LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
This Man



‘Pria ini. Apa maksudnya sebenarnya?’


“Apa?”


“Ini bukan permintaan, tapi pemberitahuan. Suka atau tidak kita akan bersaing untuk mendapatkan dia, dan dia yang akan menentukan pemenangnya.”


“Kau pikir ini permainan? Bersaing untuk mendapatkan dia sebagai hadiah?”


“Aku pikir bukan hanya aku yang berpendapat bahwa selalu ada persaingan di dunia ini. Aku lebih suka menganggapnya sebagai permainan dari pada beban, it gives me less stress.”


“Jadi ini sebenarnya tujuan pertemuan ini.”


“Benar. Karena aku sudah mengatakannya, aku akan pergi. Terima kasih atas waktunya,” ucap Arion sambil bangkit dari kursi sebelum pria itu melangkah pergi meninggalkan cafe itu.


Ray masih duduk disana. Ujung jemarinya terus - menerus mengetuk meja sementara ia berpikir. ‘Ada yang aneh tentang ini’ pikirnya. Tepat saat ponselnya bergetar menandakan pesan masuk telah diterima.


^^^‘Y Restaurant 8p.m.’^^^


“Seharusnya bilang padaku dulu sebelum kalian menjadikanku nyamuk di makan malam ini,” ucap Ray saat dia sampai di salah satu ruangan Y Restaurant.


“Kau sendiri yang minta di traktir. Sudahlah, duduk saja!” 


Damian dan Qeiza yang sudah terlebih dahulu duduk disana langsung mempersilahkan Ray bergabung. Ketiganya asik menikmati hidangan sambil sesekali berbincang.


“Bagaimana proyek kalian?” tanya Damian pada Qeiza.


“Semuanya lancar. Ada beberapa deadline yang harus dikejar, tapi sejauh ini tidak ada masalah.”


“Apa artinya kau sibuk akhir pekan ini?” 


“Akhir pekan ini? Bisa iya, bisa tidak. Aku belum yakin.”


“Whether you are busy or not, just let me know later, okay?” tanya pria itu lagi dan langsung mendapatkan anggukan sebagai jawaban.


“Look at you two, apa aku tidak terlihat disini? Haruskah ku tinggalkan kalian berdua disini?”


“Hey, kenapa kau sensitif sekali? Kau juga akan seperti ini kalau kau punya pasangan!”


“Mungkin saja, siapa yang tahu.”


Pertengkaran kedua sahabat itu menimbulkan rasa penasaran di benak Qeiza, dan tanpa ragu wanita itu mengatakannya.


“Ngomong - ngomong, saya penasaran. Sudah berapa kali anda pacaran?”


“Aku? Entahlah.”


“Terlalu banyak untuk diingat?”


“Jangan tertipu dengan tampangnya, dia sebenarnya belum pernah pacaran!”


“Really? Tidak mungkin!”


“Ini tidak benar! Dunia ini harus berubah! Mengapa tampang maskulin sepertiku terus dikira playboy?”


Ray melakukan protes. Bukan kali ini dia mendengar pertanyaan seperti itu diajukan kepadanya. Ia menyadari warna kulit kecoklatan rahang tegas dan mata tajamnya adalah penyebab orang salah menilainya.


“Bukan dunia yang harus berubah, tapi orang - orangnya!”


“Lagi pula mungkin tidak semua orang beranggapan begitu, tapi Calya pasti berpikir begitu.,” ucap Qeiza. Wanita itu bermaksud bercanda dengan mengatakan fakta.


“Bicara tentang dia, Aku pikir dia memang sedang tidak memiliki hubungan dengan siapapun Arion.”


“Sudah saya katakan itu tidak mungkin. Tapi kenapa anda yakin sekarang?”


“Tadi siang aku ketemu dengan Arion dan dia bilang dia ingin bersaing secara sehat denganku untuk mendapatkan Calya.”


“Pria itu bilang begitu padamu? Aneh sekali.”


“Dia tipe yang percaya diri dan ambisius rupanya. Tapi kau pasti bisa mengalahkannya!”


“Tunggu sebentar! Kenapa kalian berbicara seolah ini adalah permainan? Temanku bukan piala!” Qeiza bangkit dari kursinya dan meninggalkan ruangan itu tanpa permisi.


“Aku pergi dulu Ray!” 


Damian bergegas menyusul Qeiza. Wanita itu sudah keluar dari restoran saat akhirnya Damian dapat mengejarnya.


“Qei.. Qei.. Qeiza wait!”


Qeiza tak menggubris panggilan pria itu. Hingga tangan pria itu berhasil menjangkau tangannya dan menghentikan langkahnya.


“Kenapa kau pergi begitu saja?”


“Are you serious asking me that question?”


“Kau pikir kami sedang merendahkan Calya? Meskipun kami berbicara begitu bukan berarti kami berniat buruk padanya, that’s men!”


“Meskipun tidak berniat begitu tapi kata - kata kalian sudah cukup melukai kami, that’s women!”


“Okay, i’m sorry. Tapi mendukung Ray untuk memenangkan hati Calya bukan sesuatu yang salah kan? Atau kau lebih senang Arion yang menang?”


“Aku lebih senang jika kalian tidak bermain dengan hal - hal seperti ini!”


“Kami tidak sedang bermain, kau tidak dengar tadi dia bilang bersaing secara sehat? Ini bukan seperti membuat trik agar bisa tidur bersama Calya.. Aww!”


Damian yang sedang bicara panjang lebar dihentikan oleh cubitan Qeiza di lengan kirinya.


“Baiklah, aku minta maaf. Aku akan berhenti bicara sekarang. Aku antar kau pulang sekarang.”


“Aku bisa pulang sendiri.”


“Aku menolak! Tanggung Jawabku untuk mengantarmu pulang dengan selamat!”


Ditinggal sendiri di restoran Ray tercenung memikirkan kata - kata Qeiza tadi. ‘Temanku bukan piala!’ Tentu saja! Dia juga mengucapkan kalimat yang hampir serupa dengan wanita itu pada Arion.


‘Apa aku pernah berpikir seperti itu tentang Calya? Tidak! Tidak sekalipun. Tidak saat pertama bertemu, tidak juga saat ini. Bagiku dia lebih berharga dari itu. Seperti harta karun yang sekian lama aku cari. Seberharga itu dia bagiku.”


***


Seorang wanita berjalan bersama wajah yang sudah kukenal. ‘Rekan kerja?’ Pikirku. Wanita duduk setelah memperkenalkan dirinya dirinya. Hanya satu kalimat itu, dan selanjutnya ia hanya diam memperhatikan orang - orang yang berbicara. ‘Sangat pendiam,’ pikirku lagi.


Kemudian dia dipersilahkan untuk melakukan presentasi. Aku pikir dia akan berbicara dengan ragu, karena sebelumnya kulihat dia terus memainkan jemarinya seolah sedang gugup. Namun ternyata tidak. 


Dia berbicara dengan lantang. Setiap kata yang ia ucapkan memiliki ketegasan. Ia bicara tanpa henti dengan mata yang secara bergiliran menatap kami satu - persatu. Semua yang ia sampaikan terdengar cerdas, hingga tak hanya aku yang teryakini,tapi juga kedua orang disebelahku.


Pertemuan berakhir dan orang - orang mulai beranjak pergi. Tapi entah mengapa aku tak ingin beranjak, malah sibuk memperhatikannya yang sedang sibuk mengemasi beberapa berkas. Menunggunya selesai dan meninggalkan tempat ini, tidak. Sebenarnya menunggunya untuk menyadari kehadiranku.


Akhirnya dia menyadari kehadiranku dan tanpa ragu aku menyatakan niatku. Aku menikmati saat - saat menunggunya menjawab. Melihat raut wajahnya yang terlihat bingung, meskipun kesenangan itu akhirnya berakhir saat dia memberiku jawaban yang tak terduga. Tapi ‘Ini bukanlah akhir,’ pikirku.


‘Dia tidak tertarik padaku,’ itu yang kusadari pada pertemuan kedua ku dengannya. Namun aku tak peduli,. karena aku tertarik padanya. Proyek ini akan membantuku untuk dekat dengannya, atau setidaknya lebih mengenalnya.


Tentu saja aku berhasil, ada begitu banyak kesempatan yang tercipta selama proyek ini berlangsung. Berulang kali aku gunakan kesempatan itu untuk menyatakan ketertarikanku secara tidak langsung. Sepertinya dia tidak menyadarinya, atau dia menghindarinya?


Sosok anggun, penuh tanggungjawab dan tegas itu suatu hari menghilang, membuatku khawatir bukan main. Aku bahkan nekat menggali informasi pribadinya, hanya untuk mencari keberadaannya.


Aku menemukannya, di rooftop apartemennya. Tidak kuduga aku menemukannya dalam keadaan seperti itu. Mata sembab, wajah pucat dan penampilan yang lusuh. Apa dia sedang sakit? Apa ada sesuatu yang menimpanya?


‘Seorang wanita yang menghindari cinta,’ anggapanku tentangnya, tepat setelah aku berterus terang tentang perasaanku. Dia lari, menghindar dan bahkan memintaku untuk melupakan perasaanku. Awalnya aku pikir dia menolak kehadiran cinta di hidupnya, kemudian aku mulai berpikir bahwa dia hanya menolakku.


Sikapnya berbeda pada pria itu, tatapannya, pikirannya seakan semuanya tertuju pada pria itu. Apa yang kulihat di ponselnya memperkuat dugaanku, sketsa wajah pria itu ada disana. Kemudian saat dia katakan ‘Aku… menyukai pria lain,’ saat itulah kukatakan pada diriku untuk berhenti. Aku tak akan merusak kebahagiaannya.


Siapa sangka sebuah kejutan datang kepadaku. Pria itu sendiri yang menyatakan ingin bersaing sehat dengan ku. Entah dia belum tahu tentang perasaan wanita itu padanya, atau hanya ingin memberiku kesempatan.


‘Aku ingin bersamanya,’ itulah mengapa aku akan mengambil kesempatan ini. Aku ingin menjaganya dan aku yakin bisa melindunginya.