LOVATY 1.0

LOVATY 1.0
Peminjam



Calya berjalan perlahan menuju kearah jendela kamarnya. Jendela itu setengah terbuka hingga membuat hembusan angin menerbangkan gorden dengan leluasa. Tapi bukan itu yang membuatnya kaget. suara sesuatu yang jatuh itu tepatnya. Wanita itu menarik gorden putih hingga memperlihatkan beberapa jaket yang menggantung disana, tepat di bawahnya sebuah topi tergeletak di lantai.


“Aku pikir sudah mengembalikannya,” ucapnya saat mengambil topi itu dari lantai, membersihkannya sedikit dari debu dan menggantungnya kembali.


Calya kembali duduk di depan meja riasnya sembari mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk. Tidak seperti saat ia baru sampai beberapa jam yang lalu, dia tampak tenang saat ini. Mungkin semua kekesalan yang ia rasakan telah hilang terbawa air saat ia mandi, atau mungkin karena dia telah melampiaskannya pada Keanu. Wanita itu kembali melihat ponselnya yang hampir terisi penuh, membuka aplikasi bertukar pesan dan mengirim pesan pada seseorang.


‘Topimu masih ada padaku. Besok akan kukembalikan. Kutitipkan pada Damian.’


Beberapa menit kemudian ponselnya kembali bergetar, pertanda pesan masuk.


‘Kafe XX, jam 4.30 sore.’


Calya menautkan alisnya saat membaca isi pesan tersebut. ‘Apa dia salah kirim?’ pikirnya. Meski begitu ia enggan membalas dan bertanya, itulah Calya.


***


Seorang wanita terlihat melangkah masuk ke gedung Parama Ad, blouse biru muda dan celana culotte hitam memberi kesan tinggi padanya. Sementara suara dari hak tiga sentimeter yang ia kenakan membuat langkahnya terdengar berirama. Calya, berjalan sambil menatap layar tablet miliknya. Ia sudah hafal dengan area kantor tanpa harus fokus 100 % menatap jalan. Tapi pastinya ia mengabaikan orang - orang yang berada di sekelilingnya selama perjalananya.


“Apa anda memasang sensor di tubuh anda, hebat sekali bisa berjalan tanpa melihat,” ucap Damian saat mereka berdua berada di dalam sebuah lift yang sama, rupanya pria itu sedari tadi memperhatikannya.


“Apa? Anda rupanya. Maaf saya tidak memperhatikan.”


“Tidak masalah, saya sudah terbiasa.”


Percakapan kedua orang itu berakhir sejenak, sebelum sesaat kemudian Calya teringat akan sesuatu dan membuka kembali percakapan antar keduanya.


“Oh iya, ada yang ingin saya berikan kepada anda,” ucap wanita itu sambil mencoba menyerahkan sebuah paper bag.


“Apa itu milik Ray? Jika iya, saya tidak bisa terima.”


“Kenapa?”


“Ray menyuruhku untuk tidak menerima barang miliknya dari anda.”


“Tapi ini kan milik teman anda. Apa salahnya dititipkan ke anda?”


“Saya hanya menuruti permintaan teman saya.”


Calya terlihat kesal, dan itu dengan jelas dirasakan oleh Damian.


“Mungkin saya bisa menerima itu, asalkan..”


“Asalkan apa?”


“Anda menjawab pertanyaan saya.”


“Pertanyaan apa?”


“Qeiza..”


TING


“Saya permisi.”


Wanita itu langsung melangkah keluar begitu pintu lift terbuka. Meninggalkan Damian yang bahkan belum sempat mengajukan pertanyaannya.


“Selamat pagi!”


Bertukar sapaan pagi yang sudah biasa terdengar. Calya langsung duduk di kursi dan menata meja kerja nya yang penuh dengan beberapa berkas. Saat ia sedang membaca beberapa kertas dari sebuah map, Qeiza datang ke mejanya dengan membawa berkas lainnya.


“Ini konsep untuk iklan properti,” ucapnya sembari menempati kursi kosong didepan meja.


“Thanks, setelah ini aku periksa.”


“Bukannya nanti kamu ada tugas luar sama Arion, ya. Senangnya!”


“Apanya yang senang?”


“Ngeliatin wajahnya yang tampan, bukankah menyenangkan?”


“Wajah? Ya, wajahnya.”


“Andai aku bisa ikut, tapi kerjaan disini masih banyak banget.”


“By the way, Qei. Kamu juga main LOVATY kan?”


“Iya.”


“Apa kamu tahu sesuatu tentang dari mana ARFriendnya berasal?”


“Maksudnya?”


“Maksudnya, wajah mereka. Mereka kan punya tampilan yang benar - benar mirip manusia asli, kamu tahu nga dari mana atau bagaimana mereka dapat wajah itu?”


“Maksudnya apa sih Cal? Aku nga ngerti!.”


“Ya, udahlah. Lupain aja!”


“Lagian tumben kamu tanya tentang LOVATY, biasa nya kalau aku ngomongin tentang LOVATY kamu skeptis. Ada apa memangnya?” Qeiza yang penasaran mendekatkan tubuhnya pada Calya, berharap temannya itu akan menceritakan sesuatu yang menarik kepadanya.


“Kerjaan kamu banyak kan?”


Qeiza mengangguk.


“Kerja sana!”


Qeiza memajukan bibirnya, merasa kesal karena tidak berhasil mendengarkan sesuatu yang menarik. Wanita itu beranjak dari kursi dan kembali kemejanya.


Sebuah pesan masuk menghentikan konsentrasi Calya pada pekerjaannya. Tangannya beralih mengambil ponsel untuk melihat isi pesan tersebut.


‘Tentu saja.’


‘Ingin pergi bersama?’


‘Tidak usah. Langsung bertemu di tempat tujuan saja.’


Tangan wanita itu langsung meletakkan kembali ponsel ke atas meja setelah jemarinya selesai mengetik kalimat balasan dan mengirimnya. Namun beberapa saat kemudian ponselnya kembali berdering, memaksa tangannya untuk sekali lagi menggapai ponsel.


‘Jangan lupa Kafe XX, jam 4.30 sore.’


‘Ada apa memangnya?’


‘Katamu mau mengembalikan topiku.’


‘Kan sudah kubilang akan kutitipkan pada Damian, kenapa kau melarang dia untuk menerimanya?’


‘Kalau mengembalikan barang, kau harus menemui orangnya langsung. Itu bagian dari sopan santun.’


Calya menghela napasnya setelah membaca isi pesan terakhir. Kedua kalinya orang meragukan sopan santunya dan itu membuatnya kesal.


‘Baik.. baik. Kafe XX, jam 4.30 sore. Jangan terlambat.’


Calya meletakkan kembali ponselnya ke atas meja, kali ini dengan lebih kuat hingga suara benturan antara meja dan ponsel dapat terdengar. Mungkin jika ada orang ketiga yang mengirim pesan dan membuatnya kesal lagi, ponsel itu akan tergores. Tapi untungnya ponsel itu tidak berdering sampai jam menunjukkan pukul 4.15 sore. Calya membereskan semua barangnya, berjalan meninggalkan ruangan itu. Diambang pintu dia berpapasan dengan Qeiza yang baru kembali dari tugas luar.


“Cal, mau kemana? Bukannya Janji temunya jam 5 sore?”


“Ada urusan sebentar. Aku langsung pergi kesana habis ini.”


“Calya!”


“Apa?”


“Salam sama Arion,” ucap Qeiza sambil tersenyum manis.


“Kamu percaya aku akan lakukan itu?” ucap Calya langsung berjalan pergi meninggalkan Qeiza disana.


Sementara di Kafe XX Ray sudah duduk rapi di salah satu meja. Sesekali pria itu melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Sesaat kemudian menyentuh layar ponselnya, memeriksa apakah ada pesan masuk yang dia terima. Setelahnya ia menatap ke arah luar kafe, memperhatikan gerak orang yang berlalu - lalang seakan sedang menonton tayangan televisi. Pekerjaan orang yang sedang menunggu. Hingga yang ditunggu akhirnya muncul, membuatnya terlihat lebih santai.


“Maaf terlambat.”


“Tidak masalah, duduklah.”


Calya meletakkan paper bag yang ia bawa diatas meja.


“Ini. Tidak kotor dan tidak bau. Kukembalikan sekarang.”


“Itu saja?”


“Itu saja?”


“Itu saja.”


“Itu saja. Apa maksudmu sebenarnya?”


“Sebagai peminjam yang sedang mengembalikan barang yang dipinjam. Tidakkah seharusnya ada bentuk terima kasih yang tulus? Etika, sopan ..”


“Jangan katakan sopan santun!”


Ray terdiam saat Calya tiba - tiba memotong kalimatnya. Kata ‘sopan santun’ memang berada dalam kamus terlarang Calya akhir - akhir ini, membuatnya bereaksi seketika kata itu disebut.


“Pertama, kamu sendiri yang meminjamkan topimu tanpa kupinta. Kedua, aku mengembalikan nya dalam keadaan tidak kurang sedikitpun. Bukankah artinya selesai?”


“Tapi tidak merubah fakta kalau kau meminjam topiku kan? Sebagai peminjam yang baik, tunjukan ketulusanmu. Setidaknya ucapkan ..”


“TERIMA KASIH.”


“Bagus sekali.”


“Sudah kan? Kalau begitu aku akan pergi.”


“Hey! Mau kemana?”


Ray menahan tangan Calya sebelum wanita itu beranjak dari kursi.


“Aku kesini cuma untuk mengembalikan topimu.”


“Setidaknya sebagai peminjam yang baik..”


“Lagi - lagi itu! Apa maumu sebenarnya?”


“Aku mau kau duduk dan santai.”


“Aku ada meeting!”


“Jam berapa?”


“Jam lima sore.”


“Masih ada waktu, duduklah dulu.”


‘Yang benar saja!’ ucap Calya dalam hati. Tapi wanita itu tidak bisa menolak permintaan Ray. Entah bagaimana pria itu selalu bisa mengalahkannya dalam berdebat.


“Nona Calya!”


Calya dan Ray menoleh ke arah suara yang memanggil Calya. Seorang pria berdiri tak jauh dari sana. Pria itu berjalan mendekati meja mereka.


“Oh, ada Ray juga rupanya.”