LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Comeback



Suasana pagi terlihat cerah pagi itu. Beberapa karyawan Parama Ad datang dengan langkah santai. Pemandangan itu terlihat berbanding terbalik dengan Creative Department.


Diruangan itu semua staf nya terlihat sedang sibuk. Mereka datang satu jam lebih awal hanya untuk berkutat dengan pekerjaan mereka yang tak kunjung selesai.


Raut wajah mereka jelas memperlihatkan betapa lelahnya semua itu. Senyuman pun hampir tak terlihat disana. Layaknya di sebuah pabrik, mereka hanya terlihat sibuk mondar – mandir, dan duduk menghadap laptop dengan alis yang bertautan.


Terlalu sibuk, terlalu fokus, terlalu pusing hingga mereka tak menyadari seseorang yang memasuki ruangan tersebut. Wanita itu masuk berjalan dari pintu masuk ke meja kerjanya sambil terus memperhatikan seisi ruangan.


Orang – orang disana, barang – barang disana, hingga aura disana semua terasa aneh baginya. Ruangan itu memberi nuansa gelap meskipun cuaca diluar sangat cerah.


Tidak ada yang menyadari kehadiran wanita itu bahkan saat dia telah duduk di kursinya, ‘apa karena dia meninggalkan mereka selama beberapa hari ini?’ pikirnya.


Ya, Calya memang merasa bersalah atas perilakunya. Dia telah membiarkan masalah pribadinya mempengaruhi pekerjaannya. Dia tidak ragu untuk meminta maaf pada semua staf saat ini juga.


“Semuanya!” dia berdiri, mulai membuka suara. Namun tak satupun orang melihat kearahnya.


‘Apa ini? Apa mereka mengabaikanku karena kesal?’ pikirnya.


Sekali lagi dia mencoba untuk menarik perhatian semua orang dengan mengetuk meja kerjanya. Suara itu cukup keras tapi tidak cukup berhasil membantu, semua orang masih saja terlihat acuh.


Calya mulai terlihat kesal, niatnya untuk meminta maaf dengan tulus hampir sirna. Dia ingin mulai berteriak dan mengomel, tapi dia urungkan karena itu tidak etis. Akhirnya dia mengambil smartphone miliknya, mencari nama Qeiza disana dan menelponnya.


“Calya!” Qeiza langsung berteriak begitu melihat nama Calya muncul di layar smartphone nya.


Teriakan Qeiza langsung membuat semua orang melihat ke arahnya. Namun herannya mereka masih saja tak melihat Calya disana.


“Hallo Cal! Are you okay? Where are you beib?” ucap Qeiza begitu mengangkat panggilan telepon dari Calya.


“It’s funny. Do you really want me to look stupid standing right here?” ucap Calya sinis, sementara Qeiza merasa heran dengan kata – kata aneh yang diucapkan Calya.


“Calya!” sekali lagi suara teriakan itu terdengar, namun kali ini dari mulut Rezvan. Pria itu kini berdiri sambil menunjuk kearah Calya. Akhirnya ada yang menyadari kehadiran wanita itu disana. Calya mengakhiri sambungan teleponnya, tiba – tiba seseorang memeluk dirinya.


Qeiza langsung berlari begitu melihat Calya disana. “Calyaaaaaaaa…….” Ucapnya sambil memeluk erat temannya.


Sangat senang dengan keberadaan Calya disana, raut wajah lega terlihat diwajah semua orang disana.


“Baiklah…” ucap Calya sambil melepaskan pelukan Qeiza darinya.


“Semuanya! Saya ingin minta maaf, karena telah menghilang selama beberapa hari tanpa kabar. Saya tidak akan membela diri, saya akan menerima apapun yang kalian katakan,” wanita itu dengan tulus menyadari kesalahannya.


“Baiklah kalau begitu…” ucap Kenzo dengan raut wajah serius,


“Tolong jangan menghilang lagi…” tambahnya dengan wajah yang memelas.


Mereka semua tertawa mendengar kalimat itu apalagi ditambah dengan raut wajah itu. Kalimat yang benar – benar mewakili perasaan semua orang disana.


“Baiklah kalau begitu. Kita rapat 15 menit lagi,” ucap Calya yang langsung dipahami oleh semua orang. Mereka kembali ke pekerjaan mereka masing – masing.


“Are you okay?” tanya Qeiza dengan suara pelan, Calya mengangguk sambil mengusap pelan pundak temannya.


Selama rapat mereka menjelaskan semua yang terjadi selama Calya menghilang. Mulai dari proyek – proyek yang mereka telah mereka kerjakan hingga penolakan dan amarah yang mereka terima dari banyak pihak.


“Tidak ada yang salah dengan hasil kerja kalian. Ini bukan seperti kalian tidak kompeten, hanya saja… terkadang memang


sulit memenuhi ekspektasi dari klien dan atasan. Ini bukan hal baru, jadi jangan terlaluk hawatir,” Calya merasa kasihan dengan timnya, bagaimanapun dia punya andil atas semua yang terjadi.


“Apa kalian mencatat semua komplain dari mereka?” tanya Calya.


“Ya. Saya yang mencatat semuanya,” jawab Davidya sambil mengangkat satu tangannya.


“Bagus! Sekarang kita bisa mulai membahasnya satu persatu,” ucap Calya, memberi tanda pada Davidya untuk mulai membacakan catatannya.


Mereka mulai membahas komplain dari setiap proyek satu – persatu. Menyesuaikan dengan ide yang telah mereka kerjakan dan menyusun kembali rencana penyelesaiannya. Butuh waktu cukup lama untuk membahas semuanya hingga mereka melewatkan waktu makan siang.


Mereka semua meninggalkan ruang rapat dan kembali ke meja kerja mereka masing – masing. Beberapa terlihat membicarakan lokasi dan menu makan siang yang mereka inginkan.


“Kamu nga ikut Cal?” tanya Qeiza saat melihat Calya masih duduk di kursinya.


“Kalian duluan saja! Masih ada yang harus aku kerjakan,” ucap wanita itu tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop miliknya. Tidak terdengar respon apapun setelahnya, membuat Calya berpikir mereka semua telah pergi meninggalkan ruangan.


“Kalian masih disini!” ucap Calya begitu dia menyadari semua orang masih disana.


“Kalau kamu nga makan, kami juga nga,” ucap Qeiza, mereka semua terlihat sibuk dengan pekerjaannya.


“Kenapa jadi seperti itu? Pergilah dan makan,” ucap Calya.


“Benar kata Qeiza, kau membuat kami terlihat seperti orang jahat jika pergi makan dan


meninggalkanmu kerja sendiri disini,” ucap Rezvan.


“Terserah kalian saja,” ucap Calya, tidak ada waktu baginya untuk berdebat.


“Saya puny ide!” ucap Wikan tiba – tba, membuat semua orang melihat kearahnya. “Bagaimana kalau  delivery order?” ucap Wikan memberi saran.


“Boleh! Wikan kamu yang urus pesanannya. It’s on me!” ucap Calya.


“Asikkk…” semua orang bersorak gembira.


Waktu terasa berlalu dengan sangat cepat hari itu. Mereka yang fokus pada pekerjaan, tanpa terasa sudah sampai pada jam pulang kantor.


“Mba Calya,” panggil Davidya yang kini berada disamping meja kerja Calya.


“Ada apa?” tanya Calya, “Anda dipanggil ke kantor management sekarang,” lanjutnya. Calya mengangguk dan melangkah meninggalkan ruangan itu setelahnya.


Wanita itu tiba diruangan management, divisi yang sering ia kunjungi. Tapi kali ini dia diarahkan untuk masuk ke ruangan yang jarang ia datangi.


Ruangan itu hanya pernah sekali ia masuki, saat dia masih seorang karyawan magang bersama Qeiza.


“Silahkan duduk,” seorang pria paruh baya mempersilahkannya duduk setelah mendengar Calya mengetuk pintu ruangan miliknya.


“Nona Calya Shalitta,” ucap pria itu lagi setelah memastikan wanita itu telah duduk rapi disebuah kursi tepat didepan meja kerjanya.


“Saya mendapat laporan bahwa anda menghilang selama lima hari tanpa kabar. Apa itu benar?” tanya pria itu.


“Benar, Pak!” jawab Calya.


“Anda sadar bahwa tindakan anda itu sangat tidak bertanggungjawab?” tanya pria itu lagi.


“Ya, Pak. Saya sangat sadar,” jawab Calya.


Pria paruh baya itu menghela napas sambil meletakkan punggungnya disandaran kursi.


“Ada yang ingin anda sampaikan mengenai masalah ini?” tanya pria itu kembali.


“Tidak ada, pak!” yang masih dijawab dengan singkat oleh Calya.


“Saya masih ingat dua tahun lalu kita berbicara diruangan ini. Saat itu anda menyampaikan opini anda, bagaimana seharusnya karyawan magang diperlakukan dan bagaimana menjalankan tugas dengan jujur dan bertanggung jawab. Saat itu saya berpikir apakah anda bisa membuktikan kata – kata anda sendiri. Ternyata selama dua tahun anda menjabat anda berhasil membuktikannya. Sekarang jika tiba – tiba seseorang yang selama dua tahun terakhir bekerja dengan penuh loyalitas dan tanggungjawab melakukan hal semerono, bukankah pasti ada sesuatu yang terjadi?”


Pria paruh baya itu masih mencoba mencari kebenaran atas apa yang terjadi.


“Saya tidak akan membenarkan tindakan saya dengan memberi alasan. Saya secara penuh akan bertanggungjawab dan menerima konsekuensinya,” wanita itu masih saja teguh dengan pendiriannya.


Pria itu menganggukan kepalanya, ”Baiklah jika itu yang anda mau. Masalah ini akan dibahas bersama pimpinan lainnya. Hasilnya mungkin saja buruk, anda sepertinya juga siap akan hal itu,” sekali lagi peringatan keluar dari mulut pria paruh baya itu. peringatan yang sudah diperkirakan oleh Calya sendiri.