
Didalam kamar Qeiza saat ini sedang sibuk merapikan barang – barangnya, benar – benar fokus hingga tidak menyadari seseorang yang sedang menatapnya.
Calya yang sedari tadi duduk ditepi tempat tidur, tanpa henti menatap temannya. Tatapan itu mewakili berbagai pertanyaan yang ada di kepalanya, tapi anehnya tidak sampai ke mulutnya. Dia lebih memilih menunggu temannya itu untuk menyadarinya sendiri.
“Apa?” tanya Qeiza saat akhirnya menyadari tatapan Calya.
Namun jawaban tak kunjung terdengar dari temannya, Qeiza dan suasana hatinya yang baik memilih mengabaikannya. Tapi Calya yang diabaikan menjadi kesal, ia mengambil sebuah pulpen di dalam tas dan melempar tutupnya kearah Qeiza.
“Aaw!” Qeiza meringis saat tanpa sengaja lemparan Calya mengenai kepalanya, membuat Calya sedikit merasa bersalah.
“Kenapa sih Cal?!” protes Qeiza, Calya hanya merentangkan tangannya –meminta penjelasan–.
“What do you mean? I don’t get it!” Qeiza mulai frustasi melihat tingkah temannya. Sama halnya dengan Calya, dia yang
frustasi hanya kembali menyilangkan tangannya didada.
“Kenapa? Kamu tiba – tiba kehilangan suara semenjak Ray datang.. Aaw!” sesaat setelah Qeiza berbicara Calya kembali melemparkan pulpen kearahnya.
“Salah aku apa sih?!” ucap wanita itu sambil mengusap lengannya, sementara Calya kini sedang menghentakkan bagian depan kakinya berulang kali –menunggu penjelasan– .
“Okay, I’m sorry! Tapi bukan aku yang pertama mengajaknya bergabung,” wanita itu kini mengerti apa yang diinginkan temannya.
Calya menaikkan kedua alisnya – masih tidak percaya–.
“Hey! Kamu pikir aku memberitahu Kenzo dan Rezvan? You don’t believe me?” ucap Qeiza membela diri.
Calya kini menjadi semakin penasaran, ia menyandarkan punggungnya mencoba untuk lebih tenang.
“Listen! Aku, Kenzo dan Rezvan benar – benar hanya ingin berterimakasih. We don’t have any other intention!” tambahnya berusaha meyakinkan temannya yang terlihat mengerutkan kedua alisnya.
“Berterimakasih untuk apa?” tanya Calya penasaran.
“Waktu kamu nga ada, a woman came to our office. Dia cari kamu sambil marah – marah. So annoying!” Qeiza mereka ulang kejadian yang belum sempat dia ceritakan.
“A woman? Who?” tanya Calya sedikit terkejut.
“Dia bilang dia manajer si.. siapa namanya nation princes.. seperti itulah kira – kira,” wanita itu kesulitan mengingat detail informasi yang tidak menyenangkan itu.
“So, why she looking for me?” Calya mencoba mengumpulkan keeping – keeping informasi yang membingungkannya.
“Dia bilang kamu pembohong. Karena berjanji mau menggunakan artisnya sebagai model tapi malah menggunakan model lain,” Qeiza dengan sabar menjelaskan.
“But I never promise her! It was an interview!” bantah Calya.
“We knew! Tapi setiap kali kami coba jelasin, dia terus – terusan nyerocos. Mukanya, kata – katanya, bahkan nada suaranya juga nyebelin!” jelas Qeiza sambil meremas lengan baju yang sedang ia pegang karena kesal.
“Tapi, tiba – tiba si Niskala man datang terus ngebungkam tu ibu,” tambah Qeiza. Matanya terlihat menerawang, mengingat kembali kejadian itu. Tiba – tiba dia menatap Calya,
“You must’ve seen it by yourself -saya Ray salah satu executive di Niskala- wiiihhh..” lanjutnya sambil menghentak – hentakan kaki.
***
Semua orang sedang menggunakan waktu bebas mereka sekarang. Sebagian besar menyusuri sekitar villa untuk berfoto, sementara sebagian lainnya pergi ke pantai. Termasuk Calya, saat ini dia dengan susah payah mengikuti langkah Qeiza. Wanita itu berhasil memaksanya untuk pergi keluar walaupun dia telah bilang hanya ingin beristirahat di kamar.
“Hey!” Qeiza berteriak setelah merasakan ada yang menyiramnya dengan air. Saat dia berbalik Rezvan dan Kenzo sedang menunjuk ke arah satu sama lain tanda tak mau mengaku.
Karena tak punya bukti Qeiza melanjutkan langkahnya kembali. Namun kejadian itu terulang kembali, kali ini pasir yang dilempar. Kedua pria itu melihat ke arah yang berlawanan seperti orang yang tak tahu apa – apa.
“So you wanna play with me! Rasakan ini!” Qeiza secara bergantian melepaskan sandal yang ia kenakan dan melemparnya kearah Kenzo dan Rezvan.
Karena terlalu emosi tak ada satupun dari sandal itu yang mengenai mereka. Rezvan dan Kenzo malah mengambil kedua sandal itu dan melemparnya ke air.
Qeiza yang marah – marah berusaha mengambil kembali sandalnya, namun ia malah diserang dengan air oleh kedua pria itu.
Begitulah mereka bermain perang air, seperti anak kecil. Calya yang berdiri agak jauh hanya melihat mereka. Tangan kanannya diangkat untuk menghalangi matanya dari sinar matahari yang cukup terik. Tiba – tiba sebuah topi disodorkan padanya. Ray yang membawa topi itu.
“Tidak usah!” tolaknya. Namun Ray langsung memakaikan topi itu padanya, kemudian melangkah begitu saja melaluinya.
“Hey!” ucap Calya yang kini dijadikan sasaran lemparan seseorang. Dia menatap kearah ketiga temannya, Qeiza menunjuk kearah Kenzo dan Rezvan.
“Dasar kalian!” Calya menghampiri mereka dan dengan mudah menyiram kedua pria itu dengan air. Terjadilah perang dua lawan dua disana. Ditengah – tengah keseruan mereka bermain air, sebuah suara mengalihkan perhatian mereka.
Suara jetski membuat keempat orang itu berusaha mencari asal suara. Dua orang pria sedang mengendarai jetski disana. Tidak sulit mengenali siapa mereka, si pemilik villa dan
Ray dan Damian terlihat ahli, bahkan beberapa atraksi mereka lakukan disana. Membuat keempat orang itu tidak bisa mengalihkan pandangan darinya. Beberapa menit kemudian kedua orang itu terlihat akan menyudahi permainan mereka, berusaha menepi.
“I wanna try it!”ucap Rezvan seketika berlari.
“Hey! Tunggu aku!” Kenzo juga berlari, diikuti oleh Qeiza dan Calya yang berjalan di belakangnya.
“Apa boleh kami mencobanya?” tanya Rezvan setelah menghampiri Damian dan Ray.
“Tentu saja!” jawab Ray, dia langsung menyerahkan kunci kepada Kenzo dan Rezvan. Saat Qeiza dan Calya tiba disana, Kenzo dan Rezvan sudah berlari untuk mencoba mengendarai jetski.
“Kuharap mereka tidak merusaknya,” ucap Qeiza tanpa sadar saat ia sibuk memperhatikan tingkah kedua temannya.
Qeiza menggelengkan kepalanya, sesaat kemudian dia tersadar sedang berada di tengah - tengah situasi yang tidak nyaman. Dia memperhatikan Calya kemudian Ray, keduanya sama – sama diam. ‘This is awkward! I have to escape’ ucap wanita itu dalam hati.
“Apa ada tempat yang bagus untuk selfie di sekitar sini?” ucap Qeiza berusaha memecah keheningan.
“Ada satu gerbang buatan yang dihiasi tanaman menjalar disebelah sana. Kalau mau bisa saya antarkan,” Damian menjawab pertanyaan Qeiza seperti ikan yang memakan umpan.
“Tentu saja! Terima kasih!” respon Calya dalam sepersekian detik.
“Baiklah kalau begitu, lewat sini,” Damian dengan sopan menunjukkan arah.
“Kamu ikut Cal?” tanya Qeiza sebelum ikut melangkah,
“Tidak,” jawab Calya sambil sedikit menggeleng. Wanita yang kehabisan tenaga setelah mengikuti Qeiza kesana kemari itu mencoba untuk duduk di atas pasir, sebelum dia menyadari keberadaan Ray disana yang membuatnya sedikit terkejut.
“I though you want to join them,” Calya memulai percakapan.
“I don’t want to disturb them” ucap pria itu, ia yang sedang duduk diatas pasir hampir terlihat seperti orang yang sedang berjemur untuk mengeringkan bajunya.
Calya merasakan kecanggungan meskipun mereka sedang duduk bersebelahan saat ini, dia mencoba untuk kembali berbicara.
“Semua orang sedang jalan – jalan sekarang, kenapa kamu cuma duduk disini? Wanita yang buruk dalam basa – basi itu hanya menggunakan ulang kata – kata Qeiza yang ditujukan kepadanya tadi.
“Aku tahu semua tempat disini and I almost get bored,” jawab pria itu santai, sementara matanya tetap menatap kearah laut. Calya hanya mengangguk, rasanya dia telah menanyakan sesuatu yang sia – sia.
“Kau sendiri?” pria itu bertanya balik, “Aku kehabisan tenaga,” jawab nya.
Mengingatnya sejak tadi mengikuti langkah Qeiza, wajar jika ia kelelahan. Apalagi semua hal yang terjadi belakangan, wanita itu masih lelah secara fisik dan mental.
“Of course you are,” Ray memberikan respon yang dingin.
Calya merasa kata – kata Ray barusan seperti sedang menyindir dirinya, membuatnya hampir marah. Untung saja dia kembali teringat akan tujuan awalnya datang ke tempat itu, ‘I come here to have fun,’ ucapnya menenangkan diri sendiri.
“Whoohoo…!” suara dari arah laut tiba – tiba mengalihkan perhatiannya. Kenzo dan Rezvan yang sedang mengendarai jetski tanpa henti membuat suara. Tingkah mereka yang konyol seperti anak kecil yang sedang bermain video game, berisik.
“Those two fools.. aahh.. I’m gonna miss them,” ucap Calya tanpa sengaja. Mengingat ia bisa diberhentikan kapan saja, maka ini mungkin menjadi momen terakhir bersama mereka.
“Memangnya kau mau kemana?” tanya pria yang sedari tadi memperhatikannya dari samping. “Maksudku JIKA aku pergi,” Calya meralat ucapannya.
“By the way, mereka bilang kamu bantu mereka menghadapi manager artis yang mengamuk tempo hari. Thank you!” dengan cepat Calya mengubah topik pembicaraan, takut jika pria itu bertanya lebih jauh.
“Aku tidak datang kesana dengan tujuan untuk membantu kalian. I came because I want to check the progress, tapi keadaan benar – benar berantakan,” ucap Ray, masih mempertahankan nada bicara yang terkesan dingin.
“It was my fault. I’m sorry,” Calya menyesali kelalaiannya yang menimbulkan bencana pada timnya. Ray yang mendengar itu hanya menghela napas untuk sesaat.
“Aku pikir kau mengerti bagaimana caranya bekerjasama. Kita adalah partner! Jika memang ada masalah yang sedang terjadi, seharusnya kau memberitahuku! So we can work on it together. Ini semua demi kesuksesan proyek kita!”. Penjelasan Ray barusan membuat Calya terdiam dan berpikir.
Dia teringat akan kata – kata yang Qeiza pernah ucapkan padanya ‘Dia bisa aja biarin proyek ini berjalan gitu aja dan kalo hasilnya nga sesuai, he just gonna blame it on us. But, he’s not. Malah dia milih buat kerja bareng kita. Berarti dia memang serius kan,’ Dia mulai merasa bahwa Qeiza benar.
Mungkin pria disampingnya ini memang benar – benar fokus pada kesuksesan proyek mereka.
‘Apa aku salah paham padanya selama ini?’ pikirnya.
“Aku mengerti. Itu tidak akan terjadi lagi,” ucap Calya mencoba berjanji pada pria yang juga kliennya.
“Enjoy your holiday,” secara tiba – tiba Ray berdiri dan meninggalkan wanita itu disana.
‘I do really misunderstand him,’ ucap wanita itu lagi dalam hati.