LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Lupakan!



“Cal! Wake up! Cal!”


Qeiza dengan semangat menguncang tubuh wanita itu agar dia terbangun. Calya yang tadinya tak bergeming akhirnya terbangun karena merasa terganggu.


“Ada apa?” tanya wanita itu dengan suara serak, khas orang yang baru bangun tidur.


“Ayo keluar, kita lihat sunrise!” Qeiza begitu bersemangat.


“Tidak mau! Kamu saja sendiri!” Calya kembali menyelimuti tubuhnya.


“Come on!” Qeiza berusaha merebut selimutnya.


“Let me sleep!” Calya yang malang. Ia bahkan tidak dapat membuka matanya selama berdebat dengan Qeiza, ia terlalu mengantuk.


“Cepatlah! Dasar tukang tidur!” saat Qeiza menariknya dengan paksa, mau tidak mau ia membuka matanya bahkan menggerakkan seluruh tubuhnya.


Kedua wanita itu duduk ditepi pantai, menunggu matahari terbit sambil bermain dengan smartphone mereka.


“Apa sekarang sedang mendung?” tanya Qeiza.


“Mana kutahu!” jawab Calya asal.


“Memangnya kenapa?” tambahnya lagi.


“Kenapa mataharinya belum kelihatan juga? Aneh sekali. Padahal sekarang sudah cukup terang,” Calya mengabaikan keluhan Qeiza.


Cukup tidurnya yang diganggu, jangan sampai pikiran tenangnya juga diganggu. Tapi tetap saja otak wanita itu berpikir. Dari gelap sampai sekarang terang, matahari terbit tak kunjung muncul, aneh sekali.


“Padahal kemarin kita berfoto dengan matahari terbenam. Kalau kita bisa berfoto dengan matahari terbit, koleksi foto kita akan lengkap,” Qeiza masih terus mengeluh sementara, Calya masih berusaha menggunakan otaknya.


“Tunggu dulu, bukankah kemarin kita berfoto dengan sunset disini?” Calya mulai terpikirkan akan sesuatu.


“Ya, tepat didekat batu itu,” Qeiza menunjuk kearah batu besar yang berada dekat dengan mereka.


“You stupid!” ucap Calya tiba – tiba.


“What!”


“Kalau matahari terbenam terlihat dari depan pantai, itu artinya matahari terbitnya akan terlihat dibelakang sana. Bukan disini!” Calya akhirnya menemukan logika dan keganjilan yang mereka alami.


Qeiza tertawa lepas saat akhirnya mengerti maksud perkataan temannya. “Aku lupa,” katanya disela – sela tawanya.


“Bagaimana bisa aku juga terlibat dengan tingkah bodohmu,” Calya merasa kesal, namun akhirnya tertawa bersama dengan temannya.


“Ini dia wajah Calya yang mengantuk!” Qeiza dengan usil merekam wajah Calya saat wanita itu sedang memainkan smartphone miliknya.


“Hey! Matikan! Qeiza! Hapus!” Calya berteriak dan berusaha merebut smartphone milik Qeiza.


“Why? Ini buat kenang – kenangan Cal~” Qeiza terus berjalan mundur.


“Hapus nga! Qeiza!” Calya semakin berteriak melihat temannya itu kini berlari menjauh.


Kedua sahabat itu terlihat berlarian ditepi pantai. Calya masih berusaha mengejar Qeiza dan smartphone miliknya, sementara Qeiza ternyata cukup gesit untuk terus menghindarinya. Keduanya berlari semakin jauh, hingga membuat Calya lupa telah meninggalkan sesuatu disana.


Tak jauh dari sana seorang pria sedang berjalan menyusuri pantai. Sesekali tangannya dia gerakkan keatas dan


kesampin, meregangkan tubuhnya. Langkah pelannya terhenti saat kakinya tanpa sengaja menginjak sesuatu.


Dia membungkuk untuk mengambil benda itu, keningnya mengkerut saat tangannya menggenggam smartphone itu. Dia menyentuh layar smartphone, berusaha mencari tahu siapa pemiliknya. Sebuah gambar terlihat saat layarnya menyala, dia memperhatikan gambar itu cukup lama seakan mencoba mengingat sesuatu.


“Itu milikku!” ucap Calya sambil mengambil kembali smartphone miliknya dari tangan Ray.


“Lalu kenapa kau tinggalkan disini?” pria yang setengah kaget itu mencoba bertanya.


“Karena aku lupa!” wanita itu setengah berteriak.


Dia kembali memeriksa barangkali pria itu telah menggeledah smartphone miliknya.


“Kamu..” ucap Calya setelah sejenak berpikir, “Mulai sekarang harus melupakannya!” tambahnya.


“Apanya?” Ray tidak mengerti dengan maksud ucapan wanita itu.


“Lupakan semua yang terjadi kemarin dirumah pohon!” Calya memperjelas ucapannya.


“Rumah pohon? Ahh.. maksudmu tentang pengakuan…”


“STOP! Do not mention it ever again! Dan lupakan semuanya!”.


“Tidak mau!” jawab pria itu acuh.


“Apa?” Calya terdengar kaget akan kalimat pendek yang baru saja dia dengar, namun kalimat setelahnya lebih membuatnya kaget.


“This is my feeling and this is my mind. Terserah padaku mau diapakan,” Calya hanya diam. Sulit untuk tidak marah setelah mendengar itu, meski begitu dia tetap berusaha untuk mengendalikan emosinya.


“Selain itu.. lebih baik kau bersiap – siap,” ucap pria itu lagi. Calya mengernyitkan dahinya.


“Bersiap – siap untuk apa?” wanita itu terkisap saat melihat pria itu mulai melangkah maju. Tubuhnya hampir bergerak mundur secara spontan.


“For my next move,” ucapnya sambil tersenyum.


Sebenarnya itu hanya senyum biasa, tapi wanita itu terlanjur menganggapnya sebagai ejekan. Dia dengan cepat mengambil langkah seribu, meninggalkan pria itu disitu.


“Cal! Calya!” Qeiza melihat calya berjalan kembali menuju villa.


“Ada apa dengannya? Handphone nya sudah ketemu atau belum?” wanita itu terus memperhatikan langkah temannya yang semakin lama semakin menghilang.


Tanpa sadar langkah pelan wanita itu mempertemukannya dengan Ray yang masih berdiri disana.


“Handphone nya sudah ketemu,” ucap pria itu, yang tanpa disengaja mendengar apa yang Qeiza barusan katakana.


“Oh..” Qeiza hanya mengangguk. Diam – diam dia berpikir apa temannya barusan bertemu dengan Ray.


“Boleh aku tanya sesuatu?” pria itu kembali berbicara.


“Tanya apa?” Qeiza menjawab.


“Does she has boyfriend?” tangannya  menunjuk kearah Calya pergi sebagai maksud. Sementara Qeiza yang hanya diam menatap membuatnya heran.


“Ini kedua kalinya!” akhirnya wanita itu mulai bicara.


“Apa?” membuat Ray tak mengerti.


“Waktu itu anda bertanya tentang alamat rumahnya. Sekarang anda bertanya tentang masalah pribadinya. Apa anda berpikir saya akan menjual informasi peribadi teman saya?” walau Qeiza selalu menggoda Calya saat membicarakan tentang Ray, bukan berarti dia memihak pria itu. Qeiza akan memastikan apa pria ini cukup baik untuk temannya.


“Kau tidak inign membantuku?” pria itu bertanya dengan santai.


“Membantu untuk apa?” kali ini wanita itu yang dibuat bingung.


“I confessed to your friend yesterday. Don’t you want to help me?”.


“You WHAT!” ucap Qeiza seketika sambil menutup mulutnya.


“Whooaa..” dia menganggukan kepalanya sambil bertepuk tangan.


Qeiza mengakui keberanian pria didepannya ini, sesuatu yang belum pernah pria lain lakukan pada temannya.


“I’m Calya’s friend, not yours. You can go find someone else if you need help,” meski begitu tidak merubah niatan Qeiza untuk tak berpihak pada pria didepannya ini.


Menurutnya seorang playboy juga bisa sangat berani dan percaya diri, dan orang didepannya ini mungkin juga salah satunya.


“Baiklah kalau begitu?” Ray menjawab dengan santai dan pergi meninggalkan Qeiza disana.


“Whoooaa.. he is cool!” ucap wanita itu sambil menatap handphone nya.


“Siapa?” suara seorang pria tiba – tiba terdengar “You shock me!” ucap Qeiza yang tadinya mengira bahwa ia hanya sendirian disana.


“Apa jangan – jangan.. anda punya perasaan pada Ray?” Damian kebetulan melihat percakapan antara Ray dan Qeiza dari jauh. Pria itu mulai berpikir ada sesuatu antara mereka berdua.


“Apa!” Qeiza dibuat kaget untuk kedua kalinya setelah mendengar ucapan Damian.


“Atau.. anda hanya ingin bersenang – senang dengannya selama beberapa hari? Setidaknya salah satu dari rumor itu pasti benar,” ucap pria itu melanjutkan.


Qeiza kehabisan kata – kata. Bagaimana bisa pria itu menyimpulkan hal seperti itu tentang dirinya. Dia juga mulai berpikir bahwa orang – orang telah menyebarkan rumor gila tentang dirinya dikantor.


“Terserah anda mau berpikiran seperti apa! Saya tidak berpikir saya harus menjelaskan apapun pada anda!” ucap Qeiza.


Dengan penuh rasa kesal dia berjalan kembali ke villa.


“What are you doing?” ucap Ray yang sedang berjalan mendekatinya.


“Handphone mu bordering beberapa kali, mungkin saja penting,” ucap Damian sambil menyerahkan handphone milik Ray. “Thanks.”