LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Tidak Penting



“Tega sekali kamu.”


“Maaf.”


Qeiza duduk diatas sofa sambil memeluk bantal kursi. Tatapan nya dengan tegas tertuju pada Calya meskipun raut wajahnya terlihat terlalu imut untuk orang yang sedang marah. Sementara Calya hanya bisa duduk disampingnya, bola matanya menghindari menatap temannya tanda ia merasa bersalah.


“Why? Why you leave me alone?”


“Aku lupa kalau kamu ngajak pulang bareng.”


“How come you forget me Cal! Aku bukan gantungan kunci yang keberadaannya tidak penting! I’M YOUR Friend! Apa Aku tidak penting!”


“Ok.. ok.. i’m sorry! I’m really - really sorry!”


Calya mengatupkan kedua tangan didepan wajahnya. Qeiza jarang sekali marah, tapi jika ia sampai marah maka urusannya bisa panjang. Calya tak mau hal itu sampai terjadi.


“Kalau kamu nga ninggalin aku, aku nga akan ketemu Fabian dan..”


“FABIAN! Kenapa? Apa yang dia lakuin ke kamu?”


“Makanya dengerin aku dulu!”


Qeiza mulai merengek seperti anak kecil, membuat Calya hanya bisa diam. Wnita itu sebisa mungkin mencoba untuk tidak menyela perkataannya sebelum Qeiza selesai berbicara.


“Apa dia gila? Kenapa bisa ada orang yang tidak tahu malu seperti dia!” ucap Calya setelah akhirnya bisa kembali berbicara.


“Untung saja ada Damian disana, kalau tidak aku tidak tahu lagi. The thing is, i really want him to stay away from me. Tapi kenapa dia berpikir sebaliknya? Kadang aku tidak mengerti.”


“Tentu saja, ada banyak sekali orang seperti dia diluar sana, menganggap semua orang pasti menyukainya. Seharusnya itu digolongkan sebuah penyakit, agar dia bisa dirawat. So, Damian helped you?”


“Yeah, dia bahkan memukul Fabian satu kali. Aku juga tidak mengerti dengan jalan pikiran pria itu.”


“Why?”


“He asked me out?”


“What! When?”


“Just now.”


“And what did you say to him?”


“I said yes.”


“Kamu yakin dengan keputusanmu?”


“Tidak. Sejujurnya aku tidak yakin bisa mempercayainya.”


“Lalu kenapa kamu menerimanya?”


“I don't know. Aku tidak bisa menolaknya.”


“Kebiasaanmu yang tidak bisa menolak itulah yang membuatmu terjebak dengan rumor - rumor itu.”


“Aku tahu. Tapi setidaknya dia bilang bahwa jika dia melakukan hal yang buruk padaku aku boleh langsung meninggalkannya dan itu tidak akan mempengaruhi pekerjaan kami, aku rasa aku bisa mempercayai itu.”


“Ya, jika itu tentang pekerjaan kurasa dia memang profesional.”


“Haaahhh.. aku lelah, aku mau tidur!” Qeiza mulai meregangkan tubuhnya.


“Mandi dulu sana!”


“Besok aja mandinya!”


“Jangan jorok gitu, cepet mandi sana!”


“Aku nga jorok, Cal. Aku cuma capek!”


“Sama aja! Sana!”


Calya mendorong tubuh Qeiza hingga wanita itu mau tak mau bangkit dari sofa. Sebelum beranjak Qeiza tak sengaja melihat ARGlassess terletak dibawah meja.


“Itu ARGlassess yang aku tinggalin kan Cal?”


“Apa? Iya.”


“Kamu pake itu?”


“Engga.. iya.”


“Engga apa iya?”


“Iya!”


“Ok!”


***


Keesokan paginya kedua wanita itu sedang duduk santai di meja makan sambil menikmati kopi hangat dan roti selai. Terlalu siang untuk sarapan mengingat waktu sudah menunjukan 10. 08. Mereka memang sengaja bangun lebih siang, hitung - hitung untuk mengganti waktu istirahat mereka yang hilang beberapa hari minggu terakhir.


Drrttt


Secara bersamaan ponsel kedua wanita itu bergetar. Keduanya langsung mengambil ponsel mereka.


“Cal, sepertinya aku tidak akan makan siang disini hari ini. Aku akan pulang sebentar lagi.”


“Mau kuantar? Aku juga akan keluar sebentar lagi.”


“Tidak usah, dia akan menjemputku.”


“Dia? Astaga, cepat juga dia bergerak,” Calya sempat lupa bahwa temannya kini sudah punya pasangan baru.


“Ya, sudah aku mau siap - siap dulu.”


Qeiza kembali masuk ke kamar Calya, sementara yang punya rumah masih berada di dapur untuk membereskan beberapa piring dan gelas yang telah mereka gunakan. Setelah Qeiza meninggalkan apartemen, barulah Calya bersiap - siap di kamarnya.


Wanita itu mengganti pakaiannya, sedikit memoles wajahnya dan melengkapi penampilannya dengan sebuah tas hitam kecil sebelum akhirnya meninggalkan apartemennya. Ia melajukan mobilnya menuju sebuah restoran. Tempat dimana ia akan menemui seorang pria.


Bukan orang asing, melainkan ayahnya sendiri. Entah sudah berapa lama sejak terakhir kali mereka bertemu. Calya juga cukup terkejut saat membaca pesan dari ayahnya. Mungkin hampir tidak pernah pria paruh baya itu mengajaknya bertemu duluan, sekarang dia malah diajak makan siang bersama.


Tapi itu bukanlah akhir dari keterkejutannya. Sesaat setelah seorang pramusaji mengantarnya ke sebuah ruangan, Calya kembali dibuat terkejut. Dia tidak hanya mendapati ayahnya disana, tapi juga Arion dan ayahnya. Tentu saja dia tidak memperlihatkan rasa terkejutnya, dia lebih memilih melangkah masuk seperti biasanya.


“Sudah datang? Duduklah.”


Sang ayah mempersilahkan putrinya duduk tepat disebelahnya. Calya tidak suka basa - basi, bahkan saat ayah Arion menyapanya sambil tersenyum wanita itu hanya tersenyum kecil sambil sedikit menganggukkan kepalanya.


“Kau sudah bertemu mereka kan? Tuan Darta adalah rekan kerja ayah dulu. Ayah tidak tahu kalau kau sudah menangani proyek mereka, sungguh suatu kebetulan.”


“Dia tidak hanya menangani proyek kami, tapi juga membuatnya sukses. Kemampuannya benar - benar luar biasa.”


“Anda terlalu memuji.”


“Tidak. Calya anak yang baik dan juga pintar, alangkah bagusnya jika Arion memiliki pasangan seperti dia.”


Satu kalimat yang baru saja keluar dari mulut Tuan Darta seketika menghentikan Calya yang sedang menyantap makanannya, wanita itu membeku. 


“Pria tampan seperti Arion pasti mudah mendapatkan pasangan.”


“Tidak. Dia sangat buruk dalam hal itu.”


“Benarkah?”


“Benar sekali paman,” jawab Arion sambil tersenyum.


Calya memandang pria itu. ‘Ada apa dengannya?’ tanya wanita itu dalam hati. Jelas sekali terlihat baginya bahwa pria itu sedang berpura - pura. Hal itu membuatnya lebih heran dibanding tingkah kedua orang tua mereka saat ini.


“Bagaimana dengan Calya, apa dia sudah punya pasangan?”


“Dari kecil dia hanya tau belajar, setelah dewasa dia hanya sibuk bekerja. Dia tidak punya waktu untuk hal seperti itu.”


Ekor mata Calya melirik ke arah ayahnya. Bagaimana bisa ayahnya memberi jawaban tanpa bertanya padanya? Baginya ayahnya saat ini sedang bertingkah seolah tahu segalanya tentangnya, dan dia benci itu.


Wanita itu menghabiskan makanannya dalam diam. Mendengarnya ikut terlibat dalam percakapan ketiga pria itu? Hampir tidak ada. Menurutnya dia hanya datang memenuhi undangan, itulah yang sedang dia lakukan saat ini.


“Senang sekali bisa makan siang bersama kalian.”


“Kami juga senang sekali. Arion sebaiknya mengantar Calya pulang.”


“Tidak usah. Saya bawa mobil sendiri.”


“Benarkah? Baiklah kalau begitu. Calya, tolong pertimbangkan putra paman baik - baik ya.”


Tuan Darta dan Arion pergi dari restoran. Sementara Calya dan ayahnya masih disana. Ayahnya kembali berbicara sebelum dia dan putrinya juga pergi dari sana.


“Dengar, Tuan Darta datang dari keluarga terhormat dan ayah juga mengenalnya dengan sangat baik. Akan lebih baik jika keluarga kita dan keluarga mereka bersatu. Kau mengertikan maksud ayah?”


“Ayah.”


“Iya.”


“Aku masih lelah setelah mengerjakan proyek kemarin. Aku ingin pulang dan istirahat.”


“Baiklah, kau boleh pulang.”


Calya berjalan mendahului ayahnya meninggalkan restoran. Tidak disangka makan siang kali ini menjadi salah satu makan siang terburuk dalam hidupnya. Semua itu karena wanita itu sempat merasa sedikit senang karena ayahnya menghubunginya untuk makan siang bersama, tapi sedikit kesenangan itu dengan kekecewaan besar yang ia rasakan.


“Bahkan sampai saat ini pun, pendapatku masih tidak penting.”