
“Arion Keanu Radhika.”
“Putra tunggal Darta Radhika.”
“Dia pewaris Radhika Grup kan?”
Sepanjang hidupku, aku telah terbiasa mendengar kalimat - kalimat itu. Aku menyukainya. Aku, anak tunggal ayahku. Pemilik Radhika Grup yang merupakan salah satu perusahaan terbesar di negara ini. Aku hidup dengan baik. Punya orang tua yang saling menyayangi dan mereka juga sangat menyayangiku. Aku bahagia.
“Bukankah tidak adil jika dia punya segalanya!”
“Iya dia tampan, bagus dalam olahraga dan juga dalam pelajaran!”
“Kalau dia punya segalanya, lalu bagaimana dengan orang seperti kita?”
“Sudahlah, bumi itu berputar. Mungkin saja nanti hidupnya berubah.”
“Dasar! Kau menyumpahinya?”
“Tidak juga. Tapi memangnya kau tidak ingin hidupmu berubah?”
“Tentu saja aku ingin!”
Itu seperti kutukan untukku. Seperti yang mereka bilang, Hidupku berubah.
Hari itu aku dijemput oleh supir sebelum sekolah berakhir. Mereka bilang ibuku masuk rumah sakit dan sedang kritis. Aku berlari begitu mobil berhenti didepan pintu masuk rumah sakit. Berlari, lari sekencang - kencangnya. Begitu aku sampai, ruangan itu di penuhi dengan dokter dan suster rumah sakit.
Kupandangi wajahnya satu persatu, mereka tampak murung. Aku kembali berjalan, berusaha melewati orang - orang itu. Setelah berhasil aku melihat tempat tidur rumah sakit, Di atasnya ada tubuh yang ditutupi dengan selimut.
“Dimana ibuku?” tanyaku pada mereka, tapi mereka hanya menatapku.
Aku bertanya sekali lagi, kali ini dengan nada suara lebih tinggi. Kemudian seorang dokter mendekat kearah kasur. Dia membuka sedikit selimut yang menutupi tubuh itu. Aku melihat wajah ibuku. Pucat dan terpejam. Aku mendekatinya.
“Ibu… Bangunlah… Ini aku Keanu.”
“Ibu.. kenapa ibu diam saja. Dokter kenapa ibuku diam saja?”
“Ibu Anda sudah tidak ada.”
“Kenapa? Kenapa kau bicara seperti itu! Ibuku masih ada!”
“Maaf tuan muda.”
“Cepat tarik lagi ucapanmu. Cepat!”
Hanya kebisuan yang kudapatkan.”
“Ibuku masih ada.. Ibuku masih ada! Ayah…”
Aku menatap ayahku yang berdiri di sisi lain tempat tidur. Aku berharap dia menjawabku, tapi dia malah melangkah pergi meninggalkan ruangan itu. Saat itu, aku kehilangan orang tuaku.
Setelah ibuku meninggal tak ada lagi kehangatan dirumah. Setiap hari ayahku selalu sibuk bekerja sementara aku dirumah menanti penjelasannya. Kami hampir tak pernah bertemu, bahkan hanya untuk sekedar makan satu meja. Selalu aku sendiri, dan itu terjadi selama bertahun - tahun.
Suatu hari aku melihat ayahku saat sedang duduk di sebuah kafe. Dia keluar dari restoran di seberang jalan bersama seorang wanita muda, mereka berdua masuk ke mobil pergi. Pemandangan yang kulihat membuatku kaget, tapi aku masih bisa mengendalikan pikiranku. Bagaimanapun aku mengenal ayahku, dia sangat mencintai ibuku.
Beberapa hari kemudian aku kembali melihatnya, keluar bersama seorang wanita yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini rasa penasaran sudah menguasai diriku, sehingga aku mengikuti mereka dengan menggunakan taxi. Mobil ayahku berhenti di sebuah hotel, aku melihat keduanya turun. Tidak, bukan itu yang membuatku terkejut, tapi senyum diwajah ayahku saat wanita itu melingkarkan tangan di lengannya. saat itu aku murka.
Aku tak bisa menemuinya, aku tak pernah punya kesempatan. Tapi aku sangat sial karena selalu menyaksikan kebersamaannya dengan wanita yang berbeda - beda. Saat itu aku sadar, dia telah melupakan ibuku. Dia menjalani kehidupannya dengan baik tanpa ibuku. Dia bahagia.
Setelah itu aku berpikir, bodoh sekali aku selama ini. Terpuruk, menunggu ayahku untuk menemuiku, berharap kami akan berbagi kesedihan bersama. Ternyata aku menyia nyiakan waktuku. Dia lebih dulu bangkit ke kehidupannya tanpa memikirkanku sedikitpun.
Sejak saat itu, aku mulai melanjutkan kehidupanku. Tidak, sebenarnya sejak saat itu aku membuat kehidupan yang baru. Bukan sebagai Keanu, pria yang hidupnya penuh kasih sayang. Melainkan Arion pria yang mencari kesenangan.
***
“Lama tak berjumpa,” ucap Arion pada seorang pria.
“Tentu saja. Kau pasti sibuk sekali dengan program buatanmu yang sedang bermasalah itu. Sudah temukan cara memperbaikinya? Jika belum mungkin aku akan sedikit berbaik hati membantumu, asalkan kau memohon.”
“Jangan bercanda. Sejak kapan seorang Arion menawarkan bantuan. Aku tahu kau sedang menertawakanku saat ini.”
“Tentu saja! Ini kesempatan yang tak pernah aku dapatkan saat di kampus, harus ku gunakan dengan baik.”
“Jangan pedulikan aku dan terus saja bermain wanita seperti yang sering kau lakukan. Bukankah itu lebih menyenangkan bagimu?”
“Tentu saja, aku pria yang bisa menikmati hidup. No offense! Tentu saja pria pekerja keras sepertimu juga baik, tapi itu bukan gayaku.”
“Kau dan filosofi hidupmu itu tak akan mengerti tentang pekerjaanku. Sudah sana pergi, kau merusak pemandangan saja!”
“Santai, kau bebas menggunakan waktumu. Aku pergi dulu.”
Arion berjalan keluar kafe menuju mobilnya. Menginjak pedal gas, mengarahkan kendaraan roda empat itu menuju kantornya. Dia berjalan santai menuju ruang kerjanya, tersenyum pada beberapa orang karyawan yang menyapanya. Begitu masuk ke ruang kerjanya pria itu langsung memeriksa ponselnya. Mendapati pemberitahuan pesan masuk disana ia langsung membukanya.
^^^‘Sudahkah kau berbicara dengan Calya tentang perjodohan kalian? Ayah harap kau tidak melakukan hal yang aneh, atau ayah sendiri yang akan turun tangan.’^^^
Arion tercenung setelah membaca pesan dari ayahnya. Otaknya kembali memutar jelas perkataan wanita itu yang dengan tegas menolak perjodohan ini. Pria itu kini bersandar, kakinya mendorong lantai hingga tubuhnya berputar bersama dengan kursi. Sementara otaknya memikirkan sebuah cara.
Kakinya kembali menyentuh lantai, menghentikan putaran yang ia ciptakan sendiri. Badannya condong ke arah meja sementara tangannya menekan sebuah tombol di meja itu.
“Nona Jia, tolong buatkan janji temu dengan Tuan Ray dari Niskala.”
“Baik Tuan,” jawab wanita dari alat tersebut.
***
“Hai, Ray! Maaf aku mengganggu waktumu.”
“Tidak masalah, kebetulan aku sedang berada di dekat sini. Tumben sekali kau minta pertemuan mendadak, apa ada yang penting?”
“Ya, penting tapi tidak mendesak. Ini tentang proyek kita.”
“Oke, lalu?”
“Aku ingin memperpanjang kerjasama ini. Kami akan terus mengembangkan game ini dan setiap updatenya akan tetap berdasarkan pada produk kalian baik yang sudah ada ataupun yang akan dirilis. Tapi tentu saja jika kalian bersedia.”
“Tentu saja. Aku pikir tidak ada alasan untuk menolak, kerjasama ini sangat menarik bagi kami.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Tapi game yang kalian luncurkan tampaknya sangat berhasil, buktinya kalian sudah sibuk merencanakan update padahal game itu belum lama dirilis.”
“Ya kalau aku bisa sedikit sombong, jumlah pengguna sampai kini terus meningkat sementara trending topik di media sosial berhasil menggeser LOVATY.”
“Bagus sekali! Program itu sangat terkenal bukan? Artinya game kalian lebih populer saat ini.”
“Mungkin aku harus sedikit bersyukur tentang kontroversi yang mereka alami. Tapi, bukankah dalam bisnis selalu ada persaingan?”
“Benar, asalkan itu persaingan yang sehat. Itu sah - sah saja.”
“Aku sendiri sangat kompetitif, apalagi dalam hal apa yang ku inginkan. Kau sendiri bagaimana?”
“Aku? Mungkin aku cukup kompetitif.”
“Kalau begitu bagaimana kalau kita bersaing secara sehat?”
“Kita bersaing sehat? Untuk apa?”
“Untuk mendapatkan Calya.”