LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Heartless



Pria itu akhirnya menyadari keberadaan Calya disana. Senyum tipis mengiringi langkahnya menghampiri wanita itu.


“Sorry, sudah lama menunggu?”


“Tidak juga.”


“Let’s come to my room.”


Ray menjelaskan ide-idenya kepada Calya. Masing-masing poin secara rinci, sampai ke target-target jangka pendek dan jangka panjang  yang ingin ia capai. Membuat wanita itu terpukau untuk kedua kalinya. Fokus, cerdas dan berkarisma. Calya benar-benar diperlihatkan sisi baru dari pria itu hari ini. Sisi baru yang membuat batinnya harus mengakui kalau pria itu cukup keren.


“Apa perkataanku bisa dipahami. Kalau terlalu cepat bisa ku ulangi sekali lagi.” ucap Ray, menyadarkan kembali Calya yang hampir tenggelam dalam lamunannya.


“Tidak, itu sudah jelas. Semuanya sudah saya catat, jadi anda tidak perlu khawatir.”


“Baiklah kalau begitu.”


“Karena sudah selesai, saya akan kembali ke kantor. Hasil pembahasan kita akan saya sampaikan ke tim untuk penyesuaian ulang dengan konsep. Hasilnya akan segera saya laporkan pada Anda.”


“Fine.”


Calya sedang membereskan beberapa barangnya saat seorang staf tiba-tiba masuk ke ruangan Ray.


“Boss.. Ah.. Anda ada tamu.”


“Tidak masalah Sandy. Ada apa?”


“Kepala Tim ingin membahas sesuatu dengan Anda.”


“Saya segera kesana.”


“Tapi Anda belum makan siang, kan? Perlu saya sampaikan untuk menunggu 30 menit?”


“Tidak perlu. Saya kesana sebentar lagi.”


“Baik, saya permisi.”


Pria itu akan segera pergi, tapi ia sadar bahwa Calya masih disana. Sedikit merasa tidak enak karena sempat membuat wanita itu menunggu, kini ia kembali merasa tidak enak. “Maaf aku tidak bisa mengantarmu keluar.” ucapnya penuh penyesalan.


“Tidak masalah. Saya permisi.” Calya berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.bahkan setelah semua yang ia saksikan hari ini, dalam hatinya masih dibuat bertanya-tanya. Benarkah ini Ray yang selama ini dia kenal? Pikirnya.


‘Bahkan sampai melewatkan jam makan siang, boleh juga.’ ucap wanita itu sambil melangkah pergi.


***


“Kau tidak tahu apa-apa, jadi jangan mencoba untuk menggurui-ku!”


“Ya, aku memang tidak tahu semua masalahmu. Tapi aku sangat tahu tentang orang-orang yang menderita karena kabur dari masalah.”


Pria itu terlihat resah saat potongan ingatan itu muncul di kepalanya. Berbalik dari satu sisi lalu menghadap ke sisi lainnya, mencoba menghentikan ingatan yang seolah film yang sedang diputar.. Tempat tidur itu tak lagi terlihat rapi karena tingkahnya. Hanya menunjukkan kegagalannya menghentikan ingatan itu untuk terus muncul.


“Jika memang itu yang kau inginkan, silahkan. Kembali dan sembunyi dibalik minuman itu selamanya. Pengecut sepertimu memang pantas hidup seperti itu.”


Arion duduk secara tiba-tiba. Ingatan yang baru saja muncul tidak berdampak baginya untuk diabaikan. Kata-kata yang Calya ucapkan memang berhasil mengusik hidupnya selama beberapa hari ini. Mungkin kata-kata itu terlalu kejam, atau mungkin pria itu diam-diam mengakuinya sebagai kebenaran.


“Dasar wanita tak punya hati!” umpatnya kesal.


Beberapa hari berlalu, Arion sudah kembali ke rutinitasnya sehari-hari. Proyek baru yang sempat ia tinggalkan kini kembali ia pimpin. Dengan serius mempelajari progres setap divisi, mengamati poin-poin lemah dari setiap rencana dan memikirkan alternatif pilihan agar bisa menjadi solusi. Terlepas dari semua masalah di hidupnya dia tetap mampu bersikap profesional dalam bekerja.


“Permisi Pak Arion, sudah waktunya meeting dengan Parama Ad.”


“Oke.”


Arion yang memasuki ruang rapat langsung disambut oleh semua orang. Pria itu langsung duduk di kursinya usai bertukar sapa dengan orang-orang diruangan itu. Matanya menyusuri setiap wajah di ruangan itu dan dibuat heran akan sesuatu. ‘Tidak ada,’ ucapnya dalam hati. Tapi dia tidak punya waktu untuk berlama-lama dalam kebingungan, ada setumpuk pekerjaan penting yang ada di hadapannya sekarang. Disitu dia harus memusatkan konsentrasinya saat ini, hal yang sangat dia sadari.


Meskipun memakan waktu cukup lama tapi rapat itu berjalan cukup tidak kesalahan hanya tambahan beberapa ide baru yang perlu ditambahkan. Sepertinya progres proyek kali ini berjalan menuju kearah yang cukup positif hingga mereka bisa mengakhiri rapat tanpa ketegangan.


“Akhirnya..” ucap Rezvan sambil sedikit melakukan peregangan.


“Memang umur tidak bisa bohong, cuma duduk beberapa jam langsung sakit-sakit pinggang.” ucap Qeiza santai.


“Benarkan? Kurasa kita memang sudah tua.”


“Not us, but you! Aku sih biasa aja, nga sakit dimanapun.”


“Hei Qei, kau lupa sebentar lagi sudah 30-an. Jangan pura-pura, benarkan Kenzo?”


“Entahlah, yang jelas aku juga baik-baik saja.”


“Hei, kalian bedua. Dasar!”


Ketiga orang itu berjalan keluar dari ruang rapat sambil bercanda layaknya rutinitas mereka. Tepat sebelum mereka mencapai lift suara seseorang menyapa menghentikan langkah mereka bertiga.


“Maaf tidak langsung mengantar kalian keluar, tadi ada telepon masuk makanya saya buru-buru keluar.” ucap Arion merasa tak enak.


“Tidak masalah, kami sudah biasa..” ucapan Rezvan yang terlalu santai lerhenti saat wanita di sebelahnya menyenggolnya penuh arti.


“Kami sudah tahu anda pasti sibuk.” Rezvan yang berhasil mengartikan kode dari Qeiza langsung meralat perkataannya.


“Terima kasih atas pengertiannya. Hmm.. Mengenai tambahan ide dari kami…”


“Pasti akan kami kami selesaikan secepatnya.” potong Qeiza.


“Oke. Lalu untuk progres…”


“Progres dari setiap stepnya akan langsung kami laporkan pada Anda.”


“Juga tolong..”


“Menyediakan 3 pilihan option untuk setiap ide, pasti kami lakukan.”


Setiap kalimat yang ingin diucapkan Arion selalu dipotong oleh Qeiza. Seperti panah yang menancap tepat pada sasaran, setiap perkataan Qeiza memang adalah jawaban yang ingin didengar pria itu. Hal itu cukup membuat Arion heran dan terkesima.


“Kalian luar biasa, sampai bisa membaca pikiranku.”


“Terima kasih pujiannya, kami memang sudah dilatih untuk itu.” jawab Kenzo rendah hati.


“Sebenarnya Creative Director kami selalu memberikan penjelasan rinci sebelum dia menyerahkan sebuah project untuk kami handle.” tambah Qeiza. Bukan sembarang ungkapan, mengarah ke pancingan lebih tepatnya.


“Jadi, kalian akan menghandle proyek ini tanpa Creative Director kalian?” dan sepertinya Arion telah memakan umpan tersebut atau mungkin akhirnya dia menemukan jawaban yang ia cari. Alasan kenapa ia cukup heran saat menelusuri seluruh wajah diruang rapat tadi, ketidakhadiran wanita itu.


“Benar sekali. Tapi Anda tenang saja, kami pastikan hasil kerja kami tidak akan membuat anda kecewa.” tambah Kenzo.


“Makanya sekarang kami harus undur diri agar lebih cepat memberikan progres positif pada Anda.” Qeiza dengan lugas mengakhiri percakapan mereka dan langsung melangkah pergi.


“Permisi.” tutup kedua rekan kerjanya sebelum mengikuti langkah wanita itu.


Arion kembali keruangan, membuka berkas pekerjaan yang telah menunggunya di atas meja. Untuk beberapa detik ia terlihat serius memandangi berkas itu, hanya beberapa detik sebelum konsentrasinya runtuh.


“Setelah semua yang dia lakukan padaku? Benar-benar tidak punya hati!”