebalkan,” ucap Qeiza juga berbisik.
“Apa? Siapa?” bisik Rezvan yang sedang menyerahkan remote AC pada Kenzo.
“Cuma ingin mengunjungi. Bagaimanapun kita mitra kerja, jadi tidak masalah kan jika saya sesekali berkunjung?”
Mendengar kalimat Arion membuat Calya tersenyum sinis.
“Tidakkah Anda datang terlalu sering? Orang bisa mengira Anda salah satu pemegang saham disini, datang tanpa pemberitahuan.”
“Mereka sepertinya saling membenci.”
Bisik Kenzo, membuat Qeiza hampir tertawa.
“Kalian tidak tahu apa-apa.” ucap Qeiza pelan.
“Apa? Apanya?” tanya Rezvan kebingungan.
“Apa kedatanganku mengganggu? Aku lihat kalian sepertinya tidak sibuk.”
“Tentu saja! Kami diwajibkan meluangkan waktu untuk setiap tamu yang datang.”
“Apa tidak masalah bersikap seperti ini padanya, dia klien kita.”
Kenzo sang pengamat terus memberi komentar dengan pelan seolah sedang menyaksikan serial televisi. Situasi ini membuat Qeiza menghela napas berat.
“Kalian benar-benar tidak tahu apa-apa.” ucapnya.
“Apa? Apa maksudnya?” Sementara Rezvan, satu-satunya orang yang terjebak dalam kebingungan terus bertanya.
“Terima kasih telah meluangkan waktu Anda yang berharga untuk mengunjungi kami, Tuan Arion. Tapi kalau boleh saya tahu, ada tujuan apa sampai Anda repot-repot mampir?”
Qeiza berinisiatif bertindak agar tidak terus terjebak dalam perang kata-kata yang tak ada habisnya.
“Tujuan? Tentu ada.” ucap Arion. Pria itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya meletakkannya diatas meja.
“Mungkin kalian sudah dengar dari berita tentang perayaan ulang tahun Radhika Grup yang sebentar lagi dilaksanakan. Saya secara pribadi mengundang tim ini untuk hadir di pesta itu.”
“Anda kemari untuk memberikan itu?” tanya Calya dengan nada suara yang terdengar kesal.
Arion tertawa sinir mendengar pertanyaan dari Calya.
“Kenapa Anda bertanya seperti itu? Sepertinya Anda...”
“Merasa tersanjung! Kami merasa tersanjung Anda sendiri repot-repot datang untuk mengundang kami, benarkan?” ucapa Qeiza berusaha mengendalikan situasi.
“Benar!” - “Tentu saja!” ucap Kenzo dan Rezvan bersamaan setelah sebelumnya mendapat kode senggolan di lengannya.
Untuk beberapa saat suasana hening. Calya dan Arion saling lempar tatapan dingin membuat ketiga orang lainnya yang ada disana merasa canggung. Qeiza kembali menyenggol lengan Kenzo. Memberi kode dengan matanya, mengarahkan pria itu pada undangan yang tergeletak diatas meja.
“Kami terima undangannya. Sekali lagi terima kasih,” ucap pria itu setelah mengambill undangan yang terletak tak jauh diantara dia dan Arion.
Arion mengangguk sekilas, mulai beranjak dari kursinya dan berbicara.
“Saya sudah mengutarakan tujuan saya. Tidak ada alasan untuk tetap tinggal, bukan?” ucap pria itu sarat akan sindiran.
Keempat anggota tim Creative Department ikut berdiri dan bersiap mengantarkan kepergian pria itu. Tepat sebelum Arion akan melalui Calya, dia kembali berhenti dan berbicara.
“Saya rasa kalian juga diwajibkan meluangkan waktu untuk menghadiri undangan dari tamu, benarkan?” ucapnya seraya tersenyum kemudian berlalu pergi