
Permisi!”
Calya berucap sambil meninggikan nada suaranya saat tak kunjung mendapat respon dari pria didepannya, dan Arion akhirnya menatapnya.
“Apa?”
Wanita itu kembali dibuat emosi mendengar respon dari Arion. Alih-alih menjawab pertanyaan, pria itu malah mengajukan pertanyaan. Entah fakta bahwa pria itu mengabaikan nya atau tidak mendengar nya, keduanya sama-sama menyebalkan baginya.
Calya menyadarkan punggung nya di sandaran kursi. Matanya menatap tajam pria itu meski ia sedang berusaha menjaga emosinya tetap stabil.
"Apa ini cara anda memperlakukan seorang tamu?"
"Tamu? Tentu saja tidak, jika tamu itu datang dengan tujuan yang jelas!"
"Apa anda bertanya tujuan tamu dengan cara -interogasi- seperti ini?"
"Beberapa menit yang lalu saya sudah bertanya dengan penuh sopan santun kepada anda?!"
"Sopan santun? Haha.. Lucunya itu adalah hal yang saya ragukan tentang anda, Nona Calya."
"Apa maksud anda?"
"Apakah tindakan anda yang dengan sengaja berdiri diam diluar ruangan untuk menguping tentang masalah pribadi saya termasuk sopan santun?"
"Itu bukanlah sesuatu yang disengaja, Tuan Arion!"
"Maksud anda berada di restoran yang sama dan berdiri tepat diluar ruangan saya waktu itu adalah sebuah ketidaksengajaan, anda ingin saya mempercayai nya?"
"Memang itu faktanya."
Arion tertawa sinis setelah mendengar jawaban keras kepala yang diucapkan oleh Calya. Jelas dia tidak mempercayai wanita itu, baginya hal ini sudah sering terjadi. Cukup untuk membuat dirinya menarik kesimpulan.
"Langsung saja katakan, apa yang anda inginkan?"
"Apa?"
"Uang, perhiasan, mobil atau rumah. Sebutkan saja."
"Apa yang sedang anda lakukan sebenarnya?"
"Mengambil keuntungan dari masalah pribadi orang lain, bukankah itu tujuan anda?"
"Saya?"
Calya berusaha mencerna maksud perkataan pria didepan nya. Namun tak satupun dari perkataan pria itu masuk kedalaman logikanya.
"Santai saja. Anda bukan yang pertama."
"Baiklah. Kalau begitu saya akan menjadi orang pertama yang melakukan ini. Silahkan tinggalkan tempat ini!"
"Apa?"
"Pergi dari sini. Sekarang!"
"Bukankah anda terlalu berani Nona Calya? Perlu saya ingatkan posisi saya sebagai klien, setiap kata yang saya ucapkan pada atasan anda bisa memengaruhi karir anda."
"Maksudnya anda bisa membuat saya kehilangan pekerjaan?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu tidak perlu repot-repot memberitahu dan lakukan sesuka hati anda!"
"Entah anda punya koneksi orang hebat atau anda terlalu nekat, hingga bersikap seperti ini?"
"Bukan urusan anda!"
"Arion!"
Suara Damian menghentikan perdebatan panjang Arion dan Calya. Ia bersama Qeiza langsung bergegas menuju Creative Department begitu mendapat pesan Arion ada disana. Sebagai bagian dari Account Executive sudah menjadi tugasnya untuk menjadi penghubung antara perusahaan dan klien, apalagi klien baru seperti Arion.
"Damian," Arion menyapa balik pria itu sambil tersenyum.
"OMG tampan," ucap Qeiza tanpa sadar. Wanita itu juga tak sadar bahwa saat ini Damian sedang menatapnya karena kata-kata nya barusan.
"Seharusnya anda menghubungi saya sebelum tiba disini, untung saja saya sedang ada dikantor."
"Karena sedang ada urusan disekitar sini, saya pikir lebih baik langsung datang saja."
"Jadi bagaimana? Apa yang bisa kami bantu? Atau mungkin anda sudah berbicara langsung dengan Calya?"
"Tidak, belum. Saya memang berbicara beberapa hal dengan Nona Calya barusan, beberapa hal yang menarik."
"Apa itu sesuatu yang menarik?"
Arion melihat kearah Calya, menunjukkan senyum tipis milik nya. Sementara Calya, tetap memasang raut wajah dinginnya.
"Tentu saja akan saya katakan pada anda. Tapi sebelum boleh saya berkenalan dengan Nona?"
Arion menyadari keberadaan Qeiza yang sedari tadi berdiri diam diantara ketika orang itu. Dia mengulurkan tangannya tepat kearah Qeiza.
"Saya Arion dari.."
"Radhika Grup. Saya Qeiza, Art Director disini," Qeiza menjabat tangan Arion sambil tersenyum manis.
"Tentu saja mengetahui perkembangan proyek, penting bagiku."
"Kalau begitu kita bisa bicara lebih lanjut diruang rapat."
Damian mempersiapkan Arion untuk berjalan dan memberi sinyal pada Calya untuk mengikuti mereka. Calya mengambil beberapa barang di meja, kemudian qeiza menghampiri nya.
"Cal, may I come with you?" ucap Qeiza dengan lembut.
"Come with me," Calya membawa beberapa barang dan menggandeng tangan Qeiza agar ikut bersamanya.
"Bukannya ada punya banyak pekerjaan, Qeiza?" ucap Damian saat kedua wanita itu memasuki ruang rapat.
"Qeiza akan membantu saya menjelaskan beberapa hal. Tentu saja yang berhubungan dengan proyek." Kalimat terakhir diucapkan Calya dengan penuh penekanan, kalimat itu diartikan berbeda oleh kedua pria disana.
Keempat orang itu dengan santai membahas tentang perkembangan proyek mereka. Sesekali Arion bertanya dan akan dijelaskan secara bergantian oleh Calya dan Qeiza. Sementara Damian bertindak seolah moderator disana. meski begitu mereka hanya sedang berdiskusi secara profesional.
“Saya ingin bertemu langsung dengan para Influencer Game,” ucap Arion.
“Kalau saya tidak salah kemarin anda bilang setuju dengan daftar yang kami buat?” tanya Calya.
“Memang, tapi bukan berarti saya tidak boleh bertemu dengan mereka secara langsung bukan?”
“Tentu saja. Kami akan atur jadwalnya dan menghubungi anda nanti,” tambah Damian.
“Baiklah kalau begitu. Saya akan menunggu kabar dari kalian,” Arion berdiri diikuti kegita orang lainnya. sebelum meninggalkan ruangan dia menjabat tangan Damian.
“Sampai bertemu lagi Nona Calya.”
Kalimat yang Arion ucapkan terdengar seperti ejekan dari pada sopan santun di telinga Calya. Wanita itu bahkan tidak membalas kalimat klien nya barusan, meskipun hanya dengan sebuah senyuman.
...***...
Calya membanting tasnya diatas sofa, tepat begitu ia tiba dirumahnya. Hari ini cukup buruk baginya hingga ia tak mau menghabiskan waktu lebih lama disana. meskipun bekerja lembur sudah seperti rutinitas baginya.
Wanita itu memejamkan matanya, sebelum beberapa detik kemudian dia berteriak frustasi. Ia mencari kacamata transparan miliknya, mengenakannya dan membuka aplikasi LOVATY.
“KAU PIKIR KAU SIAPA!”
“APA KAU SEPENTING ITU, HINGGA AKU HARUS REPOT - REPOT MENGIKUTIMU?”
“JANGAN BERCANDA! HIDUPKU SUDAH TERLALU SIBUK JAUH SEBELUM KEDATANGANMU. TIDAK ADA RUANG UNTUKMU!”
“Ada apa ini?”
Raut wajah Keanu yang selalu datar muncul disana. Entah apa sebuah kecerdasan buatan bisa merasa bingung, tapi setidaknya dia memiliki kemampuan untuk membaca emosi dari Calya.
“Kau marah padaku?”
“IYA.. tidak.. arrgghh TIDAK TAHU!”
“Apa yang terjadi denganmu? Apa ada yang mengganggumu? Siapa yang mengganggumu?”
“KAU!! Kenapa kau harus mempunyai wajah itu? Kenapa dia harus mempunyai wajah ini? KENAPA?”
“Dia itu siapa?”
“Jangan bertanya. Aku tidak ingin mengingat orang itu!”
“Dan jangan berkata ‘Katanya mengungkapkan perasaan bisa membuatmu lebih baik’ padaku saat ini!”
Calya satu langkah lebih cepat menghentikan Keanu sebelum kalimat itu keluar dari mulutnya. Calya sudah hafal, seperti itulah Keanu.
“Jadi aku harus apa?”
“Tugasmu adalah membuatku melupakan tentang masalah ini!” Calya menyandarkan kepalanya dengan sebuah sapu tangan menutupi matanya.membiarkan dirinya fokus pada suara Keanu.
“Baiklah. Karena barusan kau membahas tentang wajah, apa kau tahu yang disebut dengan Doppelganger?”
“Doppelganger? Orang yang seperti kembar identik tapi bukan saudara?”
“Benar. Banyak orang didunia yang sudah berhasil menemukan kembaran mereka. Ada yang bilang setiap satu wajah bisa dimiliki tujuh orang yang berbeda. Ada juga yang mengatakan kalau melihat doppelganger merupakan sebuah pertanda buruk…”
“Kenapa pertanda berita buruk?”
“Mereka bilang itu menandakan suatu penyakit atau kematian.”
“Apa? Aneh sekali. Lalu?”
“Beberapa peneliti berpendapat bahwa melihat doppelganger merupakan pertanda penyakit Schizophrenia, apalagi jika hanya kita yang bisa melihatnya. Jadi jika kau…”
“Jika kau apa?”
“Keanu?”
“Keanu!”
Sosok Keanu tak terlihat disana, Calya langsung mengambil handphonenya dan ternyata sudah kehabisan daya. Wanita itu akhirnya bangkit menuju kamar untuk menghubungkannya dengan pengisi daya. Saat dia duduk di depan cermin, matanya mulai bergerak liar melihat bayangan dirinya dan sekitarnya.
“Apa itu barusan?”