
Para staf Creative Department satu persatu keluar dari ruang rapat. Mereka baru saja membahas ide untuk proyek Radhika grup dan Niskala. Hasil dari wawancara singkat dengan salah seorang gamer tadi malam.
Qeiza menjelaskan tentang ide yang akan mereka kembangkan bersama, setelah nya Calya membagi tugas kepada masing - masing staf. Itulah mengapa beberapa staf terlihat berjalan terburu - buru saat meninggalkan ruang rapat, beberapa tugas harus segera diselesaikan.
"Cal!" Qeiza berusaha menyusul Calya yang berjalan dengan langkah cepat.
"Makan siang yuk!"
"Nga bisa Qei, aku harus ke Radhika Grup sekarang."
"Tapi kan kamu belum makan!"
"Ya, nanti aku makan setelah pulang dari Radhika Grup."
"Kenapa nga makan dulu baru pergi?"
"Nga bisa! Ini harus cepat dikasi ke tim!"
"Masa aku harus makan sendiri sih?"
Qeiza terlihat sedikit kesal. Dia hampir tidak pernah makan sendirian, dan Calya hampir selalu menjadi teman makan siangnya.
"Ya nga apalah, sekali - sekali. Yuk jalan bareng!"
Calya merangkul lengan temannya agar berjalan bersama keluar dari kantor, berusaha sedikit mengurangi rasa kesal Qeiza. Dalam perjalanan mereka berpapasan dengan Damian.
"Mau kemana?"
"Ke Radhika Grup."
"Berdua?"
"Saya sendiri, kalau dia mau makan siang."
"Baiklah, hati - hati kalau begitu."
Ketiganya sama-sama berjalan meninggalkan gedung kantor. Setelah melewati pintu masuk, Qeiza dan Calya mengambil arah yang berbeda. Namun Damian tetap mengikuti langkah Qeiza.
"Anda mau kemana sebenarnya?" Qeiza akhirnya memutuskan berhenti berjalan dan bertanya.
"Anda masih punya hutang padaku, ingat?"
"Ya, lalu?"
"Setidaknya anda bisa membelikan makan siang sekarang!"
Qeiza mendengus kesal setelah mendengar alasan yang tidak bisa ia bantah. Dengan terpaksa ia membiarkan Damian makan siang bersamanya.
Keduanya sampai disebuah restoran tak jauh dari kantor. Memesan makanan dan makan dengan tenang, selama beberapa menit pertama.
"Bagaimana perkembangan proyek kalian?"
Damian berbicara dengan tenang sambil menyantap makanannya.
"Baik, semuanya lancar."
"Kalian bekerja dengan baik. Anda juga, langsung bekerja begitu dapat ide."
"Bukankah seharusnya memang begitu?"
"Benar sekali, bekerja dengan sungguh - sungguh memang bagus" Damian minum beberapa teguk sebelum kembali berbicara.
"Lebih bagus lagi kalau anda juga melunasi hutang anda dengan baik."
"Bukannya saat ini saya sedang melunasi ya?"
"Tentu saja, tapi tidak cukup!"
Qeiza berhenti makan sejenak, menatap pria yang sedang duduk didepannya saat ini.
"Apa anda ini rentenir? Kenapa hutang saya terus dilipatgandakan?"
"Anda tidak pernah dengar pepatah lama? Hutang harta bisa dibayar, tapi hutang budi dibawa mati."
"Tentu saja. Nanti kalau saya mati, akan saya sampaikan pada malaikat kalau anda berbudi baik. Bagaimana? Lunas?"
"Mana bisa seperti itu."
Qeiza manyadarkan punggungnya. Masih menatap Damian, mencoba menebak isi kepala pria itu.
"Kenapa anda selalu bertingkah aneh dengan saya. Apa jangan - jangan, anda suka sama saya?"
Pertanyaan Qeiza membuat Damian juga menghentikan kegiatan makannya.
"Anda sendiri bagaimana? Apa anda suka dengan saya?"
"Saya? Tidak!"
"Tidak atau belum?"
"Memang ada bedanya?"
Damian kembali melanjutkan menyantap makanannya.
"Saya juga tidak suka pada anda."
"Tapi saya tertarik pada anda. Artinya saya belum menyukai anda. Itu bedanya."
Qeiza mendengus kesal.
"Anda pasti tidak waras, mengatakan hal seperti itu sambil memotong daging!"
"Tidak ada aturan yang mengatur tentang bagaimana kita harus menyampaikan perasaan kita, yang terpenting adalah berkata jujur."
...****************...
Calya sampai di gedung Radhika Grup. Hal pertama yang menarik perhatiannya adalah pakaian pegawai wanita yang saat ini tengah mengantar nya menuju ruang kerja Arion, terlihat cukup sexy.
Sesampainya diruang kerja Arion, pria itu terlihat sedang duduk menunggu dirinya. Mereka berjabat tangan dan Arion mempersilahkan Calya untuk duduk.
"Jadi, Apa yang ingin anda diskusikan?"
"Ah iya. Tentang proyek Sport World. Kami ingin menawarkan satu konsep lagi, selain video komersial yang sebelumnya sudah kita sepakati," lagi - lagi Calya terbawa suasana saat memandang wajah Arion. Wajah yang terlihat sama persis dengan Keanu itu selalu mengganggu konsentrasi nya.
"Jadi, apa itu?"
"Kolaborasi bersama para gamer."
"Gamer? Maksud anda seperti game tester?"
"Ya. Jadi kami sudah membuat daftar top gamer berpengaruh yang nantinya akan kita minta untuk bermain Sport World. Selanjutnya mereka bisa membagikan pengalaman atau video mereka selama bermain, secara jujur."
"Secara jujur? Apa itu tidak terlalu beresiko? Bagaimana pun selera setiap orang berbeda."
"Tentu saja! Tapi jika kita benar - benar memilih gamer yang berpengalaman dan terpercaya, mereka akan menilai dengan bijaksana."
"Baiklah, jika memang kalian sudah mempersiapkan semuanya. Saya setuju."
Diam - diam Calya menghela napas. Setelah sekuat tenaga berusaha untuk tidak terpengaruh dengan wajah itu. Dia berusaha untuk professional, meskipun ia harus menghindari melihat wajah itu.
"Bagaimana dengan file yang kami minta?" satu hal terakhir sebelum dia bisa meninggalkan tempat itu.
"Sedang disiapkan oleh karyawan."
Mereka berdua kini tenggelam dalam kesunyian didalam ruangan itu. Arion memperhatikan wanita yang terlihat canggung itu.
"Bosan?" tanya Arion.
"Hal yang yang dibenci dan paling membosankan didunia memang menunggu kan?"
'Jujur sekali.' pikir Arion.
"Calya yang menyibukkan diri dengan menghidup - matikan layar ponselnya. Sampai akhirnya suara dering ponsel memecah keheningan disana, suara ponsel milik Arion.
"Halo."
"Rion honey!"
"Ya."
"Kenapa kau jarang menghubungi?"
"Maaf belakangan ini aku sibuk."
"Kalau begitu kapan kita ketemu lagi?
Bagaimana kalau malam ini?"
"Malam ini? Boleh. Dimana? Dirumahmu."
"Dimana ya enaknya? Bagaimana kalau dihotel?"
"Kau pilih saja"
Panggilan telepon itu tidak di perbesar, tapi Calya dapat mendengar dengan jelas semuanya. Suara wanita yang terdengar manja dan percakapan mereka berdua yang menggoda satu sama lain. Mengingatkan nya akan artikel yng tempo hari ia baca.
'Jadi artikel itu memang benar' pikirnya. Dia melangkah pergi dari ruangan itu.
Beberapa menit kemudian Calya kembali keruangan itu. Arion terlihat sudah menunggunya.
"Apa file nya sudah siap?"
Arion menjawab dengan memperlihatkan sebuah USB di tangannya. Calya berusaha mengambil nya namun dengan sengaja pria itu menjauhkan tangannya.
"Apa kau sebegitu tidak nyaman nya denganku? Dari tadi kau terus menghindar menatap ku."
"Kau juga pergi saat aku sedang menerima telepon tadi, apa jangan - jangan.. Kau cemburu?"
"Saya kesini untuk urusan kerja, bukan urusan pribadi!"
Mendengar jawaban Calya Arion kemudian memberikan USB tersebut. Calya melangkah meninggalkan ruangan. Sebelum sampai dipintu, ia berbalik.
"Jika anda memang penasaran, saya memang merasa tidak nyaman. Bukan karena anda, tapi karena wajah anda. Wajah anda yang mengganggu saya, sedangkan selebihnya saya tidak peduli."
"Permisi" Calya benar - benar meniggalkan ruangan itu kali ini.
"Apa yang salah dengan wajahku?" memandangi pantulan wajahnya dari layar ponsel.