LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
As If It Your Last (The Fun)



Sekelompok orang terlihat berkumpul di depan Parama Ad lengkap dengan barang bawaan mereka. Beberapa wanita terlihat membawa topi pantai dan camera digital terlihat menggantung di leher beberapa pria.


Untungnya tidak ada siapapun di kantor itu pada hari minggu, kalau tidak mereka akan jadi buah bibir dengan pakaian dan tingkah mereka yang sedikit heboh. Murid sekolah yang sedang karyawisata, kurang lebih seperti itulah gambaran keadaan mereka saat ini.


“Gimana? Diangkat?” tanya Kenzo.


Rezvan yang sedang menghubungi seseorang terlihat menggelengkan kepalanya.


“Astaga! jika tidak segera berangkat, jam berapa kita sampai nanti?” ungkapan kekhawatiran akan tiba terlalu siang hingga mengurangi waktu liburan diutarakan oleh Kenzo.


“Mereka bilang kan butuh lima jam untuk


sampai,” jawab Rezvan santai dengan mata yang tertuju ke layar smartphonenya.


Dia tidak sadar tengah mendapat tatapan tajam dari temannya atas komentarnya barusan. Sesaat kemudian pandangan mereka bertemu, “Apa?” tanyanya polos. Kenzo menghela napasnya dengan kesal ‘percuma saja! Dia tidak mengerti’ pikirnya.


“Itu mereka!” ucap Rezvan tiba – tiba, arah pandangnya menghadap ke dua orang wanita yang sedang berjalan mendekat.


Calya dan Qeiza, datang dengan dua tampilan yang bertolak belakang. Satu terlihat santai mengenakan kaos putih, celana jeans, sneakers dan backpack hitam. Sedangkan satunya mengenakan kaos hitam, slip


dress dengan motif floral sneakers, sebuah tas tangan berukuran cukup besar dan topi pantai membuatnya terlihat heboh.


“Kenapa lama sekali!” keluh Kenzo, “Tanyakan pada nona OOTD ini,” jawab Calya ketus sambil menatap kearah Qeiza.


Sementara yang sedang ditatap malah sibuk dengan barang – barang bawaannya. Merasa kata – katanya tak digubris Calya berlalu meninggalkan teman – temannya dan langsung masuk ke dalam mini bus.


Qeiza yang sadar dengan kepergian temannya dengan santai menyerahkan barang – barang bawaanya kepada kedua pria didepannya dan pergi menyusul Calya. Meninggalkan Rezvan dan Kenzo yang menatap satu sama lain dengan tatapan kosong –menyedihkan-.


“Okay everybody welcome to the MB Show with the best MC ever Kenzo!”


Pria itu berdiri ditengah – tengah bus sambil memegang microphone Bluetooth, bertingkah seolah sedang memandu sebuah acara. Sorakan terdengar dari seluruh orang di dalam bus menyambut lakon pria itu.


“Sekarang untuk penampilan pertama, datang pria dengan julukan ‘pacar terbaik’ di dunia maya. Give applause for REZVAN!”


Suara teriakan kembali terdengar saat Rezvan berdiri menggantikan Kenzo ditengah bus. Pria yang memakai celana pendek dengan kemeja putih berlengan pendek itu, menutupi kedua matanya dengan sebuah topi fedora. Menyilangkan kedua tangan didada


layaknya seorang superstar.


Teriakan tak henti – hentinya terdengar disana, tatkala melihat tingkah Rezvan. Kemudian pria itu mengangkat satu tangannya seakan memberi kode agar semua orang berhenti berteriak. Semua sunyi, sebelum ia mengangkat microphone bluetooth di tangannya dan berkata “Turn up the music,” dengan suara yang dibuat karismatik.


Sorakan kembali terdengar beriringan dengan sebuah lagu yang terdengar dari pengeras suara. ‘Lazy Song’ milik Bruno Mars dinyanyikan oleh Rezvan lengkap dengan choreography dari video klip aslinya.


Rezvan benar – benar mengubah perjalanan itu layaknya konser. Ia bahkah mendatangi satu persatu kursi hanya untuk mengajak setiap orang bernyanyi bersama.


Semua orang benar – benar menjadi menjadi satu sambil terus menyanyikan setiap bait


liriknya hingga ke akhir lagu “Nothing at all!”


“Thank you! thank you!”


Ucap pria itu sambil mengangkat sedikit topinya sebagai tanda perpisahan, sorakan masih terdengar keras disana. Kemudian microphone Bluetooth diserahkan kembali MC Kenzo.


“How was that! Good?” tanya pria itu.


“YEAH!” jawab semua orang hampir seperti teriakan.


“Sekarang kita lanjut ke penampilan selanjutnya. Sudah siap?” pria itu mencoba membangkitkan suasana.


“YA!” jawab mereka serempak.


“Sekali lagi sudah siap!”


“YA!”


“I can’t hear you. Creative Department! Make some noise!”


“WHOOOOOO!!!”


“Oke langsung saja kita saksikan, one man show from ‘one man intern’. Tepuk tangan yang meriah buat Wikan!”


Sekali lagi kata – kata Kenzo disambut dengan teriakan dari semua orang disana. Penampilan stand up comedy dari Wikan juga tak kalah membuat suasana menjadi bersemangat.


Semua orang tertawa, semua orang bergembira bersama. Lima jam perjalanan yang mereka lalui dihabiskan tanpa rasa bosan, hingga tanpa terasa mereka sudah tiba di tujuan.


Matahari sudah berada diatas saat mereka tiba, cukup terik. Meski begitu liburan tetaplah liburan. Semua orang begitu sibuk berfoto begitu mereka sampai. Sibuk mengatur posisi agar mendapat pemandangan latar belakang yang bagus. Begitupun Qeiza, dia buru – buru menarik tangan Calya untuk mengabadikan gambar mereka berdua.


Namun Qeiza bukanlah tipe orang yang puas dengan satu atau dua kali foto. Dia terus berpindah tempat dan berganti gaya agar untuk mendapatkan foto lainnya. Calya tak bisa terus mengikutinya, dia memisahkan diri untuk memeriksa smartphone miliknya.


“Kalian baru sampai?” suara seorang pria membuatnya kaget.


“Sedang apa kalian disini?” tanya wanita itu, tak kalah kaget setelah melihat dua sosok yang kini sedang berdiri di depannya.


“Vila ini milik Ray. Tadi malam saat saya minta dia meminjamkan vila ini, dia langsung menelpon penjaga vila agar bisa dibereskan. Ternyata penjaga vila kehilangan salah satu kunci, jadi kami datang pagi – pagi untuk mengantarkan kunci cadangan,” Jelas Damian panjang lebar.


“Jadi teman yang anda ceritakan kemarin…” alih – alih menyelesaikan kalimatnya dengan kata–kata dia menggunakan tangannya untuk menunjuk kearah Ray.


“Ya, kami teman kuliah."


“Ada Bapak Ray!” ketiga rekannya yang tadi tengah sibuk bergantian mengambil gambar kini bergabung dengan mereka.


“Ada perlu apa kalian kemari,” tanya Kenzo penasaran.


“Vila ini miliknya,” jawab Calya datar, jawaban itu mengundang reaksi Qeiza “Ooooo…”


Calya menatap tajam Qeiza, ‘hentikan itu!’ kira – kira seperti itu jika diartikan.


“Karena kalian sudah disini, bagaimana? kalau kalian bergabung bersama kami?” tawaran yang diucapkan Kenzo secara tiba – tiba membuat Calya seketika menatapnya.


“Ya, nanti malam kami akan membuat pesta barbeque. Ikutlah! Hitung – hitung sebagai ucapan terimakasih kami atas vila dan juga bantuan tempo hari,” tambah Rezvan, berusaha meyakinkan kedua orang itu untuk bergabung.


“Bagaimana Ray?” tanya Damian, sementara Ray memperhatikan Calya yang sedang menatap ke sembarang arah – terlihat tidak peduli-.


“Ayolah! Bukankah tidak sopan jika menolak sebuah undangan? Tenang saja, kami tidak akan menyusahkan anda,” kali ini giliran Qeiza ikut membujuk dan sepertinya berhasil.


“Baiklah, jika kalian memaksa,” ucap pria itu. “Kenapa kalian tidak masuk dulu dan membereskan barang – barang? Pintunya sudah dibuka,” Damian memberi saran setelah melihat barang – barang mereka yang tergeletak di beberapa tempat.


“Baiklah. Kalau begitu kami permisi dulu,” Kenzo mewakili teman – temannya undur diri, tidak lupa mengajak staf lainnya di sana sebelum benar – benar masuk kedalam villa.