LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Rayshiva Zachery



“Pelindung?” tanya seorang anak laki - laki.


“Iya, pelindung,” jawab wanita paruh baya yang duduk disampingnya.


“Kenapa aku seorang pelindung?” 


“Nanti saat kau dewasa dan bertemu seseorang yang ingin kau lindungi, kau akan tahu alasannya.”


“Tapi kenapa harus orang lain? Aku ingin jadi pelindung ibu.”


“Kau tidak bisa jadi pelindung ibu.”


“Kenapa? Karena aku masih kecil?”


“Bukan, karena melindungi ibu adalah tugas ayahmu.”


“Jadi maksud ibu,aku akan menjadi pelindung pasanganku nanti?”


“Bukan hanya pasangan, tapi juga seluruh keluargamu nanti. Itulah tugas seorang pria!” ucap seorang pria yang baru saja bergabung. Pria itu datang dengan membawa kantong plastik berisi es krim, langsung memberikannya kepada anak dan isterinya.


“Jadi itu tugas ayah. Ayah memang melakukannya dengan baik,” ucap anak laki - laki itu sambil menikmati es krim miliknya.


“Astaga, anakku memujiku. Ini pasti hari keberuntunganku.”


Ketiganya tertawa dengan lelucon sang ayah. Keluarga kecil itu tampak menikmati kegiatan piknik mereka. Meskipun hanya dilakukan di taman dekat rumah, tapi mereka cukup menikmati bersantai dan menyantap hidangan yang disiapkan oleh ibu.Sang orang tua menikmati mengajak anaknya bermain di tempat terbuka, sementara sang anak sangat menyukai berbincang bersama orang tuanya.


“Gadis seperti apa yang anakku inginkan untuk jadi pasangan?”


“Yang seperti ibu.”


“Yang seperti ibu?”


“Wanita yang anggun seperti ibu.”


“Kalau begitu akan sulit bagimu untuk mendapatkannya. Karena hanya ada satu yang seperti ibu didunia ini dan dia milik ayah.”


“Nanti kalau aku sudah menemukannya, pasti akan kutunjukkan pada kalian.”


“Tentu saja, kami akan menunggunya.”


***


“Mereka mati?”


“Ya, mereka sudah mati. Sekarang perusahaan menjadi milik kita.”


“Lalu anak itu? Bagaimana dengan dia”


“Bocah kecil seperti dia, akan mudah bagi kita untuk menyingkirkannya.”


***


“Kalian tidak boleh membawanya!”


“Minggir lah nak!”


“Tidak mau!”


“Minggir!”


Pria paruh baya itu dengan paksa berusaha menyingkirkan bocah kecil yang berdiri didepan pintu kamar.


“Ibu, kenapa dia tidak boleh tinggal bersama kita? Bukankah dia juga keluarga kita?”


“Nak, dia tidak bisa tinggal dengan kita.”


“Kenapa?”


“Kemarilah, jangan halangi paman.”


“Tidak! Jika kalian tidak mengijinkannya tinggal bersama kita maka aku akan ikut bersamanya.!”


“Jangan main - main seperti itu, cepat kemari!”


“Tidak! Paman bawa aku sekalian bersama dia!”


“Sepertinya tidak ada cara lain. Sebaiknya kita biarkan anak itu tinggal bersama kita.”


“Baiklah aku setuju.”


***


Dua bocah lelaki terlihat sangat akrab, menghabiskan waktu bersama setiap hari. Jelas bahwa salah satu diantara mereka tidak diperlakukan dengan baik di rumah itu. Tapi setiap setiap kali itu terjadi bocah lainnya akan ada disana untuknya. Meskipun hanya dengan memberinya makanan lebih banyak, mengobati lukanya, atau mengajaknya bermain. Hal - hal kecil namun sangat berarti.


“Jangan khawatir, apapun yang terjadi aku akan melindungimu.”


“Apa kau pelindung keluarga?”


“Pelindung?


“Orang yang bertugas menjaga keluarga ini?”


“Aku bukan pelindung keluarga, tapi aku akan melindungimu.”


“Kenapa kau melindungiku?”


***


“Sedang apa kau disini?” ucap Ray yang terkejut mendapati pria itu sedang bersantai di Villa miliknya.


“Kau tidak lihat aku sedang bersantai,” jawab pria itu acuh.


“Bisa - bisanya kau bersantai disini sementara perusahaanmu sedang bermasalah.”


“Bukan perusahaanku yang bermasalah tapi salah satu produk ku.”


“Sama saja kan?”


“Tentu saja berbeda. Bahkan jika produk itu hancur, perusahaanku tetap bisa berjalan dengan baik.”


“Jadi kau tidak peduli meskipun produk itu hancur? Bukankah LOVATY berharga untukmu?”


“Kau kan tahu alasanku mengembangkan program itu. Sejak awal aku tidak ada niat untuk merilisnya, apalagi berharap dia akan sukses besar di pasaran.”


“Lalu bagaimana dengan penemunya? Jika program ini sampai hancur tidakkah kau merasa bersalah padanya?”


“Pada dasarnya asalan dia menciptakan program itu juga sama denganku, dia tidak peduli dengan pencapaian produk ini di pasaran.”


“Tapi..”


“Tapi, bukan berarti aku tutup mata atas masalah ini. Masalah ini sedang ditangani dengan baik oleh tim khusus yang kubentuk.”


“Baiklah kalau begitu.”


“Ngomong - ngomong Ray, kau tumbuh menjadi pria yang bertanggung jawab. Tidak sia - sia aku merawatmu.”


“Kenapa kau membanggakan dirimu! Aku seperti ini karena didikan orang tuaku!”


“Tapi tetap saja aku yang merawatmu selama 20 tahun. Sedikit banyak aku punya pengaruh atas kepribadianmu sekarang.”


“Ya, ya. Aku tidak bisa membantahnya.”


Ray duduk di samping pria yang sedang memandang ke arah laut, tenang tanpa raut muka yang bisa dibaca.


“Kau masih memikirkannya?”


“Menurutmu bagaimana?”


“Kau masih sangat memikirkannya.”


“Kalau begitu jangan bertanya. Kau sama cerewetnya seperti dulu.”


“Kau masih berusaha mencarinya?”


“Aku hampir menyerah untuk mencarinya.”


“Kenapa?”


“Selama ini aku berusaha keras mencarinya karena berpikir dia masih mencintaiku. Tapi semakin lama aku berpikir mungkin dia benar - benar sudah tidak mencintaiku, itu sebabnya dia berusaha keras untuk tidak ditemukan.”


“Biasanya saat kau benar - benar akan menyerah, sebuah petunjuk akan datang secara tak terduga. Pertanda bahwa pilihanmu tidak salah, berusaha sedikit lagi dan kau akan berhasil.”


“Kau bicara seolah - olah kau sudah pernah mengalaminya. Apa kau sedang jatuh cinta?”


“Aku bisa lebih bijak darimu meskipun umurku lebih muda!”


“Siapa dia? Kau tidak mau mengenalkannya padaku!”


“Akan ku kenalkan dia padamu nanti. Pada saat itu sebaiknya kau sudah membawa kembali kakak iparku!” 


“Mau kemana kau?”


“Tidak sepertimu, aku banyak pekerjaan. Aku duluan!”


Ray meninggalkan pria itu dan villanya, mengendarai mobil untuk kembali ke kediamannya. Namun sebelum mobil itu berhasil membawanya ke apartemen yang ia tinggali, perhatiannya teralih pada sebuah mall disana. Sebuah mall yang entah bagaimana menarik dia kesana. Tanpa sadar ia dan mobilnya telah berada di area parkir mall itu.


***


Jika manusia adalah sebuah mesin super canggih, maka hati pasti adalah radarnya. Dia terprogram untuk memberi sinyal atas segala sesuatu yang ada di sekitarmu. Seperti menghindari bahaya dan juga menemukan sesuatu yang berharga. Lagi - lagi kali ini hatiku membawaku kepadanya. Dia yang saat ini hanya berjarak beberapa meter dariku.


Seperti biasa ia terlihat anggun. Aku rasa apapun yang ia kenakan akan membuatnya terlihat begitu. Atau mungkin aku akan tetap menyukainya, terlepas dari apapun yang ia kenakan. 


Dia terlihat sangat fokus, apa dia harus se-fokus ini saat sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan? Sikap ini membuatnya terlihat menarik di mataku, meskipun karena sikap itu dia tak  bisa menyadari keberadaanku.


Calya mengitari sebuah pusat perbelanjaan. Bola matanya sibuk berpindah - pindah dari kanan ke kiri, sementara kepalanya terus bergerak demi membuat pandangannya lebih luas. Kegiatan itu membuatnya tak sadar bahwa tali dari tasnya telah tersangkut di sebuah gantungan baju hingga membuat tubuhnya nyaris jatuh ke lantai. Untungnya hal itu tak sempat terjadi. Tidak, karena seseorang berhasil menahan tubuhnya sebelum wanita itu rebah di lantai. 


Calya terkejut, jantung berdegup kencang sejak tubuhnya terasa tertarik oleh sesuatu hingga seseorang menahan tubuhnya. Dia bangkit dan langsung secara spontan mengucapkan terima kasih sebelum sosok yang ia lihat kembali membuatnya terkejut.


“Kau! Sedang apa disini?” uvap Calya saat mendapati sosok yang telah menolongnya adalah Ray.


“Kau sendiri sedang apa disini disaat jam kerja?”


“Aku sedang research untuk proyek baru, bukan sedang main - main.”


“Aku juga sedang research, produk ku ada disini.”


Dan saat dia sudah menyadari keberadaanku, berbohong adalah yang selalu kulakukan. Menggunakan kebetulan sebagai alasan, meski aku tahu ini bukan. Karena dia hanya membiarkan ku dekat dengannya karena alasan itu dan aku akan terus memakai alasan itu. Setidaknya sampai dia bisa menerima alasan lainnya.