LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Tidak Nyaman



Qeiza sedang berada disebuah pusat perbelanjaan, melihat – lihat koleksi tas terbaru. Dia meengunjungi hampir setiap toko disana melihat apakah ada tas yang dapat memikat hatinya.


“Lama tidak berjumpa,” seorang pria menyapanya. Qeiza sedikit kaget mendapati salah satu mantan kekasihnya ada disana. “Terlalu lama untuk diingat,” jawabnya. Terkesan dingin, karena mereka berpisah bukan karena alasan yang baik menurutnya.


Pria yang tidak sedang dalam suasana hati yang baik, emosinya tersulut saat mendengar kata – kata Qeiza.


”Apa katamu? Maksudmu aku tidak cukup baik untuk diingat, begitu?” ucapnya sambil berkacak pinggang.


“Kamu ini kenapa? Aneh sekali,” Qeiza yang sudah merasa kesal karena bertemu dengan mantan kekasihnya, makin dibuat kesal dengan tingkah anehnya.


“Aneh? Wanita ini benar – benar tidak berkaca. Kau yang dalam selalu gonta – ganti pasangan dalam sekejap. Siapa yang sebenarnya aneh kau atau aku?” nada suara pria itu yang semakin meninggi hingga menarik perhatian orang – orang disana, membuat Qeiza tidak nyaman. Qeiza mencoba untuk meninggalkan pria itu disana, tapi pria itu menahan lengannya.


“Mau kemana kau? Setelah dulu kau meninggalkanku setelah tiga hari bersama, sekarang kau bahkan mengabaikan ku saat berbicara! Apa kau tidak punya sopan santun?” pria itu semakin menenangkan genggaman tangannya hingga menyakiti Qeiza.


“Kamu yang tidak punya sopan santun, membuat keributan ditempat umum,” Qeiza menahan sakit ditangannya sambil mencoba melepaskan cengkraman ditangannya.


Pria itu tertawa sinis mendengar ucapan qeiza “Aku membuat keributan? Baiklah kalau kau memang ingin keributan!” pria itu kembali mencengkeram tangan qeiza dengan paksa bermaksud menyeretnya.


Qeiza melawan meskipun tenaganya tak cukup mampu untuk melarikan diri. Tiba – tiba sebuah tangan mengangkat paksa tangan pria itu hingga berhasil membebaskan tangan qeiza. Pria itu, Damian menempatkan tubuh qeiza dibalik badannya.


“Apa – apaan kau! Jangan ikut campur!” mantan kekasih Qeiza berusaha untuk menyentuh wanita itu kembali namun Damian menepis tangannya.


“Aku ingin ikut campur,” jawab Damian dengan santai.


“Memangnya kau siapa berani ikut campur?” pria terlihat sangat emosi saat ini, dilihat dari bola matanya yang membesar dan alisnya yang ynag terangkat.


“Aku? Aku tunangannya,” Kalimat itu tidak hanya membuat mantan kekasih Qeiza terkejut, tapi juga Qeiza sendiri.


“Tunangan? Jangan bebohong! Kau pasti hanya salah satu dari pria yang dia permainkan,” tawa sinis terlihat menyertai ketidakpercayaannya.


“Apa kau banyak mempermainkan pria? Maafkan aku pasti karena aku lama meninggalkan mu keluar negeri makanya kau berusaha melupakanku dengan mengencani banyak pria. Kau tenang saja aku tidak akan meninggalkanmu lagi,” Damian mengelus rambut Qeiza untuk membuat aktingnya terlihat lebih meyakinkan. Sementara Qeiza hanya bisa terdiam dalam permainan itu.


“Aku meminta maaf mewakili tunanganku. Aku tahu dia tidak seharusnya bersikap begitu, tapi mau bagaimana lagi? Dia tidak bisa melupakanku,” Damian membawa Qeiza pergi dari sana.


Sementara pria itu hanya bisa terdiam setelah niat ingin melampiaskan kekesalan malah berakhir dengan mempermalukan dirinya sendiri.


...***...


Creative Department terlihat kembali ke kondisi normal. Setelah semua kekacauan yang sempat terjadi, semua orang kini mengalami peningkatan kinerja.


Seperti pelangi setelah hujan. Semua kesulitan membuat mereka menjadi lebih baik. Hari itu keempat pilar Creative Department dipanggil ke Account Executive, tepatnya kantor Damian.


Keempat orang itu duduk rapi menunggu apa yang ingin disampaikan Damian. Pria itu duduk santai seolah mengisyaratkan bahwa tidak akan ada kabar buruk.


“Apa yang ingin saya sampaikan tidak jauh berbeda dari terakhir kali. Kabar baiknya juga masih sama,” kalimat yang diucapkan Damian membuat keempat orang itu lega.


“Jadi.. apa kami akan menangani proyek baru dengan Niskala lagi?” tanya Kenzo memastikan barangkali bagian ini tidak salah dia artikan.


“Iya. Tapi kali ini skalanya akan lebih besar. Niskala memiliki proyek bersama dengan sebuah perusahaan game, dan kalian akan menangani proyek itu,” keempat orang itu mengangguk.


“Ini melibatkan pihak baru, jadi pastikan kalian tidak menimbulkan masalah apapun,” Damian menatap qeiza saat mengatakan kalimat terakhir. Seolah itu memang diperuntukan padanya.


Calya menyadari ada yang aneh dari temannya. Dia tidak se ekspresif dan bersemangat seperti biasanya. Kali ini dia hanya diam seperti kehabisan tenaga, bahkan terlihat sering menunduk selama Damian berbicara. Apa ada sesuatu yang telah terjadi diantara mereka? Itu yang dia pikirkan.


Jam 4.42 sore semua telah meninggalkan ruang Creative Department, menyisakan Qeiza disana. Ia pulang sendirian hari ini karena Calya telah meninggalkan kantor untuk rapat diluar sejak tadi.


Dia menekan tombol lift dan pintu terbuka tak berapa lama. Sosok Damian terlihat disana, membuat wanita itu ingin mengurungkan niatnya untuk masuk.


“Tidak masuk?” tanya Damian, melihat wanita itu hanya mematung disana.


“Barang saya tertinggal diruangan, duluan saja,” Qeiza baru saja berbalik badan saat pria itu memanggilnya.


“Qeiza Oksana”


“Ya”


“Masuklah, saya ingin bicara,” mau tidak mau wanita itu menurut, bagaimanapun juga pria itu masih atasannya.


“Anda tahu banyak tentang game?” tanya Damian.


Qeiza yang tadinya merasa gugup, bisa sedikit bernapas lega. Damian membahas masalah pekerjaan alih – alih kejadian tempo hari.


“Sebelumnya kita pernah beberapa kali menangani iklan game. Saya juga punya beberapa kenalan yang bekerja dibidang yang sama, seandainya butuh bantuan,” jawab wanita itu tanpa menatap kearah Damian.


“Jangan lupa untuk mencari lebih banyak referensi.”


“Ya.”


“Pastikan untuk melakukannya dengan baik.”


“Ya.”


“Ini adalah klien baru jadi kalian harus bisa memenuhi keinginannya.”


“Ya.”


“Apa anda menghindari saya.”


“Anda bahkan sama sekali tidak menatap saya saat berbicara. Apaa..”


Ting


“Saya permisi,” wanita itu langsung berjalan dengan cepat begitu pintu lift terbuka. Sementara pria yang ditinggalkan hanya bisa menahan senyum.


***


Tok.. Tok..


Calya mengetuk meja kerja Qeiza, membuat wanita itu tersadar dari lamunannya.


“Apa?” tanya Qeiza.


“Are you busy?” Qeiza menggeleng.


“Apa kamu sedang ada masalah?” tanya Calya, menyadari perubahan sikap temannya beberapa hari ini.


“Tidak,” jawab Qeiza, nada suaranya yang lemah menandakan sebaliknya.


“You know you can’t lie in front of me right?” kata – kata Calya lebih seperti memberi isyarat bahwa dia sedang tertangkap basah saat ini. Raut wajah wanita itu berubah, layaknya orang yang sedang frustasi.


“It’s not a problem. Just…” kalimat Qeiza terhanti ketika dia melihat Damian berjalan masuk ke ruangan mereka. Seketia wanita itu menghela napas. Calya yang melihat hal itu langsung melihat kearah pandang sahabatnya.


"Ada perlu apa anda kemari?" tanya Calya pada pria yang saat ini sudah duduk disebelahnya.


"Ada hal yang perlu saya sampaikan," Damian menjawab pertanyaan Calya namun pandangannya mengarah pada Qeiza.


Sementara wanita didepan nya itu berpura-pura sedang menatap tablet. Tapi Qeiza tidak cukup lihai untuk berpura-pura, dia tidak tahan. Wanita itu seketika berdiri, membuat kedua orang yang duduk didepan nya menatap kearah ya.


"Saya akan ke toilet, silahkan dilanjutkan."


Tingkah Qeiza membuat Calya semakin merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan temannya. Saat sedang memperhatikan langkah Qeiza tanpa sengat dia mendapati Damian sedang menahan tawa, semakin membuatnya curiga. Damian yang tidak sadar sedikit terkejut saat menyadari tatapan Calya padanya,.


"Apa?" tanya pria itu.


"Anda bilang ingin menyampaikan sesuatu," jawab Calya santai.


"Oh, iya. Besok akan ada pertemuan dengan Niskala Radhika Group. Tidak terlalu serius, tapi lebih baik jika anda ikut," Calya yang sempat meragukan niat kedatangan Damian kini mengangguk mengerti.


"Baiklah! Kirimkan saja waktu  dan alamat nya."


...***...


Qeiza memutar tutup wastafel hingga airnya mengalir. Meletakkan kedua tangan dibawah nya, membiarkan airnya mengalir membasahi.


"Kenapa aku seperti ini?" ucapnya, seraya menatap pantulan wajahnya di cermin.


"Tapi dia sudah mengetahui masalah pribadiku, bahkan terlibat," raut wajah cemberut terlihat disana.


"Memangnya kenapa kalau dia tahu? Semua orang pasti punya masalah pribadi kan! Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan!" raut wajah itu kini berubah datar.


Qeiza seperti sedang melakukan sesi konseling dengan mengajak bicara bayangannya sendiri. Wanita itu berharap bisa meluruskan benang kusut yang mempengaruhi suasana hatinya.


Wanita itu keluar dari toilet setelah menetapkan pikirannya. Kini dia tidak akan lagi bersikap seperti kucing yang tangkap basah mencuri ikan. 'Ini hanya masalah kecil dan tidak akan mempengaruhiku, tidak lagi!'.


Tepat saat dia memikirkan itu sosok Damian terlihat berjalan keluar dari Creative Department. Dia terkejut awalnya, masih ada rasa canggung disana. Tapi ia mengingat kembali niatnya yang sudah bulat.


Satu, dua langkah. Perlahan langkah kedua orang itu mempersempit jarak keduanya. Keduanya melangkah dengan pasti layaknya orang normal. Saat telah berhadapan Damian sengaja memposisikan tubuhnya untuk menghalangi wanita itu.


"Kenapa?" tanya Qeiza, tampak normal.


"Tidak ada yang ingin anda sampaikan?" tanya Damian, dengan niatan untuk menggoda lawan bicara nya.


"Tentang?" sekali lagi Qeiza bertanya, seolah dia tak mengerti.


"Tentang kejadian kemarin?"


"Oh iya, benar. Terimasih. Berkat anda, saya terhindar dari masalah".


Damian menaikkan alisnya setelah mendengar ucapan Qeiza.


"Itu saja?" tanya pria itu, mungkin berharap sesuatu yang lebih.


"Apa ucapan terimakasih saja tidak cukup?" tanya Qeiza.


"Ya, setidaknya ada timbal balik. Seperti.."


"Seperti?". Damian sekilas tersenyum "Dinner?"


"Okay. Nanti saya hubungi".


Qeiza melanjutkan langkah kakinya, meninggalkan Damian.


"Well, not a reaction that I expect to see. Tapi tidak buruk juga," ucap pria itu sambil terus berjalan.