
“Itu.. milik saya. Cuma hobi untuk mengisi waktu luang.” ucap Qeiza sambil merapikan beberapa kertas yang keluar dari map.
“Jadi, kau yang menggambarnya?” tanya Editor John sekali lagi. Pria itu masih memperhatikan kertas-kertas berisi kumpulan gambar dengan gaya pop art khas milik Qeiza.
“Iya.” Qeiza sekali lagi menjawab. Tangannya bergerak mengambil beberapa kertas yang di tangan pria itu, namun Editor John tetap menahan kertas itu di tangannya. Menimbulkan pertanyaan bagi Qeiza dan Damian.
***
“Silahkan.”
Kenzo mempersilahkan wanita itu duduk di kursi dengan beberapa makanan ringan serta minuman tersaji di depannya. Qeiza duduk di kursi itu, namun tetap dengan pandangan penuh curiga. Melihat tingkah baik kedua rekan kerja prianya itu benar-benar tidak bisa dipercaya.
“Tidak banyak yang kami persiapkan. Tapi kuharap ini bisa sedikit membayar kerja kerasmu akhir-akhir ini.” ucap Kenzo. Qeiza yang mendengar kalimat penuh rasa syukur itu malah menjadi semakin curiga. “Silahkan dinikmati.” tambah pria itu lagi.
“Kalian salah makan? Atau ingin meracuniku dengan makanan?” tanya Qeiza terus terang.
“Makan saja. Kau tidak tahu berapa banyak uang yang a…” Rezvan yang sedang berbicara langsung dihentikan oleh Kenzo. “Ini bentuk rasa terima kasih kami, tidak perlu khawatir.” ucapnya mencoba mengendalikan situasi.
Qeiza akhirnya menurunkan level kecurigaannya dan mulai mencicipi hidangan diatas meja. “Jika kalian memberiku masalah setelah aku memakan semua ini, aku tidak akan tinggal diam.” ucap wanita itu sambil sibuk mengunyah makanannya.
“Tidak. Tentu saja tidak.”
“Ngomong-ngomong Qei, gimana ceritanya panda galak itu bisa langsung setuju buat revisi lagi?” tanya Rezvan penasaran.
“Langsung setuju? Mana mungkin. Belum ngomong apa-apa aja udah langsung ditolak.” jawab wanita itu.
“Lalu gimana?” Kenzo pun ikut penasaran.
“Gimana lagi. Berapa kali pun dia nolak revisinya tetap harus dilakukan, kan?”
“Jadi? Kau paksa dia? Berlutut sambil nangis? atau mengancam akan menghancurkan komputernya?” Rezvan tiba-tiba sangat bersemangat mendengar cerita dari Qeiza.
“Emangnya ini drama? Kami cuma tawar menawar dengan gambar.” jawab Qeiza, menghentikan fantasi berlebihan rekan kerjanya itu.
“Gambar?” kedua pria itu kompak bertanya.
“Dia bilang jika aku menggambar karikatur dirinya, dia dengan senang hati akan melakukan revisi. Ternyata dia cukup narsistik. Dia mengoleksi ratusan potret dan lukisan dirinya dalam sebuah album.”
“Haha.. ternyata membujuknya bisa semudah itu.” ucap Kenzo.
“Kalau tau begitu aku tidak akan buat taruhan ini.” keluh Rezvan tanpa sadar. Pria itu seketika menutup mulutnya saat sadar telah mengatakan sebuah rahasia dengan lantang.
“Sebentar..” ucap Qeiza tiba-tiba, membuat kedua pria itu menelan ludah. “Apa katamu tadi? Taruhan?”
“Apa? Taruhan? Kenapa kau bilang taruhan Rezvan?” ucap Kenzo berpura-pura tak mengerti, entah untuk menyelamatkan dirinya sendiri atau sebagai kode agar temannya itu bisa membuat alasan baru.
“Jadi, kalian bertaruh apakah aku berhasil membujuk si Panda Galak atau tidak padahal aku sudah sukarela pergi sendiri? Kalian benar-benar!” Seperti yang sudah diprediksi Qeiza meledak begitu tahu tentang taruhan yang dilakukan oleh kedua pria itu. Mungkin saja semua makanan ringan dan minuman disana akan beterbangan jika Kenzo dan Rezvan tidak segera pergi dari ruang pantry.
“Kalian ya, makan pun harus bertengkar juga?” ucap Calya begitu masuk ke ruang itu.
“Do you know what they did to me?” keluh Qeiza segera.
“Biarkan saja. Mereka begitu karena tekanan beban pekerjaan, maklumi saja.” Calya mencoba menenangkan.
Qeiza meredam emosi nya, kembali duduk dan lanjut menyantap hidangan ringan yang tersaji. “Duduklah dan makan bersamaku,” ucap wanita itu mengundang temannya untuk bergabung. “Eat more..” ucap Calya setelah duduk, menolak ajakan bersantap dari temannya.
“Ada apa? Apa ada yang salah dengan pekerjaan?” tanya Qeiza, melihat temannya yang tidak selera makan. “Tidak. Pekerjaan berjalan dengan cukup lancar.” jawab Calya, cepat dan datar. “Lalu?” membuat rasa penasaran Qeiza kian bertambah. “I want to confess” ucap Calya pelan, hingga membuat Qeiza semakin heran.
“APA!?” ucap Qeiza setengah berteriak. Untungnya wanita itu tidak sedang mengunyah makanan saat ini, jika tidak dia pasti sudah tersedak. “Kamu.. apa? Bagaimana? Haha.. Ada apa denganku hari ini? Kenapa semua orang begini? Sepertinya aku memang tidak boleh terlalu senang.. Karma, ini pasti karmaku.” Wanita itu terus menerus bicara sendiri akibat terlalu terkejut dengan pengakuan dari temannya barusan.
“I’m sorry. I swear, aku benar-benar tidak berniat untuk menceritakan masalah itu padanya. Entah bagaimana dia berhasil membujukku. Please.. jangan marah.” Calya mengaku salah karena telah menceritakan masalah pribadi Qeiza pada Damian. Rasa bersalahnya sepertinya cukup tinggi dilihat dari alasan cukup panjang yang baru saja dia ucapkan.
“Meskipun dia seorang Executive, tidak peduli seberapa hebat teknik komunikasinya.. bagaimana mungkin kamu menjualku?” gaya bicara Qeiza memang sedikit berlebihan, tapi itu hanya penggambaran rasa frustasinya karena masalah pribadinya sudah tersebar.
“My friend.. listen to me…”
“Aku, walaupun sangat ingin melihatmu punya pasangan tidak pernah sekalipun memihak pria-pria itu. Malah yang paling menaruh curiga kepada mereka adalah aku, aku. But, how could you..” Qeiza masih konsisten menunjukkan rasa frustasinya dan itu membuat Calya lebih frustasi. Kata orang lebih susah menenangkan orang yang jarang marah, situasi itulah yang sedang dihadapi wanita itu saat ini.
Calya menghela napas panjang, “Okay, so what should i do?” tanyanya. “Apa? tanya Qeiza tak mengerti. “Apa yang harus kulakukan agar bisa menebus dosaku ini?” Calya sampai harus mengikuti gaya bicara Qeiza agar wanita itu bisa cepat mengerti.
Qeiza mengambil gelas minuman diatas meja, bersandar dan berpikir. “Hanya satu hal yang bisa kamu lakukan untuk menebus dosa sebesar ini.”
***
Seorang wanita dengan dandanan glamor sedang duduk di salah satu meja restoran sebuah hotel mewah. Tatapannya tertuju pada jendela yang langsung menghadap pemandangan kota dengan langit abu-abu. Saat itu gerimis sedang turun sehingga jalanan dipenuhi payung warna-warni yang digunakan oleh pejalan kaki.
“Nyonya Helena?” suara seseorang menyapa. Wanita itu mengalihkan pandangannya dari Jendela ke seorang pria muda yang sedang berdiri disamping mejanya.
“Jadi kamu yang ingin bertemu denganku?” tanya wanita itu datar. Raut wajahnya menggambarkan rasa percaya diri dengan sorot mata yang penuh selidik.
“Iya.” ucap pria itu sambil duduk tepat didepannya.
"Butuh waktu cukup lama bagimu untuk datang mencariku.” wanita itu kembali berbicara.
“Jadi, Anda sudah tahu siapa saya?” tanya pria itu sedikit curiga.
“Tentu saja. Sekarang katakan, apa saja yang ingin kamu ketahui?”