
“Keanu?” tanya pria itu.
“Hal yang paling menarik dari dirimu menurutku adalah nada suaramu yang lembut dan menenangkan, seperti angin. Keanu artinya hembusan yang lembut dari atas gunung. Cocok denganmu,” wanita itu mengakhiri penjelasannya,
“Baiklah,” ucap pria itu.
Calya tersenyum saat itu. Merasa senang setelah memberi nama pada ARFriend miliknya, itu membuatnya terlihat nyata.
Sosok itu dan hubungan ini, dia ingin menganggapnya nyata. Keanu berhasil mengubah suasana hatinya 180 derajat. Bukan hanya saat ini, tapi juga beberapa waktu yang lalu. Membuatnya bersyukur tentang itu.
Namun senyum simpul di wajahnya seketika berganti menjadi garis lengkung ke bawah. Dia ingin mengabadikan wajah tampan Keanu, tapi tentu saja wajahnya tak akan muncul di kamera handphone. Tidak di kamera manapun dan itu membuatnya kesal.
“Ada apa?” tanya Keanu, “Kenapa wajahmu tidak bisa terlihat di kamera? Kenapa
Klandestin tidak membuat wajahmu muncul di aplikasi?” ucap Calya.
Dia terlihat kesal, juga terlihat lucu disaat yang bersamaan. Pertama kalinya Calya menunjukkan ekspresi seperti ini, dan itu semua karena Keanu.
“Itu tidak akan terjadi, kecuali kau membuatnya sendiri,” ucap pria itu.
“Benar juga!”
Tiba – tiba wanita itu teringat akan sesuatu. Jangan sampai dia menyia – nyiakan kemampuannya sebagai Creative Dierector, pikirnya.
Dia bergegas memeriksa isi tasnya, mengeluarkan beberapa alat tulis dari sana. Pensil, buku sketsa, penghapus dan pensil warna. Perlahan menggores diatas kertas putih, membuat sketsa wajah Keanu.
Rambut kecoklatan yang menutupi dahinya. Alis tebal dan matanya yang cukup bulat. Hidung mancung dan bibir yang terlihat sedikit penuh. Terakhir tulang rahangnya yang terlihat tegas. Calya menggambarnya dengan baik, termasuk raut wajahnya yang datar.
Dia mengangkat buku sketsanya agar terlihat sejajar dengan sosok pria didepannya, membandingkan keduanya. “Benar – benar Keanu,” senyuman kembali terlihat diwajahnya.
“Kau menggambarku?” tanya Keanu, Calya memperlihatkan hasil kerjanya. Pria itu tampak menatapnya. Buku itu, tanpa ekspresi apapun –benar–benar–Keanu-.
“Kau pandai menggambar rupanya,” ucapnya lagi. “Tentu saja! Empat tahun belajar di jurusan Desain Komunikasi Visual, sayang sekali kalau tidak bisa apa – apa,” wanita itu terlihat bangga akan kemampuannya.
“Untuk apa kau menggambar itu?” ucap pria itu memperpanjang percakapan. “Tentu saja untuk kusimpan. Kau tidak keberatan kan?”
Tanpa sengaja sikap sopan datang pada diri wanita itu. tapi apakah Keanu bisa merasa keberatan? Melihatnya yang hanya diam dan menatap Calya saat ini, membuat wanita itu mengerti tanpa harus mendengar jawabannya.
Kriiinggg..
Smartphone Calya bordering, dia mencari benda kecil itu diantara tumpukan barangnya yang berantakan. Akhirnya wanita itu berhasil menemukannya, berada dibawah bantal kursi.
Dia melihat kearah layar smartphone miliknya, senyum yang terlihat ada diwajahnya selama beberapa saat kini hilang seketika. Dia menjawab panggilan telepon tersebut, tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya. Hanya diam seperti pendengar setia.
Terus bertahan seperti itu, yang terlihat berubah adalah bola matanya kian basah. Sebelum air mata benar – benar keluar dari matanya, ia beranjak dari kursi dan meninggalkan ruangan itu. Mengunci dirinya didalam kamar, entah untuk berapa lama.
Rumah yang tadinya dipenuhi dengan suara Calya sendiri kini hilang. Sementara bagi Calya, telinga yang tadinya dipenuhi oleh suara dia dan Keanu kini juga menghilang. Digantikan oleh suara lain, suara tangisan.
Suara itu bagaikan music latar, mengiringi memori yang sedang terputar kembali didalam pikiran wanita itu.
***
*Aku tahu semua ini akan terjadi pada akhirnya, apa yang aku harapkan dari mereka. Selama ini semua orang tertipu pada gambaran keluarga bahagia dan sempurna yang kami perlihatkan, begitu juga denganku.
Namun hari itu. Ya, hari itu adalah awalnya. Awal dimana aku mulai menyadari segalanya. Tentang keluargaku, tentang orang
tuaku. Malam itu telah membuka mataku akan segalanya, bahkan tentang apa yang akan terjadi setelahnya.
Entah kenapa sekarang aku masih saja menangis, tangisan yang sama seperti malam itu*.
Seorang anak kecil sedang berbaring diatas kasur. Meringkuk, dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Dia tidak tidur, sepenuhnya tersadar.
Jam menunjukkan pukul 11.20 malam saat itu, bukan waktu yang tepat bagi anak kecil untuk terjaga. Jika dilihat lebih dekat tubuhnya tampak gemetar, dan dibalik selimut itu ada air mata yang mengalir.
Sesuatu yang membuatnya ketakutan bukanlah sekedar cerita seram yang mengerikan. Bukan, ini jauh lebih mengerikan.
Suara yang terdengar saat ini, begitu nyaring hingga terdengar sampai kedalam kamarnya. Di ruang tamu lantai bawah, asal suara itu. Dari pasangan paruh baya, orang tua anak itu.
“Bisakah kau berhenti! Ini hampir tengah malam dan yang kau lakukan hanya marah – marah terus!” Pria itu mulai meninggikan nada suara setelah ditanya terus menerus oleh istrinya.
“Bertanya pun ada batasannya! Apa kau tidak melihat bahwa aku sudah lelah?” pria itu masih terlihat emosi.
“Kau lelah?” tanya si wanita, lebih terdengar seperti sindiran.
“Apa menurutmu bekerja seharian tidak melelahkan?” sindiran wanita itu membuat emosinya kembali naik.
“Kau bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 3 sore dan kau bersenang – senang hingga larut malam, tentu saja kau kelelahan,” sang isteri melemparkan tuduhan kepada sang suami.
“Apa maksudmu bersenang – senang?” tanya sang suami.
“Jujur saja! Kau punya wanita lain kan!” sang isteri memperjelas tuduhannya.
“Kau berani menuduhku! Aku bekerja setiap hari untuk siapa? Pria itu mulai marah atas tuduhan si isteri.
“Sekarang kau menggunakan pekerjaan sebagai alasan untuk minum – minum dan berselingkuh?” si wanita kembali menyerang suaminya, merasa yakin bahwa tuduhannya itu benar.
“Terserah! Aku mau tidur saja!” sang suami pergi kekamar diikuti oleh sang isteri. Suara keras dari pintu yang tertutup mengakhiri adu mulut mereka malam itu.
Sementara mereka sudah tidur lelap di dalam kamar. Mereka lupa, bahwa tidak hanya mereka yang tinggal dirumah itu. Bahkan mereka tidak sadar, bahwa suara lantang mereka mampu membangunkan anak umur delapan tahun yang sedang bermimpi indah.
Hari itu mimpi indah yang selalu dimiliki Calya setiap malamnya terbangunkan oleh mimpi buruk. Mimpi yang tak pernah bisa dia lupakan selama hidupnya.
Keesokan paginya, gadis kecil itu tidak keluar kamar. Hari itu adalah hari minggu, biasanya dia dengan semangat bangun pagi untuk bermain bersama anak – anak lain.
Tapi hari itu, dia terlalu takut. Dia takut saat dia keluar, kedua orang tuanya sudah tidak ada. Dia takut jika pertengkaran semalam terjadi lagi, apalagi jika dia harus melihatnya langsung.
Dia terus memikirkan semua ketakutannya sambil duduk di pinggir tempat tidur. Pintu kamar terbuka. Sosok wanita paruh baya muncul dari sana, ibu Calya. Wanita itu tersenyum, “Calya, ayo sarapan,” ajak wanita itu.
Calya menatap wajah ibunya ragu, meyakinkan dirinya apakah senyum itu nyata. Kemudian perlahan berjalan mendekat, hingga akhirnya berjalan bersama ibunya. Mereka turun menuju ruang makan, dimana ayahnya telah duduk disana. “Pagi Calya,” kata sang ayah menyapa, gadis itu hanya diam.
Mereka makan dengan tenang, rutinitas yang biasa terjadi. Hanya saja, karena apa yang telah di dengar gadis itu semalam membuatnya merasa suasana itu cukup menegangkan.
“Habis makan langsung siap – siap ya, kita akan kerumah om,” ayahnya kembali berbicara.
“Oh iya, sekarang tanggal 28 ya,” kata ibunya menanggapi.
Ini juga merupakan rutinitas yang biasa dilakukan. Beberapa kali dalam sebulan pada hari libur, mereka akan berkunjung kerumah saudara. Sekedar berkunjung dan makan bersama.
Mereka menyelesaikan sarapan mereka. Setelahnya Calya langsung kembali kekamarnya, segera bersiap seperti
apa yang ayahnya perintahkan.
Setibanya dirumah saudara, mereka langsung disambut dengan hangat. Orang dewasa sibuk berbincang sementara anak – anak sibuk bermain. Setelah beberapa waktu berlalu, sang bibi memanggil anak – anak yang sedang bermain di halaman depan untuk masuk menyantap makan siang.
“Sudah cuci tangan belum?” tanya salah satu kerabat kepada anak – anak yang mulai memasuki ruang makan.
“Sudah,” jawab anak – anak itu, satu persatu mulai duduk dikursi.
Semua orang mulai menyantap hidangan makan siang mereka, diselingi sedikit percakapan.
“Katanya Calya dapat peringkat satu lagi ya?” tanya salah satu kerabat, “Iya tante,” Calya terdengar malu – malu.
“Wah! Calya memang pintar sekali ya. Gimana cara kalian mendidiknya mbak – mas?” wanita yang dipanggil tante oleh Calya itu bertanya kepada kedua orang tua setelah memuji anak itu.
“Wah kalau saya sih setiap hari sibuk dikantor, coba tanya sama ibunya,” ucap ayah Calya mencoba merendah, tapi senyum dan tawa kecilnya jelas menggambarkan kebahagiaan.
“Nga ada cara khusus kok, dia memang anaknya rajin. Saya cuma mendampingi aja,” sama seperti sang ayah, ibu juga mencoba merendah dengan raut wajah yang bahagia.
“Waduh, Beruntung sekali ya! Sepertinya Calya akan terus jadi kebanggaan keluarga sampai besar nanti,” ucap kerabat lainnya, mereka semua tertawa.
Calya tidak begitu mengerti makna dari percakapan itu. Namun dia mengerti apa yang dia lihat saat ini, kedua orang tuanya terlihat bahagia.
Mereka tersenyum, bahkan tertawa. Berbanding terbalik dengan apa yang dia dengar tadi malam. Ayahnya bahkan mengusap lembut kepalanya, berbeda dengan sosok yang dia dengar berteriak kencang tadi malam.
Hari itu Calya sadar, bahwa kabar gembiralah yang membuat kedua orang tuanya bahagia. Dia mulai berpikir untuk terus memberikan mereka kabar gembira yang bisa membuat mereka bahagia. Hanya untuk mempertahankan kebahagiaan yang dia saksikan saat ini.