LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Qeiza's Rumor



Qeiza Oksana. Anak bungsu dari 3 bersaudara. Periang adalah kata yang digunakan orang - orang disekitarnya untuk menggambarkannya. Mata bulat dan pipi yang sedikit berisi menampilkan kesan imut di dirinya  Meski kini usianya sudah memasuki angka 26.


Qeiza anak yang baik, saudara yang baik dan juga sahabat yang baik. Namun orang baik pun bisa juga terkena kabar miring. Seperti yang dialami Qeiza di tempat kerjanya.


Orang - orang di Parama Ad sering membicarakannya di belakang. Topiknya, seputar kehidupan pribadinya. Wanita itu aktif di sosial media, apa pun yang dia lakukan selalu ia unggah disana. Sehingga orang - orang dapat menebak apa yang sedang ia lakukan. Sayangnya bagian yang paling sering orang - orang itu tebak adalah masalah percintaannya saja. 


“Hei, udah liat postingan Qeiza kemarin?”


“Belum, emangnya kenapa?”


“Dia dinner sama pacar barunya!”


“Masa? Trus yang sebelumnya gimana?”


“Udah putus kali, aku liat di feed nya juga foto - foto yang sebelumnya udah dihapus.”


“Jadi dia ganti pasangan lagi. Gila! cepet banget!”


Percakapan seperti itu mungkin tergolong normal. Karena dari percakapan yang dilakukan orang - orang setiap hari 70% nya adalah gosip. Hanya masalah giliran saja yang menentukan siapa tokoh utama dari percakapan tersebut.


Namun sayangnya, nama Qeiza terlalu sering menjadi tokoh utama. Hampir setiap hari dia mendapat giliran. Bisa dibilang dia hanya kurang beruntung, karena orang - orang sangat tertarik pada kehidupan pribadinya. 


Bukan tanpa alasan, orang - orang yang memang punya mata yang tajam itu selalu memperhatikan setiap foto yang ia unggah. Otak orang - orang yang kritis itu selalu menganalisa setiap perubahan yang ada di skun sosial media Qeiza. 


Sementara Qeiza hanyalah manusia normal yang menjadikan sosial media sebagai album fotonya. Saat ia sedang bahagia, ia akan langsung mengunggahnya. Saat ia bosan ataupun tidak lagi suka dia akan menghapusnya. Dari sanalah semua rumor tentang wanita itu berasal. 


‘Qeiza yang sering gonta - ganti pasangan.’ 


‘Qeiza yang sering mempermainkan pria.’


Namun apakah semua rumor itu benar?


‘Haahh’


Kenapa aku harus bertemu dengan Fabian lagi? Padahal banyak hal yang harus kulakukan untuk proyek penting ini. Aku harus fokus agar tidak melakukan kesalahan, tapi melihat wajahnya sekali saja langsung menghancurkan semuanya. 


Seharusnya aku bersikap biasa saja waktu itu, bukannya malah membuatnya terlihat kentara. Pasti terlihat jelas sekali kalau aku membencinya. Ya, aku memang membencinya. I really hate the fact that he is my first.


 Aku tahu semua rumor tentang diriku. Aku tidak menyalahkan mereka, karena aku yang membuat mereka berpikiran begitu. Aku sengaja berperilaku seperti ini, dan awal mula penyebabnya adalah pria itu.


Fabian, cinta pertama sekaligus pacar pertamaku. Salahkan diriku yang mudah terpikat pada pria tampan. Itulah dia, dan bukan hanya aku yang berpikir begitu. Banyak gadis di kampus sependapat denganku.


Ya, dia adalah seniorku di kampus. Kami beda jurusan, tapi tidak sulit untuk kenal dan melihat wajahnya yang merupakan ketua dari organisasi kampus. Dia terkenal dan banyak gadis yang mengidolakannya, termasuk aku.


Alasan utama yang membuatku masuk ke organisasi yang sama dengannya. Setelah itu, aku semakin mengaguminya. Dia ramah, dan berwawasan luas. Dia mengajarkanku banyak hal tentang organisasi dan bagaimana membangun relasi. Begitulah kami mulai akrab.


Awalnya hanya sebagai senior dan junior yang bergabung di organisasi yang sama. Hingga di hari kelulusannya. Saat itu aku berdiri di luar gedung dengan memegang sebuah bunga di tanganku, ingin memberinya selamat.


“Qeiza?”


“Ya. Kakak udah selesai?”


“Kau nunggu aku disini dari tadi?”


“Iya. Ini!”


“Bunga untukku?”


“Ya, Selamat sudah berhasil lulus dengan nilai yang bagus. Dan juga terima kasih karena telah mengajariku banyak hal selama ini.”


“Kamu datang hanya ingin mengatakan itu?”


“Iya. Kita mungkin tidak bisa bertemu lagi setelah ini, makanya aku katakan sekarang.”


“Tapi aku masih ingin sering bertemu denganmu.”


“Apa?”


“Kau mau menjadi pacarku?”


“Apa?”


“Bagaimana?”


“Ya, aku mau.”


Begitulah awal mula hubungan kami. Selayaknya pasangan lainnya kami menghabiskan waktu dengan jalan - jalan, makan malam dan makan siang bersama. Kami hanyalah pasangan normal, itu yang aku pikirkan.


Suatu hari ketika aku berhasil menyelesaikan kuliahku, kami makan malam bersama untuk merayakannya.


“Selamat ya, sudah jadi sarjana.”


“Makasih. Kalau kamu nga bantuin aku ngerjain skripsi, mungkin aku belum selesai sekarang.”


“My pleasure. Tapi kalau kau memang berterima kasih sama aku, boleh dong aku minta hadiah.”


“Hadiah? Boleh dong! Kamu mau apa?”


“Hmm.. Habis makan aku kasih tau.”


Kami menyelesaikan makan malam kami dan melanjutkan perjalanan dengan mobilnya. Awalnya kukira dia akan membawaku ke sebuah pusat perbelanjaan, mengingat dia bilang ingin hadiah dariku. Tapi tanda tanya mulai muncul di pikiranku saat mobilnya berhenti di tempat itu.


“Hotel? Kenapa kita kesini?”


“Tenang aja, ini hotel tempatku bekerja.”


Hampir tanpa curiga, aku terus mengikuti kemana langkah kakinya membawaku. Saat itu kupikir dia ingin menunjukkan tempat kerjanya padaku. Sampai kami tiba di sebuah kamar.


“Kita mau ngapain disini sebenarnya?”


“Masuk aja dulu.”


“Nga mau! Bilang dulu kita mau ngapain!”


“Kau bilang mau kasih aku hadiah.”


“Iya, memang. Tapi kenapa harus kesini.”


“Jangan pura - pura polos, Qeiza.”


“Apa?”


Otakku akhirnya mengerti apa yang ia maksud. Tidak, sebenarnya aku berusaha menolak kenyataan ini sedari tadi. Karena bagiku, dia bukan orang seperti ini. 


"Udahlah, jangan berdiri terus disitu, cepat masuk." 


Fabian berjalan masuk kedalam kamar hotel, duduk di kasur dan melepas jaket denim yang ia kenakan. 


"Aku pikir kamu bukan orang yang seperti ini." 


"Seperti ini gimana maksudmu? Qei, jangan terlalu polos. Kau bukan anak kecil. Kau tidak bisa percaya pada kisah romansa anak SMA lagi, itu tidak nyata. Inilah hubungan percintaan yang sebenarnya." 


"Tidak semua pria punya pikiran seperti mu." 


Dia tertawa sinis mendengar perkataan ku. 


"Coba saja kencani semua pria diluar sana, kau akan sadar kalau semua pria sama saja denganku." 


Begitulah akhir dari hubungan kami. Aku meminta nya untuk tidak menghubungi ku lagi, dan dia benar-benar melakukannya. 


Hari itu dia tidak hanya menghancurkan anggapanku tentang dirinya, tapi juga memberi kenangan buruk pada kisah cinta pertamaku. 


Tapi aku tidak menyerah, aku masih percaya pada fantasi cinta sejati. Bahwa ada hubungan cinta yang bisa dijalani tanpa melibatkan nafsu sesaat didalamnya. 


Beberapa waktu berlalu dan aku mulai berkencan dengan beberapa pria. Setiap kali pria itu mulai menunjukkan gepagat aneh seperti Fabian aku akan meninggalkan nya. Kemudian aku bertemu pria lain dan hal yang sama terjadi lagi.


Entah sudah berapa kali, dan hal itu mulai mengikis kepercayaan ku. Mungkin aku memang terlalu naif. Aku mulai mempertanyakan kalimat yang Fabian katakan 'Apa benar semua pria sama saja?'


***


Qeiza berjalan dengan cepat memasuki gedung Parama Ad. Dia cukup sibuk dengan semua persiapan siaran langsung ini, dan dia lebih memilih untuk semakin menyibukkan dirinya daripada memikirkan kembali pria itu.


Tangannya penuh dengan barang hingga membuatnya cukup kesulitan. Meski begitu ia tetap mempertahankan langkah cepatnya.


Drrt.. Drrt.. 


Ponsel wanita itu terus bergetar pertanda Ad panggilan telepon yang masuk. Ia mencoba mengambil ponselnya tapi malah membuat barang - barang yang ia pegang berjatuhan kelantai. 


Qeiza tetap mengangkat panggilan telepon itu, sementara mengabaikan barang - barang yang berserakan di lantai. 


"Halo?" 


"Halo Qei." 


"Kenapa Rezvan?" 


"Aku sedang ada di hotel sekarang. Mereka berkata sudah mempersiapkan semua barang yang kau pinta, dan bertanya kapan kau akan datang dan memeriksa nya?" 


Sementara Qeiza sedang sibuk dengan ponsel nya, Ray dan Damian membantu mengambil barang - barang nya yang berserakan. Kedua pria yang kebetulan sedang berada didekatnya itu langsung sigap membantu. Meskipun Qeiza belum sadar dengan kehadiran mereka.


"Aku tidak bisa ke hotel hari ini, masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan. Katakan saja aku akan datang besok."


“Katanya jika kau perlu bantuan langsung saja hubungi dia.”


“Apa? Kata siapa?”


“Manajer hotel, namanya Fabian.”


“Tidak usah, terima kasih.”


Saat Qeiza mencoba mengambil barang - barangnya, Ray dan Damian sudah terlebih dulu menjulurkan tangan mereka. Menyerahkan barang - barang milik wanita itu.


“Terima kasih,” ucap Qeiza.


“Sama - sama, aku juga ingin berterima kasih. padamu,” jawab Ray, masih belum lupa dengan niatnya sebelumnya.


“Apa? Untuk apa?”


“Karena permintaanmu untuk membawa beberapa produk kami telah memberi ku kesempatan untuk sedikit lebih dekat dengan temanmu.”


“Teman saya? Anda tidak berpikir kalau saya sengaja melakukan itu untuk anda kan?”


“Tentu saja tidak. Aku tahu itu semua terjadi secara kebetulan. Hanya..”


“Maaf saya menyela. Saya hanya mencoba profesional dalam bekerja dan saya yakin anda bukanlah orang yang akan memanfaatkan pekerjaan untuk kepentingan pribadi, benar kan?”


Qeiza dengan cepat mengambil semua barang - barang nya dan meninggalkan kedua pria itu.