
“Apa tim desain sudah memberi laporan?” tanya wanita dengan gawai pintar ditangannya, sibuk melihat laporan elektronik disana. Sementara dua orang pria lainnya juga melakukan hal yang sama.
“Belum.” jawab salah satu pria.
“Lalu kapan mereka mau memberikannya?” tanya wanita itu lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius.
“Setelah mereka menyesuaikan beberapa tambahan yang kau berikan tadi pagi.” pria itu melepaskan gawai di tangannya, berbicara tak kalah serius untuk meyakinkan si wanita.
“Pastikan kita dapatkan laporannya hari ini.” ucap wanita itu tegas, sebelum kembali melihat layar gawai miliknya.
“Oke. By the way, what’s wrong with you?” Rezvan mematikan layar gawainya. menyandarkan punggung sambil memulai topik pembicaraan baru.
“Apa?” tanya wanita itu tak mengerti.
“You sounds more like Calya now?” ucapnya memperjelas.
“Apa maksudmu? Bukan hanya sekarang, dia sudah lama terdengar seperti Calya?” kini Kenzo pun ikut menambahkan.
“Am I?” tanya Qeiza kebingungan, kembali ke dirinya yang biasanya.
Kedua pria itu mengangguk
“Kritikan-kritikan pedas, nadamu saat menagih pekerjaan sampai ancaman untuk tidak mentolerir kesalahan. Aku pikir Calya telah merasukimu.” jelas Kenzo lagi.
“Kacau, aku sudah terkontaminasi. Bagaimana jika aku benar-benar berubah menjadi Calya. It’s not good!” ucap wanita itu mulai panik.
“Apanya yang tidak baik?” Calya tiba-tiba datang tepat ditengah-tengah percakapan ketiga orang itu tentang dirinya.
“Tidak baik jika…. kita sampai melewatkan deadline, benar kan?” ucap wanita itu mengelak, alasan tercepat yang bisa ia pikirkan saat ini.
“Ya!” - “Benar!” sahut kedua pria itu.
“Isn’t that obvious?”
“Apa?” tanya mereka, berpikir mungkin mereka telah tertangkap basah.
“Tentu saja kita tidak boleh melewatkan deadline. Kalian tidak perlu membahasnya lagi.” namun untungnya Calya menyadarinya.
“Be..benar! Haha.. Kenapa kalian berdua terus bertanya hal-hal yang sudah jelas?” Qeiza yang gugup mular melempar bola ke kedua temannya.
“Kami berdua? Qei, kau..” ucap Rezvan yang panik dan mulai terpojok. Dalam sesaat ia mungkin bisa membocorkan keadaan yang sebenarnya jika saja Kenzo tidak memotong ucapannya. “Wow, lihat jam berapa ini. Waktunya mengecek laporan. Ayo!” Kenzo menarik Rezvan pergi dari ruang rapat.
“Ada apa dengan mereka berdua?” tanya Calya sedikit bingung.
“Mereka? Kamu tahu sendiri lah, mereka kan dari dulu memang aneh.” jawab Qeiza meluruskan atau lebih tepatnya menjerumuskan.
“So, how’s the work?” tanya Calya sementara mereka berjalan kembali menuju ruang kerja.
“Memusingkan, melelahkan, menjengkelkan. Kamu tahu berapa banyak film baru yang sudah dirilis? dan tidak ada satupun dari daftar yang bisa kutonton karena projek ini. Haaa.. lama-lama aku bisa jadi zombie spoiler di sosial media.” Qeiza kembali menjadi dirinya, mengeluh saat tidak merasa ketinggalan tren.
“Hanging on a little bit” Calya mencoba menyemangati.
“I know. The show must go on, dan kalau hasil dari project ini buruk setelah semua pengorbanan yang kulakukan ini sama saja suicide. Never, gonna happen, aku akan benar-benar fokus ke pekerjaan.” setidaknya Qeiza membuktikan bahwa keluhannya hanya sekedar pelampiasan rasa lelah, bukan bentuk rasa ingin lari dari tanggung jawab.
“Good mindset. Sepertinya aku telah melatihmu dengan baik, ya?” Calya mulai bercanda.
“Haha.. Benar sekali. Kamu melatih aku menjadi zombie workaholic yang terisolasi dari indahnya dunia luar.” Qeiza membalaz ejekannya.
“Meski begitu, setidaknya kamu tidak sendirian. Kan ada aku.”
“That’s sounds terrible.”
“Apa?”
“Let’s back to work.”
***
Qeiza menjadi lebih sibuk dari biasanya setelah dia ditugaskan untuk memimpin projek baru dengan Radhika Grup. Meski begitu wanita itu berhasil melakukan tugasnya dengan baik, termasuk berkomunikasi langsung dengan klien yang sebenarnya diluar ranah pekerjaannya. Qeiza membangun komunikasi yang baik dengan Arion, mulai dari pelaporan, pengaturan rapat, hingga menafsirkan semua keinginan pria itu untuk projek ini. Wanita itu berhasil menjaga hubungan baik sebagai partner bisnis.
“Siapa?” tanya Damian saat melihat wanita itu sibuk dengan ponselnya ditengah makan siang mereka.
“Arion.”
“Dia juga menghubungimu saat jam makan siang?”
“Oh, dia menghubungiku kapanpun dia punya ide untuk projeknya.”
“Benarkah? Berdedikasi sekali.”
Qeiza mengangguk smbil mengunyah makanannya.
“Kau bisa coba diskusikan dengannya jika merasa terganggu”
“Tidak juga, setidaknya dia berbicara dengan cukup sopan.”
“Oh, begitu.”
Damian dengan jelas menunjukan bahwa dia terusik dengan kedekatan Qeiza dan Arion. Meskipun dia juga berusaha bersikap netral demi profesionalitas. Tapi tetap dia tak bisa menyembunyikan detail-detail kecil. Seperti lirikan matanya yang selalu tertuju pada layar ponsel Qeiza yang menyala atau memeriksa ekspresi wanita itu saat membaca pesan di ponselnya.
Sementara ditempat yang berbeda Calya juga tak kalah sibuknya. Membawa para karyawan magang dalam timnya, wanita itu mengambil tanggung jawab lebih besar dari biasanya. Membawahi mereka yang minim pengalaman untuk mengerjakan proyek besar sekelas Niskala jelas merupakan tantangan tersendiri. Calya harus lebih banyak mengambil peran dengan mengajarkan, mengarahkan hingga mengawasi pekerjaan mereka. Tidak berlebihan untuk dikatakan jika dia mengerjakan hampir semua hal sendirian.
Tapi bukan itu fokus utama baginya. tidak sama sekali. Bagi wanita itu membimbing mereka saat ini adalah langkah yang tepat untuk mengubah mereka menjadi bantuan besar di masa depan. Memang kemampuan dan pengalaman mereka masih minim, namun usia muda pastinya membantu mereka untuk mempelajari hal baru lebih cepat dan mereka akan belajar lebih banyak dari projek yang besar. Calya yakin kedepannya akan ada lebih banyak projek besar yang harus mereka tangani disaat yang bersamaan, jadi memiliki lebih banyak tenaga kerja ahli akan lebih bagus.
Tapi selayaknya manusia pada umumnya, wanita itu juga demikian. Tak peduli bagaimana pikiran dan hatinya berencana, tubuhnya seakan menghentikannya. Entah karena faktor usia, tapi wanita itu kini sudah kelelahan, sampai ia tanpa sadar tertidur di salah satu kursi lorong itu. Padahal niat awalnya hanya duduk sejenak sambil memeriksa pesan masuk di ponselnya.
“Ok! Semuanya kita lanjut makan malam dulu!”
Salah satu dari tim Niskala memanggil semua orang yang sedang berbenah. Proses syuting sudah selesai satu jam yang lalu dan kini mereka sedang berbenah di dalam studio. Undangan makan malam tim barusan menambah semangat semua orang untuk berbenah lebih cepat.
“Wah.. ada makan malam tim. Bisa makan sepuasnya!” seru Wikan.
“Ini baru yang namanya kerja keras yang tidak sia-sia. Buruan beresin!” tambah Rana.
“Eh, tapi kok mba Calya nga kelihatan ya?” tanya Davidya sambil melihat ke seisi ruangan.
“Bukanya nga lama setelah syuting selesai dia keluar.” jawab Rana.
“Aku juga lihat, dia keluar setelah ngobrol sama sutradara.” tambah Wikan.
“Apa jangan-jangan dia pergi duluan karena ada urusan lain? tanya Davidya lagi.
“Terus nasib kita gimana? Masa iya kita pergi makan malam tim tanpa tim leader.” Rana mulai panik.
“Ini nga bisa terjadi. Wikan cepat pergi cari mba Calya, sana!” tambah Davidya.
“Oke.. oke..” Wikan hendak pergi, namun sebelum dia beranjak sebuah suaran menghentikan langkahnya.
“Kalian mau kemana? Tidak ikut makan malam tim” Ray datang menghampiri ketiga orang itu.
“Ikut, Pak. Kami mau mencari Mba Calya dulu.” jawab Rana.
“Calya kemana memangnya?”
“Tadi pergi keluar, mungkin ada di sekitar gedung.” jelas Davidya.
“Kalau begitu biar saya yang cari. Kalian langsung pergi ke restoran saja dengan yang lain.”
“Baik, Pak.”
Semua orang sudah mulai meninggalkan lokasi syuting, dan Ray seperti yang dia katakan tadi pergi mencari Calya ke sekeliling gedung. Tidak butuh waktu lama, bagi pria itu untuk menemukannya. Calya masih tertidur di salah satu kursi koridor dengan posisi duduk. Pria itu berjalan perlahan mendekatinya.
“Bagaimana bisa dia tertidur lelap dengan posisi seperti ini?”
Duduk tepat disampingnya Ray berniat membangunkan Calya, mengingat hari sudah larut dan wanita itu harus makan. Tapi raut wajah lelah Calya membuatnya menahan diri.
“Dia juga tak akan punya selera makan jika terlalu kelelahan.” ucap pria itu sambil tetap duduk disana